
Tidak ada hal yang lebih memalukan di dunia ini selain ketika orang lain jika kita adalah salah satu orang yang menyimpan sesuatu yang berbau ' blue '. Meski semua itu hanya dijadikan sebagai edukasi sekalipun, tetap saja rasanya malu sekali ketika orang lain mengetahui hal tersebut.
Katriana menatap sengit ke arah Gafar yang tak kunjung menghentikan tawanya sejak kejadian memalukan tadi terjadi. Mengingat kejadian tadi, Katriana sudah malu karena ketahuan menyimpan hal berbau dewasa, masih harus terjungkal karena tak bisa mematikan laptop milik Gafar.
Gafar bukannya membantu Katriana yang kesusahan menghentikan video yang berputar di laptopnya. Dia justru tertawa dan menikmati scene di depannya yang menurutnya jauh lebih lucu dari stand komedi yang pernah dia lihat.
" Mau sampai kapan kakak terus tertawa begitu? " Sindir Katriana.
" Hm.. Maaf.. Maaf.. Tadi itu lucu sekali, aku jadi tidak bisa menahan lagi... Lagian kenapa menyimpan hal begitu? Bukankah kita sudah pernah mempraktekannya? Menurut ku, aku lebih hebat dari pria di video itu.. " Ucap Gafar dengan santainya. Tidak sadar jika wajah Katriana sudah semerah tomat rebus.
" Kakak... Nggak malu sama sekali membicarakan hal seperti ini? " Tanya Katriana.
" Jauh lebih malu, jika kita ketahuan menyimpan hal itu.. Hahahahahahaha... " Katriana melempar Gafar dengan bantal sofa lantaran kesal sekali.
Tidak menyangka pria yang awalnya dikatakan sebagai pria dengan tempramen buruk, nyatanya bisa juga bersikap menyebalkan seperti ini. Sungguh kesal sekali rasanya, suaminya ini begitu pandai mempermainkan dirinya. Rasanya sangat malu sekali, dahi Katriana juga benjol karena terantuk meja.
Katriana merasa jika saat ini dia lebih ingin menangis saja. Hari ini adalah hari tersial di sepanjang hidupnya. Lebih sial lagi karena terjadi justru di saat dirinya tengah berbulan madu seperti saat ini. Siapa saja, adakah yang bisa menolongnya dari rasa malu yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
Aurora, satu nama yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran. Biang kerok yang telah membuatnya malu seperti saat ini. Haruskah Katriana menelepon teman sesatnya itu dan memakinya sepuasnya. Tapi rasanya juga sangat percuma, karena selain Aurora tidak akan menggubris makiannya temannya yang satu itu berjasa juga dalam hal ini meski berakhir memalukan seperti ini.
" Cepat mandi sana!! Kita harus istirahat dan besok berlayar ke beberapa tempat tujuan.. " Ujar Gafar meminta sangat istri untuk membersihkan diri.
" Kakak tidak akan diam-diam kembali menertawakan ku jika aku mandi sekarang kan? " Mata Katriana memicing menatap curiga suaminya.
" Untuk apa? Perut ku sudah sangat sakit sekarang karena terlalu banyak tertawa. " Ujar Gafar menanggapi.
" Jangan-jangan.... Kakak mau menonton video itu ya? " Gafar menggeleng heran. Istrinya ini aneh sekali, tadi saja malu sekarang dibahas lagi.
" Tidak akan.. Usia ku sekarang ini sudah kenyang melihat hal begituan. Sejak umur enam belas tahun aku sudah pernah melihatnya dan mempraktekannya ketika usia ku masuk dua puluh tiga tahun.. Sudah tidak lagi excited dengan hal begituan.. Beda dengan diri mu yang sepertinya ketagihan.. " Skakmat.. Gafar sukses membuat Katriana berlari ke kamar mandi dengan menutupi wajahnya.
Setelah Katriana masuk ke dalam kamar mandi. Gafar kembali menyalakan laptopnya. Bukan untuk melihat video blue tadi, atau memeriksa pekerjaannya. Moodnya sudah bukan lagi untuk memeriksa pekerjaan, melainkan ingin menghubungi pakar dari sumber masalah Katriana malam ini.
__ADS_1
Gafar sedikit mencurigai jika orang yang selama ini menjadi musuh dalam selimut di hidupnya, telah meracuni pikiran polos dari istrinya. Jika benar begitu, jangan salahkan jika ketika pulang dari bulan madu ini, Gafar akan membuat perhitungan dengan orang ini.
" Kenapa?? Ingin pamer kau.. " Suara di seberang sana, membuyarkan lamunan Gafar. Dia pun berdecak ketika melihat wajah orang yang dia hubungi terlihat menyebalkan di layar laptopnya.
" Untung masih sayang laptop.. " Gumam Gafar.
" Hei.. Jangan nye-nye nye-nye, bicara sendiri.. Kenapa kau menelepon ku? " Gaffi bertanya dengan ketus.
" Kau itu kenapa marah-marah? Tidak dapat jatah dari Kate, kau? " Ledek Gafar yang sudah tahu kelakuan adiknya itu.
" Diam saja kau.. Sumber masalah ku ada pada mu.. Kenapa menelepon? " Tanya Gaffi sungguh sudah tidak berminat menanggapi Gafar.
" Kau mengirim video koleksi mu itu pada istri ku? " Tanya Gafar to the point.
Alis Gaffi berkerut karena tidak paham dengan maksud pertanyaan dari Gafar. Otak Gaffi sedang dalam proses perbaikan setelah ditimpuk sang istri dengan tas keluaran terbaru milik istrinya karena Gaffi terlambat datang menjemput Kate selama lebih dari dua jam.
Mungkin Gaffi tidak akan ditimpuk begitu andai saja alasannya terlambat menjemput sang istri itu karena alasan pasien. Tapi ini, dia lupa karena asyik bermain dengan Ghadi. Mereka main PS keluaran terbaru yang Galen beli untuk hiburan di mansion utama.
" Heh.. Malam bengong.. Jawab pertanyaan ku!! " Sentak Gafar mulai hilang kesabaran saat menghadapi sumbunya.
" Video koleksi apa? Kenapa harus mengirim pada istri mu? " Tanya Gaffi setelah melamun lama sekali.
" Video di folder pribadi yang kau sembunyikan dari istri mu.. Kalau tidak salah, paradise namanya.. " Mata Gaffi langsung melotot. Sedetik kemudian kepalanya menenggok ke kanan, kiri, dan belakang, untuk mencari sang istri. Gawat jika sampai istrinya mengetahui tentang hal ini. Bisa-bisa, bukan lagi tas yang mengenai dirinya.
" Hei.. Pelankan suara mu.. Kau ingin membunuh ku ya.. " Sembur Gaffi.
" Nggak ada.. Nggak ada aku mengirim rahasia ku pada istri mu. Resikonya terlalu besar, kasian junior kalau tidak dapat jatah dari nyonya besar.. Sudah, aku tutup teleponnya.. Awas kau telepon lagi.. " Latar laptop Gafar langsung berubah menjadi hitam.
" Sialan.. Dia jujur atau bohong? Tapi melihat ekspresinya, sepertinya memang bukan dia.. Tapi siapa ya? " Gafar penasaran saat ini.
***********
__ADS_1
Beberapa kali sudah, Katriana menghela nafas kasar dan juga menepuk kepalanya. Kejadian memalukan bersama dengan suaminya sudah terjadi dua kali. Katriana sungguh tidak lagi memiliki muka untuk bertemu tatap dengan suaminya. Jika teru seperti ini, bagaimana dengan pernikahan mereka selanjutnya.
" Aku selalu menjaga image ku selama ini. Tapi kenapa ketika aku menikah, justru muncul kejadian yang melakukan seperti ini? Apa yang salah sebenarnya disini?" keluh Katriana.
" Bagaimana jika semua keluarga mengetahui tentang hal ini? Aku bukan lagi malu, tapi lebih baik mati saja jika kejadian ini tersebar ke keluarga."
" Semoga saja kak Gafar bukan tipekal orang yang ember." Katrian berharap cemas.
Karena tidak ingin bertemu dengan suaminya, katriana memutuskan berendam lebih lama lagi. Siapa yang menyangka, jika akhirnya dia tertidur di dalma bath up, hingga membuat Gafar yang ada di dalam kamar jadi khawatir. Pasalnya Katriana sudah ada di dalam kamar mandi satu jam lebih.
Merasa takut kalau terjadi sesuatu yang buruk pada sang istri, Gafar pun mengetuk pintu kamar mandi. Tapi sayangnya, beberapa kali mengetuk bahkan Gafar berteriak memanggil nama Katriana, istrinya ini belum juga membukakan pintu kamar mandi.
Gafar tidak ingin kehilangan akal, akhirnya dia meminta pada resepsionis hotel untuk memberikan kunci cadangan kamar mandi di dalam kamarnya.
" Bisa-bisanya dia tertidur di saat orang lain sangat khawatir dengannya.." Gafar menggeleng, tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya.
" Terima kasih,pak.. Tidak ada masalah, ternyata istri saya tertidur di dalam.. Maaf sudah mengganggu kerja anda." gafar keluar sebentar untuk berterima kasih pada staf hotel yang membantunya membawakan kunci cadangan.
" Baik kalau begitu.. Saya permisi kembali bekerja dulu, tuan." Gafar mengangguk dan mengantarkan staf hotel itu sampai ke depan pintu.
Begitu staf hotel pergi, Gafar kembali ke dalam kamar mandi berniat memindahkan istrinya ke kamar. Sayangnya, pemandangan yang tersaji di depannya kini membuat dirinya hilang fokus.
Ada sesuatu yang begitu indah di depan matanya, lalu haruskah Gafar melewatkannya begitu saja. Gafar menjadi dilema sendiri. Antara berusaha menjadi pria yang memiliki pikiran yang masih waras, ataukan dirinya justru mengikuti naluri lelakinya.
" Haruskah aku menjadi pria brengsek yang mengajak bercinta wanita yang tengah terlelap? Sialan, kau benar-benat pandai sekali membuat ku menderita.."
*****************************
Hayo-hayo... Gimana kelanjutannya ya.. Apkah akan ada adegan 21+ atau nggak ya?????
Yang penasaran, ayo merapat dan sampai ketemu bab berikutnya......
__ADS_1