
Ketika libur telah berakhir, maka akan tiba hari dimana aktifitas bekerja akan dimulai kembali. Karena keterlambatan lawannya dalam sebuah pembuatan iklan, maka Tria mendapatkan dua hari libur kerja. Memang lumayan menyenangkan bisa mendapat cuti disela kerja. Hanya saja, jika seperti ini sama saja waktu penyelesaian proyek kerjanya kali ini akan lebih lama dari jadwal.
Ingin memprotes, tapi Tria tidak ingin membuat masalah. Pasalnya model pria yang menjadi lawannya, Lycan, merupakan pilihan dari pihak perusahaan yang mengontrak Tria sebagai ambasador mereka. Alhasil, hanya bisa bersabar saja dan tetap fokus agar jangan sampai masalah pribadi antara dirinya dan Lycan merembet ke masalah pekerjaan.
" Hari ini akan dimulai syuting iklan. Kau akan mengambil scene terlebih dahulu baru nantinya Lycan. " Ucap Kayden memberitahukan jadwal kerja Tria.
" Oke.. Lalu untuk syuting scene yang ada kami berdua di dalamnya kapan? " Tanya Tria yang ingat jika ada beberapa scene yang mengharuskan dia dan Lycan berada dalam satu tempat yang sama.
" Kalau lancar semuanya, seharusnya besok. " Jawab Kayden tidak bisa memastikan. Pemotretan saja mundur dua hari, entah dengan syuting iklan kali ini.
" Huft... Sepertinya untuk pekerjaan ku yang selanjutnya akan mepet jadwalnya. Aku tidak bisa mengambil libur.. " Tria terlihat lemas.
" Ck.. Kau sudah libur selama sebulan dan kemarin juga baru libur dua hari. Kenapa masih saja kurang? " Kayden terlihat kesal.
" Jomblo mana tahu yang aku rasakan. " Ujar Tria terlihat mengejek Kayden. Setelah mengatakan itu, Tria meninggalkan Kayden untuk masuk ke ruang make up menemui Aurora.
Entah apa yang terjadi setelah makan malam Aurora dengan Kayden, tapi Tria mencium bau-bau dimana keduanya sedang mencoba Menghindari satu sama lain. Perlu Tria tanyakan agar dirinya paham situasi terkini kedua teman sekaligus rekan kerjanya itu.
Seperti yang Tria tebak, Aurora kini tengah duduk di sofa dengan segelas es latte tanpa susu di depannya. Aurora yang fokus dengan ponselnya, menscroll laman sosial medianya sampai tidak sadar jika Tria sudah duduk di sebelahnya.
" Ada apa antara kau dan Kayden, Au? " Tanya Tria to the point.
" Oh God.. Kau mengagetkan ku saja, Tri.. Sejak kapan kau ada disini? " Aurora mengusap dadanya saking terkejut nya saat tahu tiba-tiba saja Tria sudah duduk di sebelahnya.
__ADS_1
" Sejak satu menit yang lalu. Apa yang kau lihat sampai tidak menyadari keberadaan ku? " Tria bergeser tempat duduk semakin mendekat untuk mengintip ponsel Aurora yang masih digenggam oleh si pemilik.
" Hei.. Geser sedikit, kenapa kau menempel seperti itu?? " Protes Aurora.
" Ck.. Sejak kapan kau mulai main rahasia-rahasiaan dengan ku? " Tria terlihat tidak senang.
" Aku hanya sedang mencari teman pria di sosial media. Siapa tahu ketemu yang cocok dan bisa berkenalan lalu dekat. Memangnya cuma kau yang bisa punya pasangan, aku juga harus dong. " Ujar Aurora sengaja suaranya dibuat agak keras agar seseorang yang baru saja memasuki ruang make up dapat mendengarnya.
Orang yang dimaksud adalah Kayden, yang memang baru masuk ke ruang make up khusus Tria setelah berbincang sejenak dengan sutradara pembuatan iklan kali ini. Kayden hanya melirik sejenak, dan berlalu begitu saja. Enggan mengomentari yang akhirnya berujung perdebatan yang hanya akan membuatnya malu saja.
Lagipula Kayden sama sekali tidak keberatan andai benar Aurora dekat dengan pria lain. Justru dia merasa senang karena dengan begitu dia tidak akan diganggu oleh Aurora setiap hatinya.
" Kenapa tiba-tiba sekali? " Tanya Tria heran dengan tingkah yang dibuat oleh asisten pribadinya ini.
" Bagus.. Bagus.. " Tria memeluk pelan pundak Aurora.
Tidak ada kisah cinta yang sesakit cinta yang bertepuk sebelah tangan. Berapa banyak pun cinta yang kita tunjukan, jika memang dia tidak menginginkan nya maka jangan salahkan jika cinta itu akhirnya bertepuk sebelah tangan.
Jika sudah seperti itu, pilihannya hanya ada dua. Terus maju dan menahan semua rasa sakit dengan ikhlas atau berbalik arah dan mencari cinta lain yang tentunya pasti akan membalas cinta yang kita berikan.
" Miss Tria.. Saya akan merias anda. " Salah seorang staf bagian make up memanggil Tria.
" Aku ke sana. " Tria pun mendekat ke arah perias sudah menunggunya dengan semua alat tempur yang tersedia di sana.
__ADS_1
Tria duduk di kursi yang menghadap ke arah kaca yang sangat besar. Dari kaca itu, Tria bisa melihat Aurora yang duduk di sisi kanan ruangan dan Kayden di sisi kiri ruangan. Cukup lucu juga jika melihat kedua orang ini. Bekerja selama lima tahun dan melewati susah sedih bersama, nyatanya tak mampu membuat mereka akur.
" Saya lihat-lihat, akhir-akhir ini anda terlihat sangat cerah dan bersinar. Apa ada hal baik yang terjadi? " Perias Tria bertanya.
" Benarkah? Apa sangat kentara sekali?? " Katriana memegang kedua pipinya.
" Aura anda terpancar berbeda dengan sebelumnya, nona.. Seperti seorang yang sedang jatuh cinta. " Ujar si perias menilai.
" Kau bisa saja.. Memang ada beberapa hal menyenangkan yang terjadi akhir-akhir ini. " Tria terkekeh kala teringat tentang apa yang terjadi padanya beberapa waktu belakangan ini.
" Pantas saja. Anda terlihat berkali-kali lebih cantik dari sebelumnya. "
" Hei.. Kau mengatakan itu apa sebelumnya aku tidak cantik? "
" Hahahaha.. Tentu saja anda tetap cantik, nona. Sangat cantik malah. Selama saya merias model dan juga orang-orang yang berpengaruh di masyarakat. Saya merawat tidak ada yang secantik anda nona. Anda yang terbaik. "
" Pandai sekali berkata manis.. Dan Terima kasih atas pujiannya. "
Tria tersenyum sangat lebar. Matanya menatap perias yang tengah meriasnya, dan mata itu memancarkan kebahagiaan yang tidak bisa terlukis kan. Semua itu memang karena Tria tengah berbahagia setelah apa yang terjadi dalam hidupnya. Sebuah perubahan yang sangat besar, dan memberikan begitu besar kebahagiaan untuknya.
Kayden yang duduk di sisi kiri ruangan bisa melihat dengan jelas senyum bahagia yang terpancar di wajah Tria. Ada sedikit rasa sakit di hatinya, melihat bagaimana seseorang yang dia kagumi telah bahagia, namun bukan bersama dengan dirinya. Apakah sudah waktunya Kayden untuk merelakan?
Rupanya bukan hanya Kayden yang menatap ke arah Tria. Aurora pun menatap Tria dengan tatapan iri. Nasibnya, tidak seberuntung Tria dan itu cukup menyesakan karena sejak dulu mereka berteman dan sekolah di tempat yang sama.
__ADS_1
Meski begitu, baik Kayden maupun Aurora tidak akan pernah bisa membenci Tria karena apa yang telah Tria dapatkan dan raih. Keduanya adalah saksi hidup bagaimana perjuangan Tria untuk sampai di posisi ini. Rasanya akan sangat tidak adil, jika mereka membenci seseorang yang merangkak dari tangga terbawah untuk naik ke atas.