Aku Dan Rahasia Besar Ku

Aku Dan Rahasia Besar Ku
Perasaan aneh


__ADS_3

Fokus Katriana teralihkan pada pintu penthouse yang kini menjadi rumah baginya setelah menikah dengan Gafar de Niels. Katriana melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukan jika makan malam sudah terlewatkan. Katriana sendiri juga sudah makan tadi, karena Gafar mengatakan akan makan malam dengan kliennya di luar.


Bibir Katriana tertarik ke atas, melihat suaminya masuk juga ikut tersenyum menatapnya. Katriana berjalan menghampiri Gafar, kemudian memeluknya. Sungguh aneh, setiap hari mereka pasti akan bertemu bahkan tidur di ranjang yang sama. Tapi saat ini Katriana merasa dirinya sangat rindu pada Gafar.


" Ada apa?? " Tanya Gafar yang merasa lain saja melihat istrinya langsung bermanja padanya seperti ini.


" Sebentar saja.. Tiba-tiba aku merindukan kakak. " Gafar terkekeh mendengar ucapan Katriana. Tidak menolak, Gafar justru ikut balik memeluk Katriana, mengabaikan jas dan tas kerjanya yang dia jatuhkan begitu saja di lantai.


Gafar dan Katriana kini tengah duduk di ranjang mereka yang berukuran sangat besar. Untuk dua orang saja, space kosongnya masih bisa ditempat tiga orang dewasa. Gafar sengaja menyediakan semua ranjang yang besar di setiap tempat yang dia mungkin singgahi. Kebiasaan Gafar yang selalu kurang nyaman jika tidur di ranjang yang sempit.


Gafar mengusap rambutnya yang bawah sembari memperhatikan apa yang tengah mencuri perhatian sang istri, sampai tidak menyadari jika dirinya sudah keluar dari kamar mandi beberapa detik yang lalu. Gafar menghela nafas begitu tahu apa yang dilihat oleh sang istri. Sepertinya Katriana termasuk dalam jajaran selevel dengan Lucena.


Gafar hanya bisa menggeleng tanpa berniat untuk mengomentari apapun. Dirinya menyibukan diri dengan memandang wajah cantik sang istri yang tengah memakai kacamata itu. Dilihat dari sudut pandang mana pun, Katriana sangat cantik. Lupakan saja kacamata bulat yang bertengger cantik di pangkal hidungnya, dia tetap cantik mengenakan apapun.


Sedetik kemudian alis Gafar berkerut. Rasanya wajah Katriana justru mengingatkan nya dengan klien baru yang kasusnya tengah dia tangani saat ini. Ada beberapa kemiripan, meski tidak semua sama. Tapi menurut Gafar, jika Katriana dan Tria bersaudara, itu bukan hal yang mustahil.


Oh ya, jangan lupakan dua teman Katriana yang Gafar temui justru kerja bersama dengan Tria. Padahal seingatnya, setiap hari kedua teman istrinya itu yang menjemput untuk pergi bekerja bersama. Apakah Katriana menjadi freelance di Sky Dream. Gafar merasa ada yang janggal disini, insting seorang pengacara yang bicara.


" Katy... Apa kau mengenal Tria?? " Tanya Gafar dengan nada bicara yang sangat santai. Tapi sungguh tidak bagi Katriana yang terlihat membeku sesaat mendengar pertanyaan itu.


" Memangnya kenapa kak? " Katriana berusaha menutupi kegugupan nya disini. Masalahnya, yang menjadi lawan bicaranya adalah seorang pengacara yang kemampuannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Salah bicara atau salah bertindak, bisa-bisa semuanya justru berbalik menyerangnya.

__ADS_1


" Dua teman mu, mereka bukannya kerja satu kantor dengan model bernama Tria itu. Setiap kau berangkat bekerja juga bersama mereka, apa kau kenal baik dengan model itu? " Gafar kembali bertanya. Bahkan kini pertanyaannya sangat jelas sekali, sehingga untuk berkilah sangatlah sulit.


" Ayo otak cerdas ku.. Berpikir.. Berpikir... Jangan sampai aku salah menjawab.. " Batin Katriana sambil memejamkan matanya.


Gafar melihat gelagat Katriana yang tidak biasa. Antara tidak nyaman dengan pertanyaan itu, atau enggan menjawab karena sesuatu hal yang tidak ingin dikatakan. Tidak mau membuat Katriana tertekan dengan dirinya, Gafar pun berencana untuk tidak lagi membahas topik tentang model yang sedang tenar karena skandalnya itu. Namun kata-kata Katriana sebagai jawaban dari pertanyaannya, entah kenapa mengusik hatinya.


" Kenal.. Beberapa kali aku membantu Tria kak.. Aku kan freelance, dan Kayden serta Aurora bekerja dengannya, surah barang pasti aku kenal. " Ucap Katriana tersenyum canggung.


" Tahukah kalian jika kau sangat mirip dengan Tria?? Terutama lipatan mata itu, saat kalian tersenyum canggung. " Gafar tersenyum. Tidak lagi membahas topik tentang Tria. Hanya saja ucapan Gafar barusan, bagaikan petir yang menyambar Katriana.


Malam ini, menjadi malam terpanjang dalam hidup Katriana. Sudah pukul dua dini hari, tapi matanya enggan untuk tertutup. Katriana kepikiran ucapan Gafar dan juga memikirkan masalah yang dia hadapi saat ini. Kenapa semuanya terjadi seperti ini, seolah semesta ingin seluruh dunia mengetahuinya. Hidup damai Katriana kini sudah berakhir, berbagai macam badai sebentar lagi akan menerpanya. Berharap dia masih bisa berdiri dengan kedua kakinya nanti.


********************


" Rasanya tidak mungkin dia sudah mencium adanya sebuah kejanggalan disini. Jelas-jelas kalian berbeda, mau dilihat dari sudut pandang mana pun. Bukankah selama lima tahun ini tidak ada yang menyadarinya. " Aurora menyangkal sendiri ucapannya.


Tria hanya bisa menggeleng pasrah karena jujur saja Tria sedang kalut saat ini. Masalah mengenai tuntutan dari perusahaan otomotif, belum lagi hujatan yang dia Terima dari semua masyarakat karena skandalnya, ditambah lagi kecurigaan seseorang yang sebenarnya sederhana tapi bisa menjadi badai terbesar jika semua orang mengetahuinya.


Haruskah Tria menyerah sekarang, mundur dari dunia model lebih awal demi kembali mendapatkan ketenangannya. Tapi rasanya sangat disayangkan, kontraknya berakhir tinggal beberapa bulan lagi. Akan tetapi, yang sekarang membuat Tria dilema adalah harus kan akhir karirnya yang selama ini dia perjuangkan dengan segenap pengorbanan, harus berakhir dengan skandal.


" Tria.. Kenapa kau diam saja? " Suara Aurora menyadarkan Tria dari lamunannya.

__ADS_1


" Ck.. Yang dibutuhkan Tria sekarang adalah ketenangan. Dari tadi kau cerewet sekali, mengomentari ini dan itu. Tidak sadar jika kau justru membuatnya semakin pusing. " Kayden yang angkat bicara. Dia sebenernya cukup kesal karena Aurora yang tidak berhenti bicara sejak awal mereka ada di ruangan ini.


Heran saja, terbuat dari apa batrei milik Aurora itu. Rasanya tidak pernah melihat ketika batrei itu dicharge, tapi kenapa dayanya tidak habis-habis sejak tadi. Kayden rasanya sudah ingin pergi saja daripada mendengar ceramah tak penting dari Aurora. Sayangnya, Kayden harus mengurungkan niatnya karena tidak enak pada Tria.


" Duh Kay-ku.. Rasanya tidak percaya kau bisa berkata sepanjang itu hanya untuk mengatakan hal seperti itu pada ku. Haruskah aku merasa tersanjung? " Komentar Aurora tidak nyambung.


" Terserah.. " Ucap Kayden sudah tidak mampu lagi bertahan untuk tetap waras jika masih satu ruangan dengan Aurora.


" Kau mau kemana, Kay? " Tria akhirnya mengeluarkan suara.


" Beli kopi.. Rasanya aku mengantuk mendengar dongeng Aurora. " Gumam Kayden.


" Belikan aku latte tanpa susu ya. " Pintar Tria. Kayden mengangguk dan bergegas pergi begitu saja tanpa ada niatan untuk bertanya para Aurora ingin menitip apa.


" Kay.. Aku juga mau nitip.. Kay-ku!! " Teriak Aurora segera bergegas mengejar Kayden sebelum dirinya ketinggalan.


Sungguh calon tunangan lucknut, Kayden itu. Dengan teganya mengabaikan Aurora yang juga ingin sesekali diperhatikan oleh calon tunangan yang entah kapan pertunangan mereka bisa terealisasikan.


Sepeninggal kedua rekan kerja sekaligus sahabatnya. Akhirnya Tria bisa sendirian. Kedua telapak tangannya terangkat menutupi wajahnya. Ingin rasanya menangis, tapi Tria sadar betul jika menangis bukannya menyelesaikan masalah tapi justru membuat masalah baru.


Tanpa Tria sadari, sudah ada seseorang lain yang masuk ke ruangan itu tak lama setelah Kayden dan Aurora pergi. Orang ini menatap iba pada Tria. Ada perasaan aneh yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata oleh orang ini. Rasanya, baru kali ini dia begitu peduli pada masalah hidup orang lain. Rasanya sangat gatal sekali ingin memeluk Tria dan menenangkannya di dalam pelukan hangat nya.

__ADS_1


" Aku pasti sudah gila.. "


__ADS_2