Aku Dan Rahasia Besar Ku

Aku Dan Rahasia Besar Ku
Kesedihan Gafar


__ADS_3

" Kak Gafar..." Katriana berbisik di telinga suaminya, berusaha mencoba untuk membangunkannya.


" Sepertinya, kak Gafar sudah pulas.. Lalu bagaimana dengan makanannya?" gumam Katriana bingung.


Katriana menatap bungkusan makanan yang dia beli setelah selesai bekerja tadi karena Gafar yang tiba-tiba mengirim pesan meminta dibawakan makanan dari restoran milik Ghadi yang tak jauh dari rumah sakit. Katriana tidak enak jika harus makan seorang diri. Tapi jika boleh jujur, saat ini dia merasa sangat lapar. Cacing di perutnya sudah berdemo meminta diberi makanan.


Salahkan dirinya yang menolak makan bersama dengan Aurora dan Kayden saat berada di restoran iparnya tadi. Katriana berencana ingin menemani suaminya makan sebagai penebusan dosanya karena tidak merawat suaminya sejak pagi hari hingga malam tiba.


Pekerjaan yang awalnya dijadwalkan selesai sore hari, terpaksa mundur karena tingkah seseorang yang tidak profesional saat bekerja. Katriana jadi terlambat pulang, dan mendapati suaminya justru sudah terlelap.


" Suster..." Katriana memanggil suster yang dia temui ketika keluar dari ruangan rawat Gafar.


" Ada yang bisa saya bantu nyonya muda?" tanya suster itu yang sudah tahu jika wanita yang memanggilnya, adalah menantu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.


" Maaf mengganggu pekerjaan mu.. Tapi, ehmmm... Apakah.... Kau tahu apa yang harus aku lakukan dengan...ehmmmmm..." Katriana menunjukan bungkusan yang dia bawa pada suster.


" Mari saya antar ke dapur pribadi keluarga de Niels, nyonya muda.." suster itu tersenyum dan meminta Katriana untuk mengikutinya.


Dari kamar rawat inap yang ditempati Gafar, ada lorong bercabang yang biasa Katriana lewati saat menjenguk suaminya. Jika biasanya dia akan melewati lorong sebelah kanan yang mengarah ke lift, kali ini dia berbelok ke kiri yang baru pertama kali dia lewati.


Lorong ini membawanya ke sebuah ruangan yang berada di ujungnya. Suster pun membuka pintu dan mempersilahkan Katriana untuk masuk ke dalam. Betapa terkejut sampai tak bisa berkata-kata, ketika Katriana dihadapkan dengan sebuah dapur yang begitu besar, yang memiliki peralatan lengkap, dan berada di sebuah rumah sakit.


Sepertinya, keluarga suaminya ini benar-benar memperhatikan keperluan dari anggota keluarga yang sedang sakit. Katriana tidak percaya dengan yang dia lihat, karena dapur yang ada di depannya ini jauh lebih mewah dan lengkap dari dapur yang ada di mansion miliki kedua orang tuanya.


" Anda pasti terkejut.. Dapur ini sengaja tuan besar sediakan karena biasanya anggota keluarga tidak menyukai makanan yang rumah sakit sediakan. Sehingga akhirnya tuan besar mengundang koki khusus yang akan mengurusi makanan yang dikonsumsi anggota keluarga yang dirawat di lantai ini." suster tadi menjelaskan tentang asal usul dari dapur yang ada di tempat ini.

__ADS_1


" Anda bisa memanaskan makanan yang anda bawa, dan kembali mengkonsumsinya saat nanti anda menginginkannya." suster tadi menunjukan letak kompor listrik yang memiliki tekhnologi canggih.


" Apa kalian yang bekerja di lantai ini juga menggunakan dapur ini?" tanya Katriana mulai mengungkapkan rasa penasarannya.


" Benar nyonya muda.. Kami biasanya menggunakan dapur ini untuk membuat masakan untuk kami. Tuan dan nyonya besar, tidak pernah mempermasalahkan hal seperti itu. Dan dengan senang hati mempersilahkan kami memakai dapur ini." ucap suster tadi dengan senyum lebar.


Katriana bisa melihat jika suster yang bekerja di lantai empat, yang dikhususkan menjadi lantai perawatan untuk keluarga suaminya ini, begitu senang bekerja di rumah sakit ini. Katriana mulai memikirkan tentang rumor yang beredar di luar sana. Rumor yang mengatakan jika keluarga utama di keluarga de Niels, adalah orang-orang yang tidak pernah mendiskriminasi orang lain.


" Terima kasih, suster.. Anda bisa kembali bekerja.." Katriana mengucapkan terima kasih karena telah dibantu menyelesaikan satu permasalahan dalam hidupnya.


" Baik nyonya muda.. Jika anda membutuhkan sesuatu, silahkan memanggil kami.." Katriana mengangguk.


Katriana segera menghangatkan makanan yang nantinya akan dia makan bersama suaminya. Lebih baik menghangatkan sekarang, daripada terburu basi dan berakhir mereka tidak bisa menikmatinya nanti.


Katriana yang kala itu sudah mulai bekerja paruh waktu, menggunakan alasan kursus memasak untuk menutupi pekerjaannya dari kedua orang tuanya. Katriana dilarang keras oleh kedua orang tuanya untuk mengambil pekerjaan yang menurut mereka hanya buang-buang waktu dan tenaga.


Alhasil, karena perbedaan pendapat itulah, katriana terpaksa berbohong pada kedua orang tuanya. Dan kebohongan itu terus berlanjut hingga sekarang. Demi bisa menutupi kebohongannya, maka dari itu Katriana harus benar-benar bisa memasak agar bisa membungkam kedua orang tuanya.


*********************


" Darimana?" Katriana berjingkat kaget begitu dia membuka pintu ruang rawat inap Gafar, dan suaminya ini sudah terbangun.


" Kakak sudah bangun? Aku baru saja pergi ke dapur untuk menghangatkan makanan yang aku belikan tadi..Apa kakak membutuhkan sesuatu?" Katriana mendekati Gafar. Telapak tangan Katriana menyentuh kening Gafar untuk memeriksa suhu tubuh Gafar.


" Sudah tidak lagi demam.. Biasanya ketika malam tiba, tubuh kakak akan mulai panas." ujar Katriana.

__ADS_1


" Tak apa.. Sudah beberapa hari dirawat, jadi tidak lagi demam." Gafar tersenyum.


" Syukurlah.. Aku takut sekali ketika melihat merintih kesakitan." Katriana ingat betul ketika mereka berada di Athena dan saat itu Gafar sakit.


" Maaf sudah membuat mu takut.. Lusa aku bisa keluar dari sini, jadi kamu bisa tenang." Katriana tersenyum senang mendengar kabar jika suaminya akan segera keluar dari rumah sakit.


" Apa kau sudah makan??" Katriana menggeleng.


Gafar pun ikut menggeleng saat mengetahui sudah jam lewat makan malam, tapi sang istri belum makan. Gafar pun meminta suster untuk membantu menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Sebenarnya Gafar masih kenyang memakan apa yang Ghadi bawakan untuknya tadi. Hanya aja, Gafar merasa jika dia tidak makan, maka istrinya tidak akan makan.


Keduanya makan sambil sesekali tertawa ketika mereka saling melempar candaan. Katriana merasa senang karena kondisinya membaik, dan dia juga memang selalu merasa nyaman dan senang saat bisa quality time bersama dengan suaminya seperti ini.


Gafar yang memiliki wawasan yang luas tentang kehidupan, selalu bisa membuat Katriana merasa bersemangat mendengarkan apa yang Gafar katakan. Katriana seperti menemui dosen ketika bersama dengan suaminya. Anehnya, ketika bersama Gafar, dia selalu bisa mencerna semua pengetahuan yang Gafar sampaikan. Tidak seperti ketika dia kuliah dulu.


" Kakak pandai sekali. Hal seperti itu kakak bisa menyelesaikannya dengan baik. Kakak memang pantas disebut sebagai pengacara jenius." Katriana memuji Gafar..


" Aku, Galen dan Rouge.. Kami seumur yang hanya berbeda beberapa bulan saja. Kami bertiga mendapatkan pendidikan sebagai penerus kepemimpinan daddy Joaquin sehingga kami dituntut untuk memiliki wawasan yang luas." terang Gafar.


" Galen lebih hebat lagi.. Aku yang berada di posisi kedua dan Rouge yang ketiga.. Jika diingat, hampir semua hal selalu kami jadikan sebagai sebuah perlombaan. Dan yang paling anehnya, setiap perlombaan yang kami lakukan dan dalam bidang apapun, urutan pemenangnya selalu sama." Gafar bercerita dengan begitu bersemangat.


" Sungguh hal yang menyenangkan. Tapi kak,, aku dengar kak Galen sedang sakit saat ini. Apa itu benar?" tanya Katriana. Pasalnya, Gafar saja dirawat di rumah sakit ketika dikabarkan sakit. Lalu kenapa Galen yang memang tengah sakit, tapi tidak dirawat di rumah sakit.


Ketika Katriana memperhatikan wajah Gafar setelah bertanya tentang Galen. Katriana dibuat terkejut melihat mata Gafar berkaca-kaca, seperti seseorang yang hendak menangis. Ini kali pertama bagi Katriana melihat suaminya seperti ini.


" Kami semuanya akan merasa sakit saat dia sakit.. Karena kami kembar.." jawab Gafar, yang tidak bisa Katriana pahami apa maksudnya.

__ADS_1


__ADS_2