Aku Dan Rahasia Besar Ku

Aku Dan Rahasia Besar Ku
Pagi mencekam


__ADS_3

Tidak ada penampilan yang lebih seksi dari penampilan seorang pria yang tengah berkutat di dapur. Pemandangan indah ini, saat ini tengah Katriana nikmati. Menurut Katriana, pagi ini merupakan pagi yang dipenuhi dengan keberuntungan baginya karena melihat suaminya tengah berdiri di dapur dengan mengenakan celemek.


Kedua telapak tangan Katriana, berpangku di dagunya. Matanya menatap sosok Gafar yang tengah membuat sarapan untuk mereka. Bibir Katriana tidak berhenti tersenyum sejak diawal dirinya duduk di meja makan. Wajah Katriana, terlihat seperti orang bodoh yang tengah terpesona akan sesuatu yang indah di depannya.


" Hentikan wajah mu yang terlihat menjijikan itu, sebelum tuan Gafar melihatnya dan menjadi illfeel terhadap mu." bisik Aurora yang akhirnya membuyarkan keindahan yang tengah Katriana saksikan.


" Ck.. Kenapa kau mengganggu ku mengagumi suami ku sendiri? Kau iri ya?" Katriana berbicara dengan ketus.


" Kau tidak melihat bagaimana rupa mu ketika kau melihat suami mu barusan. Jika kau boleh jujur, jangan pernah memperlihatkan hal ini pada siapapun.. Katy, kau memang cantik, tapi yang barusan itu sangat jauh dari kata cantik." Katriana mengedikan bahunya acuh. Masa bodoh dengan ucapan teman lucknutnya ini.


" Silahkan nikmati.. Maaf aku hanya bisa menyediakan makanan sederhana ini.. Waktu ku sudah mepet untuk berangkat kerja." Gafar meletakan dua piring berisi sandwich tuna di meja makan.


" Tidak tuan.. Saya sudah sangat berterima kasih karena sudah mendapatkan kebaikan anda.." Aurora tersenyum canggung.


" Tidak menjadi masalah.." Gafar pun melangkah pergi dari dua wanita yang sekarang tengah menikmati sarapan mereka.


Katriana dan Aurora terlihat begitu lahap memakan sarapan yang dibuat oleh Gafar. Keduanya begitu menikmati sampai tidak sadar jika dua piring di depan mereka sudah kosong tidak bersisa.


Menangis dan juga menemani teman yang sedang bersedih memang membutuhkan banyak tenaga. Semalaman mereka berdua berbincang hingga pagi ini perut mereka terasa sangat lapar. Ditambah lagi masakan Gafar yang memang tidak diragukan cita rasanya, membuat Katriana dan Aurora lupa daratan.


" Kat..." Gafar terbelalak saat melihat piring berisi sandwich tuna yang dia buat tadi sudah habis tanpa sisa.


" Ya kak.. Oh ya Tuhan.. Kak... Maaf.." Katriana pun ikut terkejut melihat bencana yang dia dan Aurora ciptakan.


" Kak... bagaimana ini??? Bisa tunggu sebentar, aku akan membuatkan kakak sarapan.." Katriana beranjak dari meja makan menuju ke dapur.


" It's okay.. Aku mampir di restoran milik Ghasi saat melewatinya nanti. " Gafar menghentikan langkah sang istri. Dia sudah tidak memiliki waktu untuk menunggu Katriana membuatkan sarapan untuknya karena mendesaknya pertemuan yang akan dia hadiri sebentar lagi.


" Kak... Maaf.." Katriana tertunduk sedikit takut jika Gafar akan marah.

__ADS_1


" Hahahahaha.. Kenapa berwajah seperti itu? Sudah aku katakan tidak apa.." Gafar mengusap puncak kepala Katriana yang tertunduk di depannya.


" Aku berangkat kerja dulu ya.. Jika membutuhkan sesuatu kau bisa menghubungi ku.. Maaf tidak bisa menemani dirimu hari ini." Gafar berpamitan dengan mengecup lembut dahi Katriana.


" Hati-hati kak.." Gafar mengangguk.


Gafar tersenyum tipis saat berbalik meninggalkan sang istri. Senyum tipis yang tidak akan bisa dilihat oleh siapapun. Senyum tipis yang Gafar buat karena melihat wajah merona merah dari sang istri saat dia mengecupnya tadi.


Gafar merasa lucu saja, mereka bahkan sudah melakukan hal yang lebih dari itu tapi istrinya masih saja merona saat mereka melakukan kontak fisik yang mengarah ke hal-hal yang mesra.Gafar merasa hidupnya kali ini sungguh sangat berwarna, dan dia menyukainya.


" Tidak buruk juga menikah.." batinnya senang.


************************************


" Kau tidak akan pulang?" tanya Katriana ketika melihat Aurora masih terlihat betah berada di penthouses milik Gafar.


" Ck.. Berhenti bersikap menyebalkan seperti itu. Kau tahu betul apa maksud pertanyaan ku tadi." Katriana terlihat kesal. Hari cuti yang susah payah dia perjuangkan, harus terganggu karena permasalahan temannya satu ini.


" Aku yakin paman akan menceramahi ku sampai telinga ku bercabang. Jadi lebih baik aku disini dulu, setidaknya sampai paman ku menyadari betapa pentingnya diri ku." ujar Aurora santai ketika menjawab pertanyaan dari katriana.


" Tempat ini bukan penampungan, Au.. Jika dulu kau keluar masuk kamar ku dan juga mansion keluarga ku, memang hal itu sudah biasa tapi tempat ini adalah milik kak Gafar. Aku tidak enak dengannya." Katriana akhirnya mengeluarkan apa yang tengah mengganggu pikirannya.


" Aku tahu.. Tapi kemarin malam, aku sungguh tidak ingin melihat wajah pria itu." Katriana mendekat untuk memeluk Aurora.


Meski tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta sepihak itu seperti apa, tapi melihat bagaimana Aurora selama ini menderita karena cinta bertepuk sebelah tangan, membuat Katriana mencatat dengan betul agar jangan sampai dia mengalaminya.


Sempat ada kekhawatiran yang mana nantinya ketika pernikahan yang diawali dengan perjodohan ini akan berakhir dengan hanya salah satu yang mencintai pasangan. Namun tidak ada pilihan lain yang harus Katriana pilih. Dia harus mengorbankan sesuatu untuk hal yang dia inginkan. Dan anggap saja apa yang dia jalani saat ini adalah harga yang pantas dia bayar untuk sesuatu yang dia inginkan.


" Ikuti saja saranku terlebih dulu.. Coba untuk jual mahal padanya. Karena semakin kau mengejarnya, semakin dia akan berusaha untuk menghindar.. Buat pria itu pemasaran pada diri mu, jangan terlalu terbuka di depannya.. " Ujar Katriana kembali memberi saran pada Aurora.

__ADS_1


" Sulit, Katy... " Aurora merengek.


" Ck.. Kalau kau punya sabar seluas samudra dan sedalam palung laut, silahkan saja kau abaikan saran ku.. Tapi jangan datang lagi pada ku dan menangis seperti semalam.. " Katriana melotot kesal pada Aurora.


" Oh God.. Kenapa kamu tega sekali pada ku, kawan? Ingat, kita itu adalah kawan.. " Aurora mendusel ke arah Katriana, berusaha merayu.


" Minggir kau.. " Katriana merajuk.


Susah sekali jika menasehati temannya yang sudah masuk dalam kelompok ' bulol '. Sudah sering tersakiti dan diabaikan, tapi tetap saja tidak tahu malu dan terus menempel pada pria yang mereka sukai.


Sekali lagi Katriana harus bersyukur karena kisah cinta yang dia jalani sudah tidak lagi penuh dengan duri seperti ketika dirinya bersama Lycan. Terima kasih pada kedua orang tuanya yang memaksa dan mengancamnya untuk menikah dengan Gafar.


************************


Pagi yang mencekam telah kembali lagi harus dijalani semua orang-orang yang bekerja di bawah firma hukum Rodev Justice. Firma hukum yang didirikan oleh putra kedua dari pasangan de Niels, tidak lain adalah Gafar Rodeven de Niels.


Pagi mencekam memang selalu terjadi ketika semua orang yang bekerja di bawah naungan firma hukum ini berkumpul untuk melakukan evaluasi bulanan. Dan sayangnya, hari ini adalah hari dimana pemimpin di Rodev Justice, mengadakan rapat bulanan.


Dikatakan mencekam karena pemimpin mereka semua, Gafar de Niels, adalah seseorang yang tidak bisa menerima sedikit saja masalah. Mereka berurusan dengan hukum setiap hari, jadi Gafar selalu menuntut semuanya untuk teliti dan yang pasti sempurna dalam pekerjaan.


Yang menjadi permasalahan di sini, tidak ada manusia yang sempurna. Lalu bagaimana mereka bisa mengerjakan sesuatu secara sempurna. Ingin rasanya mereka melawan, tapi amarah Gafar adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa mereka lawan ataupun redakan.


" Saya harap, saya tidak akan dikecewakan seperti dalam rapat evaluasi bulan kemarin.. Saya tidak mau kita kehilangan kepercayaan dari klien lantaran karena kesalahan yang kita sendiri buat.. " Ujar Gafar mengawali rapat evaluasi.


" Mari kita dengarkan dari divisi Satu.. Saya harap, laporan kalian memuaskan.. " Gafar mempersilahkan divisi Satu untuk melakukan presentasi.


Entah apa yang akan terjadi di rapat evaluasi kali ini. Karena terakhir kali, Gafar benar-benar marah besar sampai memecat salah satu stafnya karena kesalahan sederhana namun berakibat sangat fatal pada sidang.


Semua orang yang mengikuti rapat kali ini, hanya bisa berharap cemas, mereka tidak akan terkena amukan dari pria yang dijuluki sebagai malaikat pencabut nyawa itu.

__ADS_1


__ADS_2