
Helaan nafas terdengar beberapa kali keluar dari mulut Katriana. Jika sampai Kayden maupun Aurora tahu dimana dia saat ini dan akan bertemu dengan siapa, Tria yakin kedua teman baiknya itu akan murka. Sayangnya, Tria tidak bisa menghindari orang yang akan dia temui saat ini. Tidak ada pilihan, meski tidak bertemu sekarang, belum tentu nantinya dia bertemu atau tidak.
Tria ingat betul kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat dirinya tengah meniti tangga karir sebagai model internasional, dia bertemu dengan orang-orang ini. Orang-orang yang awalnya merupakan teman baiknya, kini berubah menjadi seseorang yang sama-sama ingin tidak pernah ada pertemuan diantara mereka.
Disini bukan Tria yang bersalah, merekalah yang dengan tega membuatnya terluka sedalam-dalamnya. Namun mereka begitu pandai menutupi kesalahan mereka sehingga di mata semua orang, Tria lah yang bersalah. Luka karena orang-orang ini, tertoreh begitu dalam di hati Tria. Berulang kali dicoba memaafkan pun, rasanya Tria tidak akan pernah bisa memaafkan orang-orang ini.
" Aku sudah gila.. Aku pasti sudah gila.. Cari penyakit saja kalau begini ceritanya.. " Gumam Tria terlihat tidak baik-baik saja. Ada keringat dingin keluar dari tubuhnya, menandakan jika saat ini dia merasa tidak nyaman.
" Huft.. Tenang.. Tenang.. Semuanya akan baik-baik saja. Badai akan segera berlalu. " Tria menepuk pelan pipinya beberapa kali, berusaha untuk menguatkan dirinya agar bisa melewati semua ini dengan baik.
" Kebiasaan mu masih sama seperti dulu ya.. Bicara sendiri dan apa itu tadi, menepuk pipi mu.. Apa maksud tindakan mu itu coba?? " Seloroh seorang wanita yang tiba-tiba saja mengambil tempat duduk di depan Katriana.
" Ck.. " Tria berdecak malas.
" Lama tak berjumpa.. Atau lebih tepatnya kau yang berusaha menghindari ku selama ini, padahal kita satu agensi. " Wanita ini tersenyum miring saat menyindir Tria.
" Tidak perlu basa basi. Katakan saja apa yang kau inginkan, maka setelah itu tidak perlu ada urusan di antara kita berdua. " Ujar Tria to the point.
Melihat wanita ini di depannya setelah peristiwa menyakitkan itu, ada sedikit rasa nyeri yang dirasakan Tria. Dengan ini, Tria sadar bahwa luka di hatinya karena ulah wanita ini belum benar-benar sembuh meski sudah berlalu dua tahun lebih.
Time doesn't heal anything, it just teach is to live with Pain.
Kata-kata ini begitu cocok jika Tria yang menggunakannya. Memang benar, waktu yang telah berlalu belum mampu menghapus rasa sakit hatinya karena pengkhianatan dua orang terdekatnya. Waktu hanya membantunya hidup dan berteman dengan luka itu, sehingga semuanya terasa baik-baik saja.
" Waktu mu tidak banyak, Elexsia. Sungguh aku sama sekali tidak ada waktu hanya untuk mendengarkan kau berceloteh hal-hal yang tidak penting. " Tria kembali memperingatkan wanita yang ternyata bernama Elexsia Carola ini.
" Hihihihi.. Baik, aku akan langsung mengatakan saja.. " Senyum di wajah Elexsia menghilang berganti dengan wajah yang terlihat sangat serius.
__ADS_1
" Jauhi Lycan, jangan ajak dia bicara dan usahakan kalian tidak akan berada di dalam satu ruangan hanya berdua.. " Ujar Elexsia terlihat menatap bengis Tria.
" Ini bukan hanya sebuah peringatan, Tria.. Karena ini bisa menjadi ancaman jika aku tahu kau melanggarnya. " Elexsia menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Bermaksud agar Tria jelas dan paham maksud dari pembicaraan ini.
" Hahahahahahaha.... " Tria tiba-tiba saja terbahak setelah mendengar perkataan dari Elexsia.
" Kau takut? Takut jika bisa saja Lycan mengajak aku kembali padanya? Begitu? " Tria tersenyum mengejek.
" Dengar Elexsia.. Aku justru bersyukur karena kau mengambil pria pengecut seperti Lycan dari hidup ku.. Aku justru sangat berterima kasih, aku tidak perlu terjebak dengan pria tidak tahu diri macam Lycan. Ambil saja, aku sama sekali tidak berminat untuk kembali padanya.. Sama sekali tidak.. " Tria menekankan tiga kata terakhir di kalimatnya.
Elexsia meremas kencang meja yang ada di depannya. Jika bukan karena mereka berada di tempat umum dan memikirkan masalah karir, sungguh Elexsia ingin sekali menampar wajah Tria. Tapi sebisa mungkin Elexsia menahan dirinya, karirnya lebih penting dibandingkan harus mengurusi emosinya karena Tria.
" Baik.. Aku pegang kata-kata mu, Tria. Kita buktikan, benarkah ucapan mu itu atau kau sengaja berkata seperti itu untuk membohongi ku dan diam-diam mendekati Lycan.. " Elexsia berhasil membalas Tria. Lihat, sekarang Elexsia tersenyum mengejek dan Tria ganti saat ini menahan emosinya agar tidak meledak.
******************
Tok.. Tok.. Tok..
Katriana melangkah dengan langkah yang sedikit di hentakan saking rasanya dia sangat kesal sore ini. Andai saja dirinya bisa membalas tadi, maka dirinya tidak akan sekesal ini. Memang berhadapan dengan ular betina, sungguh menguras emosi. Katriana harus belajar lebih sabar lagi jika dilain waktu mereka bertemu kembali.
" Hiiiii... Jangan sampai ketemu lagi. Bisa-bisa aku akan gila jika bertemu dengan wanita itu lagi.. Jangan sampai bertemu.. " Gumam Katriana bergidik ngeri.
Tit.. Tit.. Tit.. Tit...
Pintu penthouse terbuka, Katriana pun masuk dengan mulut yang masih mengomel bebas. Segala macam kata-kata yang halus dan kasar terucap dari mulutnya. Mungkin memang begini caranya Katriana untuk meluapkan kekesalannya.
" Dasar ular betina.. Jika bertemu lagi, aku pastikan kau akan botak di tangan ku.. " Kepalanya Katriana naik ke atas tepat di depan wajahnya.
__ADS_1
" Ular betina memang tidak memiliki rambut, Katy.. "
" Aaarrgghhh... " Katriana berjingkat kaget ketika akhirnya dia menyadari tidak hanya dirinya yang ada di ruangan ini.
" Kak Gafar?? " Pekik Katriana.
" Terjadi sesuatu? Aku kembali dan kau tidak berada di penthouse. " Ucap Gafar dengan wajah yang terlihat sangat serius.
Tubuh Katriana langsung bergetar ketika untuk pertama kalinya, dia melihat wajah Gafar berekspresi serius seperti ini dan itu sangat menakutkan. Katriana ingin berucap untuk menjawab pertanyaan Gafar, sayangnya lidahnya terlalu kelu dan tenggorokannya terasa sangat kering sehingga tidak ada satu kata pun yang meluncur dari mulutnya.
Gafar yang tadinya duduk di sofa dengan ipad di tangannya, kini mulai berdiri dan berjalan ke arah dimana Katriana berdiri kaku. Gafar mengelilingi tubuh Katriana beberapa kali sambil menatap tajam Katriana. Gafar kecewa saat dia kembali ke penthouse dan tidak menemukan keberadaan sang istri. Gafar pun semakin kecewa, karena Katriana tidak berpamitan padanya saat keluar tadi.
" Darimana? Kenapa tidak pamit pada ku? Apa kau tidak menganggap keberadaan ku? Ada yang kau sembunyikan dari ku? Dengan siapa kau pergi? " Katriana menelan ludahnya kasar mendengar panjangnya pertanyaan Gafar.
" Jawab Katy.. " Ucap Gafar dengan nada sedikit tinggi karena Katriana tidak kunjung menjawab.
" I-itu... Aku pergi, ehmmm... Menemui teman.. Lama.. Eh, bukan teman... Rekan yang sekarang menjadi... Musuh.. " Jawab Katriana putus-putus.
" Kenapa tidak pamit? " Gafar kembali mengulang salah satu pertanyaan yang dia lontarkan tadi.
" Aku terburu-buru.. " Katriana menunduk takut.
Huft....
Gafar membuang nafas sebentar untuk bisa menguasai dirinya yang sekarang sedang emosi. Gafar tidak ingin jika Katriana terkejut melihat dirinya yang marah-marah seperti yang biasa dia lakukan di kantor. Gafar, tidak ingin Katriana takut padanya, Gafar justru menginginkan Katriana menghormatinya tanpa ada rasa takut di dalam dirinya.
" Jangan diulangi.. Dengan siapapun dan kemanapun tolong kabari aku. Pekerjaan ku adalah sesuatu yang menantang banyak orang yang mungkin dirugikan. Dan sangat berbahaya jika kau keluar tanpa aku tahu apa-apa.. " Ujar Gafar mengatakan maksud dari sikap tegasnya ini.
__ADS_1
" Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu, Katy. Dan lebih tidak ingin jika sampai aku adalah orang yang tidak tahu apa-apa atas semua yang menimpa mu. Tolong anggap aku bagian dari diri mu meski awalnya sulit. Apa kau mengerti? " Gafar berucap dengan nada lembut. Hal ini justru membuat Katriana menangis.
Bukan takut bukan juga sedih, tapi Katriana senang karena dia merasa jika bagi Gafar dirinya sangat penting dan berarti. Katriana merasa jika dirinya dianggap dan dihargai keberadaannya oleh sang suami. Karena inilah, Katriana sekarang menangis di dalam pelukan Gafar.