
Rasa sakit yang paling sakit adalah ketika kita tidak bisa mengekspresikan rasa sakit itu sendiri. Ingin menangis tapi air mata terasa sudah benar-benar kering dan tidak menyisakan satu tetes pun. Ingin berteriak dan memaki seperti orang gila, namun sadar semua itu hanya membuang tenaga karena tidak akan membawa kembali apa yang sudah hilang dalam hidup kita.
Jangan terlalu erat menggenggam sesuatu yang tidak dibawa mati. Sebuah kalimat sederhana tapi memiliki makna yang sangat mendalam. Kalimat yang seharusnya menjadi moto hidup seseorang, agar ketika kita kehilangan sesuatu, kita tidak akan hancur. Semua adalah milik Sang Pencipta, dan akan kembali lagi kepada pemiliknya.
Terlalu mencintai seseorang juga bisa membawa petaka ketika cinta kita tak berbalas atau ketika cinta itu pergi meninggalkan kita. Cinta pertama semua wanita, jarang ada yang menyisakan sebuah kisah bahagia. Hampir semuanya mengalami patah hati yang teramat sakit bersama dengan cinta pertamanya. Katriana pun begitu.
Jatuh cinta untuk pertama kalinya, Katriana justru mencintai seseorang yang sulit untuk dia gapai. Meski cintanya berbalas, nyatanya cinta mereka kandas ditengah jalan karena sebuah pengkhianatan. Cinta pertamanya telah membagi hatinya untuk wanita lain dan itu adalah sahabatnya sendiri.
Jika diingat lagi, rasanya Katriana tidak pernah membuat kekasihnya merasakan yang namanya diabaikan atau diacuhkan. Meski hanya sebentar Katriana selalu menyempatkan dirinya untuk sekedar bertemu walau hanya lima menit saja. Tapi kenapa semua pengorbanannya harus dibayar dengan sebuah luka yang teramat dalam.
" Jika ingin menangis, kau bisa meminjam bahu ku.. " Kayden menawarkan diri.
" Hehehe.. Aku tidak ingin demi kenyamanan ku, justru membuat hati sahabat baik ku sakit. " Katriana menolak.
Tatapan mata Kayden langsung mengarah pada seorang wanita menyebalkan yang sekarang tengah tertidur karena terlalu banyak meminum alkohol. Toleransi alkoholnya sangat buruk, tapi entah kenapa Aurora selalu saja ikut minum ketika orang lain mengajaknya.
" Kay... Sedikit saran dari ku. Jangan sampai kau berakhir menyesal karena terlalu lama mengabaikan perasaannya. " Katriana tersenyum menatap Kayden. Katriana pun kembali meneguk kaleng bir yang digenggamnya. Ini adalah kaleng bir ke enam yang dia minum sejak tiba di apartemen pribadinya.
" Perasaan tidak bisa dipaksakan, Katy.. " Ujar Kayden sebagai tanggapan ucapan Katriana.
" Memang benar. Tapi tidak ada salahnya belajar mencintai seseorang yang juga mencintai kita.. Kisah cinta tidak melulu selalu diawali dari keduanya sama-sama mencintai, Kay. " Kayden terdiam, tidak bisa menanggapi lagi. Ucapan Katriana tidak salah, hanya saja hati Kayden belum benar-benar mampu melupakan ' dia '.
" Apa kau bahagia? " Kayden menatap wajah Katriana secara intens. Menantikan jawaban yang keluar dari mulut Katriana.
" Ya.. Dia pandai membuat diri ku merasa dihargai dan disayangi. Dia menghormati semua keputusan yang kami buat bersama dan yang terpenting dia selalu mengutamakan kenyamanan dan pendapat ku. " Katriana tersenyum lebar sekali. Senyum pertama setelah tadi sepulang bekerja terus cemberut.
__ADS_1
Kayden mengangguk, dia tidak memiliki hal yang bisa digunakan untuk membalas ucapan Katriana barusan. Ada sedikit rasa nyeri di dada Kayden saat mendengar jawaban dari Katriana, tapi selama Katriana bahagia makan Kayden berjanji dirinya akan selalu ada untuk mendukung Katriana.
Kayden tahu betul rasanya memiliki cinta yang bertepuk sebelah tangan karena itu dia mendorong Aurora sekuat tenaga agar gadis ini tidak akan terluka karena mencintainya yang tidak akan bisa membalas cintanya. Sejak dulu Kayden sudah jatuh cinta pada Katriana, bahkan sejak melihat Katriana untuk pertama kalinya saat Katriana mengikuti perlombaan sebagai model saat masih sekolah.
Tidak pernah Kayden sangka, cinta pertamanya akan menjadi rekan kerjanya. Dan tidak pernah menyangka jika cinta pertamanya begitu kuat dan kokoh. Kayden mencintai Katriana dalam diam selama ini, dan dia bertahan meski dia pernah terluka saat Katriana berkencan dengan pria lain bahkan kini Katriana sudah menikah.
" Apa yang terjadi tadi? " Tanya Kayden setelah merasa jika Katriana sudah bisa ditanya tentang peristiwa tadi.
" Huft.... Dia berucap jika semua yang dia lakukan saat itu demi melindungi ku.. Konyol sekali bukan, dia berkata ingin melindungi tapi dia justru melukai ku sangat dalam sekali. " Katriana terkekeh merasa semua yang terjadi hanyalah sebuah hal yang konyol.
" Kau percaya padanya? " Katriana kembali terkekeh mendengar pertanyaan Kayden ini.
" Percaya dan tidak, bukan di situ intinya Kay.. Aku tersakiti karena ulahnya, disitulah letak intinya. " Ucap Katriana begitu tegas.
Tidak peduli benar atau tidak bahwa mantan kekasihnya melukainya karena demi melindungi dirinya, yang jelas hasil akhirnya Katriana terluka karena pria itu. Jadi untuk memaafkan atau untuk menganggap semuanya seperti tidak pernah terjadi, jelas Katriana tidak akan bisa melakukan hal itu.
" Pulanglah jika kau merasa lelah, Kay.. Aku tak apa sendiri di sini, lagipula aku tidak benar-benar sendiri. Ada Aurora. " Katriana menunjuk Aurora dengan dagunya.
" Ck.. Dia itu seperti mayat ketika tidur. Ada kebakaran juga tidak akan tahu dia. " Cibir Kayden yang tiba-tiba jadi kesal karena Katriana membahas Aurora.
" Hahahaha... Kau benar-benar memahami semua tentangnya. " Ledek Katriana yang langsung mendapatkan timpukan bantal dari Kayden.
" Hentikan!!! Jangan membuat ku semakin kesal padanya. " Katriana masih tertawa, bahkan saat ini tawanya lebih keras daripada tadi. Sungguh menggoda Kayden dan Aurora adalah hal yang paling bisa membuatnya tertawa.
Ting.. Tong..
__ADS_1
Ting.. Tong..
Fokus Katriana dan Kayden teralihkan ketika mendengar bunyi bel pintu apartemen Katriana. Keduanya saling tatap sebelum akhirnya sama-sama mengedikan bahu karena tidak tahu siapa kiranya yang datang berkunjung ke apartemen milik Katriana ini.
Kayden pun berdiri untuk membukakan pintu karena suara bel itu tak kunjung berhenti meski dia dan Katriana mengabaikan nya. Sedikit kesal, karena ada yang mengganggu momennya berduaan dengan Katriana tapi Kayden tidak punya pilihan lain selain membukakan pintu.
" Dimana Katriana?? " Mata Kayden membola begitu dirinya bertemu tatap dengan tamu tak diundang di apartemen Katriana.
" Kak Gafar?? " Katriana tidak kalah terkejutnya dari Kayden saat mendapati suaminya sudah ada di depan pintu apartemennya.
Galen menatap dingin ke arah Kayden dan Katriana secara bergantian. Katriana sampai bergidik saking dinginnya tatapan Gafar padanya. Tanpa berucap sepatah kata pun, Gafar masuk ke dalam apartemen Katriana meski dirinya tidak dipersilahkan. Matanya menelisik setiap sudah ruangan apartemen Katriana dan Gafar mulai bisa bernafas lega saat melihat ada tubuh manusia tergeletak di lantai.
Gafar mengenali siapa pemilik tubuh yang tergeletak itu. Setidaknya Gafar bisa lega karena Katriana tidak hanya berduaan saja dengan Kayden di dalam apartemen ini. Tadinya Gafar sudah hampir lepas kendali saat mendapati ada Kayden di tempat ini berdua bersama sang istri.
" Kenapa belum pulang?? Ini sudah larut, Katy. " Tanya Gafar.
" Maaf kak.. Ehmmm.. Aurora mabuk, jadi kami membawanya kemari. " Jawab Katriana setengahnya berbohong.
" Kau tadi pamit bekerja dan bagaimana ceritanya teman mu bisa sampai mabuk? Memang apa yang kalian kerjakan?? " Katriana meneguk ludahnya kasar. Suaminya sedang dalam mode lawyer activ saat ini.
" Maaf tuan.. Klien kami tadi mengajak bertemu di sebuah club. Karena itu kami.... "
" Maaf.. Tapi aku tidak bertanya pada anda, tuan Kayden. " Aura Gafar terlihat semakin gelap saja ketika berhadapan dengan Kayden.
Tidak ingin membuat keributan, Gafar memilih mendekati tubuh Katriana yang berada di dekat tubuh Aurora yang terbaring tidur di lantai. Gafar menelisik penampilan Katriana, syukurlah tidak ada yang berbeda. Istrinya masih memakai baju yang dikenakan saat berangkat bekerja tadi.
__ADS_1
Tapi kemudian mata Gafar memicing tajam saat mendapati ada sesuatu yang aneh di tubuh Katriana. Gafar mencoba menajamkan matanya, dan dia merasa tidak ada yang salah dengan matanya. Gafar mengeratkan rahangnya, dan langsung berbalik menatap ke arah Kayden dengan sangat tajam dan menusuk.
" Sialan... " Bugh