
Semua menunduk sopan, ketika pemilik agensi secara tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Semuanya tentu saja terkejut, tidak biasanya pemilik agensi yang sudah lama tidak terjun langsung di perusahaan, kini kembali lagi setelah adanya permasalahan salah satu model besutannya.
Benigno mempersilahkan Benjamin untuk duduk di kursi presdir miliknya. Memang Benigno presdir di agensi ini, tapi pemiliknya adalah Benjamin. Sudah seharusnya Benigno mempersilahkan orang yang posisinya lebih tinggi darinya untuk duduk di kursi kebesaran. Benigno dulunya adalah asisten pribadi Benjamin, dan kemudian diminta menggantikan posisi Benjamin sebagai presdir.
" Anda tidak perlu repot-repot turun tangan langsung dalam masalah ini, Tuan.. Saya masih bisa menanganinya. " Ujar Benigno cemberut. Sikapnya yang kemayu kembali keluar sekarang setelah tadi kembali ke setelan pabriknya.
" Hahahaha... Aku tahu kau mampu, tapi seseorang meminta ku untuk membantu kali ini. Dia mengancam ku jika aku tidak membantunya. " Benigno melirik siapa kiranya yang telah memberitahu bos besar. Dan di ruangan ini hanya ada satu orang yang kemungkinan besar melakukannya. Benigno memicing tajam menatap orang itu.
" Jangan cemberut begitu.. Lawan kita kali ini bukan orang yang mudah. Aku dengar pemilik perusahaan otomotif ini sudah berubah, bukan lagi si tua Arnold. Kalau tidak salah, keponakan Arnold yang menggantikan nya memimpin perusahaan. " Ucap Benjamin yang sudah lebih mencari tahu siapa lawannya sebelum datang ke perusahaan.
" Felix Huxley.. " Kayden angkat bicara.
" Kau tahu?? Hahahahaha, kau hebat sekali, Kay. Tidak banyak yang tahu pemuda itu. " Benjamin terlihat tertawa bangga melihat Kayden yang wawasannya luas itu.
" Dia terkenal tidak kenal ampun dengan siapapun yang membuat gara-gara dengannya atau perusahaan yang dia pimpin. Disini lah kunci kesuksesannya, karena dia sangat disiplin bahkan pada dirinya sendiri. " Ucap Kayden mengomentari sosok bernama Felix Huxley.
" Ah... Saya dulu teman kuliahnya. " Kayden langsung menjelaskan kenapa dia bisa tahu tentang sosok ini. Bisa Kayden lihat dengan jelas tatapan semua orang menuntut penjelasan dirinya.
" Maka dari itu, aku meminta pertolongan seseorang yang pastinya akan menjadi lawan yang sangat sepadan untuk seorang Felix Huxley.. Sebentar lagi dia juga akan datang. " Benjamin celingukan menatap pintu.
Tak lama setelah itu, pintu ruangan presdir terbuka lebar. Masuk dua pria yang mengenakan jas berwarna hitam. Kedua pria ini terlihat memiliki aura yang begitu berbeda. Mereka berdua juga terlihat sama-sama tampan. Sayangnya bagi seseorang di ruangan ini, kedua pria tampan ini justru terlihat sangat mengerikan.
__ADS_1
****************
" Kenapa harus dilimpahkan pada ku? Kita memiliki banyak pengacara yang bisa mengurusi masalah ini. " Protes Gafar saat Nett, asisten pribadinya menyodorkan berkas kasus baru yang akan Gafar tangani.
" Klien secara khusus meminta anda yang menjadi penanggung jawab langsung kasus ini, tuan muda. " Jawab Nett memang seperti itu adanya.
" Kau jelas tahu jika sekarang ini aku sibuk dengan masalah JN GROUP. Lalu kau menambah beban ku lagi. " Gafar sudah mengeluarkan tanduknya. Siap untuk menyeruduk siapa saja yang membuat dirinya kesal.
Nett hanya bisa diam sambil menggaruk tengkuknya jika Gafar sudah bersikap seperti ini. Apakah data Nett jika klien sudah berkehendak bahwa tuan mudanya yang harus menangani sebuah kasus. Apalagi klien nya kali ini adalah orang penting dan sudah bekerja sama dengan firma hukum ini sejak awal di bangun.
Nett hanya bisa meminta pada tuannya untuk melihat dan membaca berkas tentang kasus ini. Berharap jika tuannya akan tertarik, karena jika Nett yang panjang lebar menjelaskan sudah pasti Gafar akan semakin bertanduk dan itu bisa menjadi hal buruk bagi Nett.
" Pria menyebalkan itu lawannya?? Jadi ini alasannya klien memilih ku? " Tanya Gafar menunjukkan foto seorang pebisnis muda yang akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian semua pebisnis.
" Dia tidak akan bersikap mudah meski aku yang akan menjadi pengacara dari pihak lawan.. Aish,, menyebalkan sekali. " Gafar menggerutu.
Nett tidak berani banyak berkomentar. Dia jelas tahu apa hubungan Gafar dengan sosok pria yang ada difoto itu. Tidak bisa dikategorikan sebagai teman atau lawan tapi keduanya saling mengenal dan saling menghormati. Sepertinya ini akan menjadi seru, dan Nett harus menjadi penonton pertamanya.
*************
Tria beringsut duduk di bagian sofa yang ada di pojokan saat melihat dengan jelas siapa yang baru saja masuk ke ruangan Benigno. Bukan hanya Tria, Aurora dan Kayden ikut menyempil dipojokan karena mereka tahu dan kenal betul dengan siapa yang baru saja datang itu.
__ADS_1
Ketiganya sama-sama berharap jangan sampai kedua orang yang baru saja masuk itu melihat mereka. Namun harapan itu jelas tidak mungkin, karena bisa dilihat sekarang jika dua pria yang datang itu terkejut melihat keberadaan Kayden dan Aurora di ruangan yang sama dengan mereka.
" Kalian??? " Gafar terbelalak melihat Kayden dan Aurora. Namun hanya sekejap saja karena setelah pandangannya dia edarkan ke seluruh ruangan untuk mencari keberadaan sang istri.
Gafar harus menelan kekecewaan saat dirinya tidak menemukan keberadaan dari sang istri. Gafar sekarang ini justru dibuat tertarik dengan keberadaan seorang wanita cantik yang duduk di bagian pojok sedang membaca koran. Entah kenapa, Gafar merasa familiar dengan wanita ini. Apakah mereka pernah bertemu, rasanya tidak pernah.
" Kalian saling kenal?? " Ketegangan di dalam ruangan itu seketika pecah saat suara Benjamin terdengar.
" Ya.. Mereka teman baik istri saya. " Ucap Gafar menjawab.
Tria, Kayden dan Aurora kompak saling melirik satu sama lain. Ketiganya sama sekali tidak berani membuka mulutnya untuk sekedar berkomentar. Dan keanehan tiga orang ini terbaca oleh Lycan dan Elexsia. Keduanya mencurigai jika ada sesuatu antara tamu yang baru saja datang ini, dengan kelompok Tria.
" Ah ya... Kami beberapa kali pernah bertemu. " Kayden tersenyum canggung di sini. Dirinya terlihat gugup, dan ini adalah kali pertama semuanya melihat Kayden gugup.
" Hahaha... Kebetulan sekali jika seperti itu. Sungguh sebuah keberuntungan bagi kami karena tuan Gafar ternyata kenal dekat dengan pekerja kami.. " Benjamin langsung menepuk pundak Gafar dan membawanya mendekat ke arah Tria duduk.
Jantung Tria berdegup sangat kencang saat ini. Matanya terpejam, dalam hari berdoa semoga saja pria di dekatnya itu tidak menyadari sesuatu yang sejak tadi Tria tutupi. Kedua telapak Tria bahkan sangat dingin saking dirinya gugup sekali saat ini.
Tria tidak berani mengangkat wajahnya, saat Benjamin memperkenalkan dirinya pada Gafar. Tria hanya menunduk sebagai bentuk kesopanan, tapi enggan menatap Gafar. Siapa sangka hal tak terduga terjadi, Gafar tiba-tiba saja berjongkok tepat di depan Tria guna mengintip wajah Tria.
Apa yang Gafar lakukan membuat Tria gelagapan tak tahu harus berbuat seperti apa. Tria sudah ketakutan jika rahasianya akan terbongkar. Dunia Tria rasanya berhenti berputar saat mata tajam Gafar memperhatikan dirinya dengan begitu seksama.
__ADS_1
" Jadi.. Nama anda Tria ya?? Salam kenal, saya Gafar de Niels.. Wajah anda terlihat tidak asing, apa kita pernah bertemu sebelum ini? " Tanya Gafar dengan santainya, tanpa tahu jika saat ini Tria tengah menahan nafas karena bingung harus menjawab seperti apa.
" Apakah ini adalah akhir dari semuanya?? " Batin Tria frustasi.