Aku Dan Rahasia Besar Ku

Aku Dan Rahasia Besar Ku
Tamu tak diundang


__ADS_3

Ting Tong Ting Tong...


Ting Tong Ting Tong...


" Eugghh.. "


" Jam berapa ini? " Katriana terbangun karena suara berisik bel pintu penthouses suaminya terus berbunyi sejak tadi.


" Ck.. Gila.. Siapa yang bertamu di waktu yang sudah hampir pagi begini.. " Gerutu Katriana yang masih mengantuk.


" Katy.. " Gafar ikut terbangun saat merasakan tempat tidurnya bergerak karena Katriana berpindah posisi.


" Maaf.. Kakak jadi terbangun.. Ada seseorang yang membunyikan bel...... " Ucapan Katriana mengambang karena suara bel pintu kembali terdengar.


Ting Tong... Ting Tong..


" Biar aku saja yang membukanya.. " Gafar hendak bangun, tapi Katriana mencegahnya.


" Biar aku saja.. Lebih baik kak Gafar istirahat saja.. " Katriana segera turun dari ranjang.


Dengan mata yang tinggal beberapa watt saja, Katriana membuka pintu penthouses milik Gafar. Sedetik kemudian, Katriana langsung kembali menutup pintu itu. Katriana merasa dirinya salah lihat, tapi dia tidak memiliki masalah mata. Apakah dia berhalusinasi?


Ting.. Tong.. Ting.. Tong..


" Katy.. Kenapa tidak dibuka pintunya? " Katriana tersentak saat menyadari suaminya sudah berada di depannya.


" Ah.. Iya kak.. " Katriana pun membuka pintu sekali lagi dan apa yang dia lihat ternyata masih sama seperti tadi.


" Kenapa kau membuka kemudian menutup kembali pintunya? Kau tidak menerima ku? " Protes dari seseorang yang malam-malam membunyikan bel pintu penthouses Gafar.

__ADS_1


" Ada apa dengan mu? " Tanya Katriana yang melihat temannya terlihat berpenampilan sangat berantakan.


" Kau tidak meminta ku masuk? " Kembali si tamu tidak diundang ini bertanya.


Katriana merasa serba salah disini. Menurutnya, tamu tidak diundang ini datang di waktu dan tempat yang tidak tepat. Katriana menengok ke arah belakang, dimana Gafar berdiri di sana, menantikan Katriana.


Seolah tahu apa yang dirasakan oleh istrinya, Gafar pun mendekat dan membuka pintu penthouses miliknya lebih lebar lagi. Sama halnya seperti Katriana, Gafar juga terkejut melihat siapa yang datang dan kini tengah berdiri di depan pintu.


" Kenapa tidak disuruh masuk? " Tanya Gafar yang ditujukan pada sang istri.


" Ini sudah larut.. Biarkan saja jika Aurora pulang. " Jawab Katriana. Aurora yang mendengar jawaban dari teman baiknya itu melotot tajam tidak Terima.


" Dasar teman tidak berperikemanusiaan kau.. Bagaimana bisa kau tidak menerima ku disini? Apa kau tidak tahu apa yang sudah aku alami sepanjang hari ini.. Kau akan mengabaikan ku, kau bukan lagi teman ku setelah menikah.. Emmmmppttt. " Katriana langsung membungkam mulut Aurora sebelum hal-hal yang tidak ingin dipublikasikan terlontar dari mulut Aurora.


Katriana tertawa canggung ketika tatapan matanya bertemu tatap dengan Gafar. Katriana malu, karena Aurora datang ke tempat suaminya dengan tampilan yang jauh dari kata baik. Riasan Aurora bahkan sudah luntur karena air matanya, dan itu menakutkan.


Gafar tidak berani berkomentar banyak, gafar sendiri juga paham jika Aurora adalah teman Katriana dan pastinya membutuhkan keberadaan teman disampingnya ketika dirinya tengah bersedih. Sebagian orang yang lebih dewasa dan berpengalaman, Gafar pub mempersilahkan Katriana membawa Aurora masuk.


" Silahkan diminum.. " Gafar menghidangkan minuman dingin dan juga beberapa cemilan untuk menemani istri dan temannya menghabiskan malam.


" Kak.. " Katriana sampai speechless karena tidak menyangka Gafar akan memperhatikan detail sekecil ini.


" Nikmati waktu kalian.. Bicara baik-baik.. Maaf tidak bisa menemani karena besok pagi aku harus ke kantor.. " Gafar mengusap pelan puncak kepala Katriana.


" Te-terima kasih.. Dan maaf... Mengganggu waktu istirahat Anda.. " Aurora menunduk merasa tidak enak hati.


" Tidak apa.. Jangan terlalu dipikirkan.. Aku permisi dulu.. " Katriana mengangguk. Matanya menatap punggung suaminya yang sedikit demi sedikit menjauh sampai tidak nampak lagi karena sudah keluar dari kamar tamu.


Selanjutnya, Katriana menatap tajam ke arah biang kerok yang mengganggu istirahat malamnya bersama suami. Beruntung Gafar memahami dan tidak marah-marah. Sejarah mengenai sifat Gafar yang pernah Katriana dengarkan dari saudara-saudara iparnya. Gafar tipe orang yang tidak suka jika waktu istirahatnya diganggu.

__ADS_1


Jika tidak mengingat semua perjuangan dirinya dan Aurora sejak masa sekolah dulu, Katriana pastikan tadi Aurora sudah ditendang keluar dari penthouses milik suaminya.


" Sekarang mari kita dengarkan apa yang membuat putri cantik ini mengganggu waktu istirahat sepasang suami istri?? " Sarkas Katriana bertanya pada Aurora yang kini mendelik menatapnya.


" Ck.. Suami mu saja paham, kenapa kau sewot.. " Aurora mencebik kesal.


" Sekarang cepat katakan, sebenarnya ada apa? "


Huft..


Terdengar Aurora menghela nafas sebelum akhirnya dia menceritakan semua yang terjadi saat dirinya makan malam dengan pria yang rencananya akan dijodohkan dengan dirinya oleh sang paman.


Dimulai dari Aurora yang merasa sakit hati saat lagi dan lagi pria itu menolak permintaan dari pamannya untuk dijodohkan dengan dirinya. Aurora tahu apa penyebab pria itu menolak, tak lain dan tak bukan adalah karena wanita yang kini duduk di depannya mendengarkannya bercerita.


Aurora tidak marah, dia bukan seseorang yang akan menghakimi orang lain yang tidak melakukan kesalahan. Dalam kasus kali ini, Katriana sendiri tidak tahu tentang perasaan pria itu kepadanya. Aurora hanya marah pada si pria yang justru terus menerus berhenti di tempat tanpa ada niat untuk meninggalkan tempat yang tersakiti itu.


Kembali ke cerita yang Aurora dongengkan pada Katriana. Dari cerita itu, yang pada akhirnya membuat semuanya menjadi kacau adalah karena Aurora mengatakan jika dirinya sudah hamil anak pria itu. Sontak saja di pria marah dan akhirnya meninggalkan Aurora dan pamannya dengan alasan dia memiliki kepentingan mendadak.


Aurora pun yang sudah kepalang kesal dan malu, pergi ke club malam untuk mabuk-mabukan. Sialnya, pria itu kembali datang menemuinya hanya karena dimintai tolong oleh sang paman karena Aurora belum pulang ke rumah padahal sudah malam hari.


" Bodohnya kau... Sudah tahu manusia kulkas itu akan marah, kenapa juga kau mengatakan hamil anaknya.. " Omel Katriana tidak habis pikir dengan kegilaan Aurora.


" Ck.. Aku disini untuk mendapatkan dukungan, bukan cacian ya.. " Aurora melengos.


" Cowok itu makin dikejar makin menjauh, Au... Coba sesekali kau itu mengacuhkan dia, dan berhenti bersikap menempel seperti lintah padanya. " Ujar Katriana memberi saran.


" Yang kau dekati itu adalah tipe pria yang acuh dan cuek pada seseorang yang bukan dia suka. Jika kau menempel padanya seperti itu, lama-lama dia akan illfeel pada mu.. " Katriana menambahkan.


Aurora terdiam tidak bisa berkata. Dia merasa ucapan Katriana benar adanya. Cara pria itu menyukai Katriana mungkin karena Katriana adalah tipekal cewek yang cuek terhadap sekitar. Berbeda dari dirinya yang selalu menempel dan mencari perhatian dari si pria itu.

__ADS_1


Haruskah Aurora merubah rencananya untuk mendapatkan si pria yang tak lain dan tak bukan adalah Kayden. Lalu strategi seperti apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan hati dari si pria.


" Kenapa sulit sekali untuk ku bernasib semujur diri mu Katy..? " Aurora kembali menangis sambil memeluk Katriana.


__ADS_2