
" Tunggu.. Tria.. " Tangan Tria dicekal dengan sangat kuat dari belakang.
" Lepas!! " Tria menyentak tangannya, sayangnya kekuatannya tidak lebih besar dari pria yang mencekal tangannya.
" Kita harus bicara. Jika kau ingin aku melepaskan mu, maka kita harus bicara.. " Pria ini kekeh tidak mau melepas cekalan tangannya.
" Tiga menit.. Dimulai dari sekarang.. " Tria terpaksa mengiyakan.
Eeugghhh
Tria melenguh kaget ketika Lycan menabrakan tubuhnya memeluk Tria. Sempat membeku selama beberapa saat, namun akhirnya Tria mendorong Lycan dengan sekuat tenaga untuk menyingkir darinya.
Lycan sama sekali tidak bergerak sedikit pun meski Tria mendorong nya beberapa kali. Lycan merindukan Tria, sudah hampir tiga tahun lebih mereka tidak bisa bersama seperti saat ini. Lycan masih sangat menyayangi Tria, dia memiliki alasan tersendiri hingga akhirnya mengkhianati Tria saat itu
AARRGGHHH...
Lycan berteriak kencang saat tulang kering kakinya terasa ngilu karena ditendang oleh Tria. Pelukan diantara mereka langsung terlepas, dan Tria memanfaatkan hal ini untuk segera pergi meninggalkan Lycan. Sayangnya, Lycan kembali berhasil mencekal tangannya dan kali ini lebih kuat dari yang tadi.
" Apa mau mu?? Lepaskan aku, Lycan!!! " Tria berteriak kencang tepat di depan wajah Lycan.
" Sebentar.. Tiga menit bahkan belum selesai, Tri." Lycan masih enggan membiarkan Tria pergi.
" Kau bilang ingin bicara, tapi kenapa kau memeluk ku?? Anggap saja itu sudah cukup. " Tria menyentak tangannya dengan kuat, namun sama sekali tidak mengubah posisi mereka. Tria tetap dicekal oleh Lycan.
" Baik.. Tenanglah, jangan memberontak. Aku akan bicara. " Ujar Lycan mencoba menenangkan Tria yang bergerak liar berusaha lepas darinya.
__ADS_1
" Tria.. Aku merindukan mu.. Maafkan aku atas apa yang terjadi saat itu, aku melakukan semua ini karena aku berusaha untuk melindungi mu.. Maafkan aku Tria. " Ujar Lycan. Wajahnya terlihat memelas, menatap penuh harap Tria agar memahami dirinya.
" Dengan atau tanpa alasan, tidak akan merubah kenyataan jika kau sudah mengkhianati perasaan ku. Jadi jangan bicara omong kosong, dan lepaskan aku!! " Tria sudah mulai hilang kesabaran.
" Aku melindungi mu.. Jika saja saat itu aku tidak menuruti keinginannya, dia akan mencelakai mu. Aku tahu kau begitu mencintai dunia model, jadi aku mengorbankan semua demi agar kau tetap bisa menjadi seorang model. " Ucap Lycan entah jujur atau tidak.
" Mengorbankan segalanya?? Termasuk perasaan ku dan diri ku sendiri? Lalu itu yang kau sebut dengan cinta? Jika benar begitu, maka semua itu hanya bullshit belaka. Jangan bicara lagi, cepat kan lepaskan tangan ku!! " Tria memperingatkan.
" Tri.... "
" Lepaskan tangan ku sebelum aku semakin membenci diri mu Lycan!! " Tria berteriak lebih kencang dari tadi. Dia seperti mengerahkan semua tenaganya untuk berteriak kali ini.
Lycan yang shock dengan teriakan Tria, mulai mengendurkan cekalan tangan Tria. Tria lekas menghempaskan tangan Lycan dan segera pergi menjauh dari Lycan. Tria berlari sekuat tenaga tidak peduli jika nantinya dia akan menabrak sesuatu ataupun terjatuh. Baginya jauh lebih baik semua itu dibanding kembali tertangkap oleh Lycan.
" Kau tidak apa? " Tanya Aurora panik saat melihat betapa berantakan nya Tria saat ini.
" Apa yang terjadi? " Belum juga Tria menjawab, Kayden sudah mendekat dan ikut bertanya.
" Panjang cerita... Ayo... Pergi.. Dari sini.. " Tria terengah. Dia hanya ingin pergi secepat mungkin dari tempat ini, saat ini.
Kayden dan Aurora saling melirik dan kemudian keduanya memapah Tria untuk masuk ke dalam mobil yang terparkir tak jauh dari posisi mereka saat ini. Mereka tidak berani bertanya lebih jauh apalagi Tria tidak dalam kondisi untuk bercerita tentang apa yang terjadi.
Mobil yang dikendarai oleh Kayden biasanya akan ramai dengan celotehan Tria dan Aurora yang membicarakan apapun yang mereka lihat sepanjang perjalanan, kini sangat sepi sekali. Hanya terdengar suara hembusan nafas dari ketiga orang yang ada di dalam mobil saja.
Tria masih diam membisu, menatap ke arah luar melalui jendela yang sengaja dibuka agar angin malam bisa menerpa dirinya. Sebuah kebiasaan yang biasanya selalu Tria lakukan ketika dia berada dalam kondisi yang sedang tidak baik-baik saja seperti saat ini.
__ADS_1
" Kemana kau akan membawa ku? " Tanya Tria yang sadar betul jika jalan yang diambil Kayden tidak mengarah ke tempatnya.
" Ke tempat dimana kau bisa menenangkan diri mu. Tidak mungkin kau kembali dalam kondisi seperti ini. " Jawab Kayden. Setelah itu, hanya kesunyian yang ada hingga ketiganya sampai tiba di tempat yang Kayden maksud.
*****************
" Nett.. Lacak keberadaan ponsel istri ku sekarang juga!! " Titah Gafar melalui telepon. Dirinya sangat khawatir karena ponsel Katriana tidak lagi aktif setelah lama sekali tidak ada jawaban dari panggilan yang Gafar lakukan.
Perasaan Gafar tiba-tiba saja tidak enak, ketika hari sudah gelap dan istrinya tidak kunjung pulang ke penthouse mereka. Padahal saat pagi tadi Gafar mengantar Katriana ke tempat kerjanya, Katriana mengatakan jika dirinya akan kembali sebelum makan malam tiba. Dan sekarang sudah hampir tengah malam, tapi Katriana tak kunjung pulang.
Gafar semakin khawatir saat menghubungi Aurora, dan hasilnya sama dengan ketika dirinya menghubungi Katriana. Pikiran buruk terlintas dalam pikiran Gafar, dan dia takut jika hal buruk terjadi pada Katriana disaat dirinya tidak ada di samping sang istri.
" Kamu dimana, Katy?? " Gumam Gafar menatap langit malam dari jendela kamar tidurnya dan Katriana.
Menunggu adalah hal yang paling tidak menyenangkan, dan Gafar membenci itu. Sayangnya kali ini Gafar tidak bisa membenci ketika dirinya menunggu, karena yang ditunggu adalah sang istri. Sudah sepuluh menit Gafar menantikan kabar dari Nett mengenai keberadaan sang istri. Sialnya, asisten pribadinya tidak kunjung mengabari.
Gafar sudah semakin kalut saat ini, dan dia ingin sekali menghajar seseorang saking ketidakmampuannya menahan dirinya sendiri untuk tidak emosi ditengah situasi ini. Gafar rasanya ingin menyebar semua orang-orang dari GN untuk mencari keberadaan sang istri. Tapi Gafar masih memikirkan jika nanti dirinya pergi dan Katriana kembali.
" Halo.. " Sapa Nett dari seberang sana ketika sudah ketiga kalinya Gafar menghubunginya. Untung saja Gafar itu adalah bosnya, andai bukan sudah pasti Nett akan menghajarnya.
" Apa kau sudah tidak bisa bekerja dibawah perintah ku? Jika iya, aku menunggu surat pengunduran diri mu sekarang juga, Nett. " Suara Gafar terdengar sangar dingin sekali di telinga Nett. Asisten pribadi Gafar ini sampai menelan ludahnya kasar karena takut.
" Saya sudah mendapatkan lokasi terakhir dari ponsel milik nyonya muda, tuan. " Nett lekas melapor sebelum dirinya menjadi pengangguran.
" Kirimkan pada ku.. Aku akan menjemput nya sekarang juga.. " Gafar langsung mematikan panggilannya dan berlari keluar dari penthouse untuk menjemput sang istri.
__ADS_1