
Beberapa kali dipandang sekalipun, hasilnya akan tetap sama dan semuanya terlihat tidak asing di mata Katriana. Setelah acara berkumpulnya keluarga besar suaminya, kini Katriana tengah berada di dalam kamar milik suaminya. Ini kali ketiga dia memasuki kamar ini selama beberapa bulan menikah dengan Gafar.
Katriana melihat ada beberapa hal yang nampak sangar familiar baginya. Dan setelah dipikir-pikir, ternyata baik kamar di mansion utama dan juga di penthouse milik Gafar, keduanya memiliki tata ruang, warna, desain, dan beberapa barang yang sama. Tidak banyak barang di kamar ini dan juga di kamar yang ada di penthouse. Sehingga kamar dengan luas dua kali kamar presiden suit di sebuah hotel ini, terlihat sangat lenggang.
" Sesuai dengan kepribadiannya.. Hihihi.. " Katriana terkekeh.
" Kepribadian siapa? " Katriana terkejut saat tiba-tiba Gafar muncul dan berbicara tepat di samping telinganya.
" Kak.. "
PLAK...
Katriana memukul pelan lengan Gafar yang sangat keras lantaran kesal selalu saja dikejutkan oleh sang suami. Gafar terkekeh pelan melihat istrinya yang sekarang tengah kesal padanya. Wajah Katriana saat sedang kesal terlihat sangat lucu di mata Gafar. Pipi Katriana menggembung dan hidungnya kempas kempis, Gafar merasa itu sangat lucu karenanya dia sering sekali menggoda Katriana.
" Kenapa aku dipukul? " Tanya Gafar bertampang memelas tanpa dosa.
" Masih bertanya?? Kakak suka ya, jika aku sampai kedatangan malaikat maut karena jantungan? " Katriana mengomel.
" Hahahahaha.. Tidak mungkin kamu bertemu dengan malaikat maut, dia pasti takut melihat wajah mu yang sekarang.. " Gafar menunjuk pipi Katriana yang menggembung.
" Hih... Dasar kakak menyebalkan.. " Katriana melotot kemudian bergerak menjauhi Gafar. Namun sebelum dirinya benar-benar menjauh dari Gafar, terlebih dahulu lengan Gafar menarik pinggang Katriana dan kemudian memeluknya dari belakang.
Katriana langsung merona saat suaminya tengah dalam mode anak kucing seperti saat ini. Katriana tidak tahu apakah benar Gafar telah memiliki perasaan lebih padanya, seperti apa yang dia rasakan. Tapi melihat bagaimana perlakuan Gafar padanya, tidak mungkin jika Gafar sama sekali tidak memiliki perasaan lebih dari sekedar pria dan wanita yang baru bertemu.
Katriana selalu sukses dibuat merona dan berdebar kencang oleh cara Gafar memperlakukannya. Gafar bukan tipe pria yang bicara manis dan menyatakan perasaan. Tapi Gafar lebih kepada tipe pria yang cenderung act service. Jujur saja Katriana sangat nyaman dengan itu dibandingkan pria yang berkata manis namun nyatanya tindakannya tidak mencerminkan perkataannya.
__ADS_1
Nafas Gafar terasa menggelitik tengkuk Katriana, hal ini membuat Katriana merasa ada berjuta kupu-kupi berterbangan di perutnya. Sesuatu dalam diri Katriana secara perlahan menginginkan sesuatu yang lebih, namun sesuatu yang lain dalam dirinya melarangnya untuk meminta pada Gafar. Malu jika wanita meminta lebih dahulu dalam urusan seintim itu.
" Apa yang kau bicarakan dengan Gege? Aku ada di sana bersama mu, tapi kau mengacuhkan ku. " Bulu kuduk Katriana berdiri karena hembusan nafas dari mulut Gafar mengenai bagian belakang telinganya yang merupakan salah satu titik sensitif nya.
" Ehm... Hanya bercerita ini dan... Itu... Ehmmmm.. " Sekuat tenaga Katriana mencoba agar tidak sampai mendesah. Tangan Gafar sudah mulai beraksi dan hal ini membuat Katriana resah.
" Ini... Dan... Itu? Lalu apa itu? " Tanya Gafar. Bibirnya berucap, dan kedua tangannya mulai bergerak liar di atas tubuh sang istri.
" Kak... Ahhh.. " Akhirnya suara lacknut itu keluar juga dari mulut Katriana.
" Ya.. " Huh....
Kini Katriana tidak lagi peduli dengan kata malu atau apapun, yang dia butuhkan saat ini adalah kehangatan dan kelembutan dari Gafar yang selalu mampu membuatnya terbang ke langit ke tujuh. Katriana langsung berbalik dan menyambar bibir sang suami. Tidak peduli bagaimana cara Gafar memandang nya, tapi Katriana tidak mampu menahan gejolak yang tiba-tiba bangkit dalam dirinya.
Gafar tersenyum tipis saat dirinya merasakan bibir Katriana menempel pada bibirnya. Usahanya membangkitkan sesuatu dalam diri sang istri, telah berhasil dan kini saatnya dia mengeksekusi apa yang telah dia mulai. Ciuman yang awalnya pelan dan penuh kelembutan, kini telah berubah menjadi ciuman yang lebih kasar dan menuntut. Keduanya kini benar-benar telah dikuasi oleh keinginan untuk saling mengisi.
" Kenapa? " Alis Gafar berkerut.
" Aku tidak membawa pengaman, kak.. Masalahnya aku sedang dalam masa subur saat ini. " Ucap Katriana yang tiba-tiba teringat hal ini saat berciuman dengan Gafar.
" Sial.. Aku juga tidak membawanya.. " Gafar menjadi kesal sendiri karena sudah benar-benar on fire tapi harus terhenti karena tidak membawa alat tempur wajib di setiap pergumulan mereka.
Nafas Katriana masih terengah karena ciuman ganas dari sang suami. Hasratnya sudah sangat tinggi, tapi tanpa pengaman, Katriana tidak bisa melakukannya. Katriana belum siap hamil karena beberapa alasan dan diawal pun mereka sudah membicarakan mengenai hal ini. Katriana bingung saat ini harus bagaimana, takut jika suaminya marah ketika sesuatu yang sensitif ini harus dihentikan.
" Tunggu sebentar.. Aku akan segera kembali.. " Tanpa mendengarkan tanggapan Katriana, Gafar lekas berlari keluar kamar. Katriana sampai melongo melihat suaminya yang bersikap seperti ini. Sesuatu yang tidak pernah Katriana lihat, saat suaminya terlihat begitu panik.
__ADS_1
" Kak... " Panggil Katriana, sayangnya Gafar tidak berbalik dan malah menutup pintu dengan sedikit kasar hingga menimbulkan suara kencang. Katriana jadi cemas dan berpikiran yang tidak-tidak karena takut Gafar marah.
" Apa kak Gafar marah ya? Tapi kan.. " Katriana menggigiti jari tangannya karena cemas dan takut jika Gafar marah padanya.
" Tapi kan ini bukan salah ku... Bukankah kami sudah sepakat jika tidak akan melakukan hal itu tanpa pengaman. Lalu sekarang dia marah dan meninggalkan aku sendiri. " Katriana terlihat sedih.
Kedua mata Katriana berkaca-kaca karena tiba-tiba saja dirinya menjadi melow hanya karena ditinggalkan oleh suaminya ketika kondisi dan situasi mereka sangat intim seperti ini. Dada Katriana terasa nyeri dan itu sangat mengganggunya. Katriana sangat takut saat ini.
Lima menit berlalu dan Gafar belum kembali. Katriana mencoba untuk meyakinkan dirinya jika tak lama lagi Gafar akan datang. Namun nyatanya, sudah lima belas menit berlalu dan Gafar tak kunjung kembali ke kamar mereka. Air mata Katriana tiba-tiba saja luruh karena kecewa pada kenyataan yang ada di hadapannya. Dia ditinggalkan suaminya saat keduanya dalam situasi dan kondisi intim.
Isakan tangis Katriana semakin tidak bisa lagi dibendung. Hatinya sakit dan dirinya memikirkan kemana gerangan sang suami yang tak kunjung kemari. Ingin sekali rasanya Katriana keluar untuk mencari keberadaan suaminya tapi mengingat dirinya tengah menangis seperti ini, Katriana takut jika keluarga suaminya akan bertanya dan kemudian masalah ini semakin membesar.
" Kamu dimana, kak? " Gumam Katriana di sela tangisannya.
Ceklek..
Mata Katriana langsung melihat ke arah pintu begitu telinganya mendengar suara pintu dibuka. Mata Katriana bertemu tatap dengan mata Gafar, dan sedetik kemudian Gafar sudah berada di depannya dengan wajah panik menatap dirinya.
" Katy.. Hei, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? " Gafar dengan panik bertanya. Bagaimana tidak panik ketika dia kembali dari suatu tempat, istrinya sudah menangis.
" Katy.. Jawab aku!! Apa yang terjadi? " Gafar memaksa Katriana untuk bercerita.
" Hiks.. Hiks.. Kakak.. Dari mana?? Kenapa... Kenapa lama sekali?? Aku pikir.. Hiks.. Hiks.. Kakak marah pada... Ku... Huuuaaaaaa.. " Katriana langsung memeluk Gafar dan menangis.
Mendengar perkataan sang istri, Gafar tersenyum canggung dengan kedua mata yang menatap salah satu tangannya yang terkepal. Satu tangannya lagi menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
__ADS_1
" Jangan menangis.. Aku pergi sebentar untuk meminta ini.. " Gafar menunjukan sesuatu yang dia genggam sejak tadi. Mata Katriana melotot menatap Gafar bergantian dengan menatap apa yang ada di genggaman Gafar.
" Ini??? "