Aku Dan Rahasia Besar Ku

Aku Dan Rahasia Besar Ku
Masalah besar


__ADS_3

" Kak... Aaaargghhh.. " Katriana melenguh ketika Gafar menyatukan diri mereka.


Setelah drama Queen berlangsung tadi, Gafar dan Katriana akhirnya berakhir di atas ranjang, melepaskan semua hasrat mereka. Keduanya saling mengisi satu sama lain, dan sama-sama berjuang untuk bisa meraih puncak kenikmatan.


Peluh membasahi kedua tubuh tanpa busana mereka berdua. Derit ranjang ikut bersahutan dengan suara ******* dan lenguhan dua anak manusia yang diliputi kenikmatan dunia. Tidak ada yang mau mengalah, mereka sama-sama unjuk diri kemampuan mereka menyenangkan pasangan.


Beberapa gaya sudah mereka lakukan dan sekarang Katriana diberikan kesempatan untuk memimpin sesi kedua mereka. Ya, ini adalah kedua kalinya mereka berbagi peluh. Rasanya tidak puas dan masih merasa jika ada yang kurang jika hanya melakukannya selama sekali saja.


Katriana naik turun di atas tubuh Gafar, berusaha mendapatkan review terbaik dari Gafar. Katriana sudah tidak lagi merasa malu, ketika dirinya menjadi pihak dominan ketika tengah berhubungan dengan Gafar seperti malam ini.


" Kau makin pandai, Katy... " Puji Gafar ditengah sesi panas mereka.


" Siapa gurunya?? Euuggh... " Katriana tersenyum sombong menatap Gafar.


" Hahahaha... Murid yang pintar. " Gafar langsung menenggelamkan wajahnya di antara kedua puncak milik Katriana yang menurut Gafar sangatlah pas untuk dirinya.


Gafar langsung beralih posisi ke samping Katriana setelah mereka sama-sama telah mencapai puncak kenikmatan. Melihat jika Katriana mulai menutup mata karena lelah dan mengantuk, Gafar pun langsung mengambil selimut dan menutupi kedua tubuh mereka yang masih telanjang.


Jika biasanya Gafar akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum mengarungi alam mimpi. Namun malam ini terlalu banyak hal yang terjadi dan Gafar merasa lelah baik fisik maupun mentalnya. Dengan terpaksa, Gafar memilih untuk ikut Katriana mengarungi mimpi. Dia akan membersihkan diri ketika terbangun nanti.


******************


Katriana menggeliat, merasa terganggu dengan suara ponsel yang sejak tadi terus berdering. Sungguh ingin rasanya dia membanting saja ponsel yang telah mengganggu waktu istirahatnya. Benar-benar sangat menjengkelkan.

__ADS_1


Katriana meraba sampingnya, dan Katriana baru menyadari jika sudah tidak ada Gafar berbaring di sampingnya seperti semalam. Pantas saja suara ponsel tidak ada yang mengangkat atau mematikan, sudah pasti karena suaminya tidak ada di sana untuk menghentikan suara yang mengganggunya itu.


Mata Katriana menyipit, mencoba membaca dengan jelas nama dari si penelepon yang telah mengganggunya. Alis Katriana berkerut ketika membaca nama dari seseorang yang sangat amat jarang menghubungi nya. Merasa penasaran, Katriana pun mengangkatnya.


" Ha.... "


" Datang ke kantor sekarang juga!!!! " Mata Katriana melotot ketika mendengar suara yang tidak seperti biasanya dari orang yang menghubunginya ini.


Telepon ditutup secara sepihak, Katriana masih meletakan ponsel di samping telinganya karena dirinya masih shock. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak, entah apa yang terjadi yang tidak dia ketahui. Tapi mendengar suara dari atasannya yang menurutnya tidak seperti biasanya, Katriana merasa sesuatu yang buruk telah terjadi.


**********


" Tria!!! " Aurora melambaikan tangannya ketika melihat sahabat baiknya baru saja turun dari mobil yang dikendarai oleh supir dari agensi.


" Apa yang terjadi?? Kenapa presdir jadi pria dalam sekejap mata?? " Tanya Tria yang memang sejak tadi terus bertanya-tanya apa yang telah terjadi sampai pemimpin agensi tempatnya berada tiba-tiba kembali ke setelan pabrik.


" Somasi?? Memangnya apa yang sudah aku perbuat? " Aurora mengedikan bahunya tidak tahu. Dirinya memang belum mengetahui situasi yang terjadi karena baru sampai di perusahaan sama seperti Tria. Ingat kan jika semalam dia mabuk parah.


" Tenanglah!! Semuanya akan baik-baik saja. " Ucap Aurora berusaha meyakinkan Tria.


Selama berada di dalam lift, baik Tria maupun Aurora sama-sama terdiam seribu bahasa. Pikiran keduanya melanglang buana ke segala kemungkinan yang bisa saja menjadi alasan kenapa presdir mereka berubah kembali ke setelah pabrik.


Pria yang biasanya lemah lembut gemulai itu akan kembali ke setelah pabriknya ketika ada masalah yang bisa dikatakan masuk golongan masalah besar. Hal ini membuat Tria dan Aurora sama-sama dibuat pusing memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja menjadi dasar perubahan presdir mereka.

__ADS_1


Begitu sampai di ruangan presdir Sky Dream, terlihat sudah ada Benigno, Kayden, Lycan dan seorang wanita yang menatap Tria dengan senyum miring. Wanita yang beberapa hari lalu Tria temui, dan memberi peringatan padanya tentang Lycan. Apa yang membuat wanita ini ada di sini?


" Lihatlah siapa yang datang... Bintang utama kita akhirnya datang juga.. " Wanita itu bicara menyindir Tria terang-terangan. Jangan lupakan senyumnya yang mengejek itu.


" Kenapa kau ada disini? Bukankah kau tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini? " Tanya Aurora yang sudah ingin sekali mencakar wajah wanita menyebalkan ini.


" Waauuwww... Pelayan setia mu selalu setia membela mu, Tri.. Sayangnya kali ini kalian patut berterima kasih pada ku. Keberadaan ku adalan kunci untuk memecahkan masalah kalian. Terutama kau... Tria. " Wanita ini mengangkat dagunya untuk menunjukan pada saingannya kehebatannya.


" Kau!!! " Aurora sudah maju untuk menghadapi wanita itu, sayangnya Kayden menghentikan nya.


Tatapan mata Kayden yang tajam, membuat Aurora menahan amarahnya. Aurora tahu jika dari tatapan Kayden itu, dia ingin memperingatkan Aurora untuk tidak bertindak gegabah. Aurora akhirnya mengalah, memilih duduk di pojokan dan bermain ponsel. Dia ingat jika dirinya perlu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.


" Sudah selesai perdebatan tidak penting kalian?? Bukankah sudah berulang kali aku katakan jika kita semua yang ada di agensi ini adalah keluarga. Lalu kalian justru membuat jurang pemisah dan saling membenci satu sama lain. " Benigno maju. Siap untuk menceramahi model-modelnya.


" Maaf, presdir.. Mari kita bahas permasalahan yang ada. Dan segera mencari solusinya. " Kayden berbicara sebagai penyelamat semua yang ada di ruangan itu. Bisa dipastikan ceramah Benigno tidak akan selesai dalam tiga jam ke depan.


" Tria... Bukankah kau memiliki perjanjian tertulis dengan pihak ketiga jika tidak akan ada skandal apapun selama kau menjadi modelnya? Lalu ini apa? " Benigno melemparkan koran tepat di bawah kaki Tria.


Kayden membungkuk untuk mengambil koran itu. Berita yang ada di halaman paling depan sempat membuat Kayden shock sejenak, tapi kemudian dia berusaha untuk menguasai dirinya. Dia tidak boleh terlihat panik atau dia tidak akan bisa memikirkan solusi terbaik untuk masalah ini.


" Saya rasa ini hanyalah editan dari seseorang yang tidak suka dengan karir Tria. " Ucap Kayden membela Tria.


" Aku pun berharap seperti itu, Kay.. Sayangnya foto itu adalah foto asli yang dipotret paparazi di lokasi pembuatan iklan. Pihak ketiga sudah mengkonfirmasi jika memang itu foto asli tanpa editan. Benar begitu kan, Tria?? " Benigno menatap tajam ke arah Tria.

__ADS_1


Tria yang tidak paham kemana arah pembicaraan ini, langsung merebut koran yang ada di tangan Kayden. Baru memegangnya sedetik, koran itu sudah terjatuh kembali ke lantai karena Tria yang terkejut secara refleks melepaskan genggamannya pada koran itu. Tria terdiam tanpa bisa berucap sepatah kata pun. Pikirannya tiba-tiba saja ngeblank, dan Tria tidak tahu kenapa semuanya bisa seperti ini.


Saat mata Tria menatap ke depan, tanpa sengaja matanya bertemu tatap dengan maya Elexsia. Jelas terlihat, jika tatapan Elexsia terlihat seperti merendahkan nya dan mengejeknya. Elexsia tersenyum miring sebelum akhirnya memalingkan wajahnya enggan menatap Tria.


__ADS_2