
Ruang makan di mansion utama keluarga de Niels, kembali hidup setelah sekian lama terasa begitu sepi. Pertengkaran kecil antara si kembar, suara omelan nyonya besar de Niels yang menghentikan pertengkaran, kembali terdengar setelah sekian lamanya.
Tuan besar de Niels begitu bahagia karena hari-hari indah yang begitu dia rindukan kini terwujud di depannya. Bertambah kebahagiaannya, karena ada beberapa anggota keluarga baru yang turut ikut meramaikan pagi hari di meja makan ini.
Sepuluh tahun, rasanya lebih dari itu ketika terakhir kali tuan besar de Niels melihat pemandangan indah seperti pagi ini. Putra ketiga dan putra keduanya bertengkar hanya karena masalah sepele. Si bungsu yang akan selalu menempel pada si sulung dan putra keempatnya yang akan mengabaikan semua saudaranya dan memilih untuk menikmati sarapannya.
" Jika sekarang Engkau mengambil nyawa hamba mu ini, Tuhan.. Hamba rela.. Mimpi hamba telah terwujud, dan semua itu berkat kuasa Mu. " Batin daddy Joaquin penuh syukur.
Telapak daddy Joaquin terangkat untuk mengusap matanya yang mulai berembun. Enggan menangisi sesuatu yang menurutnya membahagiakan ini. Rasanya syukur haruslah dengan suka cita, bukan dengan tangisan meski itu tangisan bahagia sekalipun.
" Sudah tua, tapi daddy masih menangis di depan anak-anak.. " Mommy Noura menegur suaminya.
Daddy Joaquin terperangah, lamunannya buyar seketika digantikan dengan kenyataan dimana semua anggota keluarganya menatapnya dengan tatapan khawatir. Sepertinya, anggota keluarganya mengkhawatirkannya yang tiba-tiba saja terlihat ingin menangis.
Tidak ingin membuat semua orang menjadi sedih dan tidak ingin merusak suasana, daddy Joaquin pun tersenyum begitu lebar menatap satu per satu anggota keluarganya.
" Hahahahaha... Bagaimana bisa aku menangis di saat yang penuh dengan suka cita seperti saat ini? Jangan membuat semuanya khawatir pada pria tua ini. " Daddy Joaquin menyangkal.
" Eits.. Siapa yang mengatakan jika daddy ku adalah pria tua? Selamanya daddy adalah cinta pertama ku. Cinta ku tidak lah tua. " Geya mendekat dan langsung memeluk daddy nya dengan sangat erat.
" Jangan mengajarkan pada daddy untuk menolak menjadi tua. " Gafar menegur. Tentunya itu hanya candaan saja.
" Diam kau.. Disini yang pantas disebut pria tua adalah diri mu. " Geya menatap Gafar sengit.
" Hahahahaha... Kau benar, Ge.. Pria tua yang suka marah-marah.. HAHAHAHAHAHA... " Gaffi tertawa paling keras karena dia sengaja menertawakan Gafar untuk memancing emosinya.
" Diam kau, pembuat onar.. Kau dendam pada ku karena gagal semalam kan? " Gafar menaik turunkan alisnya. Gaffi melotot tajam menatap Gafar kesal. Jika saja Gafar tidak membahasnya, Gaffi pasti sudah lupa dengan kenangan buruknya semalam.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Gaffi merada merinding di bagian tengkuknya. Ketika menatap ke arah belakang, pandangan mata sang istri sudah mengarah padanya seperti laser yang siap menargetkan nya. Gaffi menelan ludahnya kasar sambil merutuki Gafar dalam hati. Semua kesialan yang terjadi dalam hidupnya, semua itu selalu karena Gafar.
" Hentikan perdebatan kalian.. Yang satu sudah punya dua anak, yang satu pengantin baru tapi kenapa tidak pernah berubah sedikit pun kebiasaan kalian? Tidak malu dilihat anak-anak. " Mommy Noura menegur kedua putra nya. Meski sebenarnya teguran ini tidak pernah dianggap oleh keduanya. Terbukti keduanya masih saja selalu bertengkar hingga sekarang.
" Gafar yang mulai, mom.. " Gaffi melempar kesalahannya pada musuh bebuyutannya itu.
" Semua orang tahu siapa biang kerok disini, Gaffi. " Gafar menyindir. Gaffi mendengus kesal karena kalah dalam perdebatan kali ini.
" Ngomong-ngomong, dimana menantu mommy, Gafar? Apa Katriana sakit? Mommy belum melihatnya sejak tadi. " Kedua mata mommy Noura menelisik setiap sudut ruang makan.
" Katy ada pekerjaan. Tadi Gafar pagi-pagi sekali mengantarnya. " Jawab Gafar. Pukul lima pagi memang Katriana meminta Gafar untuk mengantarnya kembali ke penthouse karena ada beberapa hal yang harus Katriana persiapkan sebelum berangkat kerja.
" Istri mu bekerja? Setahu ku dia tidak bekerja. " Tanya Galen heran.
" Freelancer. Menurut ceritanya dia bekerja sebagai Freelancer di sebuah perusahaan kosmetik. " Jawab Gafar apa adanya sesuai ucapan Katriana saat ditanya apakah dirinya bekerja atau tidak.
****************
CUT...
Suara teriakan sutradara menghentikan pengambilan gambar iklan mobil keluaran terbaru perusahaan otomotif terkenal di Italia. Baru saja, Tria dan Lycan melakukan pengambilan gambar dimana mereka menjalani peran sebagai sepasang kekasih yang tengah berkencan dengan mengendari mobil yang merupakan produk yang diperkenalkan oleh mereka.
Ada beberapa scene yang sejujurnya tidak Tria suka karena berapa di luar skenario. Tapi karena sikap profesional yang dia miliki, Tria terpaksa mengikuti apa yang Lycan minta dan disetujui oleh sutradara. Tria sadar betul jika Lycan sengaja menciptakan scene yang sangat romantis karena ingin mendekati dirinya.
Sayangnya Tria yang sekarang bukanlah Tria yang dulu. Jika dulu Tria akan merasa tersentuh dengan apa yang Lycan perbuat. Tapi sekarang, hanya ada rasa muak yang berusaha dia tahan. Sejak syuting scene ini dimulai, kedua telapak tangan Tria sangat gatal ingin menampar Lycan. Tangan pria satu ini sangat meresahkan dan Tria membenci hal itu.
" Dasar buaya darat.. Pandai sekali dia mencari kesempatan di tengah situasi. " Aurora sudah siap untuk menghajar Lycan karena kesal dengan semua yang Lycan lakukan selama pengambilan gambar berlangsung.
__ADS_1
" Abaikan saja.. Semakin kita membuat masalah, proyek ini akan semakin lama selesai. " Ucap Tria berusaha untuk tetap berpikir waras.
" Dia sengaja kan? " Tria mengangguk membenarkan.
" Lihat saja.. Aku akan mematahkan tangannya suatu hari nanti. " Aurora terlihat sangat menggebu.
" Jangan kotori tangan mu hanya untuk hal tak penting, Au.. " Tria mencoba meredakan emosi asisten sekaligus sahabatnya itu. Bisa gawat jika Aurora benar-benar mematahkan tangan Lycan. Aurora tipe orang yang tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Kayden yang mendengar perbincangan antara Tria dan Aurora hanya bisa menghela nafas saja. Dirinya juga kesal, karena Lycan sudah keterlaluan kali ini. Jika diteruskan, dikhawatirkan akan muncul gosip tidak mengenakan mengenai Tria dan Lycan. Hal ini jelas sangar buruk karena Lycan sudah memiliki kekasih yang sebentar lagi mereka akan bertunangan.
Tria bisa digosipkan menjadi perusak hubungan antara Lycan dan kekasihnya. Situasi akan semakin buruk jika sampai kekasih Lycan angkat bicara. Siapa yang tidak kenal segila apa kekasih Lycan dalam bertindak. Sungguh Kayden tidak mengharapkan hal ini terjadi.
" Tri... " Kayden memanggul Tria. Sayangnya yang bereaksi adalah Aurora. Keduanya bertatapan dengan sangat tajam, aura diantara mereka sungguh tegang.
" Ya.. " Tria segera mendekat ke arah Kayden sebelum ada perang Dunia ketiga.
" Kau harus hati-hati dengan Lycan.. Bukanlah kekasihnya menemui mu beberapa waktu yang lalu. " Tria terkejut karena Kayden mengetahui hal itu.
" Benarkah? Kenapa kau diam saja? " Aurora langsung ikut campur dalam pembicaraan ini.
" Karena hal itu tidak penting. Dia datang sengaja memperingati aku untuk jauh-jauh dari kekasihnya. " Ujar Tria malas.
" Aku hanya ingin kau hati-hati. Karir mu akan segera berakhir ketika kontrak mu selesai enam bulan lagi. Jangan sampai kau menoreh predikat buruk diakhir karir mu. " Kayden memperingatkan.
Tria sempat terpaku dengan ucapan Kayden. Dirinya baru sadar jika karirnya memang akan segera berakhir ketika dia tidak lagi memperpanjang kontrak enam bulan lagi. Tria selalu ingin jika hari dimana dia melepas hal yang paling penting dalam hidupnya ini, dia ingin menorehkan prestasi yang akan selalu dikenang oleh semua orang. Harapan ini bisa hancur jika sampai dia terlibat masalah lagi dengan Lycan dan kekasihnya.
Perasaan Tria langsung tidak enak sekarang. Seperti dia merasa jika tak lama lagi akan ada badai yang menerpa dirinya. Apa itu, dan apakah dia bisa melewati semua ini atau tidak. Tria tidak memiliki pandangan apapun tentang yang akan terjadi jika dirinya terlibat dengan kegilaan mantan sahabat baiknya itu.
__ADS_1