Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Cerai !


__ADS_3

"Masuk yuk udah malem, dingin banget. Nggak kuat gue" Dimas menggandeng tanganku untuk kembali kedalam rumah.


Aku masuk ke kamar dan mematikan lampu seperti kebiasaanku. Mas Raihan menghubungiku lewat panggilan video berkali-kali. Aku masih tidak ingin menjawabnya. Kemudian dia mengirim pesan suara.


"Airin ? aku mau jelasin semuanya sama kamu. Aku nggak ada niat sembunyiin ini semua. Aku memang belum mencintai kamu. Tapi setelah kamu resmi jadi istriku. Sejak itu juga aku putuskan untuk melindungi kamu dan menjaga rumah tangga kita. Yang kamu lihat antara aku dan Felicia. Itu yang bakal aku jelasin. Tapi nggak sekarang. Karena sulit buat kamu mengerti. Aku nggak mau membebani kamu dengan masalah-masalahku. Maaf Airin"


Aku masih tidak mau menjawabnya, aku kecewa dengan suamiku sendiri. Dia tega membohongiku.


Dia memaksaku untuk mengangkat panggilannya setelah mengirimiku pesan suara.


"***Airin angkat video call nya, Aku pengin liat wajahmu Rin ☹*"


"*Rin ? please. Nggak papa kalo kamu ngambek dan nggak pulang. Seenggaknya biarin aku tau kamu dimana. Aku janji gak akan susulin kamu. 😔😔"


"Come on Airin. Kamu tega ya? Seburuk-buruknya suami kamu tetep harus patuh loh**."


"Aku telfon lagi, diangkat ya Rin*."


Akhirnya aku mengalah, aku mengangkat panggilan videonya. Aku menutupi setengah bagian wajahku dengan selimut. Ku biarkan lampunya gelap, hanya lampu tidur dengan pencahayaan minim menyinari wajahku. Mas Raihan tersenyum dengan posisi berbaring di ranjang. Dia menatap mataku, entah tatapan apa itu tapi aku menyukainya. Aku merindukannya.


"Assalamualaikum istriku" Sapanya ramah, aku pura-pura tidak menghiraukan.


"Airin? Kok nggak dijawab salamnya. Dosa loh"


"Waalaikumsalam" Ketusku.


"Airin tidurlah, biar aku temenin" Mas Raihan mengusap layar ponselnya. Mungkin dia sedang berkhayal bahwa saat ini yang disentuh adalah wajah istrinya. Mungkin.


"Airin jawab ini saja, kamu dimana? Kenapa nggak pamit?"


"Aku dirumah temen, deket rumah Ibu. Besok Kinan ada pentas seni. Dia minta orang tuanya hadir. Aku udah izin kok. 2 hari"


"Temennya laki-laki? atau perempuan?"


Aku memilih diam tidak menjawab.


"Oh maaf, aku percaya kamu bisa jaga diri kok. Kenapa kamu nggak bilang kalau ini soal Kinan? aku kan juga ayahnya Kinan. Kamu istriku dia juga anaku Airin. Dia minta orang tuanya datang berarti aku juga harus datang dong"


Kamu bilang apa mas ? Ayah ?

__ADS_1


"Maaf" Hanya kata itu yang bisa ku ucapkan untuk kamu mas !


"Aku kesana sekarang ya, tunggu aku dirumah Ibu. Jangan nginep disitu. Oke?"


"Mas nggak usah. Nggak perlu"


"Kalo kamu nggak turutin kemauan suamimu, kamu bakal lihat wajah kamu di tv tv sekarang juga"


"Hah?"


"Kamu bakalan masuk daftar pencarian orang hilang" Mas Raihan menyeringai licik.


"Astaghfirullah hal adzim mas. Yasudah aku tunggu dirumah Ibu"


"Nah gitu dong, Assalamualaikum istriku"


"Waalaikumsalam"


Kami mematikan panggilan video, dan aku bersiap-siap untuk pulang ke rumah Ibu. Aku tidak mau suamiku mengetahui persahabatanku dengan Dimas. Awalnya aku berencana mengenalkan mereka. Namun sepertinya Dimas adalah jalan untukku mengetahui hubungan mas Raihan dengan Felicia.


Aku mengirimi mas Raihan rute lain supaya mobilnya bisa masuk sampai depan rumah ibu.


Beberapa jam berlalu, mas Raihan tiba di kediaman keluargaku. Aku sengaja tidak masuk ke dalam rumah dari tadi. Meskipun aku jadi santapan nyamuk diluar sini aku tidak peduli. Aku lebih peduli pada keluargaku. Aku tidak ingin mereka mengetahui masalahku.


Segera aku masuk ke dalam mobil mas Raihan dan menutupnya.


"Mas jangan masuk dulu"


"Loh kenapa?" mas Raihan mengangkat kedua alisnya.


"Kita selesaikan masalah kita sebelum masuk kedalam" ucapku dingin


"Baiklah bagian mana yang harus di selesaikan?"


*ak*u ingin mengetesnya dengan mengungkit perceraian !


"Mas aku rasa hubungan kita emang nggak bisa dilanjut, dari awal kita emang nggak seharusnya menikah. Aku mau kita pisah" aku yang berpura-pura, aku sendiri yang menangis. Lemah sekali. Dasar Aku !


"Astaghfirullah hal adzim Airin ! kamu itu ngomong apa sih !!!!!!" Nada bicara mas Raihan seketika menunjukan kemarahan. "Allah nggak suka perceraian, dari awal saya menikahi kamu bukan untuk bercerai. Jangan mimpi kamu bisa pergi dariku !" ucapnya memukul stir hingga tak sengaja menekan klakson. Tiiiiiinnnn

__ADS_1


"Ayam ayam" spontan aku mengatakannya karena memang kaget. Mas Raihan yang hampir dilahap kemarahan malah jadi menahan tawanya. Aku tetap tidak terkecoh, aku tetap pada tujuanku. Memancing amarahnya.


"Hikss.. hiks... Bohong !" tangisku pecah, aku memang tidak pandai bersandiwara ternyata.


"Airin sssssttttt. Jangan nangis. Aku nggak bohong. Aku bicara kenyataannya" Mas Raihan melepas seat belt kemudian memelukku.


"Foto itu. Hiks.. hiks.." Aku memukul lengan mas Raihan yang memelukku.


"Airin, tolong kasih aku waktu buat jelasin. Tapi nggak sekarang. Aku nggak bisa !"


"Aku juga nggak bisa mas .. hiks.. aku nggak bisa berumah tangga dengan cara kayak gini. Aku ngrasa nggak di anggep. Aku tertekan hiks.. hiks.. Aku mau kamu talak aku sekarang. Hiks.."


"Airin !!!!! Udah gila ya kamu. Jangan pernah kamu ucapin kata-kata kotor itu lagi. SAYA NGGAK SUKA !" Mas Raihan mencengkram lengan ku kuat-kuat. Hingga aku meringis kesakitan.


"Kamu pilih mana hiks.. jujur dan terbuka sama aku.. hiks.. hiks... atau kamu mau aku pergi dari hidup kamu selama-lamanya?"


"Ya Allah Airinnnnnnnn" Mas Raihan mengusap wajahnya kasar. Dia terlihat diam dan merenungi perkataanku. Beberapa saat kemudian dia mulai bicara lagi.


"Oke baiklah kalau ini yang mau kamu dengar. Felicia dan aku. Aku sudah selesai dengannya. Itu sudah lama saat kamu masuk ke kamarku pertama kali di apartemen. Aku memergokinya berselingkuh. Aku memang belum bisa melupakannya bahkan sampai kita menikah kemarin. Aku masih berkomunikasi dengannya. Dan saat aku memutuskan untuk menghentikan semuanya. Dia mencoba bunuh diri. Orang tuanya menghubungiku. Bahkan memohon untukku kembali padanya. Aku nggak mau Airin. Aku punya kamu ! Saat ini aku cuma menuruti kemauan orang tuanya. Sampai keadaan Felicia membaik. Kata dokter dia stress. Sementara hal hal menyenangkan akan membuatnya lebih baik. Aku terpaksa mengatakan kalimat-kalimat bohong didepannya. Meskipun itu menyakiti hatiku sendiri"


Dengan raut wajah putus asa mas Raihan menceritakan semuanya.


"Kamu bisa yah mas, ngorbanin perasaan kamu sendiri. Tunggu bukan cuma kamu yang tersakiti disini. Aku, ada aku. Bahkan keluarga kita , bayangin gimana kalo mereka tau? Aku nggak nyangka kamu lebih sayang perempuan itu daripada kita semua"


"Mau kamu gimana Airin?"


"Terserah kamu mas. Aku nggak mau terlihat serakah" Ucapku datar.


"Kasih waktu aku satu minggu buat mastiin dia nggak kenapa-napa Rin"


"Nggak ada mas, jangankan satu minggu. Satu jam aja aku nggak kasih. Aku udah pernah bilang kalo aku nggak suka berbagi kepunyaanku dengan orang lain"


Aku tahu aku benar-benar serakah. Tapi aku istrinya. Istri sahnya dimata hukum dan agama !


"Airin kita bahas ini lagi besok ya, aku capek" mas Raihan memilih menghindari perdebatan denganku.


Aku mengajaknya masuk ke rumah, saat itu mas Adam masih sibuk dengan laptop dan kameranya.


Kami hanya bersalaman dan masuk, mas Adam tidak bertanya apapun pada kamu. Seakan dia tahu bahwa kami sedang tidak dalam keadan baik untuk diajak bicara.

__ADS_1


Kinanti tidak ada di kamarku, sepertinya dia tidur bersama Ibu. Aku langsung tidur menghadap dinding. Aku tidak ingin menatap wajah tampan milik suamiku. Aku marah , aku kecewa. Aku merasa sudah kehilangan kendali atas diri dan perasaanku. Aku berubah menjadi seorang wanita yang egois. Aku ingin memiliki suamiku seutuhnya. Padahal dari awal aku sudah tahu, bahwa di hatinya sudah ada wanita lain. Tapi aku tidak perduli ! Aku adalah istrinya.


__ADS_2