
Sudah hari keempat, setiap Jingga menginginkan sesuatu. Dia pasti memintanya pada Bhumi, namun tetap saja Raihan yang membelikannya. Alasannya hanya satu, dia masih ingin mogok bicara pada suami tampannya itu.
Hari ini, Raihan bekerja seperti biasa bersama Bhumi. Karena merasa kesepian akhirnya Jingga menghubungi Giska supaya mau menemaninya dirumah. Tak lama setelah itu Giska tiba di rumah besar milik Raihan dan Jingga, dia memarkir mobilnya sembarangan. Setelah kejadian tempo hari ia bertemu Jerry di KJ Hotel's, Giska jadi sedikit menghindari Jingga, dia belum siap apabila nanti Jingga bertanya tentang Jerry padanya. Padahal Jingga belum mengetahui apapun sebab Raihan pun lupa untuk menceritakannya.
Bagi Giska ini adalah momen yang pas untuk menceritakan sosok pria idamannya selama ini.
Jingga duduk di kursi taman ditemani Sifa, Giska berjalan menghampirinya.
"Sif, orange jus dua ya" pinta Jingga ramah , Sifa mengangguk kemudian menuju dapur
"Duduk" ucap Jingga pada Giska
"Maaf" Giska langsung menundukan pandangannya membuat Jingga keheranan
Kenapa ini orang? ucap Jingga dalam hatinya
"Lo kenapa?" tanya Jingga penuh selidik
"Gue mau ngaku, King itu Jerry.." Ucap Giska memejamkan matanya
"Apaaaaaaaaaa!!!!!!???????" Giska terkejut setengah mati mendengar pernyataan Giska
"Gue nggak sengaja ketemu sabtu malem di acara launching parfum KJ Group itu, gue liat dia bawa cewe sakit banget hati gue Ngga !! Gue sadar , hubungan gue sama Jerry emang nggak ada status. Tapi apa harus gue sesakit ini mencintai pria yang sama selama bertahun-tahun?" ucap Giska penuh sesal , tak terasa air matanya menetes tanpa diminta
"Gue jadinya gak berani marahin lo ! soalnya lo nangis" goda Jingga memalingkan wajahnya
"Gue hubungin Jerry setelah ketemu malem itu. Udah tiga hari tapi nomernya nggak aktiv. Pengin banget gue ngomongin perasaan gue saat ini ke dia. Gue pengin dia tau, gue janji ini yang terakhir, setelah itu gue bakal berhenti kejar-kejar dia" Giska menahan air matanya jatuh kembali, supaya Jingga yakin bahwa sekarang hatinya sudah baik-baik saja
"Oke, kita kesana sekarang" Jingga bangun dari duduknya
"Mau kemana?" Giska menautkan alisnya
"Ke kantornya, kita datengin langsung. Biar hati lo tenang. Oke?" Jingga melangkah masuk lewat pintu samping, Giska mengekori.
"Ini jusnya udah dibikin. Minum dulu gih" perintah Jingga , Giska menurut dan menghabiskan segelas jusnya hingga tandas.
********
Suasana di KJ Group begitu sibuk hari ini, karena beberapa investor asing akan berkunjung ke perusahaan besar milik keluarga Sulaiman yang sekarang dipimpin Raihan langsung.
Setelah ke pabrik, Raihan, Bhumi dan Erin kembali ke kantor bersamaan dengen Jerry dan Kemala. Mereka berlima berjalan beriringan.
Setibanya di lift, betapa terkejutnya Raihan melihat istrinya berada di dalam.
"Sayang? kok kesini?" sapanya dengan binar-binar bahagia di matanya.
"Hehe, nggak boleh ya?" ucap Jingga sambil melirik sekilas pada Kemala yang menunjukan wajah masamnya, lalu kembali memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Raihan dengan sigap mendekatinya dan merangkul pinggul Jingga yang sebentar lagi menggendut.
"Boleh, boleh banget.. setiap hari juga nggak apa-apa, kan mas jadi tambah semangat kerjanya yank" kata Raihan terkekeh kecil
"Saya tunggu lift selanjutnya" ucap Jerry datar. Membuat Giska melirik Jingga dengan tatapan memohon. Detik kemudian Jingga menarik ujung lengan baju Jerry.
"Pak Jerry, saya ada perlu loh sama bapak" ucap Jingga tersenyum mengedipkan sebelah matanya.
Jerry menurut masuk ke dalam lift dengan rasa gelisahnya.
Ya Tuhan , gue belum siap ngomong sama Giska sekarang ! batin Jerry
Mereka tiba di lantai 59, Raihan masih merangkul perut Jingga dari samping.
Sial, mata gue perih banget liatnya. Ucap Kemala menggeleng kemudian melenggang pergi masuk ke ruangan Jerry.
Jingga mengisyaratkan lirikan matanya supaya Raihan membawa Jerry masuk ke dalam ruangannya.
"Jer, ikut ke ruangan gue" ucap Raihan memahami kode yang diberikan istrinya, mau tidak mau Jerry mengekori Raihan dari belakang.
"Erin, Bhumi kalian di sini aja. Jangan biarin siapapun masuk untuk 15 menit kedepan" ucap Raihan
Giska duduk berhadapan dengan Jerry di sofa tamu, sedangkan Raihan membaca beberapa berkas di tangannya. Raihan menemani Jingga berbaring di sofabed dalam tempat sholat.
Beberapa lama Giska menatap wajah Jerry sendu. Kemudian dia memulai pembicaraan tanpa perduli bahwa ada dua manusia lain didalam ruangan itu.
"Kak" sapanya sambil tersenyum getir , Jerry masih memalingkan wajahnya karena dia merasa tak nyaman dengan situasi ini.
"Aku mau bicara sama kakak untuk yang terakhir kalinya, setelah ini aku janji nggak akan pernah lagi nemuin kakak" Giska mencoba melawan rasa sakit dihatinya
"Kak, aku mencintai kakak dari dulu sampai sekarang. Rasa itu nggak pernah berubah, meskipun kakak sering nyakitin hati aku tanpa kakak sadar. Bertahun-tahun, aku rela jadi budak nafsu kakak. Aku berharap suatu hari nanti kakak kasih kejelasan sama hubungan kita. Tapi kayaknya, aku udah salah menilai arti hubungan ini" Bulir bening mulai menggenang di pelupuk mata Giska
"Aku baru sadar, ternyata kakak ini cuma luka. Luka yang nggak pernah aku sadari, luka yang selama ini nggak aku rasain. Sekarang aku cuma pengin tau perasaan kakak, ada nggak sih? sedikit aja ruang di hati kakak untuk aku tinggali?"
"Jawab kak" pinta Giska memohon
"Kakak jawab aku !!" Giska tak dapat lagi menahan jatuhnya air mata itu
"Maaf Gis" hanya kata itu yang mampu Jerry keluarkan dari mulutnya
"It's oke kak ! terimakasih buat jawabannya" Giska tersenyum, kemudian langsung berdiri dan pergi dari ruangan Raihan dengan air mata yang sudah mulai berjatuhan. Giska merasa sakit di hatinya, luka itu kian membesar setelah pertemuannya dengan Jerry tadi.
Giska masuk ke dalam lift karyawan dengan tergesa-gesa dan bruggghhhhh Giska menabrak tubuh seseorang karena dia berjalan sambil menunduk. Ponsel orang tersebut jatuh dan menghantam lantai dengan keras, pria gagah itu segera meraih ponselnya yang terjatuh.
"Aduh pecah" katanya sambil menepuk jidat kemudian melirik wanita yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Loh kamu lagi?" ucapnya terkejut detik kemudian pria itu tersenyum kecil "Dan nangis lagi?" tambahnya.
Dengan cepat Giska mengusap air matanya dan merebut ponsel pria itu.
"Jadi, pecah beneran?" cicit Giska sedikit cemas
"Nggak apa-apa, bisa saya betulin. Tapi kamu hutang sama saya dua kali jadinya" kata pria tersebut
"Mau ke mana?" tanya pria itu lagi
"Tadinya mau cari taksi terus pulang, tapi karena kejadian ini kayaknya aku jadi mau ke mall buat servis handphone kamu" Giska merasa bersalah karena dua kali dia membuat handphone pria itu terjatuh
"Jadi kamu mau tanggung jawab ceritanya?" tanya pria itu membuat Giska mengangguk cepat. Tanpa aba-aba pria tampan itu menekan tombol B menuju basement.
"Kemana?" tanya Giska
"Katanya mau servis handphone saya ? ke mall kan ? pake mobil saya aja ya kalo gitu" katanya sambil tersenyum miring
"Tapi kita nggak saling kenal, saya nggak suka satu mobil sama pria asing" Giska melirik sinis
"Kalo gitu kenalin, saya Zayn" Zayn mengulurkan tangannya
"Giska" sahut Giska lirih
Giska ? temennya Jingga bukan sih ? cicit Zayn pelan tanpa terdengar
"Ya sudah, kita bukan orang asing lagi sekarang kan? Zayn membuka pintu mobilnya untuk Giska. Giska menurut masuk sesuai instruksi Zayn
"Jadi kamu dokter ya?" ucap Giska setelah menemukan sebuah kartu nama yang terselip di sela-sela pintu "Tunggu sebentar, Tengku Zayn Khairi?" Giska mengangkat sebelah alisnya
"Kenapa?" tanya Zayn
"Eh enggak" Giska menggeleng
"Namanya sama ya? kayak seseorang? saya adiknya Raihan Khairi. Lebih tepatnya saudara kembarnya" ucap Zayn mengulas senyum kecilnya saat Giska menganga
"Nggak usah kaget gitu" ucap Zayn lagi
"Aku baru nyadar ternyata kamu iparnya Jingga" Giska menggaruk kepalanya yang tak gatal
"Jadi kamu Giska yang sering Jingga ceritain???" refleks, kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Zayn
"Ha? Jingga? cerita tentangku?" tanya Giska heran, sejurus kemudian Zayn menggeleng.
"Nggak, saya cuma bercanda. Hehehe" kilah Zayn memutar stirnya saat hendak memasuki parkiran
********
"Jadi sejauh itu hubungan kamu dan Giska , tapi kamu nggak punya perasaan apa-apa sama dia ??? Kamu bener-bener pria brengs***k !!!!" bentak Jingga berapi-api, Jerry tersenyum getir merasa dirinya dipojokan akhirnya dia membela diri
"Dia sendiri yang mau kok, udahlah Jingga tolong nggak usah ikut campur urusan saya@ Jerry berlalu meninggalkan Jingga. Di kursi putar Raihan masih terlihat tenang sambil sesekali memejamkan mata.
"Kalau keluarga begitu ya? sifatnya nggak jauh beda. Tapi salut sama Zayn, dia nggak terlibat kisah asmara yang aneh-aneh sama siapapun" cicit Jingga pelan sambil merebahkan punggungnya yang mulai pegal ke sofa. Perlahan Raihan mendekati istrinya yang sedari tadi mengoceh pelan namun masih terdengar di telinganya.
"Sayang nggak boleh ngomong gitu. Mungkin Jerry punya alasan lain" Jingga tak suka dengan nada bicara Raihan yang terlihat membela sepupunya itu
"Dari rumah, niatnya aku pengin baikan sama kamu. Tapi kayaknya nggak jadi !" Jingga bangun dari rebahannya hendak meninggalkan sofa tempat suaminya juga duduk. Tapi siapa sangka? Raihan malah menarik lengan Jingga dan membuatnya terkunci di pangkuannya. Raihan mendekap erat tubuh Jingga.
"Hey baby? bantu ayah supaya bundamu nggak marah-marah lagi dong. Ayah kangen banget sama senyumnya" Raihan mengusap sayang perut Jingga. Jingga tetap diam tak bersua, detik kemudian Raihan merangkum wajah Jingga dan mengecup keningnya lembut.
"Maafkan semua kesalahan masmu ini ya, berikut mami, papi dan Zayn" Raihan menatap mata Jingga sendu
"Jangan bikin mewek dong! aku udah maafin semuanya sejak lama. Aku cuma butuh waktu buat nerima semuanya mas. Sekarang aku udah nggak apa-apa" terbit senyum manis di bibir Jingga yang Raihan rindukan
Cupsss
Raihan mengecupnya singkat, kemudian memeluk Jingga lagi.
"Baiklah, untuk meluruskan semua kesalah pahaman. Mas bakal jawab semua pertanyaan yang pengin kamu tanyain ke mas selama ini" ujar Raihan membuat Jingga tersenyum lebar
"Yakin?" Jingga menatap Raihan dalam, membuat Raihan mengangguk
"Kapan hubungan mas sama Pel pelan itu berakhir?" Julukan yang Jingga buat untuk Felicia, membuat Raihan terkekeh geli sebelum menjawabnya
"Hahahaha pelpelan?"
"Iya daripada sebut namanya, males" ujar Jingga
"Setelah nikah sama kamu, mas udah selesai sama dia"
"Bohong !" Jingga melirik sinis
"Meskipun susah bagi dia dan mas, karena awalnya memang terpaksa kan? tapi mas bener-bener lakuin itu. Ketemu sama dia cuma beberapa kali yank, bisa di hitung kok. Di rumah sakit dua kali, di kantor papanya satu kali, udah" jawab Raihan jujur
"Yaudah ngga penting, yang jelas udah enggak kan?" tanya Jingga membuat Raihan mengangguk
"Terus selama ini kalo mas nggak pulang, kemana tuh??" tanya Jingga membuat Raihan menyipitkan matanya
"Kamu kira mas nginep diluar tuh sama dia? jangan bercanda Airin ! mas masih tahu batasan" ucap Raihan memalingkan wajahnya
"Ya jelasin aja mas, nggak usah kesel kayak gitu responnya" Jingga berusaha melepas pelukan Raihan. Kemudian dia memilih duduk di sofa masih di sisi Raihan
__ADS_1
"Waktu itu Ryu sakit, mas nginep di sana jadinya" Jingga menangkap mata elang itu, menilik apakah ada kebohongan didalamnya. Namun Jingga tak menemukan kebohongan itu, tanpa bicara apa-apa Jingga langsung memeluk Raihan.
"Maaf" ucap Jingga lirih
"Mas yang harusnya minta maaf, mas bersalah sama kamu. Mas nggak jujur dan akhirnya nyakitin hati kamu" sesal Raihan sambil mengecupi pelipis Jingga
"Karena keadaan sudah lebih baik, mas mau ceritain tentang Ryu sama kamu" tambahnya lagi membuat Jingga mengangguk.
Raihan pun menceritakan kisahnya 10 tahun yang lalu, awal dirinya mengenal Mikha yang mana adalah seoraang model. Mikha terikat kontrak dengan KJ Group selama 2 tahun, sejak jamuan makan malam acara KJ Group. Mikha dan Raihan menjadi sangat dekat layaknya kakak beradik. Bahkan Raihan sering nongkrong bersama tunangan dan teman-teman Mikha. Raihan menuju bagian inti, dimana akhirnya Mikha mengandung Ryu tanpa sengaja.
Jingga mulai berderai air mata, mengingat nasib Ryu dari lahir hingga sekarang. Bahkan Ryu harus bersembunyi di hadapan publik supaya tidak ada yang mengorek tentang asal usul Ryu.
"Hiks.. hikss.. bawa Ryu tinggal sama kita mas" pinta Jingga dengan isak tangisnya. Bagaimana mungkin seorang ibu tega meninggalkan anaknya demi hidup bersama pria yang dicintainya. Bukankah anak itu adalah darah dagingnya?
"Baiklah, kita akan bawa Ryu tinggal. Bagaimana dengan Kinan? apa kamu nggak mau bawa dia juga?" tanya Raihan
"Maunya, tapi apa ibu dan mas Adam mengizinkannya?" Jingga menatap sendu ke arah suaminya
"Kalo belum dicoba gimana kita bisa tau yank?" sahut Raihan "Coba kita izin dulu sama ibu ya?" tanya Raihan meminta pendapat
"Boleh mas, tapi nanti ya nggak sekarang. Oh iya, soal Ryu, aku nggak apa-apa kalo publik pikir dulunya aku ini janda dua anak" Jingga mengulas senyum terbaiknya
"Maksud kamu?" Raihan dibuat bingung
"Bawa Ryu dan Kinan tinggal sama kita. Nanti kalo orang tanya, mas bilang aja Ryu kakaknya Kinan" sahut Jingga enteng
"Nggak, itu namanya mas nggak mengakui Ryu sayang" tolak Raihan sambil menggeleng
"Coba mas cerna kalimat aku barusan? apa ada yang salah? Bener kan? Ryu kakaknya Kinan?" Jingga meyakinkan suaminya
"Ya memang bener sih, Ryu otomatis jadi kakaknya Kinan" Raihan manggut-manggut "Jadi kamu beneran nerima keberadaan Ryu?" tanya Raihan sedikit ragu
"Anakmu juga anakku mas" Jingga menautkan jemarinya dengan jemari Raihan "Apa mas menjamin? Mikha nggak akan menemui Ryu kelak?"
"Mas nggak bisa jamin, karena setiap manusia bisa saja berubah. Tapi kalo untuk merebut Ryu dari mas , mas rasa itu nggak mungkin" jawab Raihan penuh keyakinan
"Kok nggak mungkin?" Jingga mengernyitkan dahinya
"Kan dulu, secara nggak langsung Mikha udah buang Ryu. Bahkan bisa aja nganggep Ryu beneran udah nggak ada rin" Raihan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa
Ceklekkkkk
Bhumi datang mengisyaratkan kelima jarinya seperti hendak memotong lehernya sendiri. Raihan langsung paham maksudnya, dia bergegas merapikan berkas di mejanya begitu juga dengan Bhumi. Bhumi merapikan dokumen yang hendak ditunjukan pada tamunya yang baru saja datang.
"Sekarang dimana?" tanya Raihan
"Masuk lobi" jawab Bhumi melihat cctv yang tersambung di iPad nya.
"Kamu jangan kemana-mana ya yank! habis ini kita makan siang bareng" Jingga mengangguk setuju , dia memilih masuk ke dalam tempat sholat dan membaringkan tubuhnya sejenak
******
"Kok jadinya beli handphone baru?" tanya Giska mengernyitkan dahinya
"Lama Gis kalo harus nunggu dibetulin, saya juga nggak bisa lama-lama tanpa handphone" jawab Zayn jujur
"Ini gimana?" tanya Giska menawarkan iph*ne 6s.
"Maunya yang itu Gis" Zayn menunjuk iph*ne 7plus
Beneran nggak mau yang murah ternyata. Batin Giska mencebikan bibirnya kemudian setuju
"Oke deh, itu aja mbak" Giska menunjuk handphone yang Zayn mau , detik kemudian dia melangkah ke kasir, Zayn pun mengekorinya.
Giska mengeluarkan dompet dalam tasnya, sebelum membukanya Zayn sudah lebih dahulu mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dan memberikannya pada kasir.
"Loh ?" Giska dibuat bingung, pasalnya dia mengira bahwa dirinya yang akan membayar handphone yang Zayn pilih
"Kamu udah tanggung jawab, nganterin saya sampe kesini. Saya nggak minta kamu beliin saya ponsel baru Gis" ucapnya enteng "Habis ini temenin saya makan ya, saya akan anggap kamu sudah mencicil hutang kamu karena jatuhin handphone saya dua kali" Zayn beralasan, padahal dirinya hanya ingin berlama-lama menatap wajah ayu Giska.
Giska seperti ditodong senjata, ia tak mampu menolak. Akhirnya Giska setuju "Tapi berapa kali nyicilnya?" tanya Giska membuat Zayn pura-pura menimbang dan berfikir.
"Mmmmm sepuluh kayaknya cukup Gis" ucap Zayn membuat Giska mencebikan bibirnya
"Banyak banget" keluh Giska
"Ya sudah delapan kalo gitu" sahut Zayn memalingkan wajahnya dan tersenyum licik
Lumayan ada temen makan buat obat galau beberapa hari kedepan. Batin Giska menahan senyumnya
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1