Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Suami durhaka


__ADS_3

"Jawab Ray! jawab! aku rela korbanin semuanya untukmu, aku nggak bisa tanpa kamu! jangan bilang aku bisa!! aku udah nyoba Ray, dan aku nggak bisa.. hiks.. hikss" Felicia memegang erat kedua tangan Raihan, air matanya sudah membasahi seluruh wajah nya, bahkan makeupnya sudah acak-acakan hingga terlihat seperti zombie.


Setelah beberapa lama diam mematung, Raihan akhirnya memberi jawaban. Jawaban yang memang seharusnya ia lontarkan sejak tadi.


"Nggak Fel! maafkan aku, aku tidak bisa berkhianat pada Tuhan dan Istriku. Aku tidak bisa menyakitinya. Aku tidak sanggup, benar-benar tidak sanggup. Aku sudah menoreh luka dihatinya bertubi-tubi. Sekarang saatnya aku membuat Airin bahagia. Jangan paksa aku menjadi suami durhaka" Raihan mengungkapkan isi hatinya pada wanita yang sudah menjadi mantan kekasihnya itu. Kemudian Raihan menepuk pundak Felicia beberapa kali memberinya ketenangan. "Aku pulang, aku nggak bisa. Maafin aku ya" Raihan bangun dan beranjak pergi dari tempat itu


"Tunggu!!" Brugghhhh Felicia berhamburan memeluk Raihan dari belakang dengan tangisnya yang makin menjadi "Sebentar saja! biarkan aku sebentar saja. Mungkin ini adalah yang terakhir" ucap Felicia ditengah tangisannya. Raihan memberinya waktu beberapa detik , setelah itu dia melepas paksa pelukan Felicia.


Felicia masih mengejarnya, sekarang tepat di hadapan Raihan , Felicia langsung merengkuh leher Raihan dan membungkam bibir Raihan beberapa saat. Raihan terbelalak setelah menyadari yang Felicia lakukan, dia mendorong tubuh Felicia hingga jatuh ke lantai. "Benar-benar sint**ng kamu Fel! cukup!!!!!"


Raihan berlalu pergi meninggalkan Felicia yang masih menangis di kamar tersebut, kemudian Bhumi mengekori Raihan tanpa bertanya apa yang terjadi di dalam sana.


"Simpan ini baik-baik, gue liat led kecil di deket vas bunga. Sesuai dugaan lo, dia ngrekam semuanya. Dia sempet cium gue. Gue takut Jingga dapet potongan videonya tanpa tahu kejadian sebenernya" Raihan memberikan boltpoin yang Bhumi berikan, itu adalah salah satu project yang masih di kembangkan oleh KJ Group, alias masih jadi project pribadi Jerry untuk saat ini. Tapi benda kecil itu masih dalam masa percobaan, yang Raihan miliki adalah satu-satunya. Sample lain belum keluar karena Jerry masih menelitinya lebih lanjut.


"Semoga aja berfungsi dengan baik" ucap Raihan menghela nafasnya


"Gue udah coba, dan ini keren. Tenang aja, gue percaya Jerry dan timnya memang bersungguh-sunggguh garap project ini han. Nggak perlu diragukan" tukas Bhumi menepuk pundak Raihan


"Jangan sampe ini barang beredar bebas di pasaran. Next kita cuma jual ini sama orang-orang kita ajah" ucapan Raihan di angguki Bhumi


"Gue setuju! sekarang kita kemana?" tanya Bhumi


"Gue temenin Ryu jalan-jalan dulu abis itu kita pulang. Besok James ke kantor jam berapa?"


"Nggak ada ngomong si Jossie itu, katanya liat aja besok" sahut Bhumi


Raihan dan Bhumi masuk ke dalam mobil, menuju hotel xx menjemput Ryu. Perjalanan memakan waktu sekitar 20 menit.


Sesampainya di hotel, Raihan langsung berpindah ke mobil lain, mobil yang dinaiki Ryu dan Maryam.


"Kemana papi?" tanya Raihan yang baru saja masuk


"Bertemu seseorang, nggak ikut jadinya" Jawab Maryam


"Dad? apakah yang waktu itu adalah mommy Ryu? mommy asli?" Raihan mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan buah hatinya itu


"Memang dimana yang ada mommy palsu?" Raihan balik bertanya


"Kalau teman Ryu di panti pindah tempat tinggal kan itu artinya dia punya daddy dan mommy baru. Berarti tidak asli"

__ADS_1


Raihan menoleh ke kursi kemudi, dia menatap Maryam lekat, seolah sedang bertanya siapa yang mengajari Ryu bertanya seperti itu.


Maryam pun bingung, dia hanya menggeleng. Raihan memejamkan matanya beberapa detik, dia sadar putranya itu bukan lagi balita. Cepat atau lambat dia akan semakin banyak tahu tentang kehidupan di sekitarnya.


"Ini daddy Ryu asli, nggak ada palsu-palsu. Jangan tanya aneh-aneh sayang. Mommy kemarin juga asli, itu mommy Ryu" Raihan tersenyum begitu juga Ryu. Ryu serasa puas mendengar jawaban Raihan.


"Sekarang kita kemana?" Raihan mengalihkan pembicaraan


"Kita ke pantai dad, playing with sand !" jawab Ryu antusias


"Ok, let's go !" Raihan segera membuka ponselnya setelah itu. Dia membuka aplikasi chat, dia ingat dia tak sempat membalas pesan-pesan Jingga. Bahkan dia tidak mengabari istrinya kemana dia pergi. Pikirnya Jingga kelelahan hingga tidur sampai siang, tak tega membangunkannya malah Raihan pergi tanpa pamitan.


Raihan menelfon nomor Jingga, namun sayang selalu operator yang menjawabnya. Sial! rupanya Jingga menonaktivkan ponselnya .


Raihan menghubungi Sifa, dan Sifa mengatakan bahwa Jingga pergi ke salon sejak pagi tapi belum kembali. Apa yang terjadi?


Raihan mencoba meminta tolong pada Zayn untuk memantau Jingga, karena dia tidak mungkin pulang sekarang. Dia tak ingin membuat Ryu kecewa.


Zayn


Ya? Butuh bantuan? . Seperti memiliki kemampuan meramal saja, Zayn langsung tahu tujuan Raihan


Ok brother!


Raihan bernafas lega setelah mendapat balasan Zayn. Zayn yang masih berada di rumah sakit langsung menghubungi Giska. Dia hanya menebak, siapa tahu Giska sedang bersama Jingga.


Halo??


Ya Zay?


Gis, saya mau. Kamu nyicil hutang sekarang, saya lagi butuh temen makan. Lagi pusing


Hah? harus banget sekarang?


Iya Gis. Mau ya?


Tapi aku lagi jauh, terus jalanan pasti macet


Dimana? share loc deh!

__ADS_1


Di jalan xxx


Rumah om Rus? kamu lagi disana***?


Eh enggak lagi ada urusan kebetulan deket kok. Yaudah kalo udah deket kabarin aja! aku tutup telfonnya !


Zayn tersenyum simpul. Kena kamu ! nggak ada bakat bohong kayaknya, tipeku banget.


Zayn menggantung jubah dokternya, melepas kemejanya. Menggantinya dengan kaos, saat Zayn membalik badan. Betapa terkejutnya dia melihat wanita berjilbab panjang yang sudah lama menjadi asistennya itu berdiri di ambang pintu menutupi wajahnya dengan posisi membelakangi Zayn.


"Astaghfirullah! Hasna?? sejak kapan kamu disitu?"


"Eng.. an.. m..maaaf dook. Demi Allah saya nggak sengaja" ucap Hasna penuh sesal, andai saja Zayn melihat wajah Hasna sekarang. Pipinya memerah bak tomat yang terlalu matang.


"Apa masih ada pasien?"


"Saya masuk mau taruh ini dok, sekali lagi maaf" Hasna berjalan mundur tanpa membalik tubuhnya meletakan beberapa lembar kertas yang sudah disusun rapi di meja Zayn.


Zayn mengulas senyumnya, bagaimana mungkin ada gadis sepolos hasna di jaman sekarang. Dia bahkan tidak berani menatap Zayn setelah kejadian tadi. Zayn tahu Hasna tidak sengaja. Karena memang tidak biasanya Zayn berganti pakaian di ruangannya.


"Hasna?" tegur Zayn sebelum Hasna melangkah keluar pintu


"I..iya dok" Hasna masih tak berani membalik tubuhnya


"Anggap saja yang tadi nggak pernah terjadi, biar kamu nggak canggung sama saya" ucap Zayn berjalan keluar ruangan, lalu ia sempatkan menepuk bahu Hasna. Membuat Hasna gemetaran, Zayn berlalu meninggalkan ruangannya sambil melambai tanpa berbalik.


Astaghfirullah hal adzim, malu ya Allah malu! mataku ternoda. Aku benar-benar tidak sengaja. gumam Hasna dengan langkah gontai menyusuri koridor.


Zayn melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat, sebab jalanan sangat padat di jam-jam ini. Sambil menyelam minum air. Begitu pikirnya, sekalian mencari Jingga juga bisa bertemu Giska.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hehehehehe Mas Raihan setia kok guys, tenang aja 😄


__ADS_2