
Jerry menelan salivanya berat setelah melihat foto yang baru saja Giska unggah di media sosialnya.
"Sial!" Jerry mengumpat kesal. Hanya melihat foto sexy Giska gairahnya langsung naik tanpa permisi. Sebelum Giska mendatanginya beberapa waktu lalu, Jerry dengan sangat mudah mendapatkan yang ia inginkan itu. Hanya dengan sekali telefon, Giska langsung tiba di apartemennya. Sebenarnya bukan hanya sekedar teman tidur bagi Jerry, karena selama keduanya masih bersama tanpa ikatan. Giska selalu memperlakukan Jerry seperti kekasihnya sungguhan. Tak jarang Giska memasak untuknya, membuat sarapan setelah semalam suntuk mereka bergulat tanpa henti.
Jerry melajukan mobilnya, saat ini ia menuju ke rumah sakit selanjutnya. Jerry sedang mencari targetnya, yaitu anak-anak yang mungkin bisa menjadi pendonor untuk Rya. Sebelum itu Jerry memasukan ponselnya kedalam saku kemejanya tanpa menguncinya, hingga tanpa sengaja Jerry menekan tombol love yang akhirnya terkirim pada si pemilik foto sexy itu.
~
What? Giska memekik dalam hati. Tidak biasanya Jerry memberi komentar atau bahkan sampai memberinya tanda love. Ada sedikit getaran dalam hati Giska kala melihat emoticon love yang Jerry sematkan pada salah satu foto di sosial medianya. Namun dengan segera Giska menepis rasa itu, dia takut jika suatu hari ia terbuai lagi oleh bujuk rayunya.
"Kenapa Gis?" Jingga mengernyit, memperhatikan mimik wajah sahabatnya yang sulit di artikan
"Eng.. enggak" ucap Giska. Jingga malah makin menajamkan matanya, membuat yang di tatap menjadi sedikit gugup. Dengan gesit tangan Jingga meraih ponsel yang Giska genggam sejak tadi.
"Oh Jerry?" Jingga sengaja menekankan nama Jerry supaya Giska tersadar bahwa dirinya harus mengubur semua obsesinya pada saudara dari suaminya itu. "Mas? saudara kamu itu. Dimana?" tanya Jingga menunjukan layar ponsel Giska
Hmmm, jadi panjang urusannya kalo udah sampe ke kuping lo Ngga. Giska membatin cemas
"Mmmm, dia cuti sayang" jawab Raihan memiringkan senyumnya. Raihan meninggalkan pekerjaannya merangkul bahu Jingga lalu mengajaknya duduk kembali bersama Giska.
"Gis?" panggil Raihan, Giska menoleh.
"Diemin aja dulu, bikin Jerry uring-uringan. Nanti dia nyari kamu sendiri" ucap Raihan lagi
Giska sedikit terjejut dengan penuturan suami sahabatnya itu.
"Ma.. maksud lo?" Giska menggerak-gerakan bola matanya, dirinya berusaha menutupi perasaannya sekarang.
__ADS_1
"Sudahlah, saya tahu kamu masih mengharapkan Jerry, coba saja saranku itu. Kalau Jerry nggak nyari kamu berarti kalian memang nggak berjodoh. Right?" Giska tidak menjawab, dia memilih diam. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia menyetujui ide Raihan.
"Mas sudah! Giska itu lagi belajar move on, kok malah kamu komporin gitu" gerutu Jingga, Raihan tersenyum lembut menatap wajah istri cantiknya yang masih cemberut.
"Jangan halangi orang yang sedang jatuh cinta, kamu nggak pernah tahu rencana Tuhan sayang" Katanya sambil mengusap sayang rambut Jingga "Seburuk apapun Jerry, mas lebih mengenalnya dibandingkan kamu. Jerry sebenarnya orang yang baik" Jingga hanya mencebik kesal mendengar suaminya membela Jerry yang jelas-jelas sudah menyakiti sahabatnya Giska.
"Gue balik duluan, di butik banyak tamu" Giska berkemas, memasukan ponselnya ke dalam pouch kecil yg selalu ia bawa kemana-mana.
"Butuh supir?" tanya Raihan, Giska menggeleng cepat. Entah benar atau tidak, yang jelas Jingga tidak ingin turut campur bila itu masalah perasaannya. Jingga tahu Giska sedang berbohong, tapi biarlah.
"Mas?" Raihan menaikan sebelah alisnya tak menyahut sapaan istrinya
"Jangan bahas Giska dan Jerry lagi. Sekarang mas mau tanya, kapan jadwal priksa kandungan?"
"Aku nggak ingin terlalu sering usg.. bulan kemarin sudah, bulan ini nggak usah, jadi bulan depan aja. Lagi pula aku sehat kok mas" Jingga menangkup kedua pipi suaminya, mata mereka saling bertatapan "Asal mood ku baik, asupan gizi seimbang, vitamin dari dokter udah cukup. Aku mual bau rumah sakit" jujur Jingga, membayangkan aroma rumah sakit saja sudah membuat isi perutnya bergejolak.
"Baiklah, tapi apa nggak masalah?" Raihan sedikit ragu
"Hmm, setengah jam lagi. Sabar kan?" Raihan mengecupi punggung tangan Jingga mesra. Jingga menarik sudut bibirnya kemudian menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa juga membiarkan kakinya berada di ujung meja.
Raihan kembali membuka laptop di meja kerjanya, bukan pekerjaan yang sedang ia pantau. Melainkan perkembangan pendonor itu. Bahkan ternyata Raihan baru mengetahui kalau Jerry juga ikut mencari ke rumah sakit besar di kota lain.
****
Pekerjaan ini membuat Bhumi sangat lelah, beban di pundaknya terasa amat berat. Maka ia putuskan menuju sebuah kamar vvip pasien yang sudah berbulan-bulan berada di sana. Langkah gontai Bhumi susuri, sepanjang lorong gelap itu Bhumi memikirkan sesuatu yang mungkin namun enggan ia wujudkan. Itu adalah permintaan seseorang untuk yang terakhir kalinya seumur hidup.
Bhumi pandangi pasien itu dari luar jendela, ia meminta suster untuk membuka tirainya. Pasien itu terbaring lemah, rambut panjangnya sudah tak membuatnya cantik lagi. Wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang semakin kurus membuat gadis itu terlihat seperti zombie.
__ADS_1
Guratan kesedihan jelas terpancar pada wajah tampan Bhumi. Gadis baik itu adalah gadis yang selalu membuatnya semangat dalam meniti karir selama ini. Sepanjang hidupnya ia persembahkan hanya untuk Bhumi, hanya untuk mencintai Bhumi. Sayangnya Bhumi tidak bisa membalas perasaannya, mengingat dia masih memiliki hubungan darah dengannya. Bhumi hanya bisa menyayanginya sebagai adik, tidak lebih.
"Jaga dia sus, jangan katakan aku datang lagi" kata Bhumi, suster mengangguk patuh.
Kisah pelik ini biarlah hanya Bhumi dan gadis bernama Aurum itu yang tahu. Bhumi hendak menemui dokter yang menangani Aurum, setelahnya dia menjabat tangan sang dokter usai menandatangani berkas berisi surat persetujuan. Di samping tanda tangannya sudah ada tanda tangan Aurum. Gadis itu sudah menemui dokter terlebih dahulu.
Flash back
"*Setidaknya biarkan kematianku berguna, apa gunanya kita mengulur waktu sementara aku dan kakak hanya bisa sebatas ini. Perasaanku ini memang sebuah kesalahan, tapi siapa yang mau? siapa yang meminta tuhan hadirkan rasa cinta sebesar ini dariku untukmu? andai saja sejak awal aku tahu kita ini satu ayah. Mungkin! rasa cintaku tidak akan sedalam ini. Biarkan aku berkorban untuk orang yang sudah membesarkan namamu. Anggap saja itu bentuk terimakasihku atas kasih sayangmu selama ini. Sebelum semua terlambat, aku sudah bertekad untuk mendonorkan semua organ dalam tubuhku yang masih berfungsi dengan baik."
"Cukup Aurum, kakak nggak bisa melakukannya. Kakak.. kakak nggak sanggup*" Bhumi hampir menenteskan air matanya
"Bukannya itu kemauan kakak? setelah kakak tahu masalah yang menimpa kak Raihan. Kakak langsung mengetes kecocokan antara aku dan putrinya kak Mikha kan?" Aurum tersenyum lembut dengan bulir-bulir bening yang mulai berjatuhan dari pelupuknya
"Kakak tidak bermaksud, kakak hanya ingin mengeceknya saja" Bola mata Bhumi bergerak-gerak mencari objek untuk pengalihan
"Lagipula aku memang akan berinisiatif melakukannya. Kakak tidak perlu repot, bahkan aku sudah tanda tangan" Bhumi memelototkan matanya mendengar pernyataan Aurum "Aku nggak perlu lagi merasakan sakit, aku nggak perlu lagi punya mata yang cuma bisa melihat kakak dari jauh. Aku nggak perlu lagi punya raga yang nggak akan mungkin bisa kakak inginkan, aku.. aku hiks..hiks.." Bhumi meraih tubuh kecil itu, mendekapnya erat.
"Cukup Aurum, cukup" keduanya terisak bersama, larut dalam kesedihan yang mendalam. Terlalu banyak air mata yang Aurum tumpahkan untuk Bhumi dan juga keluarganya.
Apa harus seperti ini takdir hidup Aurum? Batin Bhumi.
.
.
.
__ADS_1
Hay! author kembali setelah sekian abad.
Semoga masih ingat dengan ceritanya ya , kritik dan saran author tampung. Jangan lupa like comment dan vote nya 🥰