Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Dia pakai baju apa?


__ADS_3

"Aurum Anastasya" Zayn meletakan berkas tepat di hadapan Raihan. Ujung mata Raihan berkedut, dia akhirnya tahu alasan Bhumi menghilang.


Brakkkkk "Dimana dia!" Raihan menggebrak meja kerja Zayn. Zayn nampak tak bereaksi.


"Cukup bang, Bhumi sendiri yang menguji kecocokan Aurum dan Rya. Harusnya abang paham itu. Umur Aurum juga sudah di vonis nggak akan lama lagi"


Raihan langsung keluar ruangan Zayn. Menuju ruang vvip Aurum. Pria jangkung itu menaiki lift, dan langsung menuju lantai dimana kamar Aurum berada. Emosinya sudah tidak stabil lagi, dia tak menyangka Aurum yang akan menjadi pendonor itu.


Krekkkk , pintu terbuka. Aurum menoleh ke arah sumber suara. Dia tersenyum lembut, sudah tidak cantik lagi. Tubuhnya yang semakin habis Raihan saksikan sendiri. Ini adalah kali pertamanya Raihan berkunjung tanpa se izin Bhumi.


"Hay kak" sapanya sopan


"Apa-apaan kamu ini? apa yang kamu lakukan!" Aurum lagi-lagi hanya mampu tersenyum.


"Kamu mengambil tindakan bodoh! kamu tahu kan? dampak dari perbuatanmu ini?" Raihan mencengkram kuat jemari Aurum. Aurum hanya pasrah tak melawan.


"Dampak? dampaknya adalah keluarga kakak akan tetap utuh dan bahagia. Hanya aku harapan kakak satu-satunya. Siapa lagi yang mau kalian cari? siapa lagi yang mau di uji? hmm? kecocokan antara aku dan putrinya kak Mikha itu hampir mendekati 90%! kakak masih mau memarahiku?" Aurum tersenyum meledek, cengkraman tangan Raihan mulai mengendur.


"Dengar ya kak? dilakukan atau tidak. Nyatanya aku memang akan mati. Mengulur waktu tidak ada gunanya, aku sudah siap sepenuhnya. Aku akan mendonorkan semua organ yang orang-orang butuhkan. Setidaknya biarkan kematianku tidak terjadi sia-sia" Aurum meraih tangan Raihan kembali


"Jangan cemaskan kak Bhumi, dia hanya butuh waktu. Kalau bertemu sampaikan salamku padanya, aku hanya punya waktu dua hari lagi" terang Aurum dengan mata berkaca-kaca, Raihan melempar pandangannya ke arah lain. Matanya mulai memanas, dia merasakan kesedihan yang Bhumi rasakan.


"Katakan, dimana Bhumi?" Raihan menatap mata sendu di hadapannya. Aurum menggeleng


"Aku tidak tahu kak" jujur, Aurum pun ingin bertemu dengan Bhumi untuk yang terakhir kalinya.


"Batalkan, bereskan kekacauan ini!" rasa kesal Raihan lebih mendominasi ketimbang simpatinya saat ini "Aku butuh Bhumi, aku.."

__ADS_1


"Kakak lebih tidak bisa kehilangan Ryu, kak Bhumi bakalan kembali seperti semula. Kakak tinggal menunggu, sekarang yang paling utama adalah kebahagiaan dan keselamatan keluarga kakak. Lagipula aku memang tidak akan berumur panjang kan?" Aurum menengadahkan kepalanya, mencegah air mata itu turun lagi.


"Aku menolak, batalkan!" hardiknya masih dengan nada bicara yang terdengar angkuh


"Kalau kakak menolak, aku akan mendaftar sebagai pendonor untuk rumah sakit lain. Dan suami kak Mikha? tentu saja akan menemukanku. Jadi, mana yang lebih baik menurut kakak?" semua ucapan Aurum terdengar masuk akal, sayangnya perasaan Raihan sedang tak karuan saat ini. Pria itu tidak bisa berpikir jernih


"Sudahlah kak. Lagipula ini tidak gratis, kakak harus mengabulkan keinginanku" sorot mata tajam Raihan meredup, berpindah milirik Aurum dengan tatapan teduh.


"Jangan biarkan siapapun menyakiti kak Bhumi setelah aku tiada"


*****


Sekeras apapun Raihan berusaha menahan air matanya, nyatanya rasa sakit itu seakan ikut menyelimuti hatinya. Batinnya berperang, dia terus bertanya pada dirinya sendiri. Akankah dia tega mengakhiri hidup seorang gadis yang berusaha Bhumi jaga selama ini? Derai air mata menjadi saksi bahwa jauh di dalam hati Raihan juga ada sedikit rasa sayang untuk Aurum. Mengingat Aurum juga adik dari Bhumi. Di sisi lain, dia juga tidak ingin keluarganya hancur berantakan hanya karena ulah James.


Raihan menepikan mobilnya dibawah pohon rindang dekat dengan komplek perumahannya. Sudah dekat, bukannya pulang Raihan malah memilih untuk berdiam diri di sana. Sudah sejak pagi Raihan mencoba kembali menghubungi Bhumi, namun hingga detik ini ponselnya masih belum aktiv.


Sampai di rumah, Raihan melangkah dengan tergesa-gesa. Mencari keberadaan istri cantiknya. Para art bilang, Jingga ada di kamarnya. Raihan langsung mengambil langkah seribu menuju kamar utama, dilihatnya Jingga yang sedang merapikan baju pada lemari pakaian. Raihan langdung memeluk Jingga dengan erat. Sangat erat, Jingga terkejut bukan main hingga tubuhnya menegang. Tapi setelah menyadari siapa yang memeluknya, ketegangan itu perlahan memudar. Jingga menyentuh tangan yang melingkar di perutnya.


"Ada apa?" Jingga mengernyit heran, Raihan menggeleng. Dadanya masih terasa sesak.


"Tumben kamu kayak gini mas, beneran nggak apa-apa?" Ragu-ragu, Jingga memastikan keadaan suaminya itu. Raihan tetap menggeleng.


"Lepas ah, nafasku sesak" rengek Jingga, lagi-lagi Raihan cuma menggeleng. "Baiklah, seenggaknya jangan terlalu erat" Blussssh Raihan melepas pelukannya sekalian. Wajahnya menunduk, tubuh jangkungnya itu ia hempaskan ke ranjang. Pikirannya berkelana kemana-mana.


Jingga ikut duduk di tepi ranjang, dia memperhatian wajah sang suami yang terlihat banyak pikiran "Kita ini suami istri, kalau ada masalah coba berbagi mas. Siapa tahu aku ada solusi kan?" Raihan menggeleng, matanya masih terpejam.


"Masalah ini nggak semudah itu kamu cari solusinya yank" lirih Raihan menggenggam jemari Jingga

__ADS_1


"Kan aku bilang kalau. Jadi bener kamu lagi ada masalah?" aha! Raihan terjebak pada permainan kalimat Jingga. Pria tampan itu menarik sedikit ujung bibirnya.


"Ini soal Bhumi. Nggak penting.."


"Bhumi kenapa?" tanya Jingga datar


"Bhumi menghilang" terangnya, Jingga langsung melotot dan detik kemudian dia tertawa.


"Hahaha, kamu apaan sih mas? segitu galaunya muka kamu ternyata cuma mau bilang itu. Lagian mana ada Bhumi menghilang? tadi dia kesini antarkan berkas ke ruang kerjamu" Jingga langsung bangun usai mengatakan itu. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya merapikan pakaian.


Raihan ikut bangun menatap punggung indah istrinya "Kamu bilang apa yank? Bhumi kesini?" yang ditanya menoleh, kemudian dia mengangguk. Jadi dia kerumah, pikir Raihan.


"Terus, dia pakai baju apa?" Jingga kembali menghentikan aktivitasnya, berkecak pinggang menatap wajah suaminya lekat-lekat.


"Kamu itu tanya apa mas? ya pakai baju kerja lah. Kemeja, jas, dasi, rapi, cool seperti biasa" Jingga mencebik kesal sambil geleng-geleng. Jingga benar-benar tidak tahu apa yang sedang di alami suaminya.


"Oooh, terus dia ada ngomong apa gitu sama kamu?" wajah polos Raihan benar-benar mengesalkan bagi Jingga untuk sekarang. Jingga cukup tepuk jidat untuk memberi tahu Raihan bahwa dirinya sangatlah aneh sekarang ini.


"Saya duluan nona, udah gitu doang. Ada apa sih mas? kalian berantem?"


"Airin? ada hal yang ingin aku sampaikan" Nafas Jingga terdengar berat. Apalagi setelah ini?


.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2