Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Daniel?


__ADS_3

Jingga menghembuskan nafasnya perlahan kemudian menatap wajah kedua pria di hadapannya itu.


"Ckk.. Suami? Suami yang kejam maksud lo?" Dimas menampakan senyum sinisnya. Raihan hampir saja beranjak dari duduknya dengan wajah penuh amarah. Jingga langsung mencegahnya.


"Duduk mas !"


"Ayo dong Ngga, tanyain sama suami lo. Emang bisa dia bersikap adil kalo punya dua istri?" Dimas kembali bicara dengan senyum mengejeknya.


"Apa maksudnya Airin? Mas benar-benar nggak tahu." Raihan mengernyitkan dahinya.


"Sini hape lo !" Jingga menadahkan tangannya ke arah Dimas. Kemudian Dimas membukakan chat dari Felicia untuknya.


"Ini mas baca, baca sendiri" Ucap Jingga ketus sambil menunjukan chat Felicia. Raihan terlihat serius membacanya, sesekali dia tersenyum getir. Kemudian merapatkan kelopak matanya dalam-dalam.


"Mas nggak mungkin begini. Mas nggak akan pernah nglakuin hal ini.. Dimas ? Saya tahu kamu sahabat Felicia sejak dulu, dan saya juga tidak menyangka kalau akhirnya kita dipertemukan dalam keadaan seperti ini" Raihan terlihat berfikir lalu menatap mata Jingga lekat.


"Mas memang mengunjungi Felicia di rumah sakit. Tapi nggak ada tuh mas ngomongin masalah nikah sama dia. Kayaknya dia emang sengaja memanfaatkan situasi ini kalau menurut mas" Tambahnya lagi


"Maksudnya?" Tanya Jingga


"Kayaknya Felicia tau kalo kamu sahabatnya Dimas. Jadi dia ngarang cerita ini. Lagian mana bisa sih mas nikah lagi? Mas nggak mau ngecewain kedua orang tua kita" Kata Raihan lagi membuat Jingga dan Dimas makin terheran.


"Jelasin yang bener!!!" Dimas menimpali sembari memicingkan matanya


"Biasa aja dong, nggak usah nyolot gitu !" Raihan mulai menaikan nada bicaranya


"Udah dong, kembali ke topik pembahasan. Gak usah kaya anak kecil deh kalian !" ucap Jingga menyilangkan tangannya


"Feeling mas mengatakan kalo Felicia emang sengaja manasin kamu lewat Dimas" kata Raihan membuat Dimas membuka mulutnya


"Hah?? Gue kira dia gak tau hubungan gue sama Jingga loh. Soalnya emang gue gak pernah bahas soal Jingga ke dia" ucap Dimas mengernyitkan dahinya


"Udah deh pokonya pulang dari sini, mas bawa kamu ketemu Felicia. Setelah kejadian ini mas nambah yakin kalo sakitnya dia itu cuma pura pura" Raihan meraih dagu Jingga dan mengusap pipinya lembut. Jingga mengangguk setuju kemudian Dimas bangun dari duduknya.


"Ya udah, masalah ini udah jelas. Tinggal gimana nanti suami lo nyeleseinnya. Feli sahabat gue, lo juga sahabat gue. Gue cuma bisa berharap suami lo itu bersikap tegas dalam hal ini. Dah gue keluar , kalian lanjut lah mau ngapain." kata Dimas sambil beranjak keluar kamar


"Loh ? mau ngapain emang?" Jingga memicingkan matanya


"Ya terserah lo lah. Tapi inget jangan berisik kedengeran sampe bawah kalo lo teriak teriak !" Dimas terkekeh kemudian menutup pintu kamar. Pipi Jingga merona seketika mendengar ucapan Dimas. Raihan tersenyum devil kala melihat istrinya itu tersipu.


Untuk memecah kecanggungan, Jingga mencoba memulai pembicaraan.


"Mas kita harus balik cepet, besok kerja" Ucapnya tanpa menatap mata indah suaminya.


"Sttttt. Cup..." Raihan menutup mulut Jingga dengan telunjuknya kemudian mengecupnya singkat


"Mas baru sampai, capek. Kamu nggak mau pijitin mas?" Goda Raihan sambil meraih kedua tangan istrinya dan diletakannya ke bahunya. Jingga yang paham akan keinginan suaminya itu pun langsung memijatnya dengan telaten.


"Apa Feli juga sering begini?" Tanya Jingga sendu sambil memijat bahu Raihan


"Tidak" jawab Raihan singkat


"Atau begini?" pijatan Jingga pindah ke kepala bagian atas


"Tidak juga" Sahutnya lagi


"Atau begini? begini? iya kan?" Pijatan Jingga pindah ke belakang lehernya


"Airin kamu tuh mau nanya apa sebenernya?" Tanya Raihan mulai kesal membuat Jingga menghentikan pijatannya


"Hmmm.. maaf mas" Jingga menundukan kepalanya. Raihan langsung membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan Jingga, diraihnya dagu Jingga.


"Feli mana mau mijitin mas? gak usah bahas mantan lagi ya. Mas nggak mau bertengkar sama kamu. Cup .." Kecupan singkat mendarat di kening Jingga


******


Di tempat lain


"Maaaah? kok nomer Raihan nggak aktif ya?" Dengan wajah masam sambil menghentakan kakinya ke lantai.


"Ya mungkin lagi sama istrinya !" Kata ibunya dengan penuh penekanan

__ADS_1


"Mah? kok mamah gitu sih?"


"Mamah tetep nggak setuju soal hubungan kamu sama Raihan ! apalagi sekarang Raihan sudah menikah. Lebih baik mamah mati daripada liat kamu ngemis cinta sama dia !!!" Wanita paruh baya itu keluar sambil menutup pintu rumah sakit agak keras.


Aku harus siapin rencana yang lebih matang. Aku harus buat sekertaris sialan itu mundur dengan sendirinya ! Gumamnya


******


Keluarga berkumpul di meja makan kala itu. Jingga memasak untuk makan malam sesuai permintaan suaminya.


"Mba? Ada masalah apa sih sama mas Raihan?" Muhammad meraih piring saji di tangan Jingga


"Nggak ada dek.. udah selesai lagian, jadinya nggak perlu di bahas" kata Jingga dengan senyum penuh penjelasan


"Oh Alhamdulillah kalo gitu mba" Muhammad memindahkan ayam kecap dari wajan ke piring saji


"Kalo kamu masih inget, kamu tuh hutang penjelasan sama mba !"


"Oh Yana Ghea? Mereka itu yang bikin perempuan se kampus cuma bisa liat punggung aku tanpa menyapa mba"


"Maksudnya?"


"Menurut mba gimana deh?"


"Salah satu diantara mereka suka sama kamu ya?" Jingga mengerlingkan matanya menggoda Muhammad


"Bukan ! emang dua duanya. Tapi lebih kaya obsesi gitu. Untungnya aku emang nggak niat pacaran jadi nggak masalah juga. Kebeneran mba dateng bisa jadi penyelamat"


"Penyelamat apaan?"


"Mereka kan nggak percaya kalo aku udah punya pacar. Hehehe aku kaya tadi tuh biar mereka berhenti gangguin temen-temen cewe aku mba. Aku nunjukin aja ke mereka kalo aku punya pacar padahal mba itu kaka aku"


"Kan emang nggak punya !" kata Jingga sambil membolak balik tempe goreng


"Kalo niat banyak kok yang mau sama aku. Tapi males aja buang waktu tenaga dan uang pastinya" Kata Muhammad sambil membawa beberapa lauk di piring saji ke meja makan. Jingga hanya berdecak mendengar jawaban adiknya.


Terakhir Jingga membuat sambal kesukaan utinya , Sambal trasi.


"Laper banget gue, lama bener lo masaknya" sahut Dimas ketus


"Kamu pikir istri saya tukang masak disini pake di protes segala" Raihan memicingkan matanya


Brakkkkk


Jingga menggebrak meja agak keras "Bisa nggak? ributnya setelah makan ! dan jangan disini"


Jingga meraih piring Raihan kemudian mengisinya dengan nasi.


"Pakai sambel nggak?" Jingga melirik ke arah suaminya kemudian dijawab dengan anggukan


"Mau ikannya dong" pinta Dimas sambil menyodorkan piringnya membuat Raihan lagi-lagi menatap sinis ke arah Dimas. Jingga dengan sigap meraihnya.


"Assalamualaikum uti pulang" ucap wanita berusia 70 tahunan yang masih terlihat cantik


"Waalaikumsalam" jawab mereka yang di meja makan


"Lihat nih uti ajak siapa" katanya sambil melangkah menaruh barang bawaannya ke kamar.


"Daniel !!!!" "Mas Daniel ???" Jingga , Dimas dan Muhammad kompak menyapa seorang pria gagah yang masih rapi dengan seragam pilotnya. Daniel hanya menyunggingkan senyum hangatnya, dan Raihan memasang wajah penasaran.


"Kapan datang? Kene mas" kata Muhammad sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya. Daniel langsung duduk di sebelah Muhammad. Jingga mengambil dua piring nasi untuk Daniel dan uti.


"Biarin makan dulu, baru ditanya-tanya" kata uti sambil berjalan mendekat. Raihan bangun kemudian mencium punggung tangan uti.


"Apa kabar uti?" sapa Raihan


"Alhamdulillah, datang jam berapa nak?" tanya uti sembari duduk di kursi yang kosong


"Siang tadi uti" sahut Raihan ,uti hanya tersenyum


"Ya sudah ayo makan dulu"

__ADS_1


Semuanya mulai menyantap masakan Jingga. Mereka terlihat menikmati karena memang masakan Jingga benar-benar lezat. Muhammad sudah dua kali menambah nasi dalam piringnya. Begitu juga Raihan dan Daniel yang ikutan menambah porsi nasinya juga. Dimas hanya menggeleng melihat aksi orang-orang yang menurutnya rakus itu.


"Uti sudah selesai, setelah sholat isya ayo kumpul di taman belakang kita ngobrol-ngobrol" Ucap uti , semuanya mengangguk.


"Mau mandi dulu, titip piring mad" Daniel menepuk pundak Muhammad


"Beres mas" Jawabnya


Beberapa menit berlalu, orang-orang di rumah sudah selesai dengan ibadahnya. Sesuai keinginan uti, semuanya berkumpul di taman belakang rumah. Mereka duduk di gazebo yang memang sengaja dibuat untuk bersantai. Jingga membawa teh hangat dan camilan untuk menemani waktu ngobrol mereka.


"Mas? Nginep lama nggak?" tanya Muhammad pada Daniel


"Sampe besok disini, lusa flight hehe" jawab Daniel


Jingga tahu bahwa sebenarnya Raihan penasaran dengan sosok Daniel di hadapannya. Tapi dia sengaja membuat tanda tanya besar di hati suaminya itu. Biarlah dia tahu sendiri! gumamnya dalam hati


"Uti mana ya?" Jingga menoleh ke pintu


"Gue liat dulu ke dalem bentar" Dimas segera bangun menyusul uti


"Susah banget ketemu kamu !" ucap Jingga tiba-tiba, Daniel hanya menggeleng


"Aku ke rumah ibumu dua kali. Yang terakhir nginep di kamarmu. Sorry ya, Kinan yang minta" kata Daniel membuat Raihan membelalakan matanya


"Heh ? nginep? jangan-jangan boneka besar itu...." ucap Jingga terpotong


"Aku yang beli, Kinanti yang milih" Daniel menyeruput tehnya


"Kok Kinan nggak cerita ya kamu dateng? Ibu, mas Adam, mba Ayu juga ngga ada ngomong apapun"


"Aku yang minta sama mereka, kalo Kinan bisa aja lupa buat cerita" jawabnya , Jingga hanya manggut manggut. Sesekali Jingga melirik suaminya sudah dipastikan wajah Raihan berubah makin masam. Dia sengaja melakukannya, Jingga juga ingin membuat suaminya cemburu buta.


Ting... Ponsel Daniel mendapat pesan.


Mas? Bikin suaminya Jingga cemburu. Biar seru, kerjain sekali-kali.


Kata si pengirim yang mana dia adalah Dimas. Daniel langsung tersenyum penuh arti, otaknya langsung terpikirkan ide-ide gila.


"Aku kangen banget loh sama kamu, besok jalan yuk?" ucapnya pada Jingga


Sial ! gue bener-bener nggak dianggep ada ternyata. Gumam Raihan masih menahan amarahnya


"Kemana? Shopping?" tanya Jingga


"Ayoklah" sahut Daniel


"Ikutan mas" celetuk Muhammad kemudian dengan kompak Jingga dan Daniel menjawab


"No !"


"Ya Allah mbak pelitnya" Muhammad menggeleng kemudian fokus kembali pada game di ponselnya.


Raihan langsung bangun dari duduk kemudian masuk ke dalam rumah.


"Yah ngambek deh" bisik Daniel pelan tanpa terdengar siapapun


"Biarin, sengaja aku" jawab Jingga ketus


"Kenapa sih? suamimu nakal ya?" goda Daniel


"Enggak, udahlah masuk dulu. Bentar ya"


Di dalam kamar, Raihan terlihat sibuk dengan laptopnya.


"Mas?" Jingga mencoba menyapa


"Hmmmm" Raihan hanya menggeram menyahutinya


"Lagi ngapain?" tanya Jingga


"Kelihatannya lagi ngapain?" Raihan berlagak cuek

__ADS_1


"Oh, sibuk. Ya sudah aku tidur duluan" Jingga meraih selimut kemudian menutup dirinya rapat-rapat di ranjang dengan selimutnya.


__ADS_2