
Siang hari di KJ Group
"Pak Jerry, ini cv calon sekertaris bapak dan pak Raihan. Silahkan di cek" Ria meletakan setumpuk map di meja Jerry
"Oh ya, apa hanya ini?" Jerry menunjuk tumpukan map dengan wajahnya
"Ini yang sudah melalui tahap seleksi awal pak" jawab Ria
"Baiklah terimakasih ya bu Ria" ucap Jerry , Ria pun mengangguk kemudian pergi dari ruang wakil direktur.
*******
Di villa Giska
"Jingga.. lo tidur?" Giska mendekati ranjang tidur Jingga, diikuti Raihan dan Bhumi.
"Tidur nih gimana dong?" ucap Giska melirik dua pria itu bergantian
"Biarkan saja" jawab Raihan singkat "Bisa tinggalkan kami berdua?" tambahnya lagi
"Lo ngusir gue?" Giska melirik Raihan sinis, Bhumi langsung menarik lengan Giska hingga keluar kamar
"Biarin dulu mereka, jangan ikut campur" kata Bhumi membuat Giska mendengus kesal kemudian pergi ke kamarnya sendiri, Bhumi melihatnya hanya menarik ujung bibirnya hingga menampakan senyuman.
Raihan menaiki ranjang dimana Jingga berbaring, ia menelusupkan tangan kanannya seperti kebiasaannya. Sekarang Raihan sudah memeluk perut Jingga bahkan sesekali ia mengusapnya. "Maafkan ayah ya sayang, ayah salah.. ayah minta maaf. Katakan pada bundamu, ayah menyesal" ucap Raihan dengan mata berkaca-kaca detik kemudian dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jingga, dia menghirup aroma tubuh istrinya, aroma yang selama ini dirindukannya.
"Huuuu..huuu.. hikss.. hiks.." Raihan membelalakan matanya terkejut mendengar suara tangis dari wanita yang di peluknya
"Airin kamu nggak tidur?" tanya Raihan memandang wajah Jingga. Jingga menggeleng pelan masih dengan tangisnya
"Mau apa kamu kesini mas.. hiks.." Jingga hendak menyingkirkan tangan besar yang melingkar di perutnya
"Rin kita pulang yuk, bicaranya dirumah aja. Mami sampe sakit mikirin kamu Rin. Mas udah cari kamu kemana-mana tapi ternyata kamu disini" ucap Raihan menatap Jingga sendu, Jingga diam tak bergeming
"Kalo kamu masih takut sama mas, kamu bisa tinggal di rumah mami untuk sementara waktu. Yang penting mas bisa lihat kamu setiap hari" ujar Raihan mengusap sayang rambut Jingga. Jingga terlihat berfikir, tangisnya mulai mereda.
"Mau ya rin? kamu nggak mau bicara sama mas juga nggak apa-apa. Nggak mau tidur sama mas juga nggak apa-apa, asalkan mas bisa lihat kamu setiap hari. Mas juga mau tahu perkembangan bayi kita sayang" Raihan mengusap-usap perut Jingga yang masih rata.
Mana bisa aku menolak, kalau kamu ngrayunya lembut begitu mas. Tapi aku memang harus tinggal di rumah mami. Aku masih takut kamu berubah kesetanan kayak kemarin. Batin Jingga
"Gimana rin?" tanya Raihan lagi dengan nada lembut, selanjutnya dibalas dengan satu anggukan oleh Jingga. Yes !!!! kata Raihan dalam hatinya, bahkan Raihan sekarang tersenyum penuh kemenangan.
"Tunggu disini ya Rin. Cup" kata Raihan kemudian mengecup kening Jingga.
Raihan dengan wajah cerianya keluar dari kamar bermaksud menemui Giska, dilihatnya Bhumi berdiri mematung menyandarkan punggungnya di tembok, sambil memejamkan mata.
Prokkkk. "Astaghfirullah" ucap Bhumi terkejut karena Raihan menepuk bahunya keras.
"Gimana?" tanya Bhumi
"Udah mau pulang tapi ke rumah mami" jawab Raihan sedikit lesu
"Ya iyalah, tinggal berdua sama lo itu bagaikan tinggal neraka. Dia pasti trauma han" celetuk Bhumi dan Buggghhhh
"Awwww, apaan sih" Bhumi terpekik menerima tendangan maut di kakinya
"Panggilin temen Airin yang tadi" ucap Raihan sambil mendorong tubuh kekar Bhumi pelan, Bhumi langsung menuju kamar Giska. Tak lama kemudian Giska menghampiri Raihan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Giska tak suka
"Saya akan membawa Airin pulang, terimakasih untuk kebaikan kamu selama ini pada istri saya" Raihan mengulurkan tangannya, Giska pun menerima uluran tangannya. Saat ini mereka berjabat tangan.
"Jingganya mau nggak?" tanya Giska datar
"Mau dong" sahut Raihan singkat
"Oke, gue telfon perawat dulu" ucap Giska membuka ponselnya
"Lama nggak? cari yang cepet bisa nggak?" Bhumi menyela, seakan dia yang tak sabar ingin cepat kembali.
"Bidan ada sih, deket dari sini. Kalo cuma lepas infus bidan juga bisa" kata Giska melangkah keluar kemudian memanggil Anto penjaga villa nya.
"Udah pak Anto panggilin, tunggu aja bentar" kata Giska kemudian membuka lemari es hendak mengambil dua buah minuman untuk Raihan dan Bhumi. Bhumi melirik isi lemari es sejenak. "Itu lo jualan? banyak amat pear nya?" celetuk Bhumi sambil mengangkat sebelah alisnya
"Ini tuh salah satu bentuk kebaikan gue sama bini bos lo itu, ngidamnya makan pear tiap hari udah gitu sukanya nangis" ucap Giska menyodorkan dua botol minuman pada Bhumi "Satunya buat bos lo" ucapnya lagi
Tak butuh waktu lama untuk menunggu bidan tiba di villa. Giska mempersilahkan sang bidan untuk masuk ke kamar Jingga. Setelah selesai bidan itu berpamitan pergi.
Jingga berkemas dibantu oleh Raihan, Bhumi sudah siap menunggu mereka di mobil. Lalu Giska membantu Jingga masuk ke dalam kursi penumpang, Jingga duduk dibelakang dengan Raihan. Meskipun sejak tadi Jingga tidak mengajak Raihan bicara tapi Raihan tetap bahagia karena akhirnya dia berhasil membawa pulang istrinya.
"Tunggu, tunggu sebentar ! jangan jalan dulu" Giska menahan Bhumi yang hampir saja menancap gas. Giska lari masuk kedalam villa setelah itu dia kembali membawa kantong kresek besar.
"Nih.. nih.. lo bawa pulang aja" ucap Giska sambil menyodorkan kantong kresek berisi buah pear.
Jingga pun mengangguk "Gigis? thanks ya" ucap Jingga lirih lalu kembali menyandarkan kepalanya di sandaran jok.
"Apa Gigis? hahahaha" Bhumi terbahak mendengar panggilan Jingga untuk Giska yang terdengar menggelikan baginya. Giska langsung memelototi Bhumi, membuat Bhumi menutup mulutnya. Raihan hanya menggeleng melihat kelakuan asistennya yang menggoda teman istrinya.
Sepanjang perjalanan Raihan mencoba mengajak Jingga berbicara namun Jingga tak menanggapinya. Dia sibuk dengan dunianya sendiri, seolah-olah Jingga menganggap Raihan tak ada di sisinya. Jingga memegangi perutnya erat seakan mengatakan pada dunia bahwa dia dan bayinya akan selalu baik-baik saja.
"Sebenarnya mas penasaran, apa saja yang terjadi padamu selama dua minggu ini. Tapi kamu nggak mau bicara dengan mas" ucap Raihan menggenggam jemari Jingga
********
Raihan memapah Jingga masuk kedalam rumah besar Sulaiman. Disana sudah ada keluarga Sulaiman menanti kedatangan putri menantunya.
Di sudut ruang tamu pandangan Jingga menangkap wajah wanita cantik berjilbab yang tak seperti biasanya. Wajahnya sangat pucat dan terlihat sedikit kurus.
"Mmmm..mami" ucap Jingga lirih, spontan Jingga mendekati Maryam dan langsung memeluknya.
"Maaf mi maaf" hanya kata itu yang bisa Jingga ucapkan pada mertua yang amat ia sayangi. Maryam menatap Jingga sendu lalu kembali memeluknya.
"Maafin Jingga mi" bulir kristal dari pelupuk mata keduanya mulai berjatuhan. Sekarang giliran Sulaiman memeluk menantu yang dirindukannya selama ini. Suasana haru tercipta begitu saja di ruangan itu. Keluarga Sulaiman benar-benar melepas rindu dengan Jingga, seakan baru saja bertemu setelah sekian tahun.
"Airin istirahat dulu yuk?" ajak Raihan ramah
Meskipun kamu mencoba untuk merayuku, aku akan tetap pada pendirianku. Aku tak akan mau bicara padamu mas ! batin Jingga sambil berjalan ke kamar milik Raihan dirumah ini.
"Rin mau mandi? mau mas siapkan air hangat?" tanya Raihan. Tanpa menghiraukan Raihan, Jingga langsung masuk ke kamar mandi kemudian membersihkan dirinya. Setelah itu dia melaksanakan ibadahnya.
"Loh udah maghriban? kok nggak nungguin mas?" Raihan mendekatkan wajahnya
Nungguin kamu mas ? huh jangan mimpi ! Jingga hanya bisa menjawab semua ucapan Raihan dalam hati. Dia masih bertahan pada pendiriannya
"Airin makan yuk, udah di tunggu mami papi tuh" Raihan merangkul pundak Jingga, Jingga tidak menepisnya. Dia hanya mengikuti kemana suaminya akan membawanya. Jingga duduk bersebelahan dengan Raihan dan Delisa.
__ADS_1
Raihan mengambil secentong nasi untuk Jingga lengkap beserta lauknya. Namun Jingga sama sekali tidak menyentuh makanan itu. Jingga mengambil mangkuk lalu menuang sup ayam di mangkuknya hingga penuh. "Kok makannya sup doang kak?" tanya Delisa heran
"Kakak males banget liat nasi, baunya aja udah bikin mual" sahut Jingga bergidik ngeri. Sulaiman dan Maryam jadi saling tatap, Raihan yang melihatnya sudah paham kemana arah pikiran kedua orang tuanya itu.
"Airin hamil pi, mi" ucap Raihan bangga. Klotaaakkk "Awwwww" Raihan terpekik saat satu buah sendok mendarat di ujung kepalanya
"Jadi selama ini kamu menelantarkan calon cucu papi ?" Sulaiman bangun dan mengeraskan rahangnya , Maryam langsung menarik lengan suaminya, mengajaknya kembali duduk. "Pi sabar, ada Jingga" bisik Maryam lembut
"Berapa usia kandunganmu?" tanya Maryam menatap Jingga dengan tatapan sayang seorang ibu
"7 minggu mi" jawab Jingga datar
"Apa?!!!!! Jadi waktu saya suruh kamu beli testpack itu kamu beneran hamil ?" tanya Zayn sambil berjalan ke meja makan, dia baru saja pulang dari rumah sakit.
"Eh enggak, waktu nyoba testpack malam itu hasilnya masih negatif. Kayaknya testpacknya bermasalah bang" ucap Jingga kembali menyeruput sup ayamnya menggunakan sendok. Sedangkan Raihan melanjutkan makan malamnya sambil mencerna ucapan Zayn diam-diam.
"Bukan testpacknya yang salah, mungkin kalau kamu testnya di pagi hari setelah bangun tidur hasilnya bakalan beda" kata Zayn tersenyum lalu menepuk pundak Jingga "Nanti kita ngobrol lagi ya" katanya lagi. Jingga mengangguk lalu bergegas melahap supnya hingga tandas.
"Mau roti nggak rin?" tanya Raihan, Jingga hanya balas menggeleng
Kamu benar-benar nggak mau bicara dengan mas ya rin? batin Raihan dengan perasaan sedih berkecamuk dalam hatinya.
Raihan segera menghabiskan makananya, lalu menaruh piring kotor di bak cuci. Raihan menuju kolam renang, kemudian duduk di sebuah kursi besi yang ada di pinggiran kolam.
Sambil memainkan ponselnya, dia membuka chat dari kantor dan beberapa kolega bisnisnya.
Man? gue udah pilih sekertaris baru buat lo ! gue yakin lo bakal suka. Bunyi pesan Jerry yang baru saja masuk di ponsel Raihan
Raihan pun membalasnya Thank u man !
Raihan yakin Jerry akan memilih sekertaris yang baik untuknya karena Raihan begitu mengenal Jerry.
Jerry adalah pria yang sangat perfectionist dalam hal apapun. Bahkan dulu saat masih duduk di bangku sma, Jerry mendapat predikat pria paling rajin dari teman-teman sekolahnya.
Raihan menscroll list chat nya kembali, lalu ia menemukan chat dari nomor tanpa nama. Tapi Raihan mengenal nomor itu dengan baik karena si pemilik nomor tersebut pernah berada di sisinya selama bertahun-tahun.
+628126567xxxx : Sayang aku kangen !
"Astaghfirullah hal adzim Feli" ucap Raihan kemudian langsung menghapus chat tersebut. Tak lupa ia memblokir kontak Felicia. Dia tidak ingin rumah tangganya dengan Jingga menjadi tambah runyam.
"Ya Allah bantu aku menyelesaikan masalahku satu persatu" ucap Raihan dalam hati kemudian memejamkan matanya sejenak.
.
.
.
.
.
Jangan bosen ya readersku tersayang.
Bantu like dan vote biar author semangat up nya 😍
Maaf akhir-akhir ini upnya agak lambat karena author lagi sibuk banyak job. Maklumin yak, tapi sebisa mungkin setiap harinya author bakal up satu episode paling tidak.
__ADS_1