
"Katakan! berapa yang kau inginkan?" dengan mata memerah dibakar kemarahan, Raihan terus memandang jijik wanita di hadapannya itu.
"Hahahaha.. aku tidak ingin uangmu Ray! aku ingin dirimu! tubuhmu! hatimu, cintamu, seperti dulu!!!"
Mendengar jawaban wanita itu membuat Raihan ingin sekali menikamnya dengan belati sesegera mungkin.
"Cinta? cinta yang seperti apa? aku bahkan sudah lupa!"
"Baiklah akan ku pulihkan kembali ingatanmu itu!" sergahnya dengan seringai licik. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Raihan. Dengan sigap Raihan langsung memalingkan wajahnya ke kanan.
"Hentikan perbuatan hinamu itu! aku pria beristri. Sudah tidak ada lagi cinta di antara kita kalau kau lupa" Raihan menegaskan, mata perempuan itu langsung berkaca-kaca , dia tersenyum getir.
"Bukan di antara kita! hanya kamu yang memilih berhenti mencintaiku! tapi aku enggak! rasa itu masih sama, dia semakin tumbuh dan bersarang disini" Felicia meletakan telapak tangan Raihan di dadanya. Raihan segera melepasnya.
"Fel ! tolong. Hargai aku dan istriku. Dia sedang mengandung anakku!"
"Hargai??? Hargai seperti apa?? Kenapa kamu nggak bisa menghargaiku? kenapa kamu memilih dia daripada aku? kamu sendiri yang berjanji akan tetap menjalin hubungan ini meski kamu sudah menikah. Tapi hiks.. hiks.. kamu mengingkarinya!!!! aku tidak terima!" Felicia menangis histeris. Bhumi yang berada di balik pintu sudah geram sejak tadi, tapi sayang Raihan sudah memberinya ultimatum supaya tidak masuk ke kamar itu apapun yang terjadi. Kecuali Raihan memanggilnya.
"Aku akan katakan semuanya pada James, soal Ryu ! aku bahkan memiliki bukti-buktinya!!" hardik Felicia mengancam Raihan
"Jangan minta syarat yang tidak mungkin bisa ku wujudkan Fel. Ryu dan Airin hartaku satu-satunya selain keluargaku. Ku mohon! aku sangat menghargaimu.. menghargai keluargamu. Mengertilah!" Raihan mencoba meredam kemarahan Felicia
"Ray, aku cuma mau berdampingan denganmu seperti dulu. Aku bersedia menjadi mualaf. Aku bersedia meski harus menjadi yang ke dua. Asal kasih sayangmu tetap sama seperti dulu. Hiks.. hiks.."
Raihan terlihat menimbang dan berpikir keras. Dibalik pintu, Bhumi terus mengumpat dengan kata-kata kasarnya. Dia hanya berharap Raihan tidak menyetujui keinginan Felicia.
"Ingat Ray! ingat kita yang dulu!!! hiks.. hikss.. kamu nggak pernah sekeras ini sama aku sebelumnya, kamu sadar nggak sih. Aku ini sakit, sakit banget"
Raihan begitu bimbang saat ini, tiba-tiba otaknya kembali memutar moment moment disaat keduanya masih bersama.
********
"Ngga, Zayn lucu ya. Tapi tengil banget" Jingga membulatkan matanya karena tiba-tiba saja Giska membahas soal kembaran suaminya itu.
"Loh? tengil?" tanya Jingga, Giska langsung mengangguk
"Pemaksa"
"Hah?" Jingga membuka mulutnya
"Baik sih, walaupun caranya aneh" terang Giska lagi
"Lo lagi deket?" tanya Jingga
"Ya enggak lah, temenan aja gue. Mana mungkin gue sama sodaranya Jerry. Hehehe" tutur Giska sambil terkekeh geli
"Eh ya ampun, nggak masalah kali. Emang ada larangannya? kan ada kebaikan dibalik itu semua" Jingga memainkan kedua alisnya
"Apa?"
"Lo jadi sodaraan sama gue, bakal lebih deket dari sekarang" Jingga mengembangkan senyumnya
"Hehehehehe" Giska hanya tertawa kecil "Lo jangan kebanyakan ambil sambelnya, inget lagi hamil !!!" Giska menasihati Jingga yang terus menambah sambal dalam mangkok sotonya, sembari mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Satu lagi deh" pinta Jingga membuat Giska merebut mangkok sambal di tangan Jingga. Sahabatnya ini memang ngeyel sekali. Aduh syukur, untung dia nggak lanjut bahas masalah Zayn!
"Gue nggak mau di salah-salahin sama suami lo, kalo lo sampe sakit perut!!!" sergah Giska dengan mata mendelik, seketika wajah Jingga berubah menjadi masam. Mana perduli dia sama gue Gis, pergi aja nggak pamit.
Usai menuruti ngidam Jingga, Giska mengantar Jingga menuju rumah keluarga yang amat dirindukan Jingga. Dari kejauhan dia melihat Kinanti sedang bermain bersama Abi. Jingga mengulas senyumnya melihat putri kecilnya itu sedang tertawa riang.
Giska menekan klaksonnya dua kali, membuat Kinanti dan Abi terkejut. Jingga melepas seat belt lalu buru-buru ia turun memeluk si pipi gembil itu.
"Hah Bundaaaaaa" Kinanti memeluk Jingga erat-erat.
"Kinan udah makan?" Kinanti mengangguki pertanyaan bundanya "Abi udah?" tanya Jingga lagi membuat Abi mengangguk.
"Gis masuk ayok" ucap Jingga mengkode Giska dengan dagunya mengarah ke pintu rumah
"Kinan udah nggak boleh gendong bunda ya? kata mas Abi, Kinan mau punya adik.. benar bunda?" Kinanti mengangkat tiga jarinya "kata mas Abi segini, tiga ya bunda?" Kinati mengernyitkan dahinya "Lalu mana adik bayi Kinan bunda?"
Jingga tersenyum dibuatnya, bukan Kinanti namanya kalau tidak sebawel ini.
"Disini" Jingga menunjuk perutnya yang belum banyak berubah itu. Kinanti melongo, tak mengertj maksud Jingga "Bunda sedang mengandung, Kinan ketemu adik bayinya masih lama. Tapi Kinan sabar kan?"
Kinanti memiringkan bibirnya sambil berpikir "Iya bunda, Kinan sabar" kata Kinan sambil mengusap dadanya sendiri beberapa kali. "Sabar..sabar" ucapnya lagi membuat Giska, Jingga dan Abi tertawa gemas.
"Lucunyaaaa" Giska mencubit ringan pipi gembil Kinanti hingga si empunya cemberut "Maaf , tante gemes habisnya kamu lucu. Yuk masuk yukkkkk" Giska menggandeng tangan Kinanti
"Assalamualaikum" ucap Jingga dan Giska berbarengan "Waalaikumsal...lam" mata Ajeng langsung berkaca-kaca melihat putri kesayangannya tiba-tiba berada di hadapannya.
Jingga memeluk Ajeng, mengecupi kedua pipi Ajeng kemudian keningnya "Maafkan Jingga bu" Jingga menahan isak tangisnya.
"Nggak bu, nggak usah bahas hal ini lagi. Anggap semua nggak pernah terjadi, lagian Jingga nggak keberatan soal keberadaan Ryu. Awalnya Jingga memang sedih karena semua orang tega bohong sama Jingga. Tapi yaudah lah bu, nggak penting lagi masalah itu sekarang, buat apa mesti dibahas?" Jingga menampilkan senyum terbaiknya di hadapan Ajeng supaya Ajeng menghentikan pembicaraan yang membuat Jingga mengingat rasa sakit beberapa waktu lalu. Ajeng membalas senyuman Jingga, kemudian berjalan ke arah Giska.
"Giska apa kabar nak?"
"Baik bu, ibu sehat kan?" tanya Giska sambil cipika cipiki.
"Alhamdulillah nih sehat banget, masuk yuk. Makan dulu" ajak Ajeng pada Jingga dan Giska. Abi berlari masuk kedalam kamarnya meninggalkan semua orang di ruang tamu.
"Nggak bu, kita udah makan tadi dijalan. Jingga ngidam soto" kekeh Giska membuat Ajeng nyengir kuda
"Masih mual-mual nggak sih?" tanya Ajeng penasaran
"Udah nggak begitu bu, cuma sekarang kalo pengin apa nggak keturutan bawaanya pengin nangis aja. Kayak Kinan banget" jawaban Jingga membuat Ajeng mencebikan bibirnya
"Beda banget nduk, bedaaaa! Kinan tuh anaknya pengertian, nggak kayak yang kamu bilang. Kalo Abi baru. Kinan kan kalo pengin apa-apa terus kebawa tidur besoknya langsung lupa" terang Ajeng membuat Jingga ingat akan janjinya membawa boneka untuk Kinanti.
"Ya Allah lupa!! sebentar bu" Jingga segera meraih ponselnya hendak mengirimi Sifa pesan
Sif? waktu itu kan saya pesen boneka online, udah dateng belum sih? di aplikasi keterangannya udah sampai soalnya.
"Siapa nduk?" Ajeng mengangkat sebelah alisnya
"Sifa bu, yang kerja dirumah" jujur Jingga
Saya taruh di kamar dekat ruang keluarga non, Tuan yang suruh. Waktu itu juga saya udah bilang sama non Jingga kalau bonekanya sudah sampai.
__ADS_1
Jingga menepuk keningnya kesal, bagaimana ia bisa lupa dengan boneka yang sudah ia janjikan pada Kinanti. Baiklah, Jingga akan meminta bantuan Luna atau Erin agar segera ke rumahnya membawa boneka besar Kinanti.
Oke, makasih ya sif. Nanti ada orang yang ambil bonekanya, kasih aja ya. Saya yang suruh 😊 balas Jingga
Baik non 😘 dengan cepat Sifa membalas, namun detik setelahnya Sifa mengirimi pesan lagi
Eh non salah pencet emoticon 🙂 itu maksudnya
Hahahaha iya sif nggak apa-apa 😆
Jingga jadi tergugu membaca pesan konyol dari salah satu maidnya itu. Kemudian Jingga menghubungi Luna terlebih dahulu untuk segera mengambil boneka Kinanti di rumahnya. Tak lama setelah itu Luna membalas pesan Jingga, dia setuju untuk datang mengantarkan boneka besar Kinanti.
"Yasudah ayo istirahat dulu, kalian pasti capek" ujar Ibu merangkul Jingga dan Giska
"Bu kami menginap" Jingga melirik Giska, memaksanya untuk setuju, Giska mendelik. Namun dia tak kuasa menolak sedangkan Jingga sudah memasang puppy eyesnya. Giska hanya sanggup menghela nafas beratnya
"Kinan bobok sama bunda ya nanti malem" tanya Jingga, Kinan hanya mengangkat sebelah jempolnya tanda setuju
Jingga jadi mengulum senyum, seingatnya belum lama ini dia melahirkan si pipi gembil itu. Tapi sekarang dia sudah besar, bahkan sudah bisa meniru gaya bicara orang dewasa. Maka dari itu Ajeng, Ayu dan Adam yang berada dekat dengan Kinanti selalu memperhatikan dengan siapa bocah itu bergaul. Mereka ingin Kinanti tumbuh dengan baik seperti bundanya.
"Yang penting sudah izin suamimu" sahut Ajeng enteng
"Hehe, lagipula dia lagi nggak dirumah bu" kata Jingga
"Tetap saja, harus mengabari meskipun cuma lewat pesan nduk"
"Iya bu"
Dia bahkan pergi pagi buta tak mengabariku bu, bagaimana mungkin aku yang hanya berkunjung kerumah ibu harus berpamitan?
Dia seperti tidak perduli denganku, atau bahkan dengan kehamilanku. Dia begitu mengkhawatirkan Ryu, jelas-jelas ada Mami dan Papi menjaganya. Sedangkan aku? aku merasa hanya menjaga tiga calon bayiku seorang diri bu. Suamiku terlihat acuh! aku ragu dan aku takut.. setelah mereka lahir nanti, mas Raihan malah tidak menyayanginya. Aku harus bagaimana bu?
.
.
.
.
.
.
.
Lagi **senggang nih !
Like dan votenya jangan lupa, kalo banyak nanti bonus up lagi untuk readers setia.
Love you All 😍😍😍😍
OhMaruu**~
__ADS_1