Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Cemburu


__ADS_3

"Mas bilang sama dokter, aku udah nggak apa-apa" ujar Jingga


"Ya sayang, kata dokter kamu cuma nginep semalem kok" kata Raihan jujur


"Tapi mas nemenin aku disini kan?" tanya Jingga penuh harap


"Mmmm gimana ya, kalo kamu maksa... yaudah deh mas mau" goda Raihan sambil melangkah masuk ke toilet, membuat Jingga mencebikan bibirnya.


"Niel makan apa sih? mau dong" ucap Jingga, kemudian Daniel menyendokan sepotong puding ke mulut Jingga.


"Enak, beli dimana" tanya Jingga penasaran


"Lupa nama resto nya, tadi order pake goprut" jawab Daniel "Ibu sama Abah udah ku kabari, tapi paling mas Adam yang duluan sampe" katanya lagi


Tok tok


"Jariyah" suara seorang pria yang tak asing di telinga Daniel dan Jingga


"Masa di rumah sakit ada yang minta sumbangan sih?" Jingga setengah berbisik


"Nggak tahu, coba ku buka bentar" sahut Daniel


Cekleeeekkkkk


"Hahaha, Jariyah pak, bu" goda Adam melangkah masuk ke dalam ruangan Jingga sambil menenteng satu parcel berisi buah pear.


"Ya Allah mas Adam kirain siapa" Jingga berusaha bangun dari rebahannya, Adam langsung membantunya. Kemudian Jingga langsung memeluk singkat kakak tampannya itu.


"Apa dia baik-baik aja dek?" tanya Adam senyum


"Bukan dia mas, tapi mereka" jawab Jingga sumringah


"Ha? apa bayinya kembar?" tanya Adam mengernyitkan dahinya


"Iya, tiga" sahut Jingga enteng


"Alhamdulillah. Apa? Tiga?" Adam terperanjat setelah sadar dengan kata-kata Jingga di akhir


"Iya mas, tiga. Tokcer banget kan saya" celetuk Raihan dengan bangganya, sontak membuat Adam langsung mendelik ke arahnya


"Lihatlah pengorbanannya demi dirimu. Kalau sampai kelak kamu menyakiti hati adik saya. Saya akan membawanya pergi jauh darimu Raihan !" kata Adam dengan nada mengancam


"Insha Allah mas, saya akan menjaga dan selalu menyayangi Airin sampai akhir" Raihan menautkan jemarinya pada jemari Jingga, seketika Jingga tersenyum mendapat perlakuan manis dari suaminya


"Jadi saya nggak dianggap nih, apa saya pergi aja?" sindir Daniel dari sofa


"Jangan dong, kamu temani mas disini sambil nunggu ibu dan abah" Adam mendekat lalu merangkul leher Daniel layaknya seorang sahabat


Beberapa jam kemudian Adam sudah tertidur pulas di sofa, beriringan dengan Daniel. Sedangkan Raihan tidur dengan memeluk Airinnya seperti biasa. Ranjang kecil rumah sakit rupanya tak membuat keduanya berhenti saling mencurahkan kasih sayangnya.


Ibu dan abah tiba di rumah sakit, tepat di lorong sebelum kamar Jingga, mereka berpapasan dengan Zayn yang masih mengenakan jubah kebesarannya.


"Zayn?" sapa abah Rus


"Om, tante? baru sampai?" tanya Zayn kemudian mencium punggung tangan keduanya


"Iya nih, mau jenguk Jingga.. kamarnya yang mana ya?" tanya ibu Ajeng


"Lima nol satu bu, sebelah kiri. Tapi saya tinggal dulu, masih ada satu pasien lagi, nanti saya nyusul" ucap Zayn diangguki oleh kedua orang tua Jingga.


Rus dan Ajeng langsung menuju ruang rawat Jingga, sebelum masuk mereka memilih membuka pintunya sedikit kemudian mengintip. Seulas senyuman terbit di wajah Rus yang sudah tak muda lagi.

__ADS_1


"Bu, sepertinya mereka sudah benar-benar saling mencintai" ujar Rus berbisik


"Iya bah, Alhamdulillah. Ibu seneng liatnya" keduanya terharu melihat pemandangan suami istri yang sedang berpelukan di ranjang rumah sakit


"Masuknya nanti aja ya bu? mereka kayaknya kecapekan. Daniel dan Adamnya juga tidur" kata Rus merangkul pundak Ajeng


"Kita ke mall sebelah dulu aja ya bah? cari sesuatu buat Jingga" sahut Ajeng disetujui oleh Rus


********


Dua hari kemudian Jingga memeriksakan dirinya ke dokter lagi atas saran dari suaminya. Raihan menjadi sangat posesif semenjak mengetahui istrinya mengandung tiga bayi sekaligus. Raihan ingin memastikan Jingga benar-benar sehat karena lusa adalah hari Sabtu, Jingga harus menghadiri acara yang sudah Raihan siapkan sejak lama.


Setelah dokter mengatakan bahwa Jingga sehat dan dalam keadaan baik-baik saja, Raihan bernafas lega.


Ajeng dan Daniel masih ada di kediaman Sulaiman sejak Jingga dirawat di rumah sakit. Raihan yang meminta mertuanya untuk tinggal, sedangkan Rus harus segera kembali ke kota B. Sedangkan hari ini Kinanti sedang berwisata bersama teman-teman sekolahnya, Ayu yang sudah menjadi ibu kedua sejak Kinanti bayi, dia tak merasa kerepotan sama sekali meski perutnya sudah mulai membesar karena kandungannya sudah memasuki usia 29 minggu.


"Yank, ke kantor sebentar nggak apa-apa? Ada yang nunggu mas di kantor" ucap Raihan


"Oke, jadi bisa ketemu Erin kan?" kata Jingga melempar senyum manisnya pada Raihan. Raihan mengelus pipi Jingga lembut.


Andai saja dari awal hubungan yang mereka jalin sehangat ini, mungkin Jingga tak perlu bersusah payah membuang-buang air mata berharganya.


30 menit perjalanan, Raihan dan Jingga tiba di depan KJ Group. Raihan memarkir mobilnya sembarangan. Well, dia kan bosnya. Jadi tak masalah mau dia parkir dimana pun. Raihan melempar kuncinya pada pria berbadan tegap berkacamata hitam yang berdiri menunggunya.


Karena Jingga enggan menggandeng lengan Raihan, maka Raihan berinisiatif untuk merangkul mesra bahu Jingga. Jingga menjadi pusat perhatian di perusahaan milik suaminya itu. Dia terlihat cantik dengan balutan dress putih berlengan sebatas siku dan panjangnya se betis. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, padahal hanya polesan makeup tipis tapi sudah membuat wajah cantik itu terlihat semakin cantik.


Raihan berdesis setelah ia mengamati beberapa pegawai pria memandangi Airinnya dengan tatapan yang membuatnya risih.


"Berhenti menatap istriku!" serunya dengan bola mata yang hampir lepas dari tempatnya


"Mas" tegur Jingga menarik lengan baju Raihan


"Mas nggak suka orang lain liat kamu begitu, cuma mas yang berhak !" entah kenapa, alasan Raihan malah membuat Jingga tersenyum menang


Raihan sengaja melangkah mendekati ruangan Jerry, dia pikir ini adalah saat yang tepat untuk menunjukan istrinya di hadapan Kemala supaya nantinya Kemala bisa jaga sikap. Namun sayangnya Jerry dan sekertarisnya itu tak ada di tempatnya, maka Raihan berbalik arah kemudian berhenti tepat di depan pintu ruang pertemuan.


"Kamu mau tunggu di ruangan mas, atau ikut ke dalam?" tanya Raihan membelai rambut panjang Jingga


"Di ruangan mas aja, aku pengin istirahat" jawab Jingga dengan menunjukan matanya yang sayu


"Nanti minta Erin temani kamu ya, oh iya di kulkas banyak buah-buahan. Mas turun lagi sebentar, ada yang ketinggalan di mobil" ucap Raihan kemudian berjalan masuk ke lift, sedangkan Jingga berjalan menuju ruangan suaminya.


Jingga tidak melihat keberadaan Erin di mejanya, pikirnya mungkin Erin sedang di kantin karena ini memang jam makan siang. Jingga langsung masuk ke ruangan tanpa mengetuk. Dia mengangkat sebelah alisnya ketika melihat dua wanita berpakaian seksi duduk di sofa. Jingga memperhatikan setiap inci penampilan wanita cantik nan seksi itu dengan memicingkan matanya. Belahan dada yang rendah hampir saja membuat Jingga sakit mata. Kenapa pula mereka menggunakan pakaian yang kekurangan bahan itu kedalam kantor.


Apa yang mereka lakukan disini? kenapa ada dua wanita seksi di ruangan mas Raihan? batin Jingga kemudian berlalu tanpa menyapa dua wanita yang juga menatapnya tak suka. Tiga wanita dalam ruangan itu memilih tak saling menegur karena memang mereka tidak ingin saja. Jingga memilih beribadah terlebih dahulu sebelum merebahkan tubuhnya di sofabed yang ada di tempat sholat, disitu dia bisa berbaring tanpa terlihat karena terhalang rak buku yang lumayan besar. Raihan sengaja tak mengisi ruangannya dengan Ranjang karena di ruangan itu juga dipakai Bhumi. Menurutnya akan terlalu memakan tempat jika harus menyediakan kamar juga.


Setelah selesai beribadah Jingga langsung merebahkan tubuhnya di sofabed.


Di ruang rapat Raihan celingukan sendiri karena dia tak menemui siapapun di dalam. Raihan memutuskan untuk menelfon Bhumi. Bhumi mengatakan bahwa dua model yang akan ditemuinya memang sudah di lantai yang sama dengannya. Bahkan Bhumi memberinya akses masuk ke lantai 59 karena memang hanya orang yang berkepentingan saja yang boleh berada disana.


Raihan langsung meminta Bhumi menyelesaikan makan siangnya dengan cepat dan kembali ke tempatnya. Sambil menunggu Bhumi, Raihan melangkah menuju ruangannya. Dia terbelalak ketika dua wanita itu sedang duduk di sofa tamu dengan pakaian yang sangat mini itu.


Apa Jingga melihatnya? ah sudah pasti dia lihat. Lalu apa yang dia pikirkan setelah bertemu mereka? apa Jingga marah? apa ... Raihan segera menggelengkan kepalanya, membuat dua wanita itu tersenyum sinis. Seolah mereka berhasil membuat Raihan tergoda padahal yang dipikirkannya hanya Jingga sejak tadi.


"Tunggu , dimana Airin?" tanya Raihan mengarahkan telunjuknya pada dua model yang hendak berdiri menyalaminya


"Wanita yang menggunakan dress putih?" kata salah satu model bernama Chelsea, sedangkan satunya lagi bernama Gloria dia berdiri di sisi Chelsea dengan wajah datar


"Iya, dimana dia?" ucap Raihan mengangkat kedua alisnya


"Di sana pak" Chelsea menunjuk rak buku di belakang meja kerjanya. Sebelum menghampiri Jingga, Raihan mengambil beberapa buah dari kulkas, dia memilih apel dan pear kemudian Raihan mengupasnya dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Dia melangkah menuju sofa dibalik rak buku kemudian meletakan buahnya di meja kecil samping sofa.

__ADS_1


"Sayang, makan buahnya ya. Mas kerja dulu sebentar" katanya mengelus pipi Jingga , Jingga mengangguk dengan mata terpejam.


Raihan kembali ke sofa tamu dan duduk tepat di hadapan Chelsea dan Gloria. Tak lama setelah itu Bhumi muncul bersama Erin dengan nafas memburu, Raihan menduga dua orang itu berlari untuk segera sampai di ruangannya.


"Sini Bhum" ucap Raihan , Raihan memberi kode pada Erin supaya masuk dan menuju tempat sholat dimana istrinya sedang beristirahat.


"Nona Chelsea dan Nona Gloria bukankah saya sudah bilang untuk menunggu di ruang rapat?" ucap Bhumi sedikit kesal


"Sudah biarkan saja Bhum" Raihan menyela membuat Bhumi mencebikan bibirnya kemudian duduk di sisi Raihan


"Jadi gimana pak? dimana saya harus tanda tangan?" tanya Gloria tersenyum dengan pedenya, Raihan terkekeh


"Apa saya mengatakan akan mengontrak salah satu diantara kalian dengan mudah?" ucap Raihan dengan tatapan mengintimidasi "Jangan terlalu percaya diri nona. Katakan ! apa alasan yang membuat saya harus menerima anda menjadi model untuk produk baru KJ Group" tanya Raihan lagi


Darah Chelsea dan Gloria langsung berdesir, mereka mendadak grogi sampai mengeluarkan keringat dingin. Ternyata seperti ini rasanya berhadapan langsung dengan CEO KJ Group yang sebelumnya hanya mereka temui di tv dan surat kabar saja.


Rupanya sikap dingin Raihan bukan hanya gosip semata. Dia memang selalu bersikap dingin bahkan pada wanita paling cantik sekalipun. Apalagi pada mereka berdua yang dengan bangganya memamerkan tubuhnya di ruangannya.


"T..ten.tu.. saja karena saya cantik dan sudah berpengalaman di dunia iklan dan modeling lebih lama darinya. Dan tentunya saya bisa melakukan apa saja untuk anda pak Raihan yang terhormat" kata Chelsea mengedipkan sebelah matanya, dia melakukan itu semua untuk menghilangkan nervous nya. Raihan menatapnya dengan tatapan setengah mengejek


"Kalau anda?" tanya Raihan menatap sinis pada Gloria


"Saya jago goyang pak, dijamin bapak puas sama saya. Saya rela melakukan apa saja selama kontrak kerja kita berlangsung" ucap Gloria lebih berani. Raihan memejamkan matanya kemudian menggeleng pelan. Bhumi menatap kedua model itu dengan tatapan jijik, dia tak menyangka agensi yang sudah menjadi kepercayaan KJ Group selama bertahun-tahun malah membawakan dua wanita tanpa moral ini ke hadapan bosnya.


"Bhum, kau urus mereka berdua. Dapatkan kontrak dengan Illona , dia baru saja mengabariku pagi tadi bahwa dirinya akan tiba di Indonesia pukul 3 sore. Jemput dia bila perlu" Raihan bangun dari duduknya kemudian melangkah ke tempat Jingga berada


Bhumi tersenyum sinis ke arah wanita tak bermoral itu. "Selesai, terimakasih untuk waktu dan kunjungannya" ucap Bhumi sembari membukakan pintu ruangan Raihan dengan wajah datar. Chelsea mengentakan kakinya kemudian keluar dengan wajah masamnya, disusul dengan Gloria.


Bhumi segera menutup pintunya kembali, dan duduk di meja kerjanya.


"Apa kamu senang?" sindir Jingga menatap Raihan yang setengah berjongkok di hadapannya. Jingga menyantap apel yang sudah terpotong-potong itu. Erin merasa canggung berada di antara bos dan sahabatnya itu.


"Duluan ya" ucap Erin menepuk lengan Jingga


"Disini aja" Jingga menarik lengan Erin hingga kembali duduk


"Gimana mas? kamu senang?" tanya Jingga mengulang


"Apa yang perlu mas senangi?" Raihan memalingkan wajahnya


"Tadi dua perempuan berdada kenyal bak nutrij*ll itu, kamu pasti yang memilihnya kan. Kamu sengaja ingin bertemu mereka??? Kamu sengaja pilih yang sexy gitu untuk jadi model kamu????" Jingga membombardir Raihan dengan tuduhan-tuduhan receh yang sebenarnya tak terpikirkan untuk mengatakannya pada Raihan.


"Sayang? apa kamu cemburu?" tanya Raihan dengan seringai liciknya


"Eh, eng.. enggak !" kilahnya


"Lalu apa? sudahlah mengaku saja" Raihan merasa menang menangkap basah wajah istrinya yang merona merah "Erin ? apa kamu melihatnya? pipi sahabatmu itu merona bagaikan tomat" Raihan melirik Erin sekilas


"Sudah sayang, lagipula mas tidak jadi pakai mereka. Mas rasa Illona lebih cocok daripada mereka" ucap Raihan memegangi tangan Jingga


Siapa Illona? batin Jingga mengukir raut muka penasaran


"Dia seperti Dimasmu, mas juga punya teman kecil" kata Raihan seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran istrinya


"Model? Illona Gilsha? itu sahabatmu ? teman kecil kamu?" Jingga menautkan kedua alisnya, Raihan mengangguk dengan senyum kecilnya


"Dia pasti seneng ketemu kamu rin" ucap Raihan menyuapi sepotong pear ke mulut Jingga.


"Kenapa Illona nggak datang di nikahan kita mas?" tanya Jingga polos


"Hmmm mas juga nggak tahu, bilangnya sih karena kita nikahnya mendadak dan dia masih ada kerjaan yang nggak bisa ditunda" kata Raihan jujur

__ADS_1


Ya Ampun, apa mereka anggep gue obat nyamuk? Erin mengerucutkan bibirnya. Jingga yang sadar akan kegelisahan Erin, langsung memberi kode padanya. Erin seolah mengerti, dia langsung keluar dari tempat itu kemudian menuju meja kerjanya setelah membungkuk pada Raihan


__ADS_2