
"Lepas!!!" Raihan mencengkram kuat lengan Felicia kemudian mendorongnya keras-keras hingga tubuhnya menghantam dinding.
"Ayolah, kamu butuh aku sekarang beb ! jangan munafik" ucap Felicia bangkit dengan seringai liciknya.
"Nggak nyangka, kamu bisa nglakuin hal serendah ini Fel !" ucap Raihan kesal
Plakkkkk. Seseorang memukul kepala Felicia dari belakang.
"Sorry, karena kelakuan lo. Gue jadi harus ngotorin tangan gue kayak gini" Bhumi mengibas tangannya setelah memukul kepala Felicia kuat-kuat. Kemudian menarik lengan Raihan dan segera membawanya pergi melewati koridor, sambil mencari pintu darurat yang terhubung dengan basement.
"Bangs**********ttttt lo Bhum !!!!!"
Felicia meringis kesakitan karena pukulan Bhumi lumayan keras, matanya berkaca-kaca. Dia tak terima dengan penghinaan ini. Felicia bersumpah akan membalasnya nanti pada dua orang itu.
*
*
*
"Thanks lo dateng di saat yang tepat, anter gue ketemu Airin sekarang Bhum !!!!" ucap Raihan karena dia sudah benar-benar merasa tersiksa dengan nafsu birahinya. Bhumi melajukan mobilnya dengan cepat karena ia tahu yang Raihan rasakan saat ini adalah ingin melepaskan hasratnya pada orang yang tepat.
Di jalan sepi, lampu lalu lintas meminta mereka berhenti, tapi karena Raihan terus merengek supaya cepat sampai akhirnya Bhumi menerobosnya. Ini adalah kali pertama Bhumi menerobos lampu lalu lintas. Gila, untung jalanan sepi ! gumam Bhumi sambil menggeleng
Bak pembalap profesional, Bhumi menggunakan kemampuan mengemudinya yang sudah lama tak ia lakukan. Dan akhirnya jiwa pembalap Bhumi membawanya sampai di tempat tujuan lebih cepat dari dugaan. Bhumi membunyikan klaksonnya berulang, membuat semua orang keluar dari tempatnya.
Setelah Anto membuka grebangnya, Bhumi langsung masuk dan memarkir mobilnya sembarangan.
"Lo masuk kamar sekarang" pinta Bhumi pada Raihan. Raihan langsung bergegas menuju kamarnya
"Sif, nona kemana?" tanya Bhumi
"Di ruang baca tuan" jawab Sifa yang sedang duduk di kursi taman. Bhumi langsung menuju perpustakaan setelah mengucapkan terimakasih pada Sifa.
"Nona Jingga !!!!" Bhumi memanggil Jingga
"Apa Bhum ? udah berapa kali saya bilang jangan panggil no.." ucapan Jingga terhenti
"Ya , maaf maksud saya Jingga. Saya cuma mau bilang, saat ini Raihan benar-benar butuh kamu. Kalo kamu nggak mau dia sakit, sekarang temuin dia di kamar" mendengar kata sakit langsung saja membuat Jingga panik. Walau bagaimanapun Raihan tetaplah suaminya.
Dengan cepat Jingga berjalan menuju kamarnya, membuka pintunya perlahan. Dilihatnya Raihan sedang duduk gelisah di tepi ranjang dengan sorot mata penuh gairah.
"Airinnnnnhhh hhh hh" nafas Raihan mulai tak beraturan ia berusaha mendekati Jingga yang mematung di pintu.
"Jangan tolak mas untuk malam ini saja sayang, mas mohon" pinta Raihan dengan wajah memelas
__ADS_1
Jingga tak berani menatapnya, diamnya Jingga membuat Raihan mengartikan bahwa istrinya setuju.
Raihan menarik lembut lengan Jingga dan mendudukannya di atas ranjang, dia mengecupi seluruh wajah istrinya dengan lembut kemudian melahap habis bibirnya. Tanpa penolakan , dan tentu saja tanpa balasan karena Jingga masih kesal dengannya. Namun Raihan tidak perduli, dia tetap mencumbu istrinya menuruti biraihinya yang kian memuncak.
"Berhenti" ucap Jingga ketika tangan Raihan mulai mengabsen seluruh inci tubuhnya
"Tolong sayang, tolong mas" rengek Raihan "Mas benar-benar tersiksa" tambahnya lagi
Akhirnya Jingga mengalah, membiarkan Raihan melakukan apapun pada tubuhnya. Lagipula Raihan kan suaminya, dia berhak atas tubuh Jingga dari sudut manapun.
Sejujurnya Jingga menikmati pergulatan itu, namun karena rasa gengsinya dia tahan semua suara-suara yang harusnya keluar dari mulutnya. Bahkan seringkali ia memalingkan wajahnya dari tatapan Raihan. Meskipun gairahnya malam ini sangat tak tertahankan, Raihan tetap berusaha bermain lembut seperti biasanya. Mengingat ada tiga janin yang hidup di dalam perut istrinya, maka dengan kelembutan itu dia berharap tak akan menyakiti calon bayi-bayinya.
Cupsss cupss cupsss
Raihan mengecup kening , pipi, dan bibir Jingga bergantian.
"Terimakasih sayang" bisik Raihan setelah Jingga berhasil memuaskannya. Usai itu Raihan membaringkan tubuhnya di sisi Jingga.
"Kalau tadi kamu menolak, mungkin besok mas bakal masuk angin karena berendam air dingin semalaman" ucap Raihan
"Tapi untungnya kamu mau nolongin mas, makasih ya sayang" tambahnya lagi
Jingga tak bereaksi, dia masih diam membelakangi Raihan.
"Tadi mas dijebak, Ada orang yang masukin obat perangsang di minuman mas" mendengar itu membuat Jingga terbelalak menyadari tingkah aneh suaminya yang tadi. Pantas saja ! batin Jingga
"Ini adalah bukti kalo mas ini suami yang setia tau nggak? disaat genting kayak tadi aja mas tetep nyari kamu" ucap Raihan lagi , membuat jantung Jingga berdegup kencang. Alhamdulillah kalo gitu mas ! batin Jingga, mengulas senyum.
"Kamu tadi liat mas di tv nggak sayang? Denger nggak mas ngomong apa?" tanya Raihan memberanikan diri memeluk Jingga dari belakang
"Oke , karena kamu nggak mau jawab. Mas ulangin lagi deh"
"Mas cinta... mas cintaaaaaaaaa banget sama kamu" bisik Raihan lirih di telinga Jingga, membuat bulu kuduk Jingga meremang.
I Love you too mas, aku mencintaimu lebih dari apapun ! balas Jingga dalam hatinya
"Mas sayang kamuuuuu Airin, semarah apapun kamu. Jangan pernah berfikir untuk tinggalin mas ya. Demi hubungan kita dan demi anak-anak kita" ucapnya lagi sambil mengelus perut Jingga
"Mas jadi kaya orang gila ngomong sendiri, hehehe. Ya sudah tidur yuk Rin. Kamu pasti capek" Raihan makin mengeratkan pelukannya. Jingga masih mendiamkan Raihan, dalam hati Jingga ia sudah memaafkan suaminya dengan tulus. Tapi rasa ingin mengerjai suaminya tiba-tiba muncul begitu saja. Dia memutuskan untuk mogok bicara sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
*********
Ini adalah hari Minggu, dimana semua orang berlibur bersama keluarganya. Tapi tidak dengan Jingga. Dia memilih dirumah saja dan tidak pergi kemana-mana.
Pagi-pagi buta Jingga bangun lebih awal meninggalkan Raihan yang masih terlelap. Dia mandi dan bersuci kemudian melaksanakan ibadahnya di kamar. Banyak doa-doa yang ia panjatkan salah satunya adalah keinginannya akan menyelesaikan kesalah pahaman bersama suami dan keluarganya. Dia juga meminta pada Allah melindungi bayi-bayi dalam perutnya, juga Kinanti, dan tak lupa ia mendoakan Ryu, putra kandung suaminya. Dia berdoa dalam diam karena tak ingin Raihan mendengarnya. Namun siapa sangka? rupanya pria gagah itu sudah bangun sejak tadi memperhatikan istrinya yang berdoa cukup lama. Senyum manis terbit di bibir sexy Raihan.
__ADS_1
Lihatlah , bagaimana mungkin aku rela kehilanganmu Airin ! ucap Raihan dalam hati.
"Pagi sayang" sapa Raihan ketika Jingga membalik tubuhnya . Pagi mas ! batin Jingga
Jingga langsung keluar kamarnya menuju dapur, dia menyiapkan dua teh hangat karena tahu Bhumi juga menginap. Jingga meletakan teh nya di atas meja makan, kemudian Jingga lanjut memasak makanan untuk sarapan. Saat Jingga menuang minyak pada penggorengan, Iin terkejut setengah mati melihat nonanya memasak di dapur sendiri.
"Aah, nona biar bibi saja. Nanti bibi dimarahi tuan kalo biarin nona masak sendiri" rengek Iin
"Nggak bi, saya lagi pengin makan masakan sendiri. Pumpung lagi nggak mual" sahut Jingga tak menghiraukan ucapan Iin yang takut dimarahi Raihan. "Bibi nggak bakalan dimarahin sama mas Raihan , saya yang jamin" tambahnya lagi, kemudian Iin menurut, membiarkan Jingga memasak.
Iin membantu Jingga menyiapkan hidangan ke piring dan membawanya ke meja makan, beberapa menit setelah siap. Bhumi keluar dari kamarnya, tak lama kemudian Raihan menyusul. Mereka bertiga sarapan bersama di meja makan.
"Omeletnya enak banget, masakan siapa nih?" tanya Bhumi melirik Jingga
"Istriku pastinya" sahut Raihan
"Kamu kalo pengin sesuatu bilang ya sayang?" ucap Raihan mengelus perut Jingga dari samping
"Bhum? pengin asinan mangga, cariin dong" Jingga melirik Bhumi, membuat Bhumi dan Raihan saling pandang mengernyitkan dahinya
"Kok nggak minta sama mas?" tanya Raihan
"Bhum, mau kan?" rengek Jingga dengan puppy eyes andalan para wanita jika sedang merayu
Menggemaskan ! pantas saja Raihan cepat jatuh cinta sama kamu Jingga. Ucap Bhumi dalam hati
"Airin, jangan kayak gitu sama Bhumi !" Raihan cemburu
"Iya, nggak baik buat kesehatan jantung saya" celetuk Bhumi asal. Membuat Raihan memelototinya
"Tadi kamu mau apa sayang? biar mas yang cariin" Raihan mengusap pundak Jingga
"Asinan mangga" Bhumi menyahuti
"Oke, setelah sarapan mas berangkat" Raihan mengembangkan senyumnya. Jingga tidak menolak dan tidak juga mengiyakan. Jingga masih bertahan dengan acara mogok bicaranya.
Usai sarapan, Raihan benar-benar menepati janjinya untuk mencari asinan mangga. Dia pergi menggunakan motor sportnya kali ini, menurutnya hari libur seperti ini pasti jalanan lebih macet parah. Dia ingin cepat mendapat asinan mangganya dan segera kembali kerumah agar bisa bersama Jingga seharian.
.
.
.
.
__ADS_1
Alhamdulillah
Jangan emosi readers 🤣 Raihan nggak selingkuh kok !