Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Rya?


__ADS_3

Jingga menelan salivanya kasar kala ia melihat potret semangkuk es krim yang Dina bagikan di akun instagr*mnya.


Enak sekali. Batinnya ,lalu Jingga mencoba menanyakan dimana Dina membeli es krim tersebut.


Sebenarnya ia ingin meminta Raihan membelikannya, namun karena Jingga sadar bahwa suasana hati suaminya sedang tidak baik. Maka ia memutuskan untuk memenuhi keinginannya sendiri.


Jingga tersenyum lebar setelah Dina memberitahu dimana tempat ia membeli es krim berwadah unik itu . Segera ia membuka aplikasi di handphonenya kemudian Jingga memesan dua mangkok es krim menggunakan jasa kurir. Cukup diam dirumah, tak perlu merepotkan siapapun. Pikirnya


Jingga menuju pintu utama lalu dia meminta Anto untuk mengambil pesanannya.


"lima puluh tujuh ribu non" ucap Anto menyerahkan bungkusan berisi pesanannya.


"Pak bilangin sama kurirnya, gak usah kembali" ucap Jingga usai memberikan selembar uang berwarna merah


Jingga sedikit kecewa kala melihat tampilan es krim yang tak sebagus milik Dina. Tentu saja, namanya juga es krim ,pastilah mencair. Setidaknya ngidam Jingga kali ini terpenuhi. Sebenarnya Jingga ingin sekali berbagi eskrim itu dengan suaminya , dengan harapan dapat menyejukan hatinya. Namun Jingga urung melakukannya.


******


Malam hari Jingga dan Raihan bersiap untuk menghadiri undangan makan malam James. Sejak tadi Jingga dan Raihan tidak saling bicara. Mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sebenarnya Jingga tak nyaman saat Raihan lebih banyak diam seperti ini, tapi mau bagaimana lagi?


Bhumi sudah tiba di teras menunggu keduanya bersiap. Kali ini mang Ujang mengantar kepergian mereka. Bhumi duduk di samping kursi kemudi.


Hening


Suasana mencekam kala itu benar-benar terasa tak menyenangkan bagi Jingga. Ingin sekali Jingga mengajak Raihan berbicara atau sebaliknya, Jingga ingin Raihan yang memulai pembicaraan.


Tapi Jingga masih memahami bahwa saat ini suasana hati Raihan sedang tidak baik.


Baiklah ! terserah kau saja. Batin Jingga sambil turun dari mobil. Raihan menaikan alisnya saat melihat Jingga turun dengan sikap yang aneh. Ada apa?


"Silahkan mr.Raihan, ikuti saya" Jossie menyambut kedatangan Raihan di lobi hotel.


Jossie membawa Raihan serombongan menuju ruang pertemuan yang sudah dipersiapkan James.


"Hey boy !" Sapa James bangun dari duduknya langsung memeluk Raihan, pelukan seorang kakak yang rindu pada adiknya.


Huh lega ! batin Raihan setelah melihat James hanya duduk sendiri di ruangan itu.


"Duduklah" pinta James menatap Jingga dan Bhumi bergantian.


"Kau sendiri?" Raihan terlihat gugup , Jingga langsung menggenggam jemari Raihan dari bawah meja seolah memberi kekuatan.


"Ah, kau bercanda boy? Kakak perempuanmu sedang menuju kemari !" James terkekeh, kemudian tersenyum miring. Detik kemudian Jossie membukakan pintu. Seorang wanita berambut panjang yang sangat Raihan kenali datang Bersama seorang anak perempuan kira-kira seusia Kinanti.


"Mikha" lirih Raihan dan Bhumi bersamaan, Mikha tampak tersenyum seperti tak pernah terjadi apapun diantara dirinya dan Raihan. Tanpa tersadar, Raihan malah mengeraskan rahangnya.


Mikha menyalami Jingga bahkan sempat mereka cipika-cipiki. "Istrinya Raihan ya?" tanyanya membuat Jingga mengangguk


"Ray ! apa kabar ?" tanpa menyalami Raihan , Mikha langsung duduk di kursi kosong sebelah James. Putri kecilnya juga duduk di sisi Mikha menjadi pembatas antara Bhumi dan Mikha.


"Seperti yang kamu lihat" jawab Raihan sedikit cuek


"Tak ku sangka akhirnya kita dipertemukan kembali dalam urusan bisnis Ray!" ujar James menengguk teh nya "Padahal sejak dulu aku tak pernah terpikir untuk kembali ke negara ini, mengingat Mikha sangat tidak menginginkannya" tambahnya lagi


"Oh ya?" hanya itu yang mampu Raihan lontarkan dari mulutnya. Betapa tak menyangkanya ia mendengar pernyataan James. Sebegitu tak sukanya kah kau pada putramu? bahkan kau sempat merasakan sakit karena melahirkannya. Baguslah ! dengan begitu aku tak perlu takut lagi kau akan menemui Ryu.


"Apa kau mengetahui sesuatu Ray?" celetuk James dengan senyum miringnya. Membuat Raihan mengangkat sebelah alisnya


"Emmm delapan eh.. atau sembilan tahun yang lalu. Tiba-tiba Mikha sangat sulit ku temui. Apa terjadi sesuatu dengannya?" James tersenyum getir. Pertanyaan James membuat suasana canggung dalam ruangan semakin menjadi. "Hehehe.. sudahlah aku hanya bergurau! jangan kau pikirkan pertanyaanku tadi Ray" katanya lagi


Raihan dan Jingga saling menautkan jemari mereka dibalik meja bundar itu. Tak lama kemudian datang beberapa pelayan membawa banyak makanan yang sudah dipesan khusus oleh James. "Rya ? kau mau makan yang mana?"


DEG!!!!!


Namanya Rya? Raihan , Bhumi dan Jingga berucap dalam hatinya.


"Oh hampir saja aku lupa, namanya Angela Rya Halburt. Putriku usianya baru mau 4 tahun" ucap James seolah menjawab semua pertanyaan orang dihadapannya. "Ayo Rya, sapa uncle Ray, Uncle Bhumi dan Aunty....?"

__ADS_1


"Jingga" Jawab Bhumi dan Jingga bersamaan.


"Oh ya, Aunty Jingga. Kalau bahasa Inggris itu Orange Rya" James mengusap sayang kepala Rya


"Hay, uncle Lay, uncle Bhum, Aunty Olange" sapa Rya. Jingga langsung tersenyum kecut, rupanya Rya benar-benar menuruti ucapan James.


"Hay cantik" Jingga balas menyapa Rya


Kenapa aku merasa James seperti mengetahui sesuatu ya? batin Jingga dengan raut wajah gelisahnya.


"Sayang?" Raihan menepuk bahu Jingga. Membuat Jingga terkesiap


"Eh ehmm maaf" jawabnya spontan


"Sudah mas bilang, jangan suka nglamun" ucap Raihan lembut kemudian mengusap bahu Jingga


"Ekheem, adik kecil kita sudah besar Mikha. Lihatlah dia sangat romantis pada istrinya" Mikha mengangguki ucapan James sembari tersenyum, kemudian memotong-motong steaknya.


Hanya dentingan garpu dan sendok yang saling beradu menjadi pengisi suara keheningan acara makan malam itu. Baik Raihan, Jingga, maupun Mikha sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mereka mencurigai ada sesuatu yang James ketahui tentang masalalu Mikha.


Raihan mengesampingkan kecurigaannya dia tak ingin terlalu ketara bahwa memang terjadi sesuatu antara dirinya dan Mikha. Meski itu adalah sebuah ketidak sengajaan.


"Ray, dimana kau menemukan wanita secantik ini?" tanya James melempar senyum ke arah Jingga. Membuat Jingga kikuk sendiri


"Eh, ehmm.. itu dulu dia sekertarisku" jujur Raihan menangkap mata tajam yang sedang menatap istrinya lekat-lekat


"Wow, love at first sight Ray?" James mengelap mulutnya dengan tissue


"Yup, sayangnya berat buat bilang. Because I still have a girlfriend, waktu itu!" terang Raihan membuat Bhumi dan Jingga mengernyitkan dahinya.


Ha? bercanda atau serius ni orang? batin Bhumi


"Kalau kau bagaimana Bhum?" James menaikan kedua alisnya mengarah ke Bhumi


"Seperti yang kau lihat, aku masih setia berpasangan dengan tuan Raihan hingga saat ini" Bhumi tersenyum simpul membuat Mikha ikut tersenyum


Mikha tersenyum ke arah James, James hanya merapatkan bibirnya sambil memainkan kedua alisnya.


"Sudah berapa lama usia pernikahanmu Ray?" tanya Mikha tiba-tiba


"Belum ada satu tahun" Jingga menyela


"Right Mikha! Memang baru hitungan bulan, tapi aku langsung membuatnya mengandung tiga bayi sekaligus" Raihan dengan bangganya memberitahukan kabar baik mengenai kehamilan Jingga. Spontan mata James dan Mikha terbelalak lalu saling lempar pandangan satu sama lain.


"Benarkah itu?" Jingga mengangguki pertanyaan James "Jadi itu artinya kau akan memiliki empat anak?" tambahnya lagi


Deg


Apa kau benar-benar mengetahui sesuatu James? batin Raihan dengan geramnya


"Ya benar, karena mas Raihan menikahi seorang janda beranak satu. Hehehe" kekeh Jingga membuat pengakuan atas dirinya sendiri. James dan Mikha yang mendengarnya ikut terkekeh begitupun Bhumi dan Raihan.


Suasana menjadi semakin canggung malam itu. Mereka menyimpan banyak pertanyaan dibenak masing-masing. Namun rasanya enggan untuk mengutarakannya. Mereka memilih diam, biarlah waktu yang menjawab.


Setengah jam kemudian Raihan, Jingga dan Bhumi berpamitan. Setelahnya James mengatakan bahwa lusa dia akan berkunjung ke KJ Group.


********


Raihan meminta Jingga untuk masuk ke kamarnya lebih dulu. Karena Raihan masih harus berbincang dengan Bhumi.


"Bhum? lo ngrasa ada yang aneh nggak sih?" tanya Raihan


"Kayaknya kita sepemikiran" sahut Bhumi


"Gue nggak yakin, tapi memang ada yang aneh" Raihan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa "James kayak tahu sesuatu. Iya nggak sih?" tambahnya lagi


"Apa ini soal Ryu?" Bhumi menatap Raihan yang masih memandangi langit-langit

__ADS_1


"Gue bimbang Bhum, lo tidur gih. Gue masuk dulu" Raihan bangun dan melenggang pergi menuju kamarnya. Hari ini memang cukup melelahkan baginya, Raihan langsung ambruk di ranjang tanpa melepas sepatu dan tanpa mengganti pakaiannya. Dia langsung memejamkan mata.


Jingga yang baru saja keluar dari toilet hanya menggeleng melihat kelakuan suaminya. Dia mengusap sayang perutnya. Dek, ayah udah tidur. Soto ayamnya kita tunda besok aja ya.


Rupanya Jingga sedang mengidam. Betapa sabarnya ia, mau mengerti situasi saat ini. Mengerti bagaimana perasaan suaminya.


Dengan telaten Jingga melepas sepatu, kaos kaki dan pakaian yang masih melekat di tubuh Raihan. Raihan tetap memejamkan matanya, dia membiarkan Jingga melakukan tugasnya. Jingga membiarkan bagian dada Raihan terbuka seperti biasa kemudian menyelimutinya.


.


.


.


.


Pagi hari saat Jingga membuka mata, Raihan sudah tidak ada di sisinya. Sial , rupanya Jingga bangun kesiangan dan tidak ada yang membangunkannya? diliriknya jam yang menggantung di dinding. 7.30 ? baru kali ini Jingga bangun kesiangan. Mungkin karena lelah tubuh dan pikiran. Jingga langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan melaksanakan shalat yang seharusnya dilakukan di pagi buta seperti biasa.


Ya Allah, ada apa dengan mas Raihan sampai tak sempat membangunkanku??


Jingga mengecek ponselnya, tak ada pesan masuk. Tak ada suami yang mengabari istrinya seperti hari-hari sebelumnya. Jingga keluar kamar menuju tempat dimana para maid biasa berkumpul.


"Bi mas Raihan berangkat jam berapa?"


"Ehh anu non. Tadi tuan pergi jam 6, bawa koper sama tuan Bhumi" Mendengar jawaban bi Iin nembuat hati Jingga mencelos Entah apa yang sedang suaminya lakukan hingga dia memilih tak mengabari Jingga. Bahkan Jingga sedang mengandung tiga anaknya. Apa Raihan benar-benar tidak perduli? kalaupun memang itu masalah Ryu dan Mikha. Apa Jingga tidak berhak tahu? Sepertinya Jingga harus mengesampingkan ego. Dia akan pulang kerumah orang tuanya, sekedar menenangkan pikiran dengan menemui Kinanti.


"Bi Iin , Bi Rinah, sama kamu Sifa. Jaga rumah ya, saya mau ke salon sebentar. Mau creambath" ucap Jingga , ujang langsung menyela "Saya antar non"


Jingga menggeleng cepat.


"Nggak usah mang, saya sendiri aja. Mau dijemput temen saya" Sebenarnya Ujang ingin memaksa Jingga, karena takut Raihan memarahinya nanti. Tapi apa boleh buat, nonanya itu tidak suka di paksa.


Satu jam kemudian , Giska tiba di depan rumah tanpa turun dari mobilnya. Giska menggunakan mobil yang berbeda, sesuai dugaan Jingga mobil itu baru dibelinya.


"Jadi? porsche pilihan lo?" Jingga memasang seatbelt


"Yup, dan ini Luna sama Erin yang bantu milihin. Gue udah penat mikirin hidup tapi pengin banget ganti mobil. Hahaha" Giska terbahak sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang


"Kemana nih?" tanya Giska


"Nyoto dulu kita" Jingga menyandarkan kepalanya kemudian memperhatikan jalanan dari kaca di sampingnya.


Kemana kamu mas? Jingga merogoh sakunya berniat mengirimi pesan pada Raihan.


Sayang?


Mas? lagi dimana?


Mas kok nggak dibaca?


Mas????


Mas???


Mas???


Sudah 10 menit lamanya namun tetap tidak ada tanda balasan, padahal jelas tertulis bahwa Raihan sedang online. Apa yang kau lakukan mas? apa aku melakukan kesalahan?


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continued 🥰


__ADS_2