
Esok paginya Ajeng dan Daniel berpamitan, karena tak enak berlama-lama tinggal dirumah besan. Sedangkan Daniel memang sudah harus berangkat. Daniel berterimakasih pada keluarga Raihan yang sudah menjamunya, begitu juga Ajeng.
Daniel berpelukan dengan Raihan layaknya seorang sahabat.
"Thanks ya bro" kata Daniel melambai ke arah Raihan. Raihan hanya tersenyum sambil menunjukan jempolnya (sip)
******
Waktu menunjukan pukul 2 siang, Jingga bangun dari tidur siangnya kemudian dia melangkah ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa menggugah selera para cacing agar segera berminat untuk makan. Karena sejak pagi perut Jingga hanya terisi sepotong roti saja.
"Mami mau arisan setelah itu ke panti, kamu nggak apa-apa sendirian dirumah?" tanya Maryam
"Enggak apa-apa mi, kan disini banyak orang mi. Jingga nggak sendirian" jawabnya sambil meletakan pipinya di meja makan. Maryam menepuk jidatnya pelan, bagaimana ia bisa lupa jika dirumahnya ada 4 maid dan 6 pekerja pria lain yang sudah dibagi-bagi tugasnya.
"Jangan lupa minum vitamin ya, mami berangkat dulu. Assalamualaikum" ucapnya kemudian mengecup pipi Jingga, bagi Jingga mertuanya memang mertua terbaik yang pernah ada. Bukan mertuanya dulu tidak baik, hanya saja Jingga tidak sedekat itu, tak seperti saat ia bersama Maryam.
"Waalaikumsalam mi, hati-hati"
Jingga kembali ke kamarnya setelah bosan berada di dapur tanpa memakan apapun. Dia melihat-lihat kamar itu lagi dan tiba-tiba dia teringat akan kotak jam yang masih rapi di tempatnya semula.
Aku harus bicara ! batin Jingga setelah ia mengingat suaminya masih menggunakan jam tangan dengan merk tertera.
"Sayang?" sapa Jingga manja pada sambungan telefon
Ya sayang? tumben? ada apa nih?
"Aku kangeeeennnnnnn, pulang dong" Jingga sengaja merayu suaminya dengan nada manja yang dibuat buat supaya dia terpancing dan segera menurut untuk pulang.
Kamu menggodaku sayang?
"Hehehe, cepetan pulang ah. bye!" Dengan cepat Jingga menutup telefonnya. Dia masih memegang box jam milik Raihan, dengan harapan Raihan bisa langsung menjelaskan setelah Jingga menunjukan benda berbentuk kotak tersebut.
Jingga merebahkan setengah tubuhnya di ranjang dengan kaki yang masih menempel di lantai, dia masih setia mengenakan sandal bulu berwarna kuning kesukaannya.
Entah sudah beberapa menit, akhirnya Raihan sampai di rumah, dia masuk ke kamar dan mengendurkan dasinya setelah ia melihat istrinya tidur telentang.
Ketika jaraknya tinggal setengah meter, Jingga menghentikan langkah suaminya dengan menunjukan telapak tangannya pada sang suami.
"Stop, diem disitu" Jingga langsung mengangkat benda kotak yang sedari tadi ada di tangannya "Jelasin" tegasnya
Raihan langsung membulatkan penuh bola matanya, bagaimana dia bisa lupa kalau benda sial*an itu masih berada di kamarnya.
"Ehmmm anu.. eh aaa" Raihan tergagap karena bingung harus menjelaskan apa pada istrinya
"Jujur deh mas, aku nggak akan marah cuma gara-gara benda ini. Asal......." Jingga menggantung ucapannya sambil tersenyum licik
"Asal apa?" Raihan penasaran
__ADS_1
"Asal kamu jujur" Jingga berbohong demi mengetahui kebenarannya. Padahal dirinya memang sudah berniat ngambek setelah ini
"Okey, Jam yang mas pake . Memang jam yang sama tapi itu mas beli beberapa bulan sebelum kenal kamu. Sedangkan hadiah dari Fe.." ucapan Raihan terhenti
"Nggak perlu sebut namanya" ketus Jingga mendelik
"Iya hadiah dari dia itu, udah mas jual karena keperluan mendesak. Jadi ini bukan yang dia beliin. Mas bisa jamin" Raihan bangun kemudian membuka laci paling bawah yang berada di rak buku tersebut kemudian mengeluarkan box yang sama.
"Nih, hehe" kata Raihan menunjukan kotak jam yang sama
"Uang kamu banyak tapi kenapa mesti jual barang pemberian pacar sendiri?" tanya Jingga heran
"Ceritanya panjang sayang. Ada insiden di Malaysia. Mas janji ketemu klien di salah satu resto xx , pikiran mas emang agak runyam saat itu. Sampe mas nggak sadar kalo tas mas ketinggalan di taxi. Selesai makan, mas baru ngrasa ternyata mas sampe kesana dengan tangan kosong. Mas panik karena memang waktu itu Bhumi nggak ikut, handphone dan dompet mas ada di dalem tas itu. Kebeneran di depan mas lihat toko jam lumayan besar. Mas jual aja seadanya daripada malu sama klien gak bisa bayar makan, mas pikir nanti kan bisa beli lagi jadi dia juga nggak bakal tahu" Jingga terlihat menimbang-nimbang mendengar penjelasan Raihan
"Tapi tetep aja mas, jamnya sama ! nanti kepedean dikira kamu masih cinta sama dia lagi. Eh apa jangan-jangan emang masih CINTA? kamu make itu kan buat jaga perasaan dia. Terus sekarang? apa masih perlu kamu jaga perasaan dia ?" ucapan Jingga sukses membuat Raihan diam seribu bahasa.
Raihan membenarkan semua perkataan Jingga, untuk apa dirinya masih memakai jam itu. Apakah Raihan masih mencintai Felicia? tapi mana mungkin? bahkan jantungnya sudah tak berdebar bila bertemu dengannya. Hanya Jingga, hanya Airinnya yang mampu membuat tubuh Raihan panas dingin dengan jantung yang memompa lebih cepat dari biasanya.
Raihan langsung menggeleng mendaratkan kecupan singkat di bibir Jingga yang sudah mengerucut sedari tadi.
"Cupssss.. Sudah ah. Nih mas lepas jam nya, terserah mau kamu apain, buang, lempar, ancurin, jual. Bebas" kata Raihan melepas jamnya dan meletakannya pada genggaman tangan Jingga
"Baiklah sekarang temani aku jual jam ini" ucap Jingga tanpa ragu
"Jadi kamu beneran mau jual jamnya?" Raihan bertanya setengah tak percaya. Jingga mengangguk yakin detik kemudian dia bangun dan berdiri dari duduknya. Dia melepas sandal bulunya menggantinya dengan flat shoes. Raihan tertunduk lesu
"Aku mau jual jam itu dulu !" tegas Jingga seolah tak mau dibantah
Raihan berdecak kesal pasalnya dia sudah dibela-bela membatalkan semua jadwalnya sore ini.
Dengan wajah masam akhirnya Raihan mengalah, mengantarkan Jingga ke toko jam yang ada di mall xx. Diperjalanan Jingga bertanya "Berarti ini jam sudah hakku ya?" tanyanya, dan Raihan mengiyakan.
Sesampainya di toko jam, sebelum menjual Jingga menunjuk salah satu jam tangan keluaran terbaru
"Yang itu cocok buat kamu mas" ucapnya
"Aku pakai apa saja pasti cocok sayang" sombongnya kemudian membeli jam yang Jingga tunjuk
Setelah selesai, Jingga mengeluarkan jam lama Raihan dan menjualnya. Keputusan telah final, akhirnya jam tersebut dihargai 128juta setelah tawar menawar antara Jingga dan manager selesai.
"Saya mau uangnya cash" ucap Jingga sumringah, manager menyanggupi dan meminta Jingga menunggu beberapa menit karena pihaknya harus menyiapkan uangnya.
Setelahnya manager mengucapkan terimakasih kepada pasangan suami istri itu. Jarang-jarang Raihan datang langsung ke toko jam tersebut. Selama ini Bhumi yang selalu datang mengambil pesanan Raihan. Namun manager tak menyangka rupanya selain membeli, dia juga menjual jamnya yang lain. Tak mungkin jika seorang Raihan kehabisan uang kan?
Raihan dan Jingga pergi dari tempat itu meninggalkan manager dan beberapa karyawan yang masih sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Mau kamu apakan uangnya?" tanya Raihan heran
__ADS_1
"Entahlah mas, aku masih bingung" jawab Jingga padahal dia sudah memikirkan sesuatu saat ia membuka ponselnya. Jingga membuka gugel maps untuk menuju ke suatu tempat "Kita ke sana mas"
kata Jingga lagi meletakan ponselnya di phone holder yang menempel di kaca depan mobil.
"Aa...apa ? kamu mau ke panti asuhan harapan bunda ?" Raihan membulatkan matanya dengan sempurna. Jingga mengangguk sedangkan Raihan semakin panik
"Apa nggak ada panti yang lain? kita cari yang lain saja ya sayang?"
"No ! aku punya kenangan disana mas" Jingga menampakan wajah sendu
"Sayang ayolah? lagipula itu jaraknya lumayan jauh" rengek Raihan membuat Jingga berdecak kesal
"Turunin aku disini mas, aku bisa kesana pake taksi" ketus Jingga membuat Raihan menepikan mobilnya namun tak membukakan kuncinya
"Buka mas, aku mau turun" Jingga meronta saat Raihan berusaha membalik tubuh Jingga supaya mereka saling berhadapan
"Airin? kita perlu bicara" Raihan menatap Jingga dalam
Sepertinya sudah saatnya Airin mengetahui semuanya. Batin Raihan
"Ada apa mas" Jingga yang tadinya hendak marah mengurungkan niatnya karena dia melihat Raihan yang menunjukan wajah sedihnya
"Apa kamu cinta sama mas?" Jingga mengangguk
"Apa kamu sayang sama mas?" Lagi-lagi Jingga mengangguk. Mungkin kalau suasananya tak setegang ini, Jingga akan menyangkalnya. Tapi tidak untuk saat ini, mengingat obrolannya sepertinya serius maka Jingga menjawabnya dengan serius.
"Sebesar apa rin?" tanya Raihan . Jingga mulai merasa aneh dengan pertanyaan-pertanyaan Raihan, Jingga menyipitkan matanya memperhatikan Raihan
"Sebesar perasaanmu padaku. Seandainya perasaan mas sama aku cuma 20% maka aku akan membalasnya dengan besar yang sama" kata Jingga bohong, karena sebenarnya dia sangat mencintai suaminya. Entah sejak kapan rasa itu muncul, yang jelas Jingga sudah amat sangat mencintainya saat ini.
"Mas sudah memutuskan untuk menjaga, menyayangi, dan mencintaimu seumur hidup mas. Itu artinya 1.000.000% pun nggak akan bisa jadi nilai perasaan mas sama kamu rin" kata Raihan tersenyum getir. Mendengar pernyataan suaminya, perut Jingga serasa dipenuhi ribuan kupu-kupu. Dia teramat bahagia karena secara tidak langsung suaminya sudah mengakui perasaannya.
"Apa kamu menerima semua kekuranganku Airin?" tanya Raihan membuat Jingga terheran lagi untuk yang ke sekian kalinya
"Aku mencintaimu, baik burukmu Insha Allah akan aku terima. Karena kamu suamiku, ayah dari mereka" ucap Jingga mengusap perutnya sendiri
"Ada hal yang kamu belum tahu tentang mas" ucap Raihan ragu. Jingga menautkan kedua alisnya
"Mungkin ini kabar yang menyakitkan untuk di dengar rin, tapi mas nggak bisa lagi untuk menutupinya" Raihan terlihat semakin frustasi dalam menyampaikan maksud dan tujuannya tersebut
"Mereka punya kakak rin" kata Raihan menunjuk perut Jingga kemudian memalingkan wajahnya ke jendela sisi kemudi
JEDERRRRRRRRR
Bersambung guys 😄😄
Hayooo kita menebak-nebak, apa maksud Raihan di kalimat terakhirnya?
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote