Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Yank?


__ADS_3

Raihan mulai melajukan mobilnya, sesekali Raihan melirik istrinya yang sedang asik menikmati cakwe hasil dari berburunya sepulang kerja tadi.


"Enak ya rin?" tanya Raihan , Jingga hanya mengangguk tanpa bersuara


Ini orang nggak ada mesra-mesranya ya, panggil istri sendiri rin rin rin.. gak ada panggilan sayang apa gitu yang cocok buat aku? Batin Jingga


"Enaknya pake banget ya rin?" Raihan sampai menelan salivanya melihat istrinya yang dengan lahapnya memakan cakwe, lagi-lagi Jingga hanya mengangguk. Karena Jingga terus diam setiap Raihan mengajaknya bicara, akhirnya Raihan menghentikan laju mobilnya. Dia menepi di jalanan depan komplek.


"Ahh, kamu ngapain sih mas?" ucap Jingga ketika Raihan merebut cakwe miliknya


"Apa harus dengan cara ini mas bikin kamu mau bicara sama mas?" tanya Raihan dengan wajah sedih. Membuat Jingga diam lalu kembali menatap jalanan.


"Rin? Mas mau berubah, bantu mas dong. Jangan kayak gini kamunya" rengek Raihan membuat Jingga berbalik


"Beneran kamu mau berubah mas?" tanya Jingga memicingkan matanya seolah ragu pada suaminya sendiri. Raihan mengangguk dua kali meyakinkan Jingga


"Kalo gitu aku punya banyak syarat" ucap Jingga tersenyum devil kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran jok sambil memejamkan matanya


"Apa rin?" tanya Raihan menautkan alisnya


"Itu tuh salah satunya, kamu harus buat panggilan sayang khusus buat aku mas! bosen dipanggil rin rin apa tuh, nggak ada mesra-mesranya" permintaan Jingga membuat Raihan membelalakan matanya


Apa iya ya? apa aku kurang mesra sama Airin selama ini? batin Raihan


"Oke, terus apalagi?" tanya Raihan


"Yang lain nyusul, nanti aku kasih tau" jawabnya datar


Raihan mengiyakan lalu kembali melajukan mobilnya. Mereka menuju sebuah toko kue di jalan xx dekat Giska Boutique.


Raihan menepi kemudian memarkir mobilnya di tempat parkir yang tersedia di toko kue tersebut.


"Sayang udah sampe" ucap Raihan


Deg


Jadi ini panggilan sayang untukku? baiklah akan ku terima dengan senang hati. Karena aku yakin ini adalah bawaan bayi. batin Jingga sambil tersenyum kemudian turun setelah Raihan membukakan pintu mobilnya.


"Kok kesini?" tanya Jingga


"Memang mas tadi belinya disini" jawab Raihan jujur


"Bukan, ini sebelahnya butik mamanya Giska mas" ujar Jingga masih menatap gedung milik orang tua sahabatnya. Raihan merengkuh pinggang Jingga dan mengajaknya masuk ke toko kue tersebut


"Kamu mau mampir? nanti kita kesitu setelah beli roti buayamu" kata Raihan sambil tersenyum, Jingga mengangguk kemudian duduk di kursi yang ada di dalam toko kue.


"Pak Raihan ? kok kembali ? ada apa ? apa ada yang salah dengan roti yang tadi bapak beli ?" tanya pemilik toko kue


"Wah enggak , saya kesini mau beli roti buaya lagi. Istri saya lagi ngidam buaya bu" jawab Raihan membuat pemilik toko kue terkekeh


"Masih ada satu tapi ukurannya tidak sebesar tadi pak" jelasnya


"Nggak apa-apa bu, yang penting buaya" sahut Raihan . Pelayan mengemas pesanan Raihan kemudian Raihan membayarnya menggunakan uang cash.

__ADS_1


"Sayang ayo, mau ke butik sebelah?" ucap Raihan menyadarkan Jingga yang sedang melamun. Detik kemudian Jingga langsung bangun menyusul Raihan,


Mereka berdua berjalan menuju butik mama Giska.


"Woy !" sapa Giska yang sedang duduk bersama dua temannya yaitu Luna dan Erin


"Ck, kok kumpul nggak ngajakin gue sih" Jingga mencebikan bibirnya


"Gak sengaja, ni anak lagi cari baju yang sopan buat kerja katanya" sindir Giska melirik Raihan yang masih merangkul bahu Jingga. Erin tersenyum kecut mendapati bosnya datang bersama sahabatnya.


"Sore pak" sapa Erin, sedangkan Luna memilih diam dan hanya tersenyum. Raihan mengangguk membalas sapaan Erin


"Mas kamu suruh Erin ngapain?" tanya Jingga menatap Raihan sinis


"Enggak aneh-aneh kok, tanya aja sama Erin. Yang mas minta itu baik atau buruk?" jawab Raihan acuh


"Eh nggak papa Ngga. Lagian yang pak Raihan minta bagus buat gue kok" sahut Erin membuat Jingga tersenyum


"Tuh denger sendiri kan yank" ucap Raihan mengusap lembut bahu Jingga


"Sini masuk dong gabung, kamu nggak mau ngenalin suamimu sama mamah?" celetuk mama Giska yang baru saja menuruni tangga. Jingga segera menarik tangan Raihan mengajaknya menyalami mama Giska.


"Raihan tante"


"Mia, mamanya Giska. Nggak nyangka loh Jingga bisa nikah sama kamu" ucap Mia usai menjabat tangan Raihan


"Emang saya kenapa tante?" Raihan mengernyitkan dahinya


"Kamu itu paket lengkap, udah ganteng, sukses di usia muda, udah gitu baik lagi sama istrinya" Mia melirik sinis ke arah Giska, Jingga tahu maksud Mia adalah menyinggung soal pria yang digilai Giska sejak lama.


"Ya kalo orang berumah tangga, bertengkar itu wajar. Setidaknya mereka menikah untuk menjalin hubungan yang lebih baik, membenahi diri satu sama lain. Daripada ngomong cinta tapi nggak juga dinikahin, berarti apa?" Mia menatap tajam Giska, membuat seisi ruangan menjadi canggung.


"Mah stop it, malu ada temen-temen aku" Giska mulai kesal dengan ucapan mamanya


"Kenapa harus malu? mama sengaja kok, biar mereka bisa bantuin kamu move on dari si king king itu. Siapa sih? nama aslinya aja kamu nggak berani kasih tau sama mama ! Mama pengin jodohin kamu sama anak temen mama jadinya" ucap Mia ketus kemudian meninggalkan Giska dan teman-temannya


"Untung aja butik lagi sepi, bisa heboh kalo orang lain yang denger. Malu-maluin" gerutu Giska


*******


Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, Raihan dan Jingga melaksanakan ibadahnya berjamaah. Jingga sangat senang hari ini atas perubahan sikap suaminya, dia berharap semoga suaminya selalu memperlakukannya sebaik ini.


"Sayang makan yuk, kamu belum makan dari tadi. Kasihan dia laper" ucap Raihan sambil mengusap perut rata Jingga


"Aku nggak selera makan apapun mas" Jingga tertunduk lesu


"Airin? kamu nggak boleh egois. Dia juga butuh nutrisi" katanya menunjuk perut Jingga "Besok aku mau kita pergi ke dokter kandungan, aku pengin tau gimana keadaan bayi kita" tambahnya lagi, Jingga menyetujui permintaan suaminya.


"Yuk makan" Raihan merangkul bahu istrinya dan mengajaknya ke ruang makan.


"Aku pengin semur ayam buatan mba Ayu mas" ucap Jingga tiba-tiba


"Mba Ayu itu istrinya mas Adam kan? apa perlu mas kerumah ibu sekarang yank?" tanya Raihan mendudukan Jingga di sebuah kursi. Dengan cepat Jingga menggeleng

__ADS_1


Meskipun aku sangat menginginkan masakan mba Ayu, tapi rupanya bayi kita lebih ingin kamu terus berada disisiku mas. gumam Jingga


"Kamu bisa buatnya nggak mas?" Jingga menatap Raihan lembut


"Mas nggak bisa masak sayang, kalau Zayn mah bisa sedikit-sedikit. Mau dipanggilin Zayn aja? atau biar bibi yang masak, hmmmmm mami juga boleh" ucap Raihan


"Tapi dia maunya kamu mas" Jingga menunjuk perutnya membuat Raihan tersenyum


"Yasudah kalo gitu, mas yang masak tapi minta di bantu bibi ya? dengar ya anak ayah, kalo nanti masakan ayah kurang enak jangan protes!" kata Raihan mendekatkan wajahnya ke perut Jingga seolah-olah dia sedang berbicara dengan bayi dalam perut istrinya. Jingga tersenyum bangga. Jingga tak menyangka dengan perubahan sikap suaminya. Rupanya begitu hangat ketika seekor singa berubah menjadi seekor kucing.


********


Hari-hari berganti, hubungan Jingga dan Raihan makin membaik. Mereka sudah tidur satu ranjang lagi. Meskipun begitu, sayangnya Raihan belum juga meminta lebih. Dia tak ingin Jingga mengira perubahan sikapnya hanya karena dia menginginkan sesuatu darinya.


"Mas , Daniel mau kesini boleh nggak sih?" ucap Jingga


"Mas udah tau yank" sahut Raihan sambil menghabiskan sarapannya


"Tau darimana?" Jingga mengernyitkan dahinya


"Daniel itu siapa?" tanya Sulaiman di tengah sarapannya


"Sepupunya Airin pi. Semalem mas liat chatnya di hape kamu pas kamu tidur. Maaf ya" ucap Raihan menyesal, membuat Jingga tersenyum lalu menggeleng. "Nggak apa-apa mas"


"Tuh Bhumi udah datang, mas berangkat dulu ya sayang. Cup" Pamit Raihan mengecup kening istrinya, kemudian menyalami Maryam dan Sulaiman.


"Mi, Deli berangkat dulu ya" ucap Delisa menyalami keduanya, tak lupa ia menyalami Jingga. Hari ini Delisa mengalah tak berdebat, dia mengikuti kemauan maminya untuk menebeng mobil Raihan saja.


Bhumi terlebih dahulu mampir di Universitas xxx mengantar Delisa setelah itu lanjut ke kantor.


******


"Ray?" sapa Kemala membuat orang-orang di basement menatapnya dengan tatapan aneh. Raihan mengacuhkannya bersama Bhumi di sisinya.


Langkah Raihan tiba-tiba terhenti setelah Kemala mencengkram lengan Raihan


"Ray , kita perlu bicara" tegas Kemala


"Kemala! sudah berapa kali saya katakan? jaga sikap!" bentak Bhumi mewakili Raihan, refleks Kemala langsung melepas tangan Raihan


"Saya butuh ngomong sama kamu Ray" kata Kemala dengan wajah sendu


"Baiklah, soal apa?" tanpa membalik badan Raihan bertanya


"Ini soal kebenaran, saya mau setidaknya kamu nggak benci lagi sama saya. Saya mau kamu tahu semuanya Ray" kata Kemala


"Siapa yang benci? saya nggak benci sama kamu Kemala. Sudah ya, kalau kamu mau bahas masalalu. Saya bahkan sudah lupa" ucap Raihan menampakan senyum terpaksa


Raihan bergegas meninggalkan Kemala, Bhumi mengekorinya dibelakang.


Dia segera masuk kedalam ruangannya setelah menyapa Erin di meja kerja.


"Lo respon dia begitu nggak apa-apa? gue takut dia makin nglunjak" ucap Bhumi

__ADS_1


"Nggak tau, gue nyoba aja. Beberapa kali gue cuekin kayaknya dia makin berani jadi gue lakuin kebalikannya. Udahlah sebentar lagi rapat, jangan ngrusak mood gue" ucap Raihan


__ADS_2