Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Apa hubunganmu dengannya?


__ADS_3

"Apa-apaan sih mas!" Jingga mengeraskan suaranya karena terkejut


"Kamu sudah berani bentak saya Airin?" Raihan menatap Jingga dengan tatapan membunuh


"Kamu pergi dengan laki-laki itu, bahkan kalian terlihat sangat dekat. Apa yang kamu lakukan dengannya? apa kau membiarkan dia memeluk tubuh indahmu? apa dia melakukannya seperti ini?" Raihan mencecar Jingga dengan pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal. Dia bahkan memeluk dan meremas bok*ng Jingga keras.


Gaya bicaranya tidak seperti gaya bicara Raihan biasanya. Malam ini pria itu berubah menjadi pria yang kasar. Jingga dengan segera melepas pelukan Raihan dan mendorongnya keras-keras.


"Kamu itu apa-apaan ! apa maksudmu !?" teriak Jingga sambil mundur menjauhi suaminya. Raihan hanya tersenyum sinis


"Cih, kau bahkan tidak mengakuinya. Siapa pria itu Airin?!!!!" tanya Raihan menajamkan tatapannya


"Pria mana maksudmu?" tanya Jingga jujur, karena memang dia tidak mengerti maksud ucapan suaminya. Raihan segera mengeluarkan ponselnya lalu menunjukan sebuah foto pada Jingga.


Foto itu menunjukan kejadian tadi, seorang pria yang memegangi kedua pundak Jingga dari depan lalu pria itu sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya.


Dia itu Bastian, entah siapa yang sengaja memfotonya, dia sengaja tidak menunjukan wajah Bastian dan dia sengaja memfotonya dari sisi belakang, agar terlihat seolah Bastian hendak mencium Jingga.


"M.. ma.. sss ini nggak seperti apa yang kamu lihat, ini pria yang barusan mengantarku pulang" ucap Jingga terbata


"Hahahaha lucu sekali, bahkan kamu sedekat itu dengannya sampai diantar pulang !!! Jawab pertanyaan saya dengan jujur Airin. Apa hubunganmu dengannya ??" Raihan mencengkram lengan Jingga kuat-kuat hingga Jingga merasakan nyeri.


"Aaaa.www.. mas i..itu Bastian teman kampusku" Jingga meringis kesakitan, namun Raihan tetap mencengkram lengan istrinya karena saking emosinya.


"Teman? apa temanmu melakukan hal ini juga padamu?" Raihan melum*t rakus bibir sexy Jingga. Hingga Jingga kesulitan bernafas, Jingga tidak siap dengan serangan Raihan malam ini. Dia mencoba melepas cumbuan pria bernama Raihan itu.


"Leeehh..pash mas!!!!" Jingga memberontak namun Raihan enggan melepasnya. Dia malah meremas dengan kasar payu*ara Jingga.


"Apa dia juga melakukan ini, hah ?!!!!" Raihan merobek paksa gaun yang Jingga kenakan. Tangan kanan Raihan membekap mulut Jingga, tangan kirinya meremas payu*ara sebelah kiri , sedangkan lidah Raihan sudah menari-nari di atas ujung kemerahan milik Jingga. Sesekali Raihan menyesapnya kuat-kuat. Kali ini Jingga sudah tidak tahan lagi, dia sudah tidak mampu melawan suaminya. Tenaganya seakan terkuras habis karena memberontak sedari tadi.


"Hiks..hiks.." suara tangis Jingga sedikit tertahan namun tetap terdengar. Raihan segera menghentikan aktivitasnya. Lalu menatap mata Jingga dengan tatapan mengintimidasi.


"Kau menangis? aku suamimu ! kenapa kau tidak menangis ketika disentuh pria lain hah?!!!!!" Raihan mengernyitkan dahinya. Dia menunjukan sisi kejamnya malam ini. Jingga benar-benar ketakutan.


Raihan melepaskan Jingga, membiarkannya memunguti bajunya. Jingga segera berlari menuju lemari pakaian kemudian mengenakan piyama berlengan panjang. Jingga meraih tas dan ponselnya, dia pergi meninggalkan rumah tergesa-gesa.


Sepanjang jalan dia menangis sejadi-jadinya, mengutuki perbuatan suaminya. Sampai akhirnya Jingga memutuskan untuk menghubungi seseorang di ponselnya.


*******


"Bhum lo dimana?" tanya Raihan dalam sambungan telfon.

__ADS_1


"Di luar, kenapa?" jawab Bhumi santai


"Lo kesini sekarang" titah Raihan , tak lama kemudian Bhumi sampai di depan pintu kamar Raihan.


Bhumi terkejut setelah masuk kedalam, dia mendapati gaun pesta yang Jingga kenakan tadi telah rusak.


"Jangan bilang ini perbuatan lo !" Bhumi mencengkram lengan Raihan sambil menunjuk gaun pesta yang nyaris tak berbentuk itu. Raihan langsung memutar cengkraman Bhumi kemudian melepasnya.


"Astaghfirullah hal adzim Raihan, dia itu istri lo ! lo apain dia? kemana Jingga???!!!!!" pertama kalinya Bhumi membentak Raihan tanpa rasa takut. Raihan memang sedikit merasa bersalah atas apa yang dilakukannya barusan.


"Udah gila ya lo? sintiiiing emang !!! dimana otak lo !!! cepet jawab !!! Jingga dimanaaa??????" Bhumi mencengkram kerah baju Raihan sambil melototi mata sendu sahabat sekaligus bosnya itu. Raihan menggeleng kemudian Bhumi menghempas tubuh kekar Raihan ke lantai. Saking merasa bersalahnya bahkan Raihan tak membalas perlakuan Bhumi padanya.


Bhumi segera menyalakan mesin mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah Raihan. Dengan rahang mengeras berkali-kali Bhumi memukul stirnya memaki Raihan sepanjang perjalanan. Dia mencari keberadaan Jingga di dekat rumah, lalu menuju halte, cafe, bahkan semua tempat-tempat yang berada di sekitar rumah. Namun tidak ditemukannya sosok wanita cantik itu.


Setelah dua puluh menit, Raihan menghubungi asisten pribadinya itu. "Gimana? ketemu?" tanya Raihan dengan suara bergetar


"Lo cari sendiri han !! gue udah cari deket rumah tapi nggak ketemu !!" Bhumi tetap bicara dengan nada kasar, dia benar-benar tak habis pikir dengan tindakan Raihan.


Raihan yang terlalu percaya dengan foto murahan itu akhirnya dia pun menyesal telah memperlakukan istrinya dengan kasar. Dia telah menuduh Jingga melakukan hal yang tidak-tidak.


"Namanya juga janda, jelas lah kalo gatel"


"Arrrgggghhhh Airin maaf, aku khilaf" ucap Raihan sambil mengusap wajahnya kasar. Berkali-kali Raihan menghubungi nomor istrinya itu tapi sayang panggilannya selalu di alihkan. Raihan memutuskan untuk mengunjungi rumah teman-teman Jingga yang ia tahu.


Raihan mengirim pesan pada Ria bagian HRD untuk mengirim alamat rumah Fia dan Dina. Setelahnya Raihan menshare alamat rumah Dina pada Bhumi agar Bhumi yang menuju ke sana sedangkan Raihan ke tempat tinggal Fia.


Beberapa menit kemudian Raihan tiba di rumah Fia namun Fia malah mengatakan dirinya tidak mengetahui dimana Jingga berada. Raihan segera menghubungi Bhumi untuk mengecek keadaan di rumah Dina namun hasilnya nihil . Bhumi tidak menemukan keberadaan Jingga dirumah Dina.


Raihan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah orang tuanya. Sesampainya disana dilihatnya keluarga Sulaiman memang sedang berkumpul, namun tanpa adanya sosok wanita yang dicarinya.


Merasa heran akhirnya Sulaiman menanyakan kedatangan Raihan yang tiba-tiba itu. "Ada apa?" tanya Sulaiman


Raihan menggeleng, dia takut orang tuanya terkejut jika mereka mengetahui kejadian yang baru saja terjadi. Raihan memeluk Sulaiman erat dengan menahan tangisnya, Zayn dan Delisa yang melihat pemandangan tak biasa itu hanya mengerutkan dahinya. Maryam ikut bangun kemudian memeluk putranya Raihan.


Detik kemudian Raihan berlutut di hadapan orang tuanya. Maryam dan Sulaiman makin dibuat heran dengan tingkah Raihan malam ini


"Apa nak? ada apa?" tanya Maryam bingung


"Mi? Raihan salah mi.. Raihan berdosa, Raihan pantas dikutuk. Bahkan dibunuh.. Raihan sudah berubah jadi binatang. Maafin Raihan mi , pi" ucap Raihan sambil menangis tersedu-sedu.


"Delisa! cepat masuk ke kamarmu" pinta Zayn pada adiknya, Delisa pun menurut

__ADS_1


Di ruang keluarga tinggal mereka berempat. Zayn langsung menutup pintunya rapat-rapat. Dia takut ada orang lain yang mendengar pembicaraan Raihan yang sepertinya cukup serius itu.


"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Sulaiman menatap Raihan dengan tatapan penuh amarah. Kemudian Raihan menceritakan semua detail permasalahannya lalu


Plaakkkkkkkkk satu tamparan keras mendarat di pipi Raihan hingga meninggalkan noda darah di ujung bibirnya.


"Papi tidak mau tau, kalau kamu tidak juga membawa Jingga pulang dalam waktu 24jam. Kau pergilah ! Jangan injakan kakimu lagi di rumah bahkan di perusahaan itu" Sulaiman memalingkan wajahnya dari hadapan Raihan, dia benar-benar tak habis pikir. Hanya hal sepele bisa membuat anaknya gelap mata dan cemburu buta.


"Nak, mami tahu kamu menyesal. Cari Jingga ya, mami percaya sama kamu" ucap Maryam lembut, bagaimanapun juga kasih sayang seorang ibu memang tiada tandingannya.


"Udah bang bangun, ayo kita cari Jingga" kata Zayn menarik lengan Raihan, Raihan hanya mengikuti adiknya.


Ya Allah lindungilah Jingga dimanapun dia berada. Doa Zayn dalam hatinya


Dia memikirkan nasib iparnya, dia masih mengira bahwa Jingga sedang mengandung makanya kekhawatirannya melebihi siapapun malam ini.


"Bang , lo bisa tebak nggak kira-kira dia dimana?" tanya Zayn sambil mengemudi mobilnya


"Mungkin nggak sih kalo dia pulang ke rumah om Rus?" tanya Zayn lagi. Raihan menggeleng cepat kemudian dia mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia mencari nomor telfon Adam dan segera menelfonnya.


"Assalamualaikum, gimana han?" tanya Adam. Raihan harus bersandiwara kali ini supaya keluarga Jingga tidak mengetahui masalah memalukan ini


"Mas, saya mau nginep" ucap Raihan hati-hati


"Wah kapan? ajak Jingga nggak?" jawab Adam antusias


"Nanti saya tanya Airin dulu kapan enaknya ya mas"


"Hmm baiklah. Kalau gitu titip salam untuk Jingga ya"


"Baik mas, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" kemudian Raihan mematikan telfonnya dengan wajah lesu.


"Gimana bang? ada?" Tanya Zayn, Raihan hanya balas dengan gelengan kepala.


Airin maafkan aku. Sesal Raihan dalam hati


Malam ini mereka berdua menghabiskan waktunya di jalanan hanya untuk mencari keberadaan Jingga.


Sesekali Raihan kembali menitihkan air matanya yang amat mahal, mengingat perlakuan buruknya pada istrinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2