
"Assalamualaikum" Giska mengenali suara itu, suara yang terdengar merdu di telinganya. Yang sejak kemarin terus berdengung di telinganya.
"Waalaikumsalam" Ajeng menghampiri si pemilik suara
"Tante? Jingganya?"
"Eh, masuk dulu" Ajeng memeluk lengan Zayn membawanya masuk ke dalam rumah. "Tunggu disini, tante panggil Jingga"
"Hih, kan aku bilang" Giska tiba-tiba nyelonong dengan raut muka kesalnya
"Bilang apa? buktinya kamu kan disini. Saya nggak mungkin nunggu kamu di jalanan kan?" Zayn tersenyum miring membuat Giska memurar bola matanya
"Bang?" Jingga terkejut melihat sosok yang dikenalinya sedang duduk manis di sofa.
"Jingga.. Jingga.. ck ck ck" Zayn berdecak sambil menggeleng seakan tahu yang sedang Jingga lakukan "Sini!" Zayn mengisyaratkan dengan tangannya supaya Jingga mendekat dan duduk di sebelahnya. Jingga menurutinya meski Zayn adik iparnya, tapi Jingga tetap merasa bahwa Zayn harus ia hormati karena memang usianya yang lebih tua darinya.
"Bersabar sedikit, jangan selalu kamu bawa emosi. Bang Raihan itu lagi menghadapi masalah terberat dalam hidupnya, kamu harus mendukung dan harus selalu ada disisinya. Kalau dia nggak ngajak kamu bicara, abaikan saja. Anggap dia lagi sariawan atau datang bulan. Kamu harus sedikit terbiasa dengan sikapnya yang itu, nanti lama-lama dia memahamimu"
Hati Jingga seakan baru saja disiram air es. Memang sangat berbeda kakak beradik ini, Zayn selalu lembut dalam memperlakukan wanita, lain dengan Raihan. Dia selalu sulit di tebak, meski sudah mengenalnya beberapa bulan. Sayangnya Jingga masih sulit memahaminya.
"Tapi bang?"
"Jingga? kamu tahu sendiri bang Raihan itu punya temperamen buruk. Sejak kenal kamu itu semua berubah, jadi lebih baik pastinya. Bang Raihan itu cinta sama kamu, meskipun dengan cara-caranya yang aneh. Saya yakin kamu pasti ngrasain semua itu kan?" Jingga menundukan kepalanya, semua yang Zayn bilang benar adanya. Mungkin memang dirinya begitu sensitif akhir-akhir ini.
"Nggak bisa gitu lah, kalo dia sayang ! apapun masalahnya. Jingga harus diutamain, apalagi dia lagi hamil! butuh perhatian ekstra! mana udah nggak kerja, nggak ada temennya.. suntuk.. bosan.. laki-laki emang maunya dingertiin doang ya! gak mau ngertiin" Giska berkecak pinggang menatap tajam ke arah Zayn
"Loh?" Zayn mengernyitkan dahinya, Giska menyela lagi. Dia menggoyangkan telunjuknya melarang Zayn bicara.
"Bilangin sama kembaranmu, Jingga juga manusia! dia pasti sedihlah kalo suaminya berbuat seenaknya, egois banget. Kalo gini aku mending nggak nikah-nikah. Dimana-mana semua cowok itu sama!! bast*rd !!" Giska menghentakan kakinya lalu berlari menuju kamar Jingga di lantai dua
Jingga menjadi semakin keheranan, seakan dirinya sedang menonton adegan pada sebuah sinetron. Kenapa jadi aku yang kena? Zayn memandang Jingga. Sekarang mereka saling tatap seolah bertanya ada apa dengan Giska
"Kok jadi kalian yang berantem ya?" Jingga buka suara "Jujur emang sejak hamil ini moodku naik turun bang, nggak kaya hamil Kinan. Ini tuh kerasa banget, dikit-dikit pengin nangis. Tapi mas Raihan kayak nggak peka gitu, seakan-akan cuma dia yang punya urusan, pikiran, masalah. Aku dan mereka nggak di anggep bang" Jingga mengusap sayang perutnya.
Zayn terdiam dan berpikir, memang ada benarnya yang Jingga katakan. Seharusnya Raihan bersikap logis, meskipun banyak masalah yang menimpanya, tidak seharusnya dia mengabaikan Jingga yang mana sedang mengandung tiga buah hatinya.
Sejujurnya Zayn juga belum begitu paham inti permasalahannya karena Raihan belum menceritakan kejadian apa yang membuatnya pergi tanpa permisi pagi tadi.
"Assalamualaikum warahmatullah"
"Waalaikumsalam" ucap Zayn dan Jingga bersamaan
"Wah ada tamu" Rus berjalan mendekat ke arah Jingga setelah sebelumnya ia menggantung coatnya pada gantungan yang bertengger di samping pintu.
Jingga memeluk Rus erat sekali "Abah maafin Jingga"
Rus membalas pelukan Jingga kemudian mengecup puncak kepalanya "Nggak nak, kamu nggak salah. Abah yang salah sudah sembunyikan kenyataan yang harusnya kamu tahu lebih awal" Rus menatap Jingga sendu, penuh sesal? tentu saja! karena perbuatannya itu Rus membuat putrinya terluka.
"Makan malem disini ya nak?" pinta Ajeng pada Zayn, Zayn mengangguk setuju. Jingga mengajak Zayn ngobrol santai di teras sambil menunggu sore. Biasanya Adam tiba di rumah sebelum petang. Kinanti baru saja terlelap bersama Abi di kamar Adam. Sedangkan Giska sejak tadi tak kunjung keluar, entah apa yang dilakukannya di dalam kamar Jingga.
Tak lama setelah itu Luna tiba dengan ojek online, Jingga tak bisa membayangkan betapa repotnya membawa boneka besar ditengah-tengah mereka.
"Astaga, kalo bukan buat anak lo ! ogah gue bawa ginian 2 jam lebih, gempor kaki gue" keluh Luna memijat kaki hingga pangkal pahanya sendiri.
"Halo pak dokter!" Luna menyapa Zayn dengan mengangkat tangannya, mimik wajahnya lucu sekali menahan lelah serta nyeri di sepanjang kakinya. Zayn hanya tersenyum simpul.
"Kok pake ojek?" tanya Jingga polos
"Ya kali lagi tanggal tua begini naik taksi, bisa nggak makan gue sampe 3 hari kedepan. Nasib anak rantau tau nggak?" jujur Luna
__ADS_1
"Nanti gue kasih fee" ucap Jingga, Luna langsung menggoyangkan telunjuknya
"Nggak mau" tolaknya, Luna memang seperti itu. Dia paling tidak suka menerima uang cuma-cuma.
"Anggep aja bayaran karena lo mau repot-repot bawa boneka Kinan kesini lun" Akhirnya Luna mengiyakan karena bukan Jingga namanya kalau tidak bisa membujuk Luna
"Makan malem disini ya lun, ada Giska juga" pinta Jingga
"Nah kalo itu baru gue mau, rejeki jangan di tolak iya nggak?" Luna memainkan alisnya "Si Erin apa kabar? kayaknya betah dia kerja di perusahaan suami lo ya" tambahnya lagi
"Betahlah, gajinya gede, kerjanya ringan, tiap hari dapet pemandangan cogan cogan" celoteh Jingga membuat Zayn terkekeh "Kok ketawa?" Jingga mengernyit
"Emang bener kan? kualifikasi kerja di KJ Group itu fisik yang utama. Entah sadar atau nggak emang gitu yang kerja disana cakep-cakep bang"
"Aduh ya nggak dong, kalo penampilan oke tapi keahlian, sama pendidikan terakhirnya nggak mendukung. Nggak bakal lolos gitu aja , apalagi bu Ria punya standart sendiri" terang Zayn
"Emang iya Ngga?" Luna memiringkan kepalanya menghadap Jingga
"Ya coba perhatiin aja deh, kebersihan, keamanan, staf-staf kecilpun mukanya nggak ada yang jelek kalo kata gue sih. Ya palingan orang-orang yang badannya gede itu mukanya serem-serem dikit, ada yang codetan juga"
"Itu bodyguard, ada 22 yang stay di KJ Group. Di RS 9 orang. Meskipun sudah ada satpam, tapi bang Raihan masih merasa perlu mempekerjakan mereka Ngga. Soalnya bang Raihan yang bikin mereka nggak punya pekerjaan" terang Zayn , Jingga dan Luna hanya saling menatap bingung
"Kebanyakan dari mereka, pernah berurusan sama bang Raihan yang akhirnya bikin mereka mendekam di penjara beberapa tahun. Tapi setelah itu bang Raihan janji bakal bikin mereka dapet kerjaan, contohnya itu. Jadi bodyguard meskipun jarang banget diperlukan" tutur Zayn lagi
"Berarti laki lo kalo lagi ngumpul sama mereka, kaya kepala gangster yah Ngga?" celetuk Luna
"Sembarangan, ya nggak lah. Nggak pernah liat mas Raihan ngumpul sama mereka" Jingga mengerucutkan bibirnya membuat Zayn dan Luna tertawa
*******
Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, Jingga sudah berbaring di kamarnya bersama Kinanti dan tiga calon bayinya yang masih dalam kandungan.
Zayn hanya mengikutinya dari belakang karena mereka membawa mobil sendiri-sendiri.
"Maafkan bunda ya sayang" Mengusap sayang perutnya sendiri. Jingga merapikan mainan Kinanti, kemudian meletakan boneka besar itu di tempat teratas. Terimakasih bunda, Kinan suka. Ungkapan terimakasih Kinanti, Betapa senangnya bocah kecil itu menerima boneka yang Jingga belikan. Memang begitu sederhana menyenangkan hati si pipi bulat. Jingga memandangi wajah Kinanti lekat-lekat. Rasanya berat jika harus tinggal terpisah dengan Kinanti terlalu lama. Jingga berencana akan membicarakan perihal kepindahan putrinya pada Raihan nanti.
*
*
*
"Bhum? gue minta besok lo bersikap senatural mungkin, gue curiga banget sama James"
"Harusnya lo ngomongin itu sama diri lo sendiri" Bhumi menarik dua koper berjalan keluar bandara, Raihan masih sibuk dengan ponselnya sehingga sedikit tertinggal ketika berjalan.
Bener kata lo Bhum, gue emang yang paling takut. Gue takut sesuatu yang buruk menimpa keluarga gue karena ulah James. Raihan menghela nafasnya kemudian masuk kedalam mobilnya.
"Pak Ari saya turunin di jalan depan ya, saya sama Raihan harus langsung ke kantor sekarang"
"Tapi ini sudah larut tuan" ucap Ari sopan
"Ini nggak bisa di tunda pak, nanti bapak pakai taxi ya" tutur Bhumi ramah
Tak lama kemudian Bhumi menghentikan laju mobilnya, setelah Ari turun dari mobil. Bhumi langsung balik arah menuju kantornya bersama Raihan. Mereka harus menyiapkan berkas-berkas penting sebelum James berkunjung.
"Kenapa nggak kasih tau sih mau dateng jam berapa" gerutu Raihan berjalan melewati koridor menuju ruangannya , Bhumi mengekor.
"Kesel gue, mereka tuh kaya bom waktu buat gue" ucap Raihan lagi
__ADS_1
"Kok bom waktu?" tanya Bhumi mengernyit
"Bisa meledak kapan aja, cuma dia yang setting" jawab Raihan
Bhumi membuka laptopnya, sembari menyiapkan beberapa file untuk meeting dengan James besok.
"Yang paling gue takutin, kalo ternyata kedatangan dia kesini tuh ada hubungannya sama Ryu. Jujur gue takut banget Bhum" Raihan memejamkan matanya, Bhumi melihat kecemasan sedang melanda sahabat sekaligus bosnya itu.
"Gue pengin minta tolong Illona, lo setuju nggak?" tanya Bhumi
"Maksud lo?"
"Illona kan deket tuh sama Mikha, mereka juga satu agensi" Raihan mengernyit mendengar jawaban Bhumi "Nanya aja gitu, ke Indonesia cuma liburan atau ada urusan lain" tambahnya.
Raihan menarik sudut bibirnya "Gue aja yang telfon Illona sekarang"
"Oke" sahut Bhumi
Raihan mencari nomor Illona pada daftar kontaknya, kemudian dia menghubunginya. Raihan sengaja mengaktivkan mode loudspeaker supaya Bhumi juga mendengar pembicaraan mereka.
Mmmmm.. suara khas orang bangun tidur
"Gue ganggu ya?" tanya Raihan terkekeh
*Ar**e u crazy? liat jam Ray*!
"Gue butuh bantuan lo nih"
Apa lagi kali ini? lo berantem sama istri lo? gue suruh bujuk lagi? impossible Ray! istri lo itu ..
"Cukup, kali ini beda lo. Gue mau minta tolong lo hubungin Mikha sekarang" ucap Raihan tanpa basa-basi
Benar-benar gila kamu Ray!
"Illo? please. Ini penting buat gue, tanya aja sama Mikha. Dia ke Indonesia cuma liburan atau ada urusan lain gitu" pinta Raihan dengan nada memohon
*Ini soal R**yu kan? oke gue bantu*.
"Makasih ya Lo, lo emang sahabat gue!"
Urusan begini aja lo baru ngakuin gue sahabat
Tut. Illona mematikan telfonnya secara sepihak
Raihan kembali berkutat dengan pekerjaannya yang harus ia selesaikan malam ini. Ditengah kesibukannya sesekali ia melirik ponsel menunggu kabar dari Illona. Ya Allah semoga kabar baik yang ku terima. Doa Raihan dalam hatinya
.
.
.
.
.
.
Akhirnya up juga ! 🥰
__ADS_1
terimakasih yang masih setia membaca novel pertamaku ini.