Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Buah-buahan


__ADS_3

Di ruang rapat


"Saya yakin, parfum ini akan langsung di produksi secara masal setelah resmi di luncurkan" ucap Raihan penuh semangat.


"Sebelum berakhirnya rapat hari ini, saya akan memperkenalkan wakil direktur yang baru pengganti pak Ismail" tambahnya lagi.


Beberapa menit berlalu, semua orang di dalam ruangan terlihat berbisik-bisik. Raut wajah Raihan mulai menunjukan kegelisahan. Sesekali ia memandangi jam tangannya untuk melihat waktu. Kemudian Bhumi membisikan sesuatu di telinga Raihan, membuat Raihan mengangguk dan tersenyum miring.


Detik kemudian, seseorang membuka pintu ruang rapat. Cekleeekkk


"Maaf semuanya, saya terlambat" ucap Pria berkulit putih dengan badan tegap. Pria itu menggunakan sweater over size warna broken white dipadukan dengan celana jeans, kemudian sneakers berwarna abu-abu menjadi alas kakinya.


Raihan mengisyaratkan pria itu agar segera mendekat dengan satu kali anggukan.


Prok prok


Raihan menepuk tangannya dua kali agar orang-orang kembali fokus ke arahnya.


"Semuanya , ini dia wakil direktur kita yang baru. Jerry perkenalkan dirimu" ucap Raihan lalu melirik ke arah Jerry


"Selamat siang semuanya. Perkenalkan nama saya Tengku Jerry Herdiansyah, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik kedepannya" ucap Jerry ramah membuat beberapa wanita dalam ruang rapat tersenyum penuh arti.


"Baiklah pertemuan hari ini saya rasa cukup sampai di sini, waktu kita sangat singkat untuk mempersiapkan launching parfum baru yang namanya masih saya rahasiakan sampai sekarang. Kita hanya ada sisa waktu sekitar dua pekan" kata Raihan sambil memainkan ujung pulpennya


"Triana ? Tugaskan anak buahmu untuk mendesign botol parfum sesuai dengan aromanya. Buat saja beberapa referensi, saya tunggu sampai lusa, kirim ke email sekertaris saya" ucap Raihan lagi


"Pak ? saya rasa kalau kami diberi tahu nama dari parfumnya kami jadi lebih enak untuk mendesign pak" Triana menyela dengan hati-hati


"Apa kamu merasa tidak mampu hah? rupanya kinerjamu hanya sampai disitu? saya rasa kamu lebih paham dengan konsekuensinya. Saya akan memberikan tanggung jawab ini kepada departemen lain" Raihan memutar bola matanya malas, semua orang jadi menundukan kepalanya karena takut di cecar omongan oleh Raihan.


"Ma.. maaf pak, saya dan tim akan mencobanya. Kami akan berusaha semampu kami" ucap Triana terbata


"Aaahh.. tidak tidak Triana !" Raihan menggeleng


"Saya akan memberi kesempatan pada semua orang yang bekerja di KJ Group. Siapapun dia, silahkan.. kalau kalian rasa bahwa kalian mampu mendesign kemasan untuk si aroma sexy itu. Silahkan kirimkan ke email Airin atau Bhumi secepatnya, dan jangan lupa. Akan ada imbalan untuk itu !" Ujar Raihan melonggarkan dasinya.


"Bagaimana? apa ada pertanyaan?" tanya Bhumi dari sisi Raihan. Semua karyawan menggeleng


"Baiklah saya rasa semuanya sudah cukup jelas, kita akhiri rapat hari ini" ucap Bhumi kemudian Raihan melangkah keluar ruangan diikuti oleh Jingga kemudian Jerry di belakangnya, Bhumi pun mengekorinya. Mereka menggunakan lift khusus presiden direktur untuk kembali ke lantai teratas.


"Butuh sekertaris ?" tanya Raihan pada Jerry


"Pasti butuh nantinya" jawab Jerry sambil memainkan ponselnya "Bhumi aja deh sama gue?" tambahnya lagi dengan senyum miringnya. Membuat Bhumi mencebikan bibirnya tak suka


"Jangan mulai deh" sahut Bhumi


"Kalo gitu si cantik ini" Jerry menyenggol lengan Jingga dengan bahunya. Seketika amarah Raihan memuncak namun ditahannya


"Cukup Jer, saya butuh mereka berdua. Kalau kau mau, biar Bhumi yang mengurusnya besok"


Ting . Pintu lift terbuka


Jingga lebih dulu keluar meninggalkan tiga pria dalam lift, lalu menuju meja kerjanya.


Tumben Raihan nggak marah liat sekertarisnya nggak sopan gitu. Batin Jerry melirik punggung Jingga


*******

__ADS_1


Hari ini semua orang benar-benar disibukan dengan rencana peluncuran parfum baru. Meskipun bukan keahliannya tapi Jingga pun turut serta mendesign botol parfume tersebut.


Tak terasa waktu sudah menunjukan jam pulang kantor. Jingga melaksanakan ibadahnya di mushola samping kantin.


Lalu naik lagi untuk mengambil tas dan long coat nya. Ketika Jingga hendak melangkah pergi meninggalkan meja kerja. Tiba-tiba telepon kabelnya berbunyi. Jingga dengan sigap meraih gagang telepon tersebut.


"Selamat sore dengan saya Jingga sekertaris Kembar Jaya Group" ucap Jingga


"Airin mas pulang telat, ada urusan" kata seorang pria di ujung sana. Siapa lagi kalau bukan Raihan?


"Urusan kamu memang bukan urusanku mas" gumam Jingga tersenyum miring, tanpa mejawab dia langsung menutup teleponnya secara sepihak lalu melenggang pergi.


Jingga keluar kantor dan menuju jalan besar, Jingga terlihat menunggu kendaraan di halte. Bukan bis ataupun taksi, dia menunggu seseorang.


Kemudian sebuah mobil sport merk BMW warna hitam menghampiri Jingga, tak lama setelah itu Jingga masuk kedalamnya.


"Lo apa kabar?" tanya Jingga pada seorang wanita di kursi kemudi


"Baik, lo gimana Ngga? sorry ya gue nggak dateng pas acara nikahan lo. Tapi gue liat lo di tv kok hehehe.." kekeh wanita itu


"Santai aja kali, lo sakit apa emang? kok sampe opname" tanya Jingga


"Biasalah , apa lagi ? kaya lo baru kenal gue aja"


"Pasti lo abis nyentuh barang haram itu kan?" kata Jingga menatap wanita itu dengan tatapan kesal


"Gue nggak bisa nolak, apalagi ajakan dia" jawab wanita itu dengan wajah sendu.


Wanita itu adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengan Jingga semasa kuliah. Namanya Giska, sudah lama Jingga tidak bertukar kabar dengan Giska karena tiba-tiba saja Giska menghilang sehari setelah menyandang gelar sarjana.


Giska kembali menghubungi Jingga pagi tadi, tentu saja Jingga sangat senang karena sahabat seperjuangannya telah kembali. Jingga memilih tidak mempertanyakan perihal menghilangnya Giska sementara waktu, dia ingin Giska menjelaskannya sendiri nanti.


"Malak mama gue, minta gaun yang paling bagus buat lusa" jawab Giska tersenyum nakal kemudian memutar tajam stirnya, beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di sebuah butik pakaian yang amat besar milik mama Giska.


"Gigis? ajak siapa?" tanya mama Giska


"Please stop panggil aku gigis mah. Malu" Giska mengerucutkan bibirnya sambil melangkah masuk


"Eh ya Tuhan, si Jingga ya ?" mama Giska langsung meraih pundak Jingga dan memeluknya


"Apa kabar maaah? maaf ya Jingga nggak pernah main. Padahal sekarang deket" ucap Jingga penuh penyesalan


"Baik.. ahh nggak apa-apa. Oh iya kamu jadi mantunya pak Sulaiman itu ya?" tanyanya sambil merangkul Jingga lalu mengajaknya masuk ke dalam. Jingga mengangguk dengan senyuman


"Mah kasih aku sama Jingga gaun yang paling bagus. Yang cuma mama bikin khusus buat kita" kata Giska sambil merebahkan dirinya di sofa panjang


"Acara apa?" tanya mama Gisca


"Wedding dosen kita mah" sahut Giska


"Baiklah, Arum saya minta tolong ambilkan dress yang masih di patung. Di ruangan saya" kata mama Giska memerintah pegawainya


"Tapi itu belum selesai kan bu?" kata Arum menatap mama Giska heran


"Ambil aja , kita selesaikan malam ini juga untuk tuan putri kita" jawabnya sambil memandang Giska dan Jingga


Tak lama kemudian pegawai bernama Arum itu turun dari lantai dua membawa sebuah gaun pesta berwarna navy. Giska langsung membulatkan matanya begitu juga Jingga.

__ADS_1


"Ya Allah kok bisa pas?" celetuk Jingga sumringah


"Pas apanya?" tanya mama Giska


"Ini ma, lusa anak-anak kampus kan ngajak dresscode an. Pake navy, terus aku sama Jingga sih mau pake seadanya aja yang ada di butik mama. Eh ternyata navy juga. Syukur deh kalo gitu" kata Giska tersenyum kecil


"Yaudah coba dulu sana" pinta mama kemudian Giska mencobanya, tentu saja pas dan cocok karena tubuh Giska memang sexy bak model peraga busana.


"Kamu mau itu juga sayang?" mama melirik Jingga, Jingga langsung menggeleng


"Mah? Jingga mau yang berlengan aja, minimal sebatas siku" kata Jingga


"Oke, Rum ajak Jingga pilih di barisan belakang" Arum mengangguk kemudian Jingga mengikuti Arum dari belakang. Setelah beberapa menit memilih akhirnya Jingga menemukan pilihannya.


"Mama sudah menduga kamu bakal pilih yang itu Jingga, jadi kapan kamu mau berhijab?" tanya mama tersenyum penuh arti


"Doain ya mah, Jingga mau yang ini bisa langsung bawa kan?" tanya Jingga diangguki oleh mama


"Tenang aja, mama cuma buat satu yang itu. Lainnya cuma agak mirip tapi beda kok" Kata mama


Akhirnya Jingga membawa pulang pilihannya, sebelum pulang ke rumah. Giska mengajak Jingga makan di sebuah restaurant italia untuk bertemu beberapa teman kampusnya yang kebetulan berada di dekat sana. Selama di restaurant Jingga sama sekali tidak mau menyentuh makanan berat, dia lagi-lagi memilih tumbuh-tumbuhan untuk menjadi santapannya. Setelah itu Giska mengantar Jingga pulang ke rumahnya. Kedatangan mereka disambut oleh para maid dan beberapa pekerjanya.


"Gue nggak turun, langsung pulang. Salam aja buat suami lo" kata Giska ,Jingga pun mengangguk kemudian masuk ke dalam


Seorang maid bernama Rinah berjalan tergopoh-gopoh menyambut nonanya.


"Biar bibi saja non" katanya sambil meraih paper bag bertuliskan Gisca Boutique


"Bi sekalian di cuci ya, jangan bawa ke kamar kalau sudah selesai. Biarin di ruang cuci aja bilang sama Sifa" kata Jingga kemudian masuk ke kamarnya.


*******


Waktu sudah menunjukan pukul 21.00 namun Raihan tak kunjung menampakan batang hidungnya. Hingga akhirnya Jingga tertidur di sofa ruang keluarga setelah memakan banyak buah-buahan. Bahkan masih ada sisa potongan melon dan semangka dalam mangkuknya. Bi Iin yang melihat majikannya itu merasa bingung, dia tak tega jika harus membangunkannya. Juga tak tega membiarkan majikannya tidur di sofa. Akhirnya Bi Iin memutuskan untuk mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh majikannya agar tidak kedinginan.


Esok paginya Jingga bangun karena mendengar alarm waktu subuh di ponselnya.


"Hah sudah pagi?" Jingga membatin kemudian dia langsung berlari kecil menuju kamarnya untuk mandi dan segera melaksanakan kewajibannya.


Dia menyadari suaminya tidak pulang kerumah, bahkan suaminya tidak memberikan kabar sama sekali. Lagi-lagi Jingga dibuat kesal oleh suaminya, dia semakin sadar akan posisinya. "Aku memang hanya istri di atas kertas, di ranjang, dan di meja makan. Semua ucapanmu di Yogyakarta kemarin bulshit mas. Aku membencimu !" katanya sambil menatap nanar ranjang kosong di hadapannya.


Waktu sudah menunjukan pukul enam pagi, Jingga merasa matanya sangat berat pagi ini. Tumben sekali ! Batinnya . Dia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya satu jam lagi. Jingga sudah meminta bi Rinah agar membangunkannya pukul 7.30. Lagi-lagi Jingga tidak berminat untuk sarapan, dia hanya memakan sepotong apel sebelum tidur.


Tak lama kemudian Raihan tiba di rumah bersama dengan Bhumi. Raihan masih menggunakan pakaian yang sama seperti kemarin, begitu juga dengan Bhumi. Kedua pria tampan itu terlihat lusuh sekali, bahkan keduanya memiliki kantung mata yang amat hitam hingga pantas dijuluki seperti panda.


"Dimana?" tanya Raihan pada maid yang berjejer rapi di ruang makan. Sedangkan Bhumi memilih untuk masuk ke kamar tamu untuk mengistirahatkan dirinya


"Nona di kamarnya tuan" kata bi Rinah tanpa memandang mata majikannya


"Apa saja yang dilakukannya seharian tanpa saya?" tanya Raihan sambil memijat kepalanya yang terasa pusing


"Nona hanya tidur saja sejak kemarin tuan, nona tidak menyentuh makan malamnya, bahkan pagi ini juga nona tidak makan tapi langsung tidur lagi selesai sholat subuh" ucap Sifa hati-hati


"Benarkah dia tidak memakan apapun?" tanya Raihan sedikit kesal


"Hanya buah-buahan sebelum tidur tuan" ucap bi Iin


"Ehmmm tadi sebelum masuk kamar nona memakan sepotong apel tuan" kata Sifa yakin

__ADS_1


"Ada apa dengannya? apa dia sedang diet? tapi apa mungkin? bukankah tubuhnya sangatlah langsing?" gumam Raihan kemudian masuk ke kamarnya


Raihan melihat istrinya masih pulas menutupi setengah badannya dengan selimut. Kemudian Raihan mengecup kening Jingga hati-hati. Dia memilih membersihkan badannya terlebih dahulu sebelum bergabung bersama Jingga di ranjang untuk beristirahat.


__ADS_2