Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Yogyakarta 2


__ADS_3

"Awwww sakit ! nanti sayang aku makan dulu" Muhammad terkekeh lalu menyantap mie ayam yang tadi dipesan hingga tandas. Aku hanya menggeleng karena kalakuannya barusan.


"Bayarin ya mbak" bisik Muhammad. Aku langsung bangun dan membayar yang kita pesan pada penjual makanan di kantin.


"Mbak gandeng aku mbak, pegang lenganku. Cepetan !" Muhammad memaksa dengan tatapan mengiba akhirnya aku menurutinya. Entah apa yang sedang dilakukannya. Aku hanya mengikuti skenario saja. Hitung-hitung hiburan !


"Motornya dimana ?" tanyaku kemudian Muhammad menunjuk di sebuah parkiran samping taman.


"Disitu tuh, tunggu disini sebentar" ucapnya singkat kemudian berlari cepat mengambil motor di parkiran.


"Motor siapa?" aku penasaran.


"Oh ini, panjang ceritanya"


"Yaudah cerita aja sih" sembari naik membonceng Muhammad.


"Motorku rusak lagi di bengkel. Terus uti tuh mbak hahahahaha"


"Apaan ? kok udah ketawa aja ! Lanjutin"


Muhammad melajukan motornya pelan. Tepat di depan Yana , Muhammad meraih tanganku supaya memeluknya. Dasar adik lucknut ! Awas saja nanti.


"Lanjut gak nih?" tanya Muhammad.


"Tinggal di lanjut kok !"


"Awwwww" Muhammad meringis merasakan cubitan mautku untuk yang ke dua kalinya.


"Mbak tau kan kalo belanja di supermarket dapet kupon undian. Per seratus ribu dapet satu kupon gitu"


"Oh iya tau, dulu mba sering ngisiin kupon kaya gitu punya ibu. Kenapa?"


"Uti kalo abis belanja kuponnya cuma ditaro sembarangan gitu mbak. Terus pas aku ingetin jawabnya malah uti males ngisinya, sana kamu aja yang ngisi, kalo dapet buat kamu." Jawab Muhammad sambil menirukan nada bicara uti biasanya.


"Hahahahahaha terus?"


"Ya aku isi lah, iseng aja mbak. Tiap dapet aku isi, kalo kesana aku masukin ke kotak kuponnya. Seminggu yang lalu motor aku rusak. Ini masih di bengkel udah jadi tapi belum ada duit buat ambilnya. Terus kemaren , pas mbak baru sampe itu. Aku baru aja ambil ini motor di supermarket tempat uti belanja. Gitu ceritanya"


"Gitu gimana ! ini motor belum jelas ceritanya"


"Oh iya lupa. Ini dapet undian kupon itu, dapet motor. Motor Emex mbak ! Hahahaha"


"Alhamdulillah, beneran?"


"Ya bener lah , emang siapa yang mau beliin aku motor baru kaya gini mba? Minta ibu juga ga tega aku mba. Meskipun mba udah nikah sama orang kaya, aku nggak mau tuh hutang budi sama suami mba"


"Jangan bahas dia ! Mba kesini lagi pengen liburan"


"Oh iya jadi inget, ngga sempet nanya kemaren tuh. Mba berantem ya sama mas Raihan?" Muhammad memperlambat laju motornya.


"Kok kamu tanyanya gitu?"


"Loh keliatan banget mba, gak usah bohong sama aku" ucapnya santai, aku memutuskan untuk tidak menceritakan detailnya. Aku hanya memberinya pengertian sedikit.


"Muhammad? Mba lagi marah sama mas Raihan tapi cuma dikit. Barangkali dia hubungin kamu. Bilang aja kamu nggak tau. Oke?" Muhammad menganggguk.


Malioboro


Kami tiba di tempat banyak kenangan , banyak cerita. Muhammad memarkir motornya di depan sebuah cafe yang katanya milik temannya.

__ADS_1


"Mba, jalan aja kali ya biar seru" aku menurut kemudian menggandeng tangan adikku. Langkah demi langkah ku lalui. Ku puas puaskan mataku untuk melihat sekitar.


"Mba inget ngga, dulu mba duduk disini" Muhammad memegang kursi taman yang berada di pinggiran jalan. Tentu saja aku ingat, sangat ingat bahkan. Waktu itu aku sedang duduk sekitar 15 menit menunggu uti dan Muhammad tak lama kemudian muncul seorang pria gagah berkulit sawo matang duduk tepat di hadapanku.


Aku tersenyum getir kemudian menitihkan air mata memandang kursi itu.


"Stttt stttt mba? ngga boleh sedih" Muhammad mengusap air mataku kemudian memelukku. "Mas Ridho sering bilang sama aku. Kalo udah besar nanti aku harus jaga mba Jingga" aku menengadahkan kepalaku menatap mata adikku. "Kalo kamu kaya gini terus, nanti kamu nggak punya pacar. Orang orang liat kita kaya orang pacaran Muhammad !" aku mengurai pelukan Muhammad.


"Hahaha mba nggak tau ya? Ada dua keuntungan aku nglakuin hal ini. Yang pertama biar mba Jingga nggak digodain cowok lain. Yang kedua biar orang-orang tau aku punya pacar. Aku pengin fokus pendidikan dulu mba, biar semangat ngejar karir juga. Aku pengin bikin Ibu dan Abah bangga"


aku tersenyum kecil. Mengingat sifat Muhammad memang berbeda denganku apalagi mas Adam. Aku memahaminya, lagipula pacaran atau tidak itu haknya. Daripada menambah dosa.


"Mau duduk disini?" tanya Muhammad menunjuk kursi kenangan itu. Aku menggeleng kemudian berjalan ke depan. Aku berniat masuk ke pusat perbelanjaan yang amat terkenal. Aku dan Muhammad masuk , memilah sesuatu yang bisa ku jadikan oleh-oleh dirumah.


"Mba ini aja semua, sekeluarga. Ada size baby sampai dewasa nih" Akhirnya keputusanku jatuh pada kaos couple merakyat. Alias satu motiv untuk sekeluarga hehehe. Untuk Abi, Kinanti pun ada ukurannya. Setelah itu aku memilih sandal untuk Kinanti dan Abi. Kemudian topi pantai untuk Ibu, mba Ayu, dan lagi Kinanti.


"Kamu mau beli apa ambil sendiri ya, nanti mba yang bayar"


"Beneran mba ? uang mba, apa uang mas Raihan nih ?"


"Uang mba dong, mba emang dikasih beberapa atm sama kartu kredit dari mas Raihan. Tapi mba belum pernah pake tuh"


"Kan itu nafkah mba, nggak papa kali" katanya sambil memilih beberapa kaos dan menempelkan di badannya.


"Ya emang ngga papa, bakal mba pake nanti kalo butuh biaya gede aja. Kalo cuma gini-gini sih mba masih mampu bayarnya" Muhammad mengangguk, detik kemudian kami ke kasir untuk membayar.


Setelahnya kami keluar mall Malio**** berjalan kaki menuju cafe tadi.


"Eh mba, sebentar. Ibu telfon"


"Aktivin speakernya turunin volumenya dek, pasti mau nanya soal mba" Muhammad menurut kemudian menjawah panggilan ibu.


"Assalamualaikum cah bagus"


"Mmmm ada mbak mu to? Sekalian aja sini ibu mau bicara"


"Jingga, ada suamimu"


"Bilang aja ibu nggak tahu bu"


"Abahmu yang jawab kamu lagi dirumah uti"


"Issshh abah kok gitu sih !"


"Dah siap-siap kalo dijemput ya nurut. Dia itu suamimu"


"Buuuu Ya Allah, baru sampe bu aku."


"Selesaikan masalahmu baik-baik. Bicarakan dengan kepala dingin. Dah Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawabku lesu setelah mematikan telfon.


"Piye mbak?" tanya Muhammad, aku menggeleng lemas.


"Yuk lah, pulang kerumah uti"


"Lemes gitu, semangat dong. Kalo mba belum mau pulang ya bilang aja lah sama mas Raihan" aku mengangguk.


Muhammad membungkus 4 cup minuman dari cafe tersebut. Kemudian pulang ke rumah uti bersamaku.

__ADS_1


Setibanya di rumah uti aku memilih ikut masuk ke kamar Muhammad. "Mba? main PS yuk"


"Ayok lah" jawabku.


"Ok sebentar taro ini dulu di kulkas" katanya sambil menenteng dua cup minuman.


Setelahnya Muhammad masuk ke kamar lagi kemudian Muhammad melempar pelan stik ps kepadaku. "Mba ini dapet give away loh"


"Haaah?" mataku membola tak percaya "Kamu hoki banget ya kayaknya. Nanti kalo ada undian apa-apa kamu aja yang ikut ya. Biar dapet !!" kataku bersemangat setelah memilih game smackdown. Muhammad hanya tertawa kecil. "Hihi, Lagi emosi banget apa? pengen nonjokin orang nggak kesampaian ya mba?" godanya menyenggol lenganku.


"Udah cepet mau yang mana !"


"Undertaker lah mba. Mba pasti John cena" aku mengangguk kemudian mulai bermain.


Aku benar-benar meluapkan emosiku saat ini.


Buggghh bugghh buggghhhhh dan sorakan. Hanya suara itu yang terdengar dari audio televisi di hadapan kami. Aku membayangkan bahwa diriku sendiri yang sedang meninju orang itu. Aku tahu Muhammad sedikit mengalah, membiarkanku menang terus terusan. Aku tidak peduli karena yang aku tahu. Aku puas membuat lawanku babak belur.


"Matii.. mati aja lo sialan ! Dasar nggak punya perasaan. Yaaaaa Menang!!!!!" Teriaku penuh semangat.


"Lagi mba?" Muhammad memandangku heran.


"Jangan berhenti sampe mba sendiri yang cape sama game ini !"


"Okelah"


Kami terus beradu jotos, kata-kata yang terlontar dari mulutku sungguh tidak bisa di cegah. Kasar dan jahat sekali !


"Kok ada orang **** kaya lo gitu. Ciaaaattt deziggg deziggg mati aja lo. Mamp*us ! Huaaaaa hiks hiks.. Mati ! Mati !" saking bersemangatnya aku sampai menangis namun tetap melanjutkan permainan.


Sepanjang waktu aku terus meracau berbeda dengan Muhammad dia hanya sesekali mengeluarkan suara dari mulutnya. Entah sudah berapa jam kami bermain game itu. Mungkin Muhammad sudah bosan namun tidak berani untuk mengatakannya. Melihat aku yang fokus meninju meluapkan emosiku. "Mati kamu ! aku nggak butuh kamu. Mati ciaaaattt dezig dezigggg.. ya menang ! Lagi !" Rancauku dan Muhammad mengangguk. Tiba-tiba ...


Brughhh . Seseorang memelukku dari belakang.


"Airin" Aku dan Muhammad menoleh ke belakang.


Aku sangat mengenali suara itu.


Mas Raihan !


Aku berusaha melepas pelukannya. Entah sudah berapa lama dia datang, atau mungkin dia mendengar semua kata-kata kasar dari mulutku. Aku tidak perduli. Benar-benar tidak perduli !


Aku ingin mengacuhkanmu mas !


Aku melanjutkan kesibukanku dengan game tadi. Aku memang sudah lihai dalam bermain playstation karena Abi juga punya dirumah. Kali ini aku bermain tanpa bicara. Permainan ini rasanya tidak seru lagi. Aku melepas pelukannya secara paksa. Ku letakan stik ps ke lantai. Kemudian aku meninggalkan mereka berdua. Aku masuk ke kamarku segera dan mengunci pintunya.


"Rin buka !" Tok tok tok


"Airin, sayang.. Buka pintunya. Kita harus bicara Rin" aku diam tak bergeming, aku semakin terisak. Aku mengingat lagi semua pesan Felicia yang dikirim untuk Dimas. Hatiku nyeri, aku tidak bisa membayangkan untuk berbagi suami. Aku tidak mau dimadu. Lebih baik aku berpisah dengan mas Raihan. Aku tidak perduli apapun alasan mas Raihan untuk menikah lagi. Jika keluarga memaksaku, aku lebih baik mati menyusul mas Ridho.


Ya Allah selamatkan aku !


"Airin buka pintunya atau mas dobrak?" Apa ? Mas ? Dia merubah sebutan dirinya sendiri. Seharusnya aku senang mendengarnya. Itu terdengar lebih hangat dari pada kata Aku. Tapi perasaan kecewa ini sudah menjalar kemana-mana hingga aku tidak bisa merasakan kehangatan itu lagi.


Aku tidak ingin mas Raihan semakin nekat. Ku putuskan untuk membuka pintunya. Ku langkagkan kakiku perlahan dan cekleeeekkk...


Bruggghhh Mas Raihan malah tersungkur . "Aaawwww.. sakit Rin. Kok kamu nggak bilang mau buka pintunya. Baru aja mas mau dobrak"


Aku memang tidak berniat bicara denganmu mas. Sebenarnya aku kasihan melihatnya jatuh seperti itu, aku ingin membantunya. Namun rasa kecewaku menuntunku untuk kembali ke ranjang dan mengacuhkan suamiku.

__ADS_1


"Airin, tolong. Aduhhhh" mas Raihan mencoba menarik perhatianku. Aku semakin menenggelamkan kepalaku di dalam selimut setelah menyalakan kipas.


Ku dengar langkah kaki yang mendekat. Aku menutup telingaku rapat rapat dengan kedua tanganku. Aku tidak ingin dengar semua bualannya. Aku ingin tidur sekarang. Aku ingin memejamkan mataku secara paksa, jika bisa .


__ADS_2