
"Mas besok aku harus menghadiri pesta pernikahan seseorang" ucap Jingga . Sebenarnya Jingga tidak ingin berpamitan pada suaminya, tapi Jingga merasa hal itu tidaklah benar.
"Jam berapa acaranya?" tanya Raihan masih sibuk dengan laptopnya
"Malam jam 8 mas" sahut Jingga
"Kayaknya mas nggak bisa nemenin Rin, mas ada acara juga malam itu" ucap Raihan jujur
Nggak papa kaleee, orang aku mau reunian. Batin Jingga
"Oh nggak apa-apa kok mas, nanti aku sama temen-temen" kata Jingga kembali menarik selimut lalu kembali merebahkan tubuhnya.
"Rin kamu mau tidur lagi?" tanya Raihan meletakan laptopnya kemudian mendekati Jingga di ranjang. Raihan menelusupkan tangan kanannya ke dalam lengan Jingga. Saat ini posisinya sudah memeluk perut Jingga dari belakang. Raihan membenamkan kepalanya di ceruk leher Jingga.
Jingga diam tak bersua, menit kemudian Raihan mendengar nafas istrinya yang mulai teratur.
Apa? tidur lagi? ini seperti bukan kebiasaanmu rin. Tidur sepanjang hari tanpa melakukan apapun. Apa jangan-jangan kamu mengonsumsi obat tidur? Aku harus menghubungi Zayn. gumam Raihan
Selang setengah jam Zayn tiba di kediaman pasangan suami istri itu setelah mendapat panggilan. Raihan duduk di ruang tamu mengenakan jubah tidurnya yang berwarna hitam dengan kombinasi gold.
"Ngaret amat?" sindir Raihan membentangkan tangannya di sandaran sofa
"Operasi darurat bang. Dimana Jingga?" tanya Zayn. Raihan langsung bangun tanpa menjawab, Zayn mengikuti Raihan dari belakang.
"Tidur?" tanya Zayn , Raihan mengangguk.
"Yakin bang dia nggak makan apa-apa?" tanya Zayn
"Cuma buah-buahan, tadi siang sempet makan roti gandum dua lembar tapi tanpa selai" jawab Raihan jujur. Zayn hanya tersenyum miring mendengarnya
"Tidur seharian full, gue sampe ngeri.. takut Airin kenapa-napa" kata Raihan masuk ke dalam kamar.
Lalu Zayn mulai memerika kakak iparnya. Jingga yang sedikit merasa terganggu, langsung mengerjapkan matanya beberapa kali dan terbangun.
"Loh bang Zayn?" ucap Jingga sambil berusaha membuka matanya. Zayn hanya tersenyum karena mengetahui sesuatu. Tapi dia berniat merahasiakannya dari Raihan sebelum dia memastikannya sendiri.
"Kenapa nggak mau makan?" tanya Zayn
"Makan buah banyak banget dibilang nggak makan, siapa yang bilang? pasti dia kan" kata Jingga menatap tajam suaminya. Raihan hanya membulatkan matanya pada Jingga
"Saya resepkan beberapa vitamin ya, jangan lupa beli testpack" Zayn sengaja memelankan kalimat terakhirnya supaya Raihan tidak mendengar
__ADS_1
"Lo bisik-bisik apaan sama Airin?" tanya Raihan dengan tatapan mengintimidasi
"Nggak, nggak ada. Udah sana pada keluar aku ngantuk" Jingga sengaja mengalihkan perhatian suaminya supaya mengajak Zayn keluar. Tak lama setelah itu Zayn kembali ke rumah sakit.
"Rin sudah mau maghrib, mandi terus sholat baru tidur lagi. Mas mau keluar sama Bhumi" ucap Raihan sambil mengancing kemejanya.
Kemana? tanya Jingga dalam hati
Jingga langsung masuk ke kamar mandi tak menghiraukan keberadaan Raihan. Dia mengisi bathub hingga penuh kemudian memasukan bathbomb berwarna pink. Jarang sekali Jingga berendam, dia paling tidak suka berlama-lama di kamar mandi. Jingga menyandarkan kepalanya di ujung bathub. Tiba-tiba rasa kantuk lagi-lagi melandanya. Apalagi dalam keadaan rileks seperti sekarang, otomatis Jingga tertidur.
Raihan membuka pintu kamar mandi pelan-pelan, dia bermaksud untuk berpamitan pada istrinya. Dilihatnya Airinnya itu sedang terpejam di dalam bathub.
"Ya Allah rin, kamu ini kenapa sih tidur terus. Gimana kalo kamu masuk angin?" ucap Raihan dengan nada keras hingga membangunkan Jingga, Raihan meraih bathrobe yang terlipat rapi pada kabinet.
"Ayo udah cukup, mas nggak tau ya kamu lagi kenapa. Kalo mau tidur liat tempat rin.. ini tuh kamar mandi" Raihan merangkul tubuh Jingga dan menutupnya dengan bathrobe. Jingga hanya diam seribu bahasa, pasalnya dia pun bingung pada diri sendiri. Dia bahkan tidak menyangka pada hobi barunya yaitu tidur sembarangan. Jingga jadi kepikiran pada ucapan Zayn, kenapa dia memintanya membeli testpack. Apa mungkin hal ini karena Zayn menduga ada janin dalam perutnya?
Aku tidak boleh gegabah, aku harus merahasiakan hal ini sebelum aku memastikannya sendiri. kata Jingga dalam hatinya
******
Malam hari setelah melaksanakan ibadah Jingga pergi keluar rumah tanpa supir. Tentu saja supir memaksanya untuk mengantar istri tuannya. Tapi karena Jingga memaksa, akhirnya supir membiarkannya pergi tanpa diantar.
"Saya cuma sebentar kok mang, ke apotek depan" kata Jingga meyakinkan Ujang supirnya
Dia memberikan resep dari Zayn pada apoteker, tak lupa ia membeli beberapa testpack dengan merk berbeda. Lalu dia kembali pulang ke rumahnya, sesampainya di rumah dia mencoba salah satu testpack tersebut.
Jingga menunggu hasilnya dengan perasaan was-was karena jujur saja Jingga belum siap akan hadirnya seorang anak pada pernikahannya kali ini. Mengingat suaminya masih belum memperlakukannya dengan baik.
"Alhamdulillah negatif" ucap Jingga setelah melihat satu garis merah pada testpack tersebut.
*******
Esok paginya Raihan belum juga pulang ke rumah, dia hanya mengirim pesan lewat Bhumi. Raihan meminta Jingga supaya tidak masuk kantor hari ini Jingga dengan senang hati menurutinya. Entah apa yang dirasakannya, dia hanya senang tidak berlama-lama berhadapan dengan suaminya.
Malam harinya Raihan tak kunjung pulang, Jingga langsung bersiap diri untuk acara pernikahan yang akan dihadirinya. Jingga merias wajahnya tipis-tipis namun tetap terlihat anggun dan cantik. Dia memakai jam tangannya lalu menggunakan gaun yang ia bawa dari Giska Boutique dua hari lalu. Dia meraih jilbab segi empat berwarna silver untuk di padukan dengan gaunnya.
Jingga juga memakai heels senada dengan warna gaunnya. Tak lama kemudian Giska tiba di depan rumah Jingga. Dia tidak menggunakan mobil kemarin, malam ini dia memakai sebuah mobil keluarga yang terbilang mewah. Setelah Jingga masuk kedalam, rupanya ia tidak hanya berdua dengan Giska.
Bastian mengemudi mobilnya dengan satu teman pria di samping kursi kemudi. Sisanya 4 wanita ada di kursi penumpang termasuk Jingga.
"Gila ya, Jingga cakep banget pakai hijab Bas. Sayangnya istri orang. Hahahaha" Ucap Roy pada Bastian, Bastian hanya tersenyum getir mengingat bagaimana perasaannya pada Jingga sejak lama.
__ADS_1
Jingga hanya mengerucutkan bibirnya lalu kembali berbincang dengan teman wanitanya.
Setibanya di hotel xx , mereka ber enam melangkah masuk ke ballroom hotel tersebut. Rupanya teman-teman kampus Jingga sudah banyak yang datang. Mereka mengenakan pakaian senada sesuai dengan perjanjian beberapa hari lalu.
Gaun, Jas, bahkan kemeja berwarna navy memenuhi ruangan ini. Jingga dan teman-temannya menuju meja bundar yang kosong setelah bersalaman dengan beberapa tamu yang tak lain adalah teman sekampusnya.
"Eh gila ya, si Jingga istri horang kayah sekarang. Dandanannya buseeeet dari ujung kepala sampe ujung kaki pasti barang mahal semua" ucap wanita ber rambut panjang
"Paling juga uang suaminya" kata wanita di sebelahnya
"Eh dia masih kerja loh, jangan asal tuduh. Bisa aja dia pake duit sendiri. Julid amat jadi orang" kata salah seorang teman yang juga akrab dengan Jingga.
Jadi bahan gosip bagi Jingga adalah hal biasa, apalagi semenjak dirinya menikah dengan seorang Raihan yang terkenal di dunia bisnis. Bahkan wajahnya sering muncul di tv dan surat kabar.
Selain tampan dan dingin, Raihan terkenal dengan kesuksesan karirnya di usia muda. Tapi itu tidak membuat Raihan besar kepala. Baginya, masih ada yang perlu di raih di masa depan.
*****
Mempelai pria baru saja selesai mempersembahkan satu lagu untuk istri dan para tamu undangan. Tak disangka ternyata setelah itu Rifki malah meminta Jingga untuk naik ke panggung dan menyanyikan sebuah lagu. Jingga awalnya ragu dan ingin menolak saja. Tapi sayang, semua teman-teman dekatnya malah memaksa Jingga. Akhirnya mau tidak mau Jingga pun menuruti keinginan pak dosen yang malam ini sedang jadi raja sehari.
Jingga membisikan sesuatu pada salah satu pengiring musik lalu Jingga mulai bernyanyi.
Kali ini Jingga menyanyikan lagu dari penyanyi Indonesia yang cukup terkenal.
Simfoni hitam - Sherina Munaf (dengerin di youtube, liriknya dalem banget buat yang paham)
Tak terasa bola mata Jingga berkaca-kaca karena terlalu menghayati lagunya. Usai itu riuh tepuk tangan dan suitan terdengar ramai. Jingga mengucapkan terimakasih lalu meletakan microphone tersebut di tempatnya semula.
"Lo nangis Ngga?" tanya Bastian meraih kedua bahu Jingga untuk melihat wajahnya. Jingga menepis cengkraman Bastian di bahunya.
"Gis anter gue pulang sekarang" ucap Jingga tiba-tiba. Tanpa banyak bicara Giska langsung bangun dari duduknya karena sudah lama mengenal Jingga. Dia paham betul bahwa saat ini suasana hati Jingga sedang tidak baik
"Gue yang nyetir !" ucap Bastian merebut kunci mobil pada Giska, Giska hanya menurut.
Setengah jam kemudian mereka tiba di rumah Jingga. Jingga melihat mobil suaminya sudah terparkir rapi. Bastian sengaja tidak turun dari mobil namun sosok laki-laki memperhatikannya dari dalam jendela rumah.
"Makasih ya, hati-hati dijalan" ucap Jingga kemudian masuk ke dalam rumah. Jingga menuju kamarnya tanpa melihat sekitar, hingga dia tidak menyadari bahwa ada dua pasang mata yang memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi. Raihan dan Bhumi berada di ruang tamu. Raihan terlihat mengeraskan rahang dan mengepalkan tangannya.
"Sabar, jangan emosi. Tanya baik-baik sama istri lo" kata Bhumi mencoba menenangkan Raihan yang sedang tersulut amarahnya. Raihan langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu keras-keras.
Brakkkkk
__ADS_1
Bhumi yang mendengarnya langsung bergidik ngeri kemudian pergi meninggalkan rumah Raihan.