
"Assalamualaikum" ucap seseorang di balik pintu. Seketika suasana yang tadinya ramai penuh candaan menjadi sedikit canggung setelah pria pemberi salam masuk ke dalam rumah.
Siapa dia? pria dengan setelan jas berwarna cream, rambutnya sedikit acak-acakan, dasinya pun sudah sedikit longgar kebawah.
Hampir saja Jingga tidak mengenali suaminya sendiri, penampilan Raihan saat ini benar-benar seperti orang yang baru saja di PHK.
Jingga menarik tangan suaminya mengajaknya menaiki tangga lalu masuk ke kamarnya setelah membiarkan dia menyapa keluarganya yang sedang bersantai di ruang keluarga.
Jingga menyipitkan matanya, memandangi wajah tampan itu dengan seksama, sesekali ia memutar tubuh Raihan ke kanan dan ke kiri. Dia memperhatikan penampilan suaminya yang tidak seperti biasa.
"Kamu kenapa mas? ini rambut juga kenapa? habis kena angin topan? hmm?" kata Jingga merapikan rambut Raihan sedikit. Raihan dengan sigap meraih kedua tangan istrinya dan melingkarkannya di tubuhnya. Saat ini Raihan hanya butuh pelukan, sebuah pelukan yang menenangkan.
"Jangan marahi mas Airin, mas lelah. Mas cuma pengin peluk kamu sekarang" katanya sambil memejamkan matanya, seakan sedang menikmati aroma tubuh sang istri yang ia rindukan.
Sejujurnya aku punya banyak pertanyaan untukmu mas, tapi melihatmu seperti ini, aku jadi tidak tega. batin Jingga
"Kamu mandi dulu ya, nanti kita ngobrol lagi" kata Jingga sambil mengurai pelukannya. Jingga meraih handuk dari lemari kemudian mendorong Raihan masuk ke kamar mandi. Setelah menutup pintunya Jingga bersandar pada pintu.
Perjalanan rumah tanggaku kali ini sangatlah rumit, tapi aku ikhlas apabila setelah hujan tuhan akan berikan pelangi yang indah untukku. gumamnya
Raihan membuka ponselnya usai membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Ada pesan masuk dari nomor baru kemudian ia membukanya.
"Tik tok tik tok"
Dia tahu ini pasti nomor James, seakan James memberinya peringatan bahwa James selalu mengawasi gerak gerik Raihan.
Kreeekkk (suara pintu)
"Chat dari siapa mas?" tanya Jingga menyelidik
"Eh.. ehmm enggak. Nggak ada, cuma baca chat kantor" Raihan gelagapan menjawabi pertanyaan Jingga, Raihan tahu bahwa istrinya itu tidak mungkin langsung percaya.
Melihat raut wajah Raihan yang seperti tak ingin ditanya lagi, Jingga memiringkan bibirnya langsung merebut handphone Raihan dari tangannya dan segera meletakannya di atas ranjang.
"Makan dulu yuk mas, udah ditunggu yang lain" Ajak Jingga dengan ramahnya, wanita hamil itu memilih untuk mengesampingkan egonya saat ini. Lagipula kalau dirinya terus berpikir yang tidak tidak tentu akan membuatnya stres dan berdampak buruk pada tiga janinnya.
Raihan mengangguk kemudian Jingga meninggalkan Raihan lagi di kamarnya supaya mengganti pakaiannya.
__ADS_1
"Abi bawa apa itu?" Jingga mengambil langkah seribu saat mendapati keponakannya dengan dua kantong plastik yang terlihat berat. Jingga membantu membawanya ke ruang makan.
"Mangga dari paman, tapi masih muda tante makannya nanti tunggu mateng" sahut Abi
"Tante mau ah, dibikin rujak enak ya kayaknya" Jingga membayangkan rujak mangga hingga menelan salivanya sendiri
"Bilang makasih nggak tadi bi?" Ayu tiba dari dapur membawa beberapa piring lauk untuk makan malam
"Bilang dong ma, Abi bilang terimakasih sama paman" Ayu membubuhkan kecupan singkat pada pipi putranya.
"Pinter kamu nak, harus makin pinter ya soalnya kan sebentar lagi jadi abang" kata Ayu menepuk pundak Abi bangga.
"Kinan juga jadi kakak ma" ucap Kinan sambil cemberut karena sejak tadi hanya Abi yang ditanya-tanya.
"Iya sayang, kakak Kinan. Gitu ya?" Ayu mengembangkan senyumnya, mengusap puncak kepala Kinanti.
Semua orang sudah duduk di kursi makan begitu juga dengan Jingga, Raihan duduk di sebelah Jingga. Sesekali Raihan menatap istrinya yang baginya semakin hari semakin cantik. Meski dalam hatinya banyak sekali yang ingin di utarakannya pada Jingga, tapi tetap saja Raihan lebih memilih untuk diam dan menyimpannya sementara waktu.
Jingga sama sekali tidak menolehkan wajahnya untuk menatap Raihan. Dia menjaga hatinya sendiri, untuk tidak terus emosi pada suami tampannya itu. Jingga mengunyah makanannya perlahan, Raihan di sampingnya masih setia memandang wajah istrinya selagi makan.
"Kok rumah ayah? itu kan rumah kita. Rumah bunda juga rumah Kinan" Raihan menengguk air mineral. Entah kenapa mendengar pernyataan yang memang benar adanya itu membuat hati Jingga menghangat. Sejujurnya Jingga tidak bisa menebak isi hati suaminya itu seperti apa, bahkan terkadang dia merasa belum mengenal suaminya dengan baik.
Jingga akhirnya menolehkan wajahnya supaya menatap suaminya. Raihan tersenyum kecil, Jingga pun membalas senyuman itu.
"Jadi itu rumah Kinan juga ya yah?" tanya Kinan lagi, membuat Raihan menganggukan kepalanya.
"Yeeeey, Kinan punya rumah. Nek? Kinan punya rumah nekkkk" seru bocah kecil itu, sambil menggoyang-goyangkan kepalanya. Menggemaskan! kata Raihan dalam hati
"Iya sayang, kan ayah yang bilang tadi. Itu juga rumah Kinan" Ajeng mengusap sayang rambut panjang si gembil yang sedang ia suapi.
******
Esok paginya Raihan sudah tiba di kediamannya sendiri, ia berhasil membawa pulang istrinya. Tidak seperti dugaannya, mungkin akan sedikit sulit membujuk Jingga pulang. Dia baru ingat kalau istrinya itu sangat penurut. Tapi sayangnya, Raihan menangkap sedikit perubahan dalam diri istrinya. Jingga sedikit pendiam, hanya bicara ketika Raihan mengajaknya bicara.
"Sayang? kamu lagi pengin apa? kebetulan hari ini mas nggak ke kantor" Jingga hanya menggeleng tanpa suara. Raihan bingung, bagaimana membuat istri cantiknya itu menjadi seceria biasanya. Karena memang sudah biasa Raihan menjadi pria yang tidak peka. Maka Jingga tak heran jika hanya dengan sekali gelengan langsung membuat pria itu diam seribu bahasa.
Jingga memainkan ponselnya sambil berbaring membelakangi Raihan. Sedangkan Raihan sedang memangku laptopnya kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ditengah kesibukannya Raihan membuka email masuk dari Bhumi. Yang mana isinya adalah data data calon pendonor untuk Rya. Menyadari Jingga yang tiba-tiba berbalik, Raihan langsung menclose merubah tampilannya menjadi tampilan youtube.
__ADS_1
"Tadi apa mas?" Jingga akhirnya bersuara juga
"Bukan apa-apa sayang, istirahat lah. Nanti sore kita jalan-jalan" Raihan mengelus pipi Jingga kemudian melipat laptopnya meletakannya di atas nakas. Jingga kembali membelakangi Raihan, membiarkan lengan kekar itu melingkar di perutnya. Sesekali Raihan mengelus perut Jingga yang mulai berubah bentuk itu. "Boy's sehat selalu ya, jangan menyusahkan bundamu. Ayah menyayangi kalian" katanya seakan sedang berbicara dengan ketiga calon buah hatinya
"Boy's?" Jingga mengernyit bingung
"Hanya firasat, mas merasa mereka ini semuanya laki-laki" Raihan menyimpan wajahnya di ceruk leher Jingga. "Sayang? Zayn bilang kamu tidak boleh banyak pikiran. Mulai sekarang kalau ada yang ingin kamu tanyakan sama mas, tanya saja ya" kata Raihan lagi
Ada apa dengan mas Raihan? tanya Jingga dalam hati
"Apa saja?" Jingga sedikit menoleh ke arahnya, Raihan mengangguk.
"Ya, apa saja"
"Kemarin kamu kemana aja mas? kenapa nggak kasih kabar?" Raihan melipat bibirnya kedalam mendengar pertanyaan Jingga, dia bingung harus menjawab apa. Dia juga tidak ingin berbohong pada istrinya
"Mas nyusulin mami sama Ryu sayang" jawab Raihan jujur meski tidak sepenuhnya ia ceritakan. Tidak mungkin dia menceritakan soal pertemuannya dengan Felicia, ini belum saatnya.
"Oh" Jingga sangat kesal, seberapa sibuknya suaminya itu hingga tidak sempat mengabarinya. Tidak mungkin hanya bertemu mami dan Ryu. batinnya. "Nggak bohong kan mas?"
"Mana ada mas bohongin kamu, tanya sama mami aja yang kalo nggak percaya"
Sayang sekali posisi mereka saat ini sedang tidak berhadapan, Jingga tidak bisa melihat ekspresi wajah Raihan, jadi ia tidak bisa memastikan suaminya sedang jujur atau malah sebaliknya.
.
.
.
.
.
.
Santai dikit kali ini 😄
__ADS_1