Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Yogyakarta


__ADS_3

Kami sudah tiba Yogyakarta. Dalam perjalanan ke rumah uti, aku terus memandangi layar ponselku. Aku menunggu sebuah kabar. Kabar dari seseorang yang tidak mencintaiku. Orang itu adalah mas Raihan.


Mas Raihan sama sekali tidak mengirim satu pesan pun. Untuk itu aku mencoba peruntungan dengan mengirim pesan pada Bhumi asistennya.


"Assalamualaikum"


5 menit kemudian Bhumi baru membalas pesanku. "Waalaikumsalam nona Jingga"


"Lagi dimana?"


"Saya di rumah sakit nona. Ada apa? Apa nona perlu sesuatu?"


"Nggak usah terlalu formal sama saya, kalo nggak ada mas Raihan panggil nama aja kaya biasa"


"Oke, gimana. Perlu sesuatu?"


"Lagi sama mas Raihan nggak?"


"Iya nih"


"Dimana?"


"Di rumah sakit"


Ternyata benar dugaanku, mas Raihan masih bersama Felicia. Pantas saja dia tidak mengirimiku pesan.


Tak lama kemudian kami tiba di rumah eyang uti. Sekertaris Dimas membawakan dua koper milik kami masuk ke dalam. Tok tok tok


"Assalamualaikum" ucapku bersamaan dengan Dimas. "Waalaikumsalam" jawab seseorang dari dalam sana. Seperti dugaanku, dia adalah Muhammad. "Ya Allah mbak, nggak bilang-bilang mau dateng. Ayo mbak , mas Dimas masuk. Uti pasti seneng banget kalian dateng nih" kata Muhammad dengan gembira.


Kami masuk ke ruang keluarga tempat uti biasa menonton tv. Sebelum aku, Dimas terlebih dahulu mencium tangan uti dengan posisi sungkem. Uti mengusap sayang rambut Dimas. Kemudian Dimas mengecupi kedua pipi lalu kening uti dengan lembut.


Aku pun melakukan hal yang sama, karena itu memang kebiasaan kami dari kecil. Uti tersenyum menatap aku dan Dimas.


"Sini duduk" pinta uti padaku. Akupun menurut, Dimas duduk di sampingku. Muhammad ke dapur membuatkan teh untukku dan Dimas. Uti memulai obrolan dari yang ringan hingga obrolan serius. Kami bernostalgia saat dimana kami masih sangat kecil hingga aku dan Dimas berada di masa putih abu-abu.


Uti sangat menyayangi kami, Dimas sudah seperti keluarga bagiku. Sedari kecil Dimas sudah di asuh oleh kakek dan neneknya. Dulu uti tinggal di Jakarta bersama keluargaku yang lain. Saat aku kelas 2 sma uti kembali ke Yogyakarta untuk menikmati masa tua di kota kelahirannya. Aku sering bolak balik Jakarta Yogya hanya untuk singgah ke tempat uti. Dan selalu bersama Dimas tentunya. Uti sangat menyayangi Dimas seperti cucunya sendiri. Yogyakarta adalah kota paling bersejarah bagiku. Karena di sini, di kota ini pertama kalinya aku bertemu dengan mas Ridho.


Beberapa menit berlalu, tak terasa sudah hampir satu jam kami berbincang. Uti akhirnya meminta kami untuk beristirahat.


"Dimas sama Muhammad nggak apa-apa to?" tanya uti


"Iya uti, Dimas tidur sama uti juga nggak apa-apa. Hehehe" Dimas terkekeh sambil merangkul bahu uti.


Aku meninggalkan mereka kemudian masuk ke kamarku sendiri. Aku membersihkan diriku kemudian melaksanakan ibadah seperti biasanya.

__ADS_1


Setelahnya aku membaringkan diri di ranjang. Ku lirik lagi layar ponselku. Aku benci pada kenyataan bahwa aku masih saja menanti kabarnya. Kabar pria itu ! Suamiku yang tidak mencintaiku. Meskipun saat aku mendapat pesannya aku mungkin tidak akan membalasnya. Ting ting ting..


Aku segera membuka whatsapp dan mengecek siapa yang mengirim pesan. Mas Raihan rupanya. Aku segera membukanya.


"Airin, aku nggak bisa jemput. Kalau mau pulang sekarang bilang ya. Biar Bhumi yang jemput"


"Rin?"


"Kamu lagi ngapain?"


Cih ! Jemput? Haha ! Lucu sekali. Jemput saja mas ! Kamu nggak akan pernah ketemu sama aku. Dasar pria jahat ! Tidak berperasaan. Bisa-bisanya kamu selingkuh secara terang-terangan begitu.


Aku benar-benar akan mengabaikanmu mas ! lihat saja.


Mas Raihan menelfonku, aku hanya membiarkan ponselku terus berbunyi. Mas Raihan sudah mempermainkan perasaanku. Bahkan perasaan putriku Kinanti. Jahat memang ! Pria kejam.


"Airin kamu online tapi kenapa nggak balas pesanku? Apa ada masalah?" pesannya lagi. Aku mengacuhkannya hingga akhirnya aku mengantuk dan tidur.


Esok paginya aku memutuskan untuk tidak melihat ponsel. Aku berencana mematikannya seharian. Aku ingin membuat hatiku terbiasa tanpa mas Raihan. Soal keluargaku? mereka bisa menghubungi Dimas , uti , atau Muhammad. Kalau soal kerjaan, aku sudah tidak perduli lagi. Aku yakin sahabatku Dimas tidak akan membiarkanku hidup lontang lantung tanpa pekerjaan. Muhammad berangkat ke kampusnya, uti akan mengunjungi rumah tante Lian. Anak bontotnya, Jadi dirumah tinggal aku dan Dimas saja.


"Kalo nggak ada rencana kemana mana. Lo ikut aja ke tempat kerja gue. Tapi itu kalo lo mau" ucap Dimas sambil menikmati sebatang rokoknya.


"Hmm boleh. Lo bisa gak jauhin pembunuh itu dari gue !" kataku kesal. Aku sangat benci dengan asap rokok. Hanya Dimas yang berani merokok di dekatku. Dan aku juga baru tahu dia merokok. Entah sejak kapan, mungkin itu terjadi saat dia masih tinggal di Amerika.


Dimas langsung tahu maksudku dan mematikan rokoknya. "Bentaran , gue mandi dulu. Mandi kilat" capnya sambil melangkah pergi.


Aku mengenakan celana jeans berwarna putih dan kemeja abu-abu yang ku masukan kedalam celana. Aku mengikat rendah rambutku. Aku langsung menuju teras rumah menunggu Dimas. "Pake ini" Dimas melempar sebuah kacamata hitam. "Kenapa pake ini?" tanyaku bingung.


"Pake aja, gue juga pake nih" katanya sambil memasang kacamatanya.


Dimas mengenakan setelan jas, dia memang teman kecilku yang tampan. Wajahnya tampannya itu diwariskan oleh papanya. Wajah ke bule bulean yang memang sudah jadi favorit sejak dulu. Ingat jaman sekolah saat dimana aku menjadi kurir cewek-cewek di sekolah. Ada yang sekedar menitipkan cokelat, surat, dan lain-lain untuk Dimas. Dimas menerimanya, jika itu surat dia akan membuangnya ketika sampai di rumah. Dan jika itu makanan dia akan membaginya denganku tentu saja. Bagaimanapun juga kami adalah partner. Hehehe


Tak butuh waktu lama kami tiba di sebuah gedung besar. Jika ku tebak gedung ini kurang lebihnya berlantai 20han. CO Hotel's , salah satu usaha keluarga Dimas. Hotel yang diwariskan turun temurun dari keluarga papa Dimas.


Aku masuk kedalam mengimbangi langkah Dimas. Kedatangan kami disambut beberapa pegawai hotel yang membungkukan badannya.


"Jingga ,lo jalan-jalan gih. Mau spa, mau makan, mau ngapain aja terserah lo. Gue ada meeting di atas. Tapi kalo lo mau ikut , ayo" ucap Dimas sambil terus melangkahkan kakinya. Aku menggeleng menolak. "Cieee yang udah jadi orang sibuk" godaku sambil menyenggol lengan Dimas menggunakan siku. "Ini meeting penting banget nih. Calon investor yang mudah-mudahan deal. Gue mau bikin mall di depan sana" katanya sambil menunjuk ke arah luar.


"Oh, dek dekan nggak lo?"


"Lumayan sih, soalnya dia bilang pengen dateng kesini langsung liat-liat usaha gue yang lain. Yaudah gue suruh ke hotel aja. Mudah-mudahan goal ya. Gue belum tau siapa orangnya." aku mengangkat sebelah alisku. "Kok bisa sih? jadi lo belum tau siapa yang bakal lo temuin ?"


"Dia temen lama papa. Papa yang komunikasi sama dia. Papa bilang hari ini dia bakal dateng, gue cuma nurutin perintah papa aja. Kalo soal investor , gue percaya sama papa. Dia lebih banyak relasi dari pada gue. Jadinya gue nurut aja. Udah ya bye !" Dimas masuk ke dalam lift. Aku memutar balik tubuhku , aku memang berniat jalan-jalan hari ini untuk sekedar melupakan masalahku.


Aku menyusuri jalan tanpa kendaraan, ku biarkan kaki ini melangkah kemanapun ia suka. Semakin jauh aku melangkah, namun rasanya semakin berat kurasakan. Sepertinya keputusanku untuk berjalan-jalan sendirian memang salah. Apa aku menyusul Muhammad saja ke kampusnya? Dia pasti mau menemaniku berjalan jalan disini.

__ADS_1


Aku mengirimi pesan singkat untuk Muhammad, tak lama kemudian Muhammad langsung membalas pesanku.


"Nih aku shareloc mbak, jangan nyasar" aku langsung menuju kampusnya dengan kendaraan umum.


Sekitar sepuluh menit akhirnya aku tiba di depan universitas xxxxxx. Aku menelfon Muhammad namun dia balas merejectnya. Dia hanya mengirimiku pesan lagi. "Tunggu bentaran mbak, masih ada dosen. Tunggu di kantin, cabal eaaaaaa"


"Y" singkatku membalasnnya kemudian aku masuk kedalam mencari keberadaan kantin. Beberapa orang terlihat memperhatikanku, aku membiarkan mata mereka puas dengan keinginannya untuk menatapku. Sampai di kantin, aku memesan segelas jus mangga sambil menunggu Muhammad. Penjual minuman itu mengantar minumannya kemudian duduk di kursi panjang tepat di depanku.


"Mbak? baru ya disini?" tanya wanita berusia 40 han tersebut.


"Iya bu, saya baru sampe, hehehe"


"Ishhh bukan itu, Mahasiswi baru ?"


"Emangnya kenapa bu? Kalo baru kelihatan banget ya?" kataku sambil menyunggingkan senyum kecil.


"Lha iya to , tuh liat. Banyak yang perhatiin kamu mbak. Soalnya mbak'e wajah baru disini"


aku mengedarkaan pandanganku ke kanan dan ke kiri. Benar saja kata si ibu, mereka memang curi curi pandang melihatku.


"Hehe bu, saya bukan anak baru. Saya kasih tau tapi ibu jangan bilang-bilang ya" aku mencoba membuat gurauan untuk memecah kecanggungan ini. "Opo mbak?"


"Aku kesini mau ketemu Muhammad, yang ganteng itu loh. Hahaha" tawaku lepas saat melihat bu kantin melongo mendengarku menyebut nama Muhammad.


"Mbak pacarnya ya? tapi wajahnya rada rada mirip ya sama mas ganteng itu. Atau jangan jangan jodoh sama Muhammad mbak'e" katanya sambil nyengir kuda. Aku tertawa lagi. Hahaha hahahahaha mirip banget ya aku sama Muhammad? Sampe dibilang jodoh. Ya iyalah, orang Muhammad adek gue.


Brakkkkkk. Suara gebrakan meja memecah tawa kami.


"Siapa yang ngaku-ngaku pacarnya Muhammad?" tanya perempuan yang baru saja tiba. Ku pandangi dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Cantik !


"Jangan bengong dong, lo yang ngaku-ngaku pacar Muhammad kan? tadi gue denger !" perempuan itu menunjuk wajahku. Sepertinya dia berasal dari Jakarta dilihat dari caranya bicara. Aku sengaja diam tak ingin meladeninya.


"Lo anak baru ya?" kata perempuan lain di sebelahnya.


Yaelah bambang, elo elo mulu. Gue lebih tua dari lo tau. Memang ini salah wajahku yang teramat baby face. Hahahaha gumamku.


"Sayang, udah lama?" Muhammad menghampiriku kemudian mengecup keningku. Ingin rasanya aku tertawa dan memukulnya sekarang juga. Muhammad malah ikut berdrama ria denganku. Muhammad duduk di sebelahku kemudian menengguk jus manggaku di depan dua perempuan tadi.


"Bu, mie ayam satu. Pake ceker , jangan lupa cekernya yang sebelah kanan. Hehehe"  Seru Muhammad pada penjual mie ayam membuatku tertawa bersama ibu penjual jus tadi. Dua perempuan itu belum beranjak dari tempatnya berdiri, malah dia berkecak pinggang melototiku terus.


"Sayang kenalin, ini mereka fans berat aku. Namanya Yana dan Ghea. Biasa dipanggil upin ipin. Hahahaha"


"Hahahahaha" aku terbahak saat Muhammad mengenalkan dua perempuan tadi sebagai tokoh animasi. Begitu juga yang mendengarnya selain diriku, Ibu penjual jus ikut tetawa. Dua perempuan tadi semakin menatapku dengan tatapan benci.


"Kok upin ipin sih . hahahaha" tanyaku sambil memukul bahu Muhammad keras membuatnya meringis.

__ADS_1


"Aduh... hahaha soalnya mereka selalu bersama-sama. Satu kost, satu meja, satu kelas, bahkan satu tujuan" kata Muhammad sambil mengusap bahunya tadi. Mata perempuan bernama Yana tadi tampak berkaca-kaca kemudian lari meninggalkan kami. Ghea menyusul di belakangnya.


"Kamu hutang penjelasan sama mbak !" bisikku sambil mencubit perut Muhammad.


__ADS_2