Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Resign


__ADS_3

Malam hari Raihan sedang memeriksa email dari Bhumi. Dia sedikit merasa lega, mengingat daftar pendonor itu tidaklah sedikit. Ia berharap salah satunya akan menjadi pendonor yang cocok untuk Rya, putri James dan Mikha. Dia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melindungi Ryu. Raihan tidak mungkin tega membiarkan putra yang tidak bersalah menjadi korban keegoisan James.


Raihan melihat Jingga yang sudah masuk ke dalam selimut terlebih dahulu, istri cantiknya itu kelelahan setelah sore tadi menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan dengannya. Meskipun Jingga lebih banyak diam, juga moodnya yang sering naik turun. Namun Raihan selalu sabar menghadapinya. Mungkin itu hukuman untuknya karena selama ini dia belum membahagiakan istrinya.


"Airin maafkan aku" Lirih Raihan nyaris tak terdengar, Jingga menggeliat kecil ketika Raihan mengusap-usap perutnya. Jingga membalikan tubuhnya kemudian memeluk tubuh atletis Raihan tanpa disadarinya. Melihat Jingga yang hanya mengenakan dress tidur tanpa lengan itu membuat sesuatu yang ada di bawah sana bereaksi sebagaimana mestinya. Kalau saja Jingga tidak tidur senyenyak ini, mungkin Raihan sudah melahapnya habis-habisan.


Perlahan Raihan melepaskan pelukan istrinya supaya tidak membuatnya terbangun, dengan sangat hati-hati dia bergeser kemudian turun dari ranjang. Mau tidak mau malam ini dia harus mandi air dingin untuk menidurkan adik kecilnya itu. Argghhhhhhhhh. Raihan yang merasa frustasi sendiri karena hasratnya malam ini tidak dapat tersalurkan.


Keesokan harinya Raihan bangun lebih awal, tidak biasanya istri cantiknya itu bangun terlambat. Raihan tersenyum simpul kala melihat kaki mulus itu berada di atas perutnya yang sixpack. Airin benar-benar menganggapku seperti bantal guling sepertinya.


Drrrttt Drrrrtttt


Raihan melihat ke atas nakas mendengar getaran itu, layar ponsel Jingga tiba-tiba menyala karena sebuah pesan yang masuk. Raihan meraih ponsel istrinya kemudian membukanya. Jarang sekali Raihan mengecek isi ponsel istrinya, tiba-tiba saja pagi ini dirinya ingin melakukan hal itu.


Raihan membuka sebuah aplikasi chat yang ada di ponsel Jingga. Satu pesan dari nomor tak dikenal, pesan itu berisikan video.


Raihan segera membukanya, tampak sepasang manusia yang sedang berdiri di sebuah kamar, tak lama kemudian si wanita langsung mencium bibir pria tersebut. Video itu sangatlah familiar bagi Raihan, karena sebenarnya pria dalam video itu adalah dirinya. Sesuai dugaannya, ini adalah ulah Felicia. Raihan mengepalkan tangannya, bahkan dia meremas ponsel Jingga kuat-kuat. Dia segera menghapus video itu kemudian memblokir nomor baru Felicia.


Kalau begini caranya, aku benar-benar akan membereskanmu Fel ! tunggu saja tanggal mainnya. Gumam Raihan


Raihan tiba-tiba ingin membuka galery foto dan video Jingga, tidak biasanya dia kepo. Menggeledah semua celah dalam ponsel istrinya, berikut pesan, sosial media, daftar panggilan terakhir, foto, dan juga video.


Namun Raihan menangkap sebuah kejanggalan dalam beberapa foto pada galery Jingga. Benar sekali, itu adalah foto Felicia dengan seorang pria, dia terlihat mesra sekali. Saat Raihan membuka keterangan fotonya, betapa terkejutnya Raihan ketika mendapati foto itu diambil pada bulan yang sama saat Jingga baru bekerja dengannya. Dia juga memperhatikan pria itu dengan seksama. Raihan tersenyum sinis. Rupanya selama ini Felicia berselingkuh.


Berarti selama ini Feli membodohiku, dia bermain dengan pria lain di luar sana. Aku akan menjadikannya senjata Fel. Aku yakin kamu melakukan hal yang lebih dari itu mengingat aku selalu menolak ajakanmu untuk bercinta. Batin Raihan


Raihan kemudian mengirim semua foto itu ke ponselnya sendiri. Lalu meneruskannya pada Bhumi. Detik setelahnya Raihan mengetik pesan untuk Bhumi.


"Bhum, cari tahu siapa pria ini. Gue butuh info yang detail dan juga cari tahu hubungan mereka sejauh apa"


Pesan terkirim, berbarengan dengan Jingga yang menggeliat kecil sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Raihan menarik sudut bibirnya, kemudian mengecup pipi Jingga.


"Selamat pagi sayang" ucap Raihan ramah membuat Jingga tersenyum. Tiba tiba Jingga menutup mulutnya. Matanya membulat sempurna, dia segera turun dari ranjang menuju toilet dan berjongkok di depan closet.


Hoeeekkkk... Hoeekkkk... Dia memuntahkan isi perutnya sampai habis, hanya cairan kuning pahit yang keluar. Tentu saja, sebab pagi ini Jingga baru saja bangun dan perutnya masih kosong. Raihan yang terkejut melihat istrinya sedang muntah sampai air matanya keluar dari manik cokelat itu. Dengan sigap memapah tubuh istrinya menuju ranjang kembali setelah ia membantunya bebersih.


"Jadi kamu masih mual gini kalo pagi?" Raihan mengusap usap perut Jingga sambil menatap matanya intens


"Kadang-kadang aja mas, nggak setiap hari" Jawab Jingga lemas menyandarkan kepalanya di bahu Raihan. Raihan merasa iba pada Jingga, ternyata selama ini dia tidak begitu perhatian pada istrinya buktinya morning sickness yang Jingga alami saja Raihan masih bertanya. Ya Allah, suami macam apa aku ini. tanyanya dalam hati


"Sayang, kalau ingin sesutu bilang aja ya. Insha Allah mas turuti keinginanmu itu" Raihan memandang kedua manik cokelat istrinya. Jingga mengangguk pelan.


"Hari ini mas harus berangkat, ada banyak pekerjaan yang nggak bisa di tunda. Kamu di rumah aja ya, nanti hubungi Giska atau temanmu yang lain itu. Kalau butuh sesuatu langsung hubungi mas"


"Mas usahakan menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin supaya bisa pulang nemenin kamu. Oke?"


"Iya mas, terimakasih"


"Kamu udah mendingan belum?" tanya Raihan , Jingga mengangguk


"Sholat dulu yuk?"

__ADS_1


Kemudian keduanya beribadah bersama, setelah itu Raihan kembali meminta Jingga beristirahat selagi Raihan bersiap diri. Dia mengenakan setelan jas seperti biasa. Padahal ini masih pukul 6 pagi. Jingga jadi bertanya-tanya. Mau kemana dia jam segini? batinnya


Raihan berpamitan, mengecup kedua pipi Jingga.


"Mas berangkat dulu, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, hati-hati" sahut Jingga


Di luar , Raihan menghampiri Sifa yang tengah menyiram tanaman. "Sif, nanti antar sarapan Jingga ke kamarnya"


"Baik tuan"


Raihan segera masuk ke mobilnya bergegas pergi meninggalkan rumah besarnya itu.


Di Apartemen


Jerry memainkan jemarinya di meja kerjanya, rekaman yang ia dengar dari bolpoint itu membuatnya gusar semalaman. Bagaimanapun juga Ryu adalah keponakannya. Jerry segera menghubungi Bhumi untuk menemuinya di apartemen.


"Bhum bisa temuin gue di flat?"


"Sorry, nggak bisa bro. Gue udah di tunggu Raihan di rumah sakit"


"Jadi lo udah dapet pendonornya?"


"Jadi lo udah tau?"


"Dari rekaman bolpoint Bhum"


"Hmmmm, gue cuma khawatir Bhum"


"Pendonornya banyak, tapi kita nggak tahu salah satu di antara mereka ada yang cocok atau enggak"


"Gue bakal bantu nyari, semampu gue Bhum" Tut, Jerry mematikan sambungan telefonnya. Kemudian melangkah menuju kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di sisi seorang wanita tanpa busana yang masih bergelung di balik selimut.


"Bangun, dan pergilah. Uangmu ada di meja. Cepat" Jerry menggoncang tubuh wanita itu, sejurus kemudian wanita itu terbangun. Memunguti pakaiannya yang berserakan dan mengenakannya, lalu ia melangkah menuju meja yang Jerry maksud, ia meraih uang dalam amplop tersebut sambil melenggang pergi keluar dari apartemen Jerry.


"Sudah beberapa kali berganti teman gulat, tapi kenapa rasanya nggak seenak saat bermain dengan Giska????" tanya Jerry kembali memejamkan matanya. "Tiba-tiba aku jadi menginginkan Giska"


"Huh bodoh, bicara apa kau ini Jerr!!! Giska sudah tidak berada di sisimu sekarang" Jerry merutuki kebodohannya sendiri.


 ******


"Kenapa lo kelihatan gelagepan banget? ada apa?" Raihan memicingkan matanya memandang Zayn yang tengah membolak balik sebuah dokumen di tangannya.


"Gue keteteran bang, asisten gue resign" ucap Zayn dengan wajah cemas "Mana dadakan banget, tiba-tiba besoknya udah ada surat pengunduran diri di meja gue" katanya lagi


Brakkkk. Raihan menggebrak meja kerja Zayn "Hah? si Hasna kan? Hasna resign? Kenapa bisa?" tanya Raihan berapi-api.


"Kan gue bilang nggak tahu bang, udah lah lo jangan bikin gue tambah pusing. Nanti gue datengin sendiri ke rumahnya. Penasaran gue jadinya" Zayn meletakan dokumen tersebut ke mejanya


"Sayang banget kalo resign beneran, dia kan udah kerja sama lo bertahun-tahun" Raihan menyandarkan bahunya kembali

__ADS_1


"Iya bang, selama ini juga kerjanya bagus. Ibadahnya rajin, ramah, seneng pokoknya gue punya asisten kaya Hasna" ucap Zayn jujur


"Lo abis bikin kesalahan kali sama dia? lo abis marahin, atau yang lain gitu? kalo sampe iya, malu banget gue sama si Harun" Raihan mengutarakan isi kepalanya, pasalnya dirinya yang merekomendasikan Hasna untuk bekerja di rumah sakit keluarganya. Hasna adalah adik teman kuliahnya yang bernama Harun.


"Nggak bang, gue nggak pernah marah sama dia. Kerjaannya bener semua soalnya" jawab Zayn


"Hari terakhir ketemu Hasna, lo inget-inget tuh apa yang lo omongin sama dia. Barangkali ada sesuatu yang terjadi tapi lo lupa" Tutur Raihan mengingatkan, Raihan sangat yakin tidak mungkin Hasna keluar begitu saja. Karena belum lama ini Harun mengirim pesan padanya bahwa adiknya itu nyaman dan betah bekerja di rumah sakit milik keluarga Sulaiman.


"Nggak mungkin dia resign tanpa sebab" kata Raihan lagi


 


"Hmmm gue inget, tapi gue nggak yakin cuma gara-gara itu bang" Zayn menengadahkan kepalanya kala mengingat kejadian terakhir saat bersama Hasna


"Gara-gara apa?" tanya Raihan menyelidik dengan tatapan tak suka


"Hasna, liat gue..." Zayn menggantung ucapannya


"Liat apa!!!!!" Raihan mendekatkan wajahnya ke arah Zayn, dia sedikit mengeraskan rahangnya


"Gue ganti baju di sini, si Hasna masuk. Ya emang udah biasa sih dia masuk nggak ketuk pintu. Gue juga tumben lagi pengin ganti baju di sini, gue pikir biar cepet lagi pula nggak ada yang lihat" Raihan menganga mendengar jawaban Zayn


"Ya Allah, pantes aja" Raihan menghela nafasnya


"Pantes apa bang?"


"Dia malu. Kok lo nggak peka sih? Dia pasti malu kalo harus ketemu sama lo lagi!"


"Gue cuma ganti baju, bukan ganti celana bang"


"Lo bilang cuma?" Raihan kembali emosi "Dia itu Hasna, lo liat aja dari penampilan sama pribadinya" geram Raihan "Kalo yang liat lo itu orang lain. Mungkin nggak gini reaksinya, tapi dia Hasna. Lo tahu Hasna kan?"


"Ya ampun, gue nggak mikir sampe situ bang. Yaudah selesaikan urusan kita, abis itu gue ke rumah Hasna" Zayn mengusap wajahnya kasar


"Gue sih nggak yakin, Hasna mau nemuin lo. Paling juga sekarang lagi nyoba masuk ke rs lain"


"Belum di coba bang" Zayn tersenyum simpul "Ayo bang, kita ke lantai 3" ucap Zayn bangun dari duduknya mengajak Raihan menemui keluarga calon pendonor untuk Rya.


.


.


.


.


.


.


Masih santai 🥰

__ADS_1


Jangan lupa like dan votenya


__ADS_2