
Di tempat lain
Ryu dan Maryam sedang berkeliling di sebuah pusat perbelanjaan milik keluarga Sulaiman yang berada di kota S. Dari kejauhan tentu saja ada beberapa mata yang mengawasi gerak-gerik cucu dan nenek itu. Siapa lagi kalau bukan orang-orang James. Setelah James mengetahui tentang sosok Ryu. James selalu memata-matai Ryu lewat orang terdekat.
Selama ini tidak ada kecurigaan dari pihak Raihan. Karena James melakukan semua itu tanpa jejak dan sangat mulus.
*****
Jingga menghubungi Giska dan Luna, untuk menemaninya di rumah. Namun tentu saja sesuai tebakan Jingga, hanya Giska yang bisa hadir karena Luna masih sibuk bekerja.
Giska tiba di rumah Jingga pukul 1 siang.
Setelah beberapa lama mereka saling bertukar cerita, dan akhirnya Jingga membahas kedekatan sahabatnya itu dengan Zayn.
"Gue suka, tapi gue nggak bisa. Gue ngrasa kalo ipar lo itu emang lagi deketin gue. Tapi gue nggak bisa" Giska tersenyum getir
"Kenapa?"
"Gue nggak bisa dekat sama cowok manapun, sebelum gue liat sendiri kalo King.. eh maksud gue Jerry udah nikah sama orang lain" Giska menatap nanar wallpaper ponselnya yang sudah berubah dengan fotonya bersama Jerry. Sekian lama Giska menyembunyikan pria idamannya itu. Akhirnya terkuak juga.
"Gue ngrasa gagal jaga amanah orang tua gue, gue nggak bisa bayangin kalo orang tua gue tau" katanya lagi
"Gis, semua orang pasti punya masalalu kok. Tinggal lo nya aja mau nggak kubur masalalu lo itu?" Jingga mencoba memberi nasihat
"Gue nggak bisa, bener bener nggak bisa. Rasanya hati gue udah kekunci sama dia doang. Gue emang ada feel sama Zayn. Tapi cuma seujung ini nih" Giska menunjukkan ujung kuku jari kelingkingnya
"Zayn tiap hari telfon gue, ngisi hari-hari gue. Gue seneng, tapi hati dan otak gue menolak lupa. Kalo gue ini maunya cuma Jerry" Giska menengguk orange jusnya
"Ya udah, move on dulu deh. Baru lo bisa nerima cowo lain" Jingga menepuk nepuk pundak Giska, memberinya ketenangan
"Padahal gue tau ya, dia itu pemain. Tapi hati nggak bisa bohong"
"Ya udah lah Gis, belajar lupain Jerry mulai sekarang" kata Jingga, Giska mengangguk meski hatinya berkecamuk enggan menerima kenyataan bahwa dirinya tidak bisa melupakan Jerry, pria yang sudah merenggut semua hal berharga dalam hidup Giska.
Giska merogoh tasnya mendengar ponselnya berbunyi, dua pesan yang diterimanya dari Luna. Dengan segera Giska membuka pesan tersebut.
Gis, gue mau kasih kabar. Gue nggak tau ya lo bakal seneng atau sedih dengernya.
Gis, bawa Jingga ke caffe in jam 3 sore. 💕
"Siapa?" tanya Jingga mengintip isi pesan tersebut
"Luna nih. Kabar apa ya Ngga??" Giska mengernyitkan dahinya. Jingga hanya menaikan kedua bahunya.
~~
Raihan selesai menemui keluarga calon pendonor satu persatu yang kebetulan di rawat di rumah sakitnya. Dia tersenyum lega karena Zayn mengatakan ada kemungkinan kecocokan diantara 2 anak yang baru saja di temuinya.
"Lo tinggal hubungin James" kata Zayn
__ADS_1
"Tapi ini masih belum pasti kan?" masih ada keraguan di hati Raihan
"Iya, nanti bakal dilakukan pemriksaan ulang kalo anaknya James dateng ke rumah sakit ini" Zayn menampakan senyum terpaksanya "Sekarang, gue mau cabut. Mau ke rumah Hasna, okay?" Zayn melepas jubah kebesarannya. Kemudian ia berjalan keluar ruangan , disusul Raihan di belakangnya.
Bhumi sedari tadi tidak menemani Raihan di ruangan Zayn. Dia sedang menemui seseorang di lobi rumah sakit.
"Udah?" Raihan melangkah mendekat ke arah Bhumi yang masih mengobrol dengan gadis yang mengenakan baju pasien.
"Kakak pergi dulu" Bhumi menepuk pundak gadis itu. Kemudian pergi meninggalkannya, menyusul Raihan yang sudah terlebih dahulu berjalan ke arah pintu keluar.
Raihan mengemudikan mobilnya sendiri, begitu juga dengan Bhumi karena mereka tidak berangkat bersama pagi tadi.
******
Sore hari tiba, Giska sedang menunggui Jingga berhias. Meski usia kandungannya masih terbilang muda, tapi perubahan pada perutnya sudah mulai terlihat. Karena bukan hanya satu janin yang ada dalam perut sahabatnya itu. Giska memandang takjub melihat kecantikan Jingga yang semakin hari semakin menjadi.
"Lo kok hamil makin cantik ya?"
"Bisa aja, ini udah bawaan dari lahir gis. Hahaha" tawa Jingga terdengar sombong membuat Giska mencebikan bibirnya.
Dua puluh menit kemudian dua sejoli itu tiba di caffe in. Cafe yang terbilang sangat terkenal di kota itu, yang datang pun sebelumnya harus melakukan reservasi karena pasti ramai pengunjung.
"Atas nama Luna" ucap Giska
"Ada dua Luna nona, nama lengkap?" ucap wanita berparas cantik yang bekerja sebagai admin di caffe in.
"Deluna Situmeang" sahut Jingga ramah
"Erina" ucap Giska datar
"Oh mari ikut saya nona" wanita itu mengajak Jingga dan Giska menuju ruang VVIP. Giska mengernyit heran, tumben sekali Luna rela membuang buang uang untuk sekedar bertemu seperti biasanya.
"Silahkan nona, saya permisi" wanita itu pergi meninggalkan Jingga dan Giska yang sudah berada dalam ruangan tersebut. Di dalam sana sudah ada Erin, Luna dan Satu pria seusia Raihan.
Jingga dan Giska bersalaman dengan pria tersebut. Pria dengan dandanan rapi, yang sepertinya bukan orang sembarangan.
"Ada apa ini?" tanya Jingga melirik tajam ke arah Luna
"Wussss, to the point amat. Makan makan dulu kita" ucap Luna memberikan senyum terbaiknya
"Perasaan gue jadi nggak enak nih! jujur aja deh ada apa lo ajakin kita ketemu disini" celetuk Erin yang wajahnya sudah masam sedari tadi
"Oke, baiklah. Saya yang akan menjelaskannya" kata pria berkacamata itu. Jingga, Giska dan Erin dengan kompak mengatakan "Diam!"
"Kita mau Luna yang jelasin!" ucap Giska melipat kedua tangannya di depan dada
"Yaudah pak, biar saya saja" kata Luna formal
"Guys, gue bakal merantau lebih jauh" Luna menatap ketiga sahabatnya bergantian
__ADS_1
"Maksud lo?" tanya Jingga seakan menduga-duga isi kepala sahabatnya itu
"Malaysia, gue bakal pindah kesana" Luna menarik sudut bibirnya hingga menampakan senyum kecil. Begitu juga pria yang duduk di sebelahnya.
Ketiga sahabat itu menatap Luna dengan tatapan yang sulit di artikan. "Sekalian gue lanjutin pendidikan S2 gue disana guys. Gue harap kalian dukung keputusan gue" ucap Luna penuh harap
"Siapa yang bakal biayain kuliah lo disana?" Erin mencemaskan sahabatnya, karena memang diantara mereka semua hanya Luna yang perekonomiannya minim.
"Saya" ucap pria bernama Fauzan itu tersenyum ramah "Saya dipindah tugaskan, kebetulan cabang di Malaysia itu masih terbilang baru. Makanya saya butuh orang-orang yang kompeten seperti Luna. Tidak hanya Luna, saya membawa serta 3 staf lain yang sudah saya percaya" tambahnya
Jingga, Giska, hingga Erin terdiam cukup lqmq. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing,
"Selamat ya Lun" ucap Jingga memecah keheningan "Gue turut bahagia buat masadepan cerah lo" katanya lagi
"Jangan lupain kita ya" Erin menimpali
"Tenang aja, gue bakal sering bolak-balik ke sini. Kan deket cuma di Malaysia. Hehehe" Luna terkekeh, sejujurnya ia tak kuasa menyimpan sejuta kesedihannya, mengingat bagaimana dirinya akan terpisah jarak dan waktu dengan para sahabatnya itu, selama ini Luna hanya memiliki mereka sebagai kekuatan untuknya bertahan hidup di kota besar ini.
Mereka pun hanya memesan minuman sore itu, karena memang bukan waktunya makan. Jingga memilih berpamitan, dia ingin mengunjungi mantan bosnya.
Giska menemaninya, dia sudah bertekad akan menutup mata dan hatinya apabila bertemu Jerry.
Jingga sudah berada di lantai tempat dimana ruangan Raihan berada. Dekat dengan lift ada sebuah ruangan luas yang hampir sama besarnya dengan ruangan Raihan. Itu adalah ruang kerja Jerry dan sekertarisnya. Jingga memperhatikan sosok cantik yang duduk di meja sekertaris. Detik kemudian dia mengerjapkan matanya dan segera berbalik menunu ruangan Raihan.
Tok tok tok. Jingga mengetuk pintu ruangan Raihan
"Masuk" Jingga segera membuka pintunya usai mendapat jawaban dari si pemilik ruangan.
"Loh sayang? Kok kesini?" tanya Raihan setelah Jingga mencium punggung tangannya
"Ya udah Gis, ayo kita pulang" ucap Jingga datar
"Kan mas cuma nanya, ayo duduk" ucap Raihan "Sebentar lagi ya, nyelesein ini" katanya lagi menunjukan beberapa file di tangannya. Jingga dan Giska menurut duduk, memandang jalanan dari ketinggian. Gedung Raihan memang paling tinggi di kota tersebut, sehingga dari sana semua bisa terlihat. Gedung-gedung sekitar yang lebih rendah, jalanan yang begitu padat, serta orang-orang yang lalu lalang melintasi trotoar untuk menyebrang.
"Mas? sekertaris Jerry cantik ya" Raihan menghentikan aktivitasnya mendengar Jingga menyeletuk tanpa menatapnya.
"Cantikan kamu kemana-mana rin" sahut Raihan kembali fokus pada pekerjaannya. Kemala hanya masalaluku, masalalu yang tidak penting. Maka dari itu aku tidak perlu menceritakannya padamu Airin.
Selama ini asisten Jerry itu bekerja sebagaimana mestinya, ia tak lagi mencari perhatian kepada Raihan. Entah apa yang membuat wanita itu menghentikan aksinya. Padahal awal bekerja di perusahaan ini wanita itu sudah teramat berani. Bahkan sampai detik ini, Raihan belum pernah memberinya kesempatan untuk bicara empat mata. Untuk apa? masalah hidup Raihan saat ini sudah terlalu berat. Dia tidak ingin mengundang masalah baru yang akhirnya semakin menyulitkannya.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1
(masih revisi)