Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Neng Langit


__ADS_3

Sudah dua minggu sejak kepergian Jingga. Raihan menjadi sangat kacau, dia terlihat lusuh seperti tidak terawat, bahkan temperamen buruknya telah kembali melekat pada dirinya. Setiap hari dia mencari Jingga, mendatangi satu persatu rumah teman-teman Jingga semasa kuliah.


Raihan dan pihak keluarganya sengaja tidak mengabari orang tua Jingga. Dia tidak ingin membuat mereka cemas, disisi lain juga dia takut jika keluarga Jingga kecewa mendengar berita ini.


Sulaiman tidak benar-benar mewujudkan ucapannya meminta Raihan meninggalkan perusahaan. Dia hanya tidak mau menemui Raihan untuk sementara waktu hingga Raihan dapat membawa istrinya kembali.


Dalam dua minggu ini sudah belasan karyawan yang dipecat dari KJ Group hanya karena sebuah kesalahan kecil, tapi Raihan membesar-besarkannya.


Bhumi pun sudah mulai menyerah untuk mencoba meredam amarah bosnya.


"Kerahkan semua orang kepercayaan kita untuk mencari keberadaan Jingga" ucap Raihan putus asa


"Bukannya lo sendiri yang minta jangan melibatkan orang lain? lo takut berita kaburnya Jingga menyebar luas kan?" tanya Bhumi menengguk orange jus kemasan botol. Raihan terlihat berfikir, dia membenarkan ucapan Bhumi. Raihan memang takut berita ini tersebar luas hingga ke telinga keluarga Jingga.


Tok tok.. Suara ketukan pintu ruangan Raihan.


"Masuk" ucap Raihan.


Rupanya Jerry yang datang, dia membawa beberapa berkas untuk ditanda tangani Raihan.


"Si cantik cutinya lama banget man?" tanya Jerry penasaran. Selama Jingga tidak masuk, Raihan dan Bhumi selalu menjelaskan bahwa Jingga sedang mengambil cuti panjang untuk mengunjungi orang tuanya. Raihan memilih diam tak menjawab pertanyaan Jerry.


"Jadi kapan lo mau rekrut sekertaris baru?" tanya Bhumi pada Jerry


"Besok bisa nggak?" jawab Jerry


"Sekalian aja, buka rekruitment sekarang. Besok atau lusa kita wawancara langsung" timpal Raihan


"Maksudnya?" Bhumi membulatkan matanya penuh


"Cari pengganti Airin secepatnya, lagi pula kalaupun Airin kembali.. gue tetep minta dia buat resign" kata Raihan sambil menandatangani berkas yang dipegangnya.


"Gue setuju kalo itu, yaudah gue hubungi bu Ria dulu" ujar Bhumi


**********


Esok paginya di dalam ruangannya di KJ Group. Raihan mendapat kiriman video dari seseorang tak dikenal. Dalam video itu menampilkan sosok Jingga sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit bersama seorang wanita yang tidak terlihat wajahnya. Sesekali Jingga terlihat menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu. Jika dilihat dari posturnya sepertinya dia seumuran dengan Jingga.


Raihan segera menghubungi pengirim video tersebut sayangnya seperti dugaan nomor Raihan langsung di blokirnya. Tak lama kemudian Raihan menghubungi Bhumi untuk segera mencari tahu rumah sakit yang ada di dalam video tersebut.


"Lo lacak nomor ini, terus cari tahu dimana rumah sakit ini" ucap Raihan melempar ponselnya pada Bhumi. Seketika Bhumi langsung mengerutkan dahinya.


"Pak ? Eh Han.. ini tuh di Bogor bukan sih? gue kayak nggak asing sama ni rumah sakit" ujar Bhumi menerka-nerka


"Lo yakin?" Raihan memicingkan matanya


"Sebentar gue puter ulang videonya" kata Bhumi "Udah fix ! ini gue yakin banget. Ini rumah sakit di daerah Bogor" tambah Bhumi


"Batalkan semua jadwal 3 hari kedepan. Atau kalo bisa, biar Jerry nemuin klien kita yang dari Malaysia" kata Raihan sambil melangkah keluar ruangan, Bhumi mengekorinya sambil menghubungi beberapa nomor pada ponselnya.


"Besok interview calon sekertaris lo yang baru" ucap Bhumi


"Nggak penting, istri gue lebih penting. Serahin semuanya sama Jerry , gue percaya pilihannya ga jauh-jauh dari selera gue" kata Raihan masuk ke dalam mobilnya.


Raihan dan Bhumi segera melajukan mobilnya menuju kota Bogor. Butuh waktu beberapa jam untuk sampai tujuan karena macetnya jalanan Ibukota.

__ADS_1


Sesampainya di sana Raihan dan Bhumi segera menuju ruangan direktur rumah sakit tersebut. Tidaklah sulit bagi kedua manusia tersebut untuk sekedar menemui direktur, bahkan pemilik rumah sakitpun bisa saja diminta mereka untuk datang jika Raihan memang menginginkannya.


"Apa kabar tuan Raihan? mimpi apa saya semalam sampai di datangi tuan langsung di ruangan saya sendiri" kata direktur rumah sakit xx bernama Gunawan.


"Alhamdulillah baik. Maaf pak Gunawan kedatangan saya kesini karena saya butuh bantuan bapak. Bhum.." ucap Raihan lalu melirik ke arah Bhumi


"Langsung saja ya pak.. Kami tahu betul bahwa data pasien itu adalah rahasia rumah sakit. Maka dari itu saya membutuhkan bantuan bapak untuk mencari tahu tentang wanita ini" ucap Bhumi sambil menunjukan video yang diterima Raihan. Kemudian Bhumi pun menunjukan foto-foto Jingga.


"Kalau boleh tahu, apa tuan mengenal wanita ini?" tanya Gunawan menyelidik


"Jadi bapak mau membantu saya atau tidak???" sahut Raihan dengan nada tak suka


"Baiklah, sepertinya ini penting. Tunggu sebentar" ucap Gunawan kemudian keluar dari ruangannya.


Sekitar lima belas menit berlalu, akhirnya Gunawan kembali ke ruangan dan membawa kabar untuk Raihan.


"Tuan Raihan?" Gunawan memejamkan matanya sesaat


"Bagaimana?" tanya Raihan sedikit memajukan kepalanya


"Pasien yang tuan tanyakan, nyonya Airin Langit Jingga, dia mengunjungi rumah sakit ini sudah sekitar 3x untuk menemui obgyn" ucap Gunawan datar


"Sakit apa istri saya?" tanya Raihan refleks


"Jadi?" Gunawan membulatkan matanya penuh seakan tercengang mendengar kata istri dari mulut Raihan


"Ya ya.. katakan, istri saya sakit apa?" Raihan meremas tangan direktur sekaligus dokter bernama Gunawan itu


"Istri tuan tidak sakit" kata Gunawan menarik sudut bibirnya


"Nyonya sedang berbadan dua pak" Gunawan tersenyum lebar


"Apa???!!!!!!! kk...kkaaa.. kau yakin?" Raihan terkesiap mendengar jawaban Gunawan


"Yakin seratus persen. Nyonya sedang mengalami morning sickness berat saat ini, malah seharusnya kemarin nyonya diopname disini karena betul-betul kekurangan asupan. Sebelumnya nyonya sempat menolak, tapi karena temannya memaksa akhirnya nyonya mau di infus walaupun di rumahnya. Perawat kami langsung datang kesana untuk mengecek keadaan nyonya dan mengganti botol infus" ucap Gunawan


"Berikan alamatnya !!" pinta Bhumi menadahkan tangannya. Gunawan menggeleng pelan


"Maaf tuan.. sa.." ucapan Gunawan terhenti


"Baiklah, saya akan berhenti menyuntik dana pada semua cabang rumah sakit ini, bahkan yang di pusat !!!! katakan itu pada Pramono !!! Ayo Bhum" Raihan menggertak kemudian bangun dari duduknya


Tuan Raihan adalah penyumbang dana terbesar di seluruh cabang rumah sakitku. Kau harus memperlakukannya dengan baik. Tiba-tiba Gunawan teringat ucapan Pramono selaku pemilik rumah sakit.


"B..baiklah tuan" Gunawan terlihat menghubungi seseorang, kemudian merobek secarik kertas dan menuliskan sebuah alamat.


"Ini" Gunawan menyodorkan kertas tersebut pada Bhumi


"Terimakasih pak Gunawan" Senyum kemenangan terbit dari bibir Bhumi begitu pula Raihan


******


"Ini villa di daerah puncak han" kata Bhumi sambil mengemudi


"Cepatlah!" sahut Raihan sambil memperhatikan jalanan.

__ADS_1


"Apa Airin akan mengusir kita ?" tanya Raihan


"Bukan kita, tapi lo. Dia marahnya sama lo bukan gue" Bhumi tersenyum sinis "Daripada menerka-nerka lebih baik kita kesana dulu" tambahnya lagi


Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan sebuah villa besar berpagar rendah. Raihan dan Bhumi berjalan beriringan. Dia langsung masuk ke halaman villa karena memang pagarnya sedikit terbuka. Dari arah taman seorang pria paruh baya berjalan tergopoh-gopoh menghampiri dua pria tampan yang baru saja tiba.


"Maaf, villa ini tidak disewakan pak" ucap pria paruh baya


"Oh tidak pak, saya sedang mencari istri saya" jawab Raihan ramah


"Istri bapak yang mana?" pria paruh baya itu terlihat bingung dengan ucapan Raihan. Lalu Raihan menunjukan foto Jingga. Pria paruh baya itu pun manggut-manggut seolah mengerti


"Ohh.. neng Langit istri bapak ya? ayo pak masuk saja lewat sini" pria paruh baya itu menunjukan pintu samping villa tersebut


Bahkan kamu merubah nama panggilanmu supaya tidak dikenali disini Airin. gumam Raihan


Pria paruh baya itu mengetuk pintu kamar beberapa kali, Raihan dan Bhumi dibiarkan duduk di sebuah sofa panjang tempat bersantai karena langsung terhubung dengan kolam renang villa.


"Bhum, elo?" ucap seorang wanita menggunakan bathrobe


"Loh Giska?" Bhumi membelalakan matanya terkejut dengan kehadiran Giska di hadapannya


"Lo ngapain di villa gue?" tanya Giska


"Oh jadi ini villa punya lo. Berarti lo yang ngumpetin bini bos gue dong" kata Bhumi mengerutkan dahinya, membuat Giska berdecak kesal


"Cih.. ngumpetin? Jingga sendiri yang minta di rahasiakan keberadaanya. Kalo udah begini lo harusnya mikir dong ini salah siapa? pake nuduh gue ngumpetin bini orang lagi!" gerutu Giska memutar bola matanya malas setelahnya dia melirik sinis ke arah Raihan


"Tunggu bentar pak Anto, biar saya yang buka" kata Giska ditujukan untuk pria paruh baya yang ternyata bernama Anto. Anto mengangguk kemudian meninggalkan pintu kamar Jingga yang masih tertutup


"Kalo Jingga minta kalian pergi, tolong langsung pergi aja ya. Jangan dipaksa, gue nggak mau sahabat gue stres gara-gara kedatengan kalian" kata Giska menatap tajam pada dua pria tersebut. Raihan dan Bhumi hanya bisa pasrah dan mengangguk


Tok..tok..tok.. Ceklekkkkk


"Jingga ?" Giska memanggil Jingga setengah berbisik


.


.


.


.


.


.


.


.


Yang minta up setiap hari jangan lupa like dan vote nya ya 🥰


Author sayang kaliaaaaaan

__ADS_1


__ADS_2