
Setibanya di ibu kota, Raihan memutuskan untuk mengajak Jingga pulang ke rumah orang tuanya, Sulaiman.
Bhumi menunggu keduanya di bandara.
"Ke rumah mami?" tanya Bhumi sambil memutar stir
"Iya" singkat Raihan
"Bhum kamu sehat?" tanya Jingga
"Alhamdulillah non, agak pusing sedikit kerjaan si bos numpuk" ucap Bhumi
"Lagian pake nyusulin segala, padahal aku nggak minta. Kerjaan kamu jadi banyak kan Bhum" sindir Jingga melirik suaminya yang terpejam namun tidak tidur
"Mana mungkin aku nggak nyusul? istriku ngambek begitu kemarin" Raihan menarik Jingga ke pelukannya
"Mas malu ada Bhumi" ucap Jingga lirih
"Emangnya kenapa? Nggak papa kan Bhum?" tanya Raihan tanpa membuka matanya
"Terserah lo aja" jawab Bhumi tidak perduli
Bhumi merasa senang semenjak kehadiran Jingga, bos sekaligus sahabatnya itu menjadi pria yang sedikit berbeda. Dia mendukung juga mendoakan hubungan keduanya supaya selalu baik-baik saja, bahkan Bhumi bertekad untuk menjaga Raihan dan Jingga agar bertahan dan saling menguatkan satu sama lain.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di kediaman Sulaiman. Ketiganya masuk ke dalam rumah dan hanya di sambut oleh beberapa maid dan mami Maryam tentunya.
"Assalamualaikum" Raihan, Jingga dan Bhumi berbarengan.
"Waalaikumsalam anak-anak mami. Gimana liburannya nak?" tanya Maryam melirik Jingga dan Raihan
What liburan? apa mas Raihan bilang sama mami kalau aku ke Yogyakarta liburan?
"Seru dong, iya nggak sayang?" Raihan merengkuh pinggang Jingga, membuat Maryam tersenyum melihat kemesraan anak dan menantunya.
Alhamdulillah semoga mereka selalu seharmonis ini. Batin Maryam
__ADS_1
"Ya sudah istirahat dulu kalian ya, mami mau ke panti" Maryam menepuk lengan Jingga pelan
Raihan mengantarkan Jingga ke kamarnya supaya beristirahat. Jingga kagum melihat kamar suaminya yang tertata rapi, desainnya hampir sama dengan kamar Raihan yang di apartemen.
"Airin, mas tinggal dulu sebentar. Ada yang harus dibahas sama Bhumi" katanya sambil menutup pintu
Jingga merebahkan diri di ranjang berukuran king size tanpa melepas sepatunya. Menit kemudian Jingga memutuskan untuk melihat-lihat isi kamar suaminya. Dia menyentuh foto-foto suaminya yang terpajang rapi di dinding. Tampan ! ucapnya sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Setelah itu Jingga menuju rak dinding besar, disana banyak piala yang berbaris rapi serta beberapa album foto yang diduga berisi foto-foto masa sekolahnya, ada juga beberapa medali berwarna emas. Juara satu lomba renang antar sekolah? hmmmm hebat juga ternyata. Ucapnya sambil manggut-manggut kemudian diletakan kembali piala tersebut.
Juara satu lomba cerdas-cermat? ah yayaya.. suamiku memang orang hebat sejak kecil rupanya ! Jingga membatin senyum-senyum sendiri
Kemudian mata indah Jingga terfokus pada sebuah benda berbentuk kotak. Jingga meraihnya menggunakan kursi kecil di samping laci. Meskipun susah payah harus berjinjit, Jingga tidak putus asa karena saking penasarannya.
Akhirnya Jingga berhasil meraih kotak tersebut, itu adalah box jam bermerk Rol*x. Jingga membukanya perlahan, tidak ada jamnya. Hanya ada secarik kartu ucapan di dalamnya.
"Aku bahagia telah mengenalmu, aku bahagia karena Tuhan menghadiai kamu untuk selalu ada di sisiku. Terimakasih untuk 4 tahun ini. Aku menyayangimu melebihi apapun. Semoga tahun selanjutnya Tuhan segera menyatukan kita dalam ikatan pernikahan.
Selamat hari jadi ! I love you calon masa depanku.
Deggggggg
Nafas Jingga seakan berhenti berhembus, hatinya mencelos, tubuhnya pun melemas bagai tak bertulang. Bukan tanpa alasan Jingga merasa sesak di dadanya saat ini. Karena yang Jingga tahu, jam itu masih digunakan oleh Raihan suaminya. Dia tahu betul bahwa jam yang digunakan Raihan setiap hari adalah jam dengan merk yang sama. Jingga segera melipat kartu ucapan tadi dan dimasukan kedalamnya. Jingga meletakan kotaknya sembarangan, lebih rendah dari tempatnya semula.
Aku tahu perasaan itu tidak mudah hilang. Seharusnya kamu berusaha mas ! Minimal tidak menggunakan barang-barang pemberiannya lagi. Pantas saja Felicia begitu percaya diri, rupanya memang dia masih ada di hatimu. Apa aku tidak bisa memperjuangkan hakku? kamu suamiku ! aku kecewa padamu mas.
Tak terasa mata Jingga membendung genangan air, hingga tetes demi tetes air mata lolos begitu saja dari matanya.
*******
Di ruang gym milik Sulaiman, Raihan dan Bhumi terlihat berbincang-bincang sambil berolahraga. Bhumi memukuli samsak sedangkan Raihan hanya mengangkat barbel berukuran kecil.
"Emangnya kalo cinta harus diungkapin ya?" tanya Raihan polos
Bug.. bug.. bug..
__ADS_1
"Tergantung" sahut Bhumi
Bughhh
"Tergantung apaan?" tanya Raihan lagi
"Tergantung orangnya lah, tapi kalo menurut gue. Sekali-kali di ucapin juga nggak apa-apa biar makin harmonis rumah tangga lo" kata Bhumi masih meninju samsak
"Kok rumah tangga gue?" tanya Raihan mengernyitkan dahi
"Lo tanya buat siapa emang? buat ngrayu Felicia apa Jingga? Inget han jangan selingkuh, dosa !" ucap Bhumi mengingatkan
"Oh iya, terus lo mau sampe kapan biarin Jingga di pandang buruk sama orang-orang?" tambahnya lagi
"Hah?" Raihan cengo dibuatnya
"Lo bener-bener nggak peka yah jadi suami. Apa kata orang kalo sampe sekarang Jingga masih kerja sama lo. Dia seharusnya jadi nyonya dirumah aja cukup ongkang-ongkang kaki" ucap Bhumi ketus
"Oh itu, dia bosen katanya kalo nggak ada kerjaan dirumah" jawab Raihan jujur
"Ya lo kasih kegiatan apa kek, yang lain. Jangan kerja berat begitu, belum lagi kalo mood lo lagi jelek di kantor. Dia juga kan yang kena imbasnya? Nggak kasihan lo?" Bhumi menghentikan aktivitasnya
"Nanti deh gue pikirin lagi, biar gue tanyain dulu sama Airin" ujar Raihan
"Terus jangan lupa, lo beresin deh tuh masalah lo sama Feli. Bisa makin nglunjak dia kalo kelamaan lo diemin" ujar Bhumi sambil menengguk mineralnya.
"Ya udah, thanks ya. Gue ke kamar dulu" pamit Raihan sambil mengelap keringatnya dengan handuk kemudian meninggalkan Bhumi di ruang gym.
Raihan menuju ke kamarnya, dia melihat istrinya tidur membelakangi pintu. Dia mengira istrinya sudah terlelap. Raihan memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi. Seusai mandi dia keluar hanya menggunakan handuk yang dililitkan ke pinggang hingga menampakan roti sobek di perutnya. Raihan memilih celana kolor panjang dengan kaos oblong putih untuk di kenakannya.
Raihan menaiki ranjang perlahan, dia menelusupkan tangannya hingga memeluk perut Jingga posesif. Raihan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jingga. Jingga tidak tidur, tapi dia sengaja diam agar suaminya tidak mengajaknya bicara.
Sesekali Raihan mengecupi leher bagian belakang Jingga. Sebenarnya Jingga merasa tidak nyaman karena geli di sekitar tengkuknya. Tapi Jingga masih menahannya, dia tidak ingin berbicara dengan suaminya saat ini.
"Airin? terimakasih sudah bersedia menjadi istriku. Bertahanlah, walau kelak banyak cobaan berdatangan" bisiknya parau di telinga Jingga. Jingga tetap tak bergeming, ia memilih memejamkan matanya saat ini.
__ADS_1