
"Uti terimakasih" Raihan mengecupi punggung tangan uti berkali-kali. Cup cup cup..
"Ya sudah sekarang susul istrimu, di jalan xxxx rumahnya tante Lian" Uti mengusap sayang puncak kepala cucu menantunya
"Baiklah uti, Raihan susul Airin dulu ya" Raihan melambai kemudian keluar rumah, dia berjalan menuju jalan besar. Mencari taksi karena pikirnya akan lama jika harus mengutak-atik ponsel untuk order taksi online.
Tak lama kemudian taksi pun tiba, Raihan memberitahu tujuannya.
"Jalan xxxx pak" Raihan sibuk menghubungi seseorang namun sepertinya tidak ada jawaban
"Hhhhhhmm gimana ya.. mana nggak diangkat segala telfonnya" gerutu Raihan lirih
"Mau kemana masnya?" tanya supir taksi ramah
"Ke jalan tadi pak, tapi saya nggak tau rumahnya yang mana" kata Raihan jujur. Begooo banget tadi nggak nanya sama uti ! Batinnya
"Rumahnya siapa mas kalau boleh tahu, barangkali saya kenal" ucap supir taksi
"Namanya tante Lian atau Daniel pak, kenal?"
"Oh, pak Daniel yang pilot gagah itu to? Kalau itu saya tahu rumahnya mas" kata supir taksi sambil tersenyum
"Nah iya kesitu, Daniel sepupu istri saya pak" Raihan menyandarkan kepalanya di sandaran jok
"Oh, istrinya yang mana mas?"
"Yang cantik pak pokoknya" jawab Raihan sumringah
"Cucunya eyang uti emang cantik dan ngganteng semua mas. Nggak ada yang jelek, dulu itu yang nikah sama polisi cantik banget mas"
"Itu istri saya pak" ketus Raihan karena dia tidak suka istrinya di puji orang lain
"Wah Alhamdulillah kalau gitu mas, dapat bidadari harus banyak bersyukur. Sudah cantik, ramah terus.."
"Cukup-cukup pak, saya nggak suka ada orang lain memuji istri saya" kata Raihan posesif
Meskipun udah tua, tetep aja gue nggak suka bini gue di puji-puji orang lain! Batin Raihan sambil geleng-geleng
"Sudah sampai mas"
"Oke pak terimakasih, ini" Raihan menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah
"Mas ini kebanyakan" tolak supir halus
"Nggak apa-apa, anggep aja bapak dapat jackpot pagi ini karena ketemu saya" Raihan meninggalkan supir taksi itu kemudian mendekat ke rumah tante Lian.
Alhamdulillah, semoga pernikahannya langgeng dan bahagia ya mas. Ucap supir taksi dalam hati sambil melihat punggung Raihan yang telah menjauh
"Cari siapa mas?" tanya satpam rumah tante Lian
"Istri saya pak" Sialan baru kali ini gue bertamu kaya gembel, gak bawa mobil gak bawa apa-apa. Bodohnya gue ke Yogya gak ajak Bhumi. Batin Raihan kesal
"Istri? yang mana?" tanya satpam polos
__ADS_1
"Pak har...tono? panggilin Daniel atau siapa deh Dimas dan Muhammad kalo perlu" kata Raihan sambil membaca nama di pakaian dinas satpam tersebut.
"Ohhh non Jingga? ya sudah tinggal masuk mas lagian grebangnya gak nutup rapat, tinggal tarik nih" kata satpam sambil menarik pagar cengengesan
"Loh, kok gak di suruh masuk sih pak har? nak Raihan ya? silahkan nak" ucap Lian menghampiri Raihan.
Raihan mengikuti tantenya dari belakang.
"Jingganya lagi renang tuh di samping" kata Lian
"Yasudah terimakasih ya tante, saya kesana dulu" pamit Raihan kemudian langkahnya terhenti melihat Jingga di kejauhan. Raihan menatap istri cantiknya itu di balik dinding kaca yang menghubungkan kolam renang dan ruang makan. Raihan memilih duduk di kursi makan sambil memperhatikan Jingga.
Kamu bisa tertawa kaya gitu Rin sama mereka. Tapi sepertinya selama hidup denganku, kamu nggak pernah sebahagia itu. Maafin aku ya Rin, belum bisa bahagiain kamu. Raihan tersenyum getir
Tak lama kemudian uncle Max masuk ke dalam rumah dikejutkan dengan Raihan yang sejak tadi menghadap ke arah kolam.
"Honey? Who is he ?" serunya
"Suaminya orange sayang" kata Lian memberikan handuk pada Max. Raihan segera bangun hendak menyalami Max namun Max menepisnya dan memeluk Raihan.
"Aduh" ucap Raihan spontan karena merasa pakaiannya basah setelah dipeluk Max
"Sorry, uncle so happy.. akhirnya ketemu juga kita, maaf tidak datang di acara pernikahanmu dan Orange" kata Max meringis
"Oh nggak apa-apa uncle. Tadi apa ? Orange?" Raihan mengernyitkan dahinya. Lian hanya tertawa kecil dan menjelaskan "Uncle susah nyebut nama Jingga, aneh didengernya. Karena dulu di protes terus sama Tammy akhirnya uncle panggilnya Orange biar gampang. Toh artinya sama. Hehehe" Raihan tersenyum kecil mendengar penjelasan tante Lian.
"Ini minum dulu" Lian meletakan dua cangkir teh di meja makan untuk Raihan dan Max
"Terimakasih tante" kata Raihan.
Tak lama kemudian Jingga masuk bersamaan dengan Tammy dan Daniel. Jingga terlihat agak pucat. Tammy menyalami Raihan karena itu pertama kalinya mereka bertemu.
"Eh ?" Jingga terkejut melihat suaminya di meja makan.
"Kamu kok pucat Rin? sakit?" tanya Raihan khawatir sambil memegangi kening Jingga. Jingga menepisnya pelan
"Telat makan kayaknya, terus kayak mau masuk angin. Tante teh panas dong. Hehehe" ucap Jingga
"Kamu nggak sarapan?" tanya Raihan lagi
"Lupa" jawab Jingga singkat
"Lagi ngambek kamu?" timpal Daniel melirik Jingga sinis
"Engga kok, aku mandi dulu bentar.. yuk Tam" Jingga menarik lengan Tammy mengajaknya ke kamar Tammy.
"Saya tinggal dulu sebentar ya. Takut masuk angin" Daniel menepuk lengan Raihan , Raihan hanya mengangguk.
"Ceritain dong proses perkenalan kamu sama Jingga hingga akhirnya memutuskan untuk menikah" pinta Lian sambil menata piring di meja makan dengan dibantu beberapa asisten rumah tangga.
"Nggak ada yang spesial tante. Kita dijodohkan" sahutnya dengan wajah datar
"Loh? tante kira kalian kenal sendiri. Soalnya tante nggak diceritain apa-apa sama uti bahkan mba Ajeng juga nggak cerita detailnya. Tau-tau ngabarin Jingga mau nikah aja" Raihan hanya membalas dengan senyuman
__ADS_1
"Tante juga kaget kalo ternyata kamu itu anaknya mbak Maryam" tambahnya lagi
"Tante juga kenal mami aku?" tanya Raihan
"Yup, lebih tepatnya persahabatan beda kasta" sahut Lian
"Maksud tante?" Raihan menyatukan alisnya
"Kan kalo mami kamu tajir melintir sejak dalam kandungan, beda sama keluarga kita. Hehehe" jawab Lian. Tak lama setelah itu Max kembali ke meja makan dengan celana pendek se lutut dan kaos oblong hitam ketat. Meskipun usianya sudah hampir 60 han tapi Max tetap terlihat gagah dan tampan dengan penampilannya yang seperti anak muda.
"Tante? dulu papi dan abah menjalin pertemanan seperti apa sih?" tanya Raihan pada Lian
"Oh itu... Persahabatan kita berawal dari papi dan mertuamu. Mereka sahabatan dari jaman sekolah , kalo kapannya tante kurang tahu. Yang jelas dari kecil. Mereka sempat terpisah karena mas Sulaiman nglanjutin pendidikannya di LA sedangkan mas Rus tetap di Indonesia. Tapi mereka tetep bertukar kabar, itu setahu tante ya. Sampai akhirnya papimu menikah, tak lama setelah itu mas Rus juga menyusul. Mas Rus menikah sebelum menyelesaikan pendidikannya, beberapa bulan kemudian mba Ajeng mengandung si Adam. Sedangkan mamimu belum ada tanda-tanda kehamilan, setelah anak pertama mba Ajeng lahir. Mami kamu sering minta mba Ajeng nitipin Adam kalau mas Rus dan mba Ajeng kuliah. Kadang tante yang jemput Adam...."
"Lalu?" Raihan tanpa malu-malu
"Hmmmm... si Adam itu termasuk hidup dalam asuhan orang tua kamu loh waktu kecil. Sampai umur berapa gitu, karena itu mas Rus merasa berterimakasih. Oh iya lupa, ini yang paling penting.. Mas Rus sakit ginjal waktu Adam kecil, keluarganya sudah habis-babisan membiayai pengobatannya. Mas Rus sengaja menutupi sakitnya itu dari orang tua kamu karena mas Rus tahu, mereka bakal bantuin biayanya. Mas Rus sudah merasa terlalu banyak merepotkan papi mami kamu. Tanpa sadar perbuatannya itu mengulur waktu, semakin lama dia semakin sakit tentu saja semakin berbahaya untuk kesehatannya. Sebentar tante minum dulu, haus" Raihan terkekeh melihat tante Lian yang kehausan.
"Lanjut honey" pinta Max
"Kamu ndengerin sayang?" tanya Lian tersenyum ke arah suaminya. Max pun mengangguk, Lian yang paham betul bahwa suaminya senang mendengarkan cerita, langsung melanjutkannya.
"Sepandai pandainya orang menyimpan rahasia lama-lama kan pasti ketahuan. Akhirnya tembus juga ke telinga mas Sulaiman bahwa mas Rus sakit ginjal udah lumayan parah. Mas Sulaiman mencari donor ginjal kesana kemari, bahkan ke berbagai penjuru dunia. Tapi belum ada yang cocok, sampai akhirnya mas Sulaiman memberanikan diri buat ngetes kecocokan ginjalnya dengan ginjal mas Rus. Ternyata cocok, akhirnya donor deh.. awalnya mami kamu menentang keras, tapi lama-lama mami kamu luluh juga karena kasihan kalau Adam kehilangan abahnya. Tak lama setelah itu kalian ada di perut mamimu. Oh iya kembaranmu sekarang dimana?" Lian merubah topik pembahasan, Raihan terlihat tidak keberatan malah menjawabnya santai.
"Di Jakarta tante" Raihan menyeruput tehnya perlahan
"Wah enak nih, masakan siapa tan?" tanya Muhammad yang baru saja tiba
"Masakan bi Onah , sana bilas dulu terus makan" kata Lian memerintah Muhammad, Dimas mengekorinya dari belakang tanpa menegur Raihan.
"Duduk sayang" pinta Raihan pada Jingga yang baru keluar dari kamar Tammy, Raihan menarik kursi di sampingnya, Jingga pun menurut karena memang perutnya sudah keroncongan minta diisi.
Cih.. Sayang? kesurupan kamu mas? Batin Jingga memutar bola matanya malas
Semua orang berkumpul di meja makan, uncle Max mempersilahkan orang-orang untuk segera menikmati hidangan yang tersedia di meja.
Mereka makan tanpa bicara, hanya suara sendok dan garpu saling beradu yang terdengar.
********
"Uncle, tante .. terimakasih jamuannya, saya pamit dulu" kata Raihan berpamitan
"Makasih ya tante, nanti Jingga main lagi" Jingga memeluk tante dan unclenya bergantian
"Gue tinggal aja deh, nanti balik sama Muhammad. Kalo mau ke Jakarta duluan aja, siapa tau suami lo banyak kerjaan" kata Dimas membuat Jingga mengangguk
"Niel pulang ya, kapan-kapan main ke rumah kita" Jingga memeluk Daniel, Daniel pun membalas pelukannya.
"Insha Allah nanti sempetin mampir ke situ. Hati-hati di jalan ya kalian" ucap Daniel menatap Jingga dan Raihan bergantian
Akhirnya Jingga dan suaminya pergi meninggalkan rumah Lian tanpa Muhammad dan Dimas. Siang ini rencananya Raihan akan mengajak Jingga pulang ke Ibu kota, mengingat pekerjaannya yang semakin menumpuk. Jingga pun setuju, tak lupa ia berpamitan pada uti. Tentu saja uti mengizinkannya karena uti menyadari cucunya tidak bisa berlama-lama singgah.
Kini pasangan suami istri itu pulang menggunakan pesawat dengan penerbangan paling awal siang itu.
__ADS_1
Di perjalanan, tak henti-hentinya Raihan mengecupi punggung tangan Jingga. Seolah ingin dunia tahu bahwa wanita itu adalah miliknya. Tanpa adanya penolakan, Jingga malah membiarkannya. Dia sangat menyukai perlakuan suaminya saat ini. Entah apa yang terjadi pada suaminya pagi tadi, yang jelas Jingga menyukai sikapnya yang menjadi semakin hangat dan perhatian.