Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Orange?


__ADS_3

Pagi ìni Jingga terbangun tanpa melihat suaminya di sebelahnya. Raihan benar-benar ngambek rupanya. Dia tidur di sofa. Jingga merasa kasihan melihat suaminya itu. Dia bangun dari ranjang kemudian mendekat pada Raihan.


Jingga setengah jongkok dan berbisik di telinga Raihan "Mas.. bangun"


Raihan hanya menggeliat kecil tanpa membuka matanya. Cup.. cup.. cup.. Jingga mengecupi bibir suaminya, seketika Raihan langsung membuka matanya.


"Jam berapa?" tanya Raihan


"Setengah enam, sholat dulu yuk?" Raihan mengangguk


Mereka melakukan aktivitas paginya, mandi kemudian beribadah.


"Rin sini" Raihan menepuk ranjang mengisyaratkan supaya Jingga duduk disisinya. Jingga langsung mendekat menuruti suaminya.


"Mau kamu yang jelasin atau mas yang tanya-tanya?" Raihan memberi pilihan, Jingga langsung paham maksudnya. Pasti ini soal Daniel ! Sambil menahan tawanya "Yaudah mas aja yang nanya"


"Daniel siapa?"


"Daniel ya Daniel mas" jawabnya santai


"Ya ampun rin" Raihan mengusap wajahnya kasar


"Daniel itu sepupu aku paling ganteng hehehe, dia anaknya tante Lian"


"Tante Lian itu yang mana?"


"Adiknya ibu, dia baru aja pindah kesini minggu kemarin.. Ehmm maksudnya menetap disini setelah anak gadisnya mulai masuk ke perguruan tinggi. Adiknya Daniel namanya Tammy"


"Emang aslinya orang mana?"


"Ya orang Jogja, cuma tante Lian ikut uncle Max tinggal di London soalnya usaha mereka ada di sana"


"Jadi intinya Daniel itu adik kamu?" Jingga mengangguk, Raihan bernafas lega.


"Alhamdulillah, jadi semalem mas buang-buang waktu dan tenaga untuk cemburu" Raihan menggenggam tangan istrinya


"Yaiyalah, ngapain pake ngambek segala kaya anak kecil ajah" ketus Jingga


"Loh kamu juga gitu!" Raihan tak mau kalah


"Beda mas, aku diem marah ngambek itu ada alesannya. Karena Feli itu pacar kamu !"


"Mantan, udah mantan. Pacar dari mananya !"


"Udahlah mas aku males banget kalo bahas sesuatu yang berhubungan sama Felicia pacar kamu itu. Jujur aja aku ngrasa kamu cuma jadiin aku temen tidur di ranjang alias partner sekssss" Jingga mengalihkan pandangannya menatap dinding kosong


"Airin kamu tuh ngomong apaan sih???" Raihan sedikit membentak


"Aku nggak tau ya, mas itu sayang sama aku atau nggak. Bahkan aku juga ragu kalo mas bisa cinta sama aku atau nggaknya suatu hari nanti. Aku sadar karena pernikahan kita memang tidak dilandasi dengan cinta sebelumnya" ucap Jingga


"Jadi maksud kamu? aku nggak sayang dan nggak cinta sama kamu? gitu? iya?" tanya Raihan menegaskan


"Apa perlu kata sayang dan cinta di ungkapkan Airin? Kan kamu bisa ngrasain sendiri?" tambahnya lagi


"Ngrasain apaan sih mas? Setelah nikah emangnya ada hal spesial yang terjadi diantara kita? Kalo aja mas sadar sama sikap mas selama dirumah. Kadang juga mas nggak pulang entah kemana. Itu bukti kalo kamu belum perduli bahkan belum sayang sama aku. Aku ini istri kamu mas, aku berhak tau kemanapun kamu pergi. Biar aku bisa doain dengan ikhlas disetiap langkahmu diluar rumah" Genangan air nyaris menetes dari mata indah Jingga


Apa benar yang dikatakan Airin? apa aku belum menyayanginya? apa aku mengejarnya hingga kemari hanya karena aku takut kehilangan teman tidurku? partner gulatku? Batin Raihan


Raihan merasa malas dengan pembahasan ini, moodnya tiba-tiba kacau. Dia segera bangun kemudian keluar dari kamar.


Apa aku tidak bisa mencintai Airin? aku tidak memperlakukannya sebagai istri dengan baik selama ini. Aku memang tidak pantas untuknya !


Raihan melangkah menuju taman belakang sambil terus bermonolog dalam hati.


Daniel, Dimas, dan Muhammad menuju meja makan. Mereka hanya sarapan roti dengan selai yang ada di meja begitu juga Uti.


"Mas Renang yuk? sekalian liat si cantik" celetuk Dimas di tengah sarapan paginya


"Maksudnya renang di rumah?" tanya Daniel


"Iyalah" sahut Dimas


"Ada uncle Max tau" kata Muhammad


"Ya nggak apa-apa lah" sahut Dimas


"Ajak Jingga dan Raihan juga. Biar Raihan kenal sama saudara-saudaranya" timpal Uti


"Siap ti" Daniel langsung bergegas menuju kamar Jingga. Tanpa mengetuk Daniel langsung saja masuk karena memang pintu kamarnya setengah terbuka.


Karena terkejut dengan kedatangan Daniel, Jingga langsung menyeka air matanya.


"Hey hussshh.. kenapa ?" Daniel memegangi kedua bahu Jingga


"Nggak papa Niel, tiba-tiba inget almarhum aja kalo di Jogja" kata Jingga bohong


"Main ke Tammy yuk?" ajak Daniel

__ADS_1


"Sekarang?"


"Iya , biar nggak kesiangan. Pada minta berenang"


"Oh ya sudah. Aku siap-siap dulu"


"Ajak suamimu ya" pinta Daniel , Jingga hanya mengangguk. Tentu saja Jingga tidak akan mengajaknya mengingat perdebatan kecil barusan


Mereka berempat sudah siap masuk ke mobil, tanpa Raihan.


"Suami lo mana?" tanya Dimas


"Tidur lagi, kayaknya kecapean" karena terpaksa akhirnya Jingga berbohong lagi


"Yaudah ayok tarik mang" Dimas menepuk bahu Daniel


"Sialan, kamu pikir saya supir?"


"Hehe canda mas"


Dalam perjalanan Jingga terus memikirkan suaminya yang tiba-tiba berubah karena perdebatan pagi ini. Jingga ingin menepis rasa itu namun hati memang tidak bisa berbohong. Jingga merasa dirinya sudah terikat pada pernikahan tanpa cinta ini. Karena dari awal memang ini salahnya. Salah dia yang memutuskan untuk mencintai Raihan lebih dulu.


Setelah dua puluh menit, mereka tiba di kediaman tante Lian. Rumah berpagar hitam dengan halaman begitu luas. Satpam membuka pintu setelah melihat mobil Daniel.


Daniel memarkir mobilnya sembarangan kemudian memberikan kunci mobil pada mang Ujo supir keluarganya.


Mereka berempat masuk kedalam rumah lalu di sambut hangat oleh tante Lian dan Tammy.


"Oh my God, Jingga" tante Lian memeluk Jingga erat


"Kalo ada Jingga, pasti anak sendiri dilupain" sindir Daniel sambil merajuk


Plakkkk. Tante lina memukul lengan kekar Daniel


"Awwww, bercanda mom" ucap Daniel sambil meringis


"Yaudah ayo pada masuk, Daddy di kolam renang tuh" ucap Tammy sambil melangkah ke dalam kamarnya di ikuti oleh Jingga


"Kak mau renang juga?" tanya Tammy, Jingga pun mengangguk


"Pake ini atau ini?" Tammy menunjukan dua model pakaian renang.


"Ya inilah , gila aja masa kakak pakai bikini" Jingga meraih baju renangnya kemudian melepas pakaiannya.


"Rumahnya gak ada yang berubah ya tam, kakak nggak pangling sama sekali. Uncle max kapan pulang tam?" tanya Jingga sambil melipat pakaiannya sendiri kemudian diletakannya di tepi ranjang. Tammy memberikan bathrobe berwarna ungu utuk Jingga pakai.


"Daddy kapan ya? Dua hari sebelum mommy deh pokoknya. Suami kakak dimana?"


Jingga dan Tammy melangkah keluar rumah lewat pintu samping yang terbuat dari kaca.


"Hey Orange !" sapa uncle Max pada Jingga. Jingga langsung menepuk jidat. Semuanya tertawa mendengar panggilan uncle Max untuk Jingga.


"Astaghfirullah uncle susah banget ya nyebut nama Jingga?" uncle langsung merapatkan giginya seperti kuda lalu mendekat dan memeluk keponakan cantiknya.


"Ternyata lo itu kategori buah buahan ya Ngga ! Hahahahaha" Dimas tertawa


"Awas lo ya!" Jingga menatap sinis


"Come on Orange!" seru uncle Max sambil melompat ke kolam renang


"Terserah uncle aja deh, mau orange, jeruk, rambutan, kedondong, bebas !" ketus Jingga kemudian melakukan pemanasan sebelum masuk ke kolam


Daniel terkekeh geli melihat tingkah Jingga dan Daddynya.


"Kok lo udah jago aja berenang? siapa yang ajarin?" tanya Dimas melirik Jingga


"Noh orangnya baru mau nyemplung" Jingga menunjuk Daniel dengan wajahnya


"Calon kaka ipar ternyata yang ngajarin" ucap Dimas penuh arti sembari curi-curi pandang ke arah Tammy.


Tammy memicingkan matanya tidak suka


"Apaan sih!" ketus Tammy


"Just kidding tam, tapi ucapan adalah doa kalo kata orang tua tam hehehehehe" ujar Dimas


"Dad ! kak Dimas tuh" Tammy memasang wajah kesalnya


"It's okay baby. Jodoh memang di tangan Tuhan" jawab Max santai membuat Tammy memalingkan wajahnya kemudian berenang lagi


"Jangan godain Tammy, kalo ngambek lama banget Dim" ucap Daniel yang baru saja masuk ke kolam


"Ade lo makin gede makin cakep mas, buat gue aja ya?" tanya Dimas pada Daniel


"Sayang banget saingan mas Dimas banyak. Di kampusnya, Tammy itu primadona. Aku aja yang beda kampus suka diserbu sama anak-anak kalo abis foto bareng Tammy" ucap Muhammad


"Gitu ya? berarti harus ekstra banget dong perjuangin cinta gue" senyum Dimas memudar seketika mengetahui dirinya banyak saingan

__ADS_1


"Itu juga kalo Tammy mau sama mas Dimas Hahahahaha" sahut Muhammad sambil tertawa


"Ahahahahaha sian deh lo" timpal Jingga


Daniel hanya geleng-geleng melihat tingkah mereka.


******


Uti menuju taman belakang rumah berniat bersih-bersih tapi diurungkannya karena dirinya melihat cucu menantunya tertidur di gazebo.


"Nak?" Uti menggoyangkan lengan Raihan pelan. Raihan mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian dia menyadari bahwa dia tertidur di gazebo tanpa sengaja. Raihan langsung duduk karena merasa tidak enak pada Uti.


"Maaf uti, ketiduran tadi" ucapnya malu-malu


"Ada masalah apa?" tanya Uti seolah mengerti. Raihan menggeleng ragu "Nggak ada uti"


"Uti tau pernikahan kalian itu atas permintaan Maryam dan Sulaiman. Mungkin kamu belum yakin dengan perasaanmu sekarang? pumpung hanya ada uti dan kamu.. Kamu mau tanya apa soal Jingga? siapa tau bisa membantumu menemukan sesuatu di dalam sini" kata uti menunjuk dada Raihan. Raihan terlihat berfikir, dia berusaha mengesampingkan egonya untuk mengenal Jingga lebih jauh lewat uti dengan harapan bisa benar-benar menumbuhkan sesuatu dalam hatinya.


"Eyang uti? hubungan Airin dan Almarhum itu seperti apa?" tanya Raihan hati-hati


"Hmmm, itu. Ridho dan Jingga menikah tanpa proses pacaran nak. Jadi Ridho kenal Jingga hanya beberapa bulan.. Saat itu Jingga cerita semuanya pada uti. Dia bilang Ridho menyatakan perasaannya. Kemudian Jingga menantangnya untuk segera menemui orang tuanya"


FLASH BACK


"Uti? mas Ridho bilang katanya cinta sama Jingga. Bohongan nggak ya?" Jingga menatap uti sendu


"Kamu suka sama nak Ridho?" tanya uti menyelidik


"Hmm gimana yah ti, kalo mas Ridho nggak ngabarin Jingga sehari aja.. Jingga pasti cemas, khawatir juga ti" jawab Jingga


"Itu tandanya kamu juga suka sama dia, terus kamu jawab apa?" tanya uti lagi


"Jingga bilang, kalo serius suka sama Jingga bilang aja sama Ibu dan Abah" katanya penuh percaya diri


"Kamu nantangin Ridho? kalo tiba-tiba Ridho minta kamu dari Abah dan Ibumu gimana?"


"Ishh uti, minta gimana maksudnya?"


"Ya lamar kamu nduk, mau kamunya? baru lulus SMA loh. Belum juga kuliah"


"Nggak tahu ti, kita lihat aja nanti"


Dan benar saja, setelah Jingga menantangnya. Ridho langsung ke Jakarta menemui orang tua Jingga dengan maksud melamarnya. Keluarga Ridho tiba di kediaman keluarga Jingga hari Senin.


Karena sebelumnya abah Jingga (Rus) sudah diberi tahu mengenai ini dari uti. Abah Rus langsung menggali informasi tentang keluarga Ridho.


Saat itu juga Abah langsung menyetujui rencana lamarannya, karena Ridho berjanji akan menjaga dan menyayangi Jingga. Dengan penuh pertimbangan akhirnya Abah menikahkan mereka beberapa bulan kemudian. Mendengar kabar bahwa Ridho memperlakukan anaknya dengan sangat baik membuat Rus dan istrinya senang. Di awal pernikahan Ridho berencana menunda memiliki momongan dan memberi lampu hijau untuk Jingga segera mendaftarkan diri ke perguruan tinggi. Namun Jingga menolaknya dengan alasan ingin menikmati waktu menganggur hanya untuk menjadi isti yang baik.


Ridho akhirnya setuju, tak lama setelah itu Jingga mengandung Kinanti saat usianya masih 19 tahun. Jingga di boyong Ridho di kota B karena Ridho memang ditugaskan disana. Di usia yang terbilang muda, Jingga cukup dewasa dan bijak dalam menyikapi kesibukan suaminya itu. Dia tidak bisa menuntut banyak, hampir setiap hari Ridho meminta maaf atas kesibukannya. Mengingat bahwa suaminya mengemban tugas berat, Jingga selalu menyambut baik kata maafnya dari suaminya.


"Nggak ada yang harus di maafkan, mas Ridho nggak ada salah sama aku" ucap Jingga mengusap sayang kepala suaminya. Ridho masih sibuk mengecupi perut Jingga yang mulai membesar


"Airin? Mas sayang sekali sama kamu. Terimakasih sudah mengorbankan masa mudamu untuk menjadi seorang istri dan ibu" Ridho mengecup lembut kening Jingga, Jingga membalasnya dengan pelukan.


Kehidupan rumah tangga mereka berdua benar-benar bahagia sampai akhirnya, saat kandungan Jingga hampir menginjak usia 28minggu.


Ridho dan timnya mendapat tugas lumayan berat kala itu.


"Perasaanku nggak enak mas" ucap Jingga masih memeluk suaminya erat


"Doakan yang terbaik ya sayang, ini sudah tugas mas" Ridho mengecup lembut kening istrinya kemudian berangkat bertugas


Perasaan Jingga benar-benar campur aduk. Jika bisa, dia ingin suaminya di rumah saja. Dia terus mondar mandir seharian menunggu suaminya memberi kabar. Setelah beberapa jam, Jingga melaksanakan ibadahnya kemudian duduk di depan TV. Dinyalakannya tv itu, dia memilih saluran tv favorit suaminya yang hanya menayangkan berita-berita.


"Sindikat penyelundupan senjata api di kota xxx sukses dibongkar. Dari operasi ini polisi sukses menangkap tiga belas orang tersangka serta mengambil alih tiga ratus dua puluh sembilan buah senjata api. Pengungkapan ini bermula dari penangkapan tersangka berinisial UB di Kota xxxx Kelurahan xxxx. Sayangnya satu tersangka berhasil kabur setelah sebelumnya melakukan penembakan kepada seorang perwira polisi berinisial RH hingga melukai bagian kepala dan dadanya......"


Deggggg !!!!!


Seketika jantung Jingga berhenti memompa, nafasnya merasa sesak. Dia merasa sakit pada perut bagian bawahnya. Sakit yang teramat sakit, dia mencoba meraih ponsel untuk menghubungi suaminya. Namun sayangnya sebelum dia berhasil menekan tombol call, dia sudah terlebih dahulu jatuh ke lantai.


Esok paginya Jingga membuka matanya, dia sudah berada di rumah sakit dengan selang oksigen berada di hidungnya. Dia mengedarkan pandangannya. Dilihatnya semua keluarga berkumpul di ruangan tempat Jingga di rawat.


"Hikss.. hiksss.. mas Ridho !!!! Huaaaaa hiks.. huuuuu" tangis Jingga pecah setelah melihat semuanya menangis. Dia ingat sebelum ini dia baru saja menonton berita. Berita penembakan suaminya.


Semua orang menatap Jingga dengan tatapan iba, ibu dan mertuanya menguatkan Jingga. Jingga terus menekan dadanya yang terasa sesak. "Maaaa, mas Ridho maaa. Buuu??? Ibuuu mas Ridho dimana bu? hiksss hiksss"


Ajeng tak kuasa menahan tangisnya. Dia melihat putri kesayangannya hancur dan kesakitan.


"Ya Allah ndhuk, seng sabar. hiksss.. hikss.. kasihan anakmu.. ikhlaskan ya ndhuk" kata ibu Ajeng


"Buu mas Ridho ! Jingga mau liat mas Ridho. Jingga kangen hiks.. hiks.." kedua orang tua Ridho makin terpukul setelah melihat keadaan menantunya sekacau itu. "Mama, mas Ridho masih ada kan ma? hikss.. Maaaa jawab maaaa !!!! hiks.. hikss" tanya Jingga pada mama mertuanya. Mama hanya menggeleng kemudian keluar ruangan. Dia tak kuasa melihat kehancuran menantunya.


"Ya Allah apa salahku di masalalu hingga kau harus memberikan penderitaan untuk putriku seberat ini?" batin Ajeng dalam tangisnya.


Abah dan papa mertua Jingga tak berani menatap putri kesayangannya. Adam hanya tertunduk lemas dibalik pintu sambil mendengarkan tangis adiknya.


FLASH BACK OFF

__ADS_1


Uti menceritakan setiap detail yang uti ketahui pada Raihan. Raihan terlihat lebih tenang dari sebelumnya.


"Cukup sekian untuk hari ini, uti harap kamu menjaga Jingga lebih baik lagi. Sayangi dan cintai dia, Insha Allah Jingga adalah istri yang baik kalau kamu mau berusaha untuk memahaminya" uti meraih tangan Raihan kemudian digenggamnya. Perlahan namun pasti Raihan mengangguk yakin.


__ADS_2