
"Saya Jossie tangan kanan CEO kami mr.Reagan Halburt. Karena ketidak tersediaan mr.Reagan untuk datang kemari, maka beliau mengutus putranya. Dan seterusnya mungkin putra mr.Reagan yang akan mengurusi kerjasamanya dengan anda mr.Raihan" ucap pria bertubuh atletis bernama Jossie
"Saya sempat mengira bahwa anda adalah mr.Reagan, rupanya tebakan saya salah. Jadi kapan putra mr.Reagan datang kemari?" tanya Raihan menampakan senyumnya
"Secepatnya, setidaknya setelah anda menghadiri undangan makan malam yang sudah beliau siapkan untuk anda" ucap Jossie melepas kacamatanya, kemudian menyimpannya di saku.
*Ap*a perlu kalian beramai-ramai datang kemari kalau hanya untuk menyampaikan pesan itu??? Batin Bhumi menyipitkan sebelah matanya
"Saya sangat tersanjung, bahkan sepertinya hal itu yang harusnya saya lakukan. Menyambut putra mr.Reagan dan menjamunya, katakan ! dimana tempatnya dan jam berapa?" tanya Raihan menatap Jossie dan 5 pria lainnya bergantian, Jossie datang bersama 5 pria bertubuh kekar bak seorang bodyguard. Atau jangan-jangan mereka memang bodyguard? entahlah , Raihan hanya menebak-nebak dalam hatinya.
"Cassan**a Hotel, pukul 8 malam. Kalau begitu, kami pamit undur diri mr.Raihan" Jossie membungkuk, diikuti lima pria lainnya kemudian pergi meninggalkan ruangan Raihan.
"Ya Allah, rasanya baru ajah pecah bisul gue Bhum" Raihan menggeleng setelah dirasa melepas beban berat barusan.
"Nanti malem gimana?" Bhumi memijat pelipisnya
"Bhum, tolong cari profile keluarga mr.Reagan. Setidaknya itu jadi bekal buat kita pas ketemu mereka nanti malem. Kalo perlu semua info tentang mereka" Bhumi langsung meraih laptopnya setelah mendapat perintah dari bos yang juga sahabatnya sejak kuliah itu. Raihan menuju tempat Jingga beristirahat, dilihatnya Jingga sedang duduk menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Raihan langsung merangkak kemudian meletakan kepalanya di paha Jingga pelan-pelan. Jingga tersenyum menyambutnya, Jingga mengusap sayang rambut suaminya. Raihan memejamkan matanya dan memutar 90° tubuhnya hingga wajahnya menghadap tepat pada perut Jingga.
"Sayang, perut kamu kapan besarnya?" tanya Raihan sambil mengecupi perut Jingga
"Ini juga udah keliatan berubah kan? nggak se ramping dulu?" sahut Jingga menarik sudut bibirnya
"Iya sih. Pijat ini yank" pinta Raihan menunjukan pelipisnya, sejurus kemudian Jingga menuruti kemauan suaminya itu.
"Han?" ucap Bhumi tiba-tiba
"Hmmmmm" sahut Raihan tanpa membuka matanya, dia masih menikmati pijatan lembut istri cantiknya
"James Halburt, apa lo nggak asing sama nama itu?" Bhumi mencoba membangkitkan ingatan Raihan.
1
2
3
"Mikha??????" Raihan membulatkan matanya penuh, Jingga yang mendengar Raihan mendengar nama Mikha pun ikut terkejut. Raihan kaget bukan main, bahkan dia bangun dari rebahannya.
"Bingo!" Bhumi menjentikan jarinya seakan menemukan jawaban yang tepat "Mereka tiba di Indonesia kemarin malam menggunakan jet pribadi. James membawa Mikha dan putrinya sekalian untuk berlibur" tambahnya lagi.
Raihan tersenyum getir, Jingga tahu akan kekhawatiran yang suaminya rasakan. Dia yakin suaminya cemas akan keberadaan Ryu. Jingga menggenggam tangan Raihan dan mengusapnya lembut.
"Bhum? apa lo bisa bawa Ryu pergi untuk sementara waktu?" dengan bimbang Raihan meminta Bhumi melindungi putranya tanpa menimbang terlebih dahulu
"Kayaknya lo salah kalo minta tolongnya sama gue, bilang sama mami han. Minta mami ajak Ryu pergi kemana gitu" Bhumi mengetikan sesuatu di iPadnya
"Oke. Lo handle kerjaan dulu ya, gue sama Airin harus makan siang sekarang" ucap Raihan pura-pura tenang, padahal mendengar kabar tentang Mikha, tentu saja membuat hati dan pikirannya acak-acakan saat ini.
Sambil berjalan keluar ruangan, Raihan berusaha menghubungi Maryam demi membahas soal Ryu.
Raihan terlihat lebih tenang usai berbicara langsung dengan Maryam. Sebelum menutup telfonnya, Raihan bahkan tersenyum manis ke arah Jingga.
Pasti Maryam menyetujui rencana Raihan untuk membawa Ryu pergi beberapa hari kedepan.
__ADS_1
**********
Di rumah mewah minimalis samping panti asuhan. Maryam terlihat mengemasi pakaian dan barang-barang milik Ryu.
"Where we going grandma?" tanya Ryu antusias
"Kita akan liburan" singkat Maryam menjawab namun Ryu langsung terpekik kegirangan. Jarang sekali Ryu pergi meninggalkan rumah yang telah menjadi saksi hidup Ryu selama ini.
"Apa grandpa ikut?" tanya Ryu lagi
"Ya sayang" jawab Maryam tersenyum
"So, where is he?" Ryu mengernyitkan dahinya
"Grandpa akan menyusul kita besok" Maryam mencubit gemas pipi Ryu kemudian mengecupnya singkat. Detik kemudian Maryam membawa Ryu masuk ke dalam mobil mewahnya. Maryam berangkat bersama supir dan satu pengasuh Ryu, juga dua bodyguard yang ada di mobil lain.
*******
Raihan masuk ke area parkiran restaurant Jepang XX sesuai permintaan Jingga. Setelah memarkir mobilnya, Raihan membukakan pintu untuk Jingga.
Romantis sekali ! batin Jingga
"Jadi kamu udah berapa kali kesini?" tanya Raihan
"Satu kali, sama bang Zayn" ucap Jingga mengedarkan pandangannya di dalam restaurant "Loh itu bang Zayn, eh sama siapa?" ucapnya lagi
"Giska yank, itu Giska !" Raihan segera merangkul pundak Jingga mengajaknya mendekati meja Zayn.
"Weidih bang, nggak bilang-bilang mau lunch disini" kekeh Zayn sambil menyendok kuah ramen dalam mulutnya. Raihan menaikan sebelah alisnya melihat sikap Zayn yang pura-pura tidak perduli.
"Kalian udah saling kenal ternyata" ucap Jingga dengan senyum mengembang sempurna.
"Kok lo liatnya gitu sih? emang ada yang salah?" Giska menautkan kedua alisnya
"Ehm, enggak kok" Jingga menyimpan senyumnya dalam diam
"Aku ke toilet dulu" ucap Giska tiba-tiba
"Gue ikut gis ! mas pesenin Ramen kaya bang Zayn ya" Jingga meminta Raihan memesankan semangkuk ramen untuknya. Raihan segera memanggil pelayan untuk memesan.
"Mikha datang" ucap Raihan tiba-tiba, Zayn langsung terbatuk.
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.. Lo bercanda kan? uhuk" Zayn mencoba menahan batuknya
"Gue SERIUS!" ucap Raihan penuh penekanan "Dan James undang gue makan malem" tambahnya lagi
"Terus?" Zayn memasang wajah seriusnya
"Gue nggak tau" Kegusaran nampak sekali di wajah tampan Raihan. Zayn dapat membacanya.
"Makan malemnya dalam rangka apa?" tanya Zayn
"Urusan bisnis, tapi gue nggak tahu ternyata James yang bakal gue temuin. Gue kira mr.Reagan yang dateng nemuin gue langsung, karena dari tahun lalu gue emang udah mulai kerja sama sama mr.Reagan. Gue bener-bener nggak nyangka ternyata James itu anaknya" tutur Raihan
__ADS_1
"Gue tau bang, bukan soal bisnis yang lo pikirin. Lo takut kan, ini ada hubungannya sama Ryu?" Zayn menebak-nebak, dan Raihan menganggukinya. "Right? gue ngerti banget perasaan lo!" ucap Zayn lagi
"Ryu anak gue Zayn ! anak gue sendiri ! Mikha nggak berhak ! dia bahkan nggak turut andil merawat Ryu sampai sekarang. Jadi dia anak gue ! bukan anak Mikha atau siapapun !" Rancau Raihan menaikan nada bicaranya sedikit dengan wajah sulit digambarkan. Zayn langsung bangkit dan menekan kedua bahu kakaknya, berusaha membuat Raihan tenang.
"Bang!" sergah Zayn "Ryu nggak bakal kemana-mana, ada gue. Gue bakal jaga Ryu juga !" ucap Zayn kembali menenangkan.
Pelayan datang membawa pesanan Raihan dan Jingga, detik kemudian Giska kembali ke meja bersama Jingga. Raihan dan Zayn membuat situasi menjadi seperti sebelumnya, seakan tak terjadi pembicaraan apapun.
Giska menatap Zayn dan Raihan bergantian, dia merasa ada yang aneh pada pria-pria tampan di hadapannya. Namun Giska enggan bertanya.
Bukan urusan gue ! batin Giska kemudian duduk di samping Jingga.
*****
"Malem ini kamu harus ikut mas, ada undangan dinner dan itu suami Mikha" titah Raihan tanpa mau dibantah
Aku juga bakal jaga Ryu mas. Aku denger semua pembicaraan kamu dan Zayn. batin Jingga
"Kamu dengar nggak yank?" Raihan memastikan istrinya tidak sedang melamun
"Sayang???"
"Airin???" Raihan menepuk pundak Jingga
"I.. iya mas, kenapa?" Jingga tergagap
"Nglamunin apa?" tanya Taihan melirik sekilas ke arah Jingga
"Nggak ada mas" Raihan mengusap sayang puncak kepala Jingga dengan tangan kirinya.
"Ibu hamil nggak boleh sering melamun" kata-kata Raihan langsung membuat Jingga memegangi perutnya, seakan meminta maaf pada ketiga calon buah hatinya didalam sana. "Mas mau telfon mami dulu, kamu istirahat ya. Inget nanti malem temenin mas dinner" pinta Raihan lagi
Cupssss
Raihan mengecup kening Jingga sekilas membuat Jingga tersenyum simpul.
Mikha? semoga kedatanganmu ke Indonesia tidak ada hubungannya dengan Ryu. Kamu sendiri yang telah menganggapnya mati ! bahkan kamu tak pernah membalas semua pesan-pesanku saat aku dengan antusiasnya menceritakan perkembangan Ryu. Kau tak pernah menginginkan kehadiran Ryu ! Ryu bukan anakmu. Hanya aku orang tuanya !
Raihan mengepalkan tangannya, memukul sebuah cermin di toilet kamar tamu. Kemarahan Raihan semakin menjadi karena ketakutannya sendiri, darah segar mengalir dari tangan Raihan. Pecahan cermin itu melukai tangannya, Raihan tak merasakan sakit maupun perih. Baginya, lebih sakit jika dia harus bertemu dengan Mikha.
Mikha adalah sebuah luka yang belum Ryu ketahui. Jika bisa, Raihan ingin sekali Ryu tak mengetahui siapa ibu kandungnya. Cukup ia mengenalkan Jingga , dan seterusnya Jingga akan menjadi mommy untuk Ryu. Namun itu hanya keinginan Raihan. Raihan hanya bisa berharap pada Tuhan supaya memihaknya kali ini.
.
.
.
.
.
TBC !! 🥰
__ADS_1