
"Airin? Kenapa menghindar? Kenapa nggak balas pesan mas? Kenapa hpnya nggak aktif?" Samar samar ku dengar mas Raihan menanyakan itu. Aku tetap diam bahkan aku sengaja tidak membuka selimutku.
Ku rasakan udara yang masuk ke dalam selimut. Aku yakin mas Raihan membuka selimutku. Aku menutup telinga dan memejamkan mataku membelakangi tubuh itu. Dan dia malah memeluk perutku. Mengusap usap perutku. Ingin rasanya ku tendang dia supaya jatuh ke lantai. Aku membencimu ! Dasar pria jahat.
"Mari kita buat adik untuk Kinanti" Betapa tidak tahu malunya kamu mas. Mengatakan hal seperti itu sedangkan kamu memikirkan untuk berpoligami.
Aku diam tidak menjawabnya. Aku memikirkan semua hal yang ku lihat di ponsel Dimas.
Aku tidak boleh terkecoh dan luluh lagi, mau tidak mau aku harus menyelesaikan masalah ini. Sekarang juga. Aku melepas pelukan mas Raihan dan membuka selimut perlahan. Aku membalik tubuhku hingga berhadapan dengan mas Raihan. Wajah kami sangat dekat. Aku sedikit mundur untuk menjauh.
"Mari kita berpisah" dengan wajah datar aku mengucapkan kalimat yang paling ku benci seumur hidupku. Aku tidak tahu lagi caranya mengekspresikan kekesalan ini pada suamiku.
Mas Raihan membulatkan matanya , wajahnya yang semula tampan menawan berubah menjadi merah padam. Dia terlihat seperti hendak menelanku hidup-hidup. Aku menebak reaksinya akan marah setelah ku ucapkan kalimat tadi.
"Sttttt, sini peluk" Dia malah menarikku kedalam pelukannya. Reaksi apa ini ? Seharusnya dia marah dan langsung menyetujui permintaanku. Bukankah dia ingin sekali menikah dengan kekasihnya itu ?
"Entah apa yang membuatmu marah sejak kemarin. Mas minta maaf, mas tidak bisa menceraikanmu. Mas sudah nyaman hidup denganmu" Dasar pembual. Apa yang kamu katakan mas ! Kamu bahkan berpikir untuk menikah lagi.
"Aku mau kita berpisah . Aku sudah tidak tahan lagi hidup denganmu. Terlalu banyak rahasia di antara kita. Kita sudah bukan seperti pasangan menikah pada umumnya. Kamu bahkan tidak mencintaiku"
__ADS_1
Tak terasa mataku mulai berkaca-kaca. Aku sudah merencanakan agar tidak menangis. Tapi kenapa mata ini tidak bisa bekerja sama denganku. Aku memalingkan wajahku dari hadapannya.
"Katakan lagi. Katakan yang kamu inginkan ! Katakan dan tatap mataku" Suara Mas Raihan bergetar menahan amarahnya.
"Apa salahku Airin? Aku sudah nyaman denganmu. Bahkan mungkin cinta itu sudah ada di sini" Mas Raihan menepuk nepuk dadanya keras.
"Kalau kamu menginginkan berpisah sekarang, kamu bisa mambuatku gila ! Aku tidak mau. Dan aku tidak bisa. Lebih baik aku kehilangan segalanya daripada kehilanganmu"
"BOHONG ! Bicara apa kamu mas. Tindakan dan ucapanmu benar-benar tidak sejalan"
"Apa maksudmu Airin !!!!??? Kamu ini kenapa sebenarnya ? Tiba tiba menghindar , marah, kemudian minta cerai" Ku lihat kilatan kemarahan di mata mas Raihan. Aku sangat takut untuk menghadapinya. Kemudian aku menundukan kepalaku.
"Apa ini soal kemarin? Aku yang tiba tiba pergi meninggalkanmu? Aku minta maaf. Kemarin beberapa orang dari perusahaan jasa berdemo di depan kantor. Mau tidak mau aku harus kesana Rin. Kamu tau kan? KJ Group adalah wajah papi. Aku tidak ingin image KJ Group menjadi buruk hanya karena kesalah pahaman" Mas Raihan mengatakannya dengan sungguh sungguh. Tak nampak kebohongan dari sorot matanya. Aku harus percaya dia adalah suamiku. Tapi aku harus memastikan maksud dari pesan Felicia kemarin.
"Kamu lihat. Apakah aku terlihat sedang berbohong?" Aku memejamkan mataku. Aku berencana untuk memberitahu perihal Felicia.
"Mas ada sesua..."
"Jingga lo kemana aj" Dimas menerobos masuk ke kamar yang memang tidak di tutup rapat dan memotong pembicaraanku. Mas Raihan membalik badannya kemudian dia terbelalak melihat sosok Dimas yang terpaku di tempatnya.
__ADS_1
"Kau !!" Terlihat jelas bahwa suamiku memang terkejut dan reaksinya menunjukan seolah sudah pernah melihat Dimas sebelumnya.
"Ada apa ini Airin??? dia Dimas ? Apa kamu mengenalnya???" Mas Raihan meremas lenganku. Aku sampai meringis.
"Aaaaaw mas lepas ! Dimas , Mas Raihan. Kita bicara di luar" Dimas malah menutup pintu kamar kemudian menguncinya.
"Lo duduk disitu aja, kita bicara disini. Lo nggak mau Muhammad denger rencana poligami suami lo kan?" Mas Raihan terlihat semakin marah. Aku sengaja memegangi lengannya untuk menahannya
"Apa maksudmu !! Siapa yang mau berpoligami ???" Kata mas Raihan sambil turun dari ranjang kemudian berdiri mendekati Dimas, detik kemudian dia meraih kerah kemeja Dimas.
"Siapa lagi kalo bukan lo !" Dimas tersenyum sinis. Aku harus menghentikan mereka sebelum berkelahi.
"Cukup. Mari kita selesaikan ini dengan kepala dingin. Mas kamu duduk disana ! dan lo Dimas, diem disitu" ku diamkan mereka beberapa detik untuk mengatur posisinya
"Mas kenalin, Dimas sahabat aku. Dimas ini mas Raihan suamiku" Aku memandang ke arah mereka. Aku melihat tatapan tidak suka diantara keduanya. Aku memejamkan mataku kemudian menarik nafas dalam dalam.
******
Setelah ini POV JINGGA berakhir. Kita akan melihat sisi lain dalam cerita ini. Maaf apabila banyak kekurangan karena saya masih newbie.
__ADS_1
Kalian membaca saja sudah membuat saya senang, jangan lupa like dan vote nya.
Terimakasih 🥰