Aku Hanyalah Janda Biasa

Aku Hanyalah Janda Biasa
Akhirnya ketemu mommy !


__ADS_3

"Mungkin ini kabar yang menyakitkan untuk di dengar rin, tapi mas nggak bisa lagi untuk menutupinya" Raihan terlihat semakin frustasi dalam menyampaikan maksud dan tujuannya tersebut


"Mereka punya kakak rin" kata Raihan menunjuk perut Jingga kemudian memalingkan wajahnya ke jendela sisi kemudi


JEDERRRRRRRRR


Apa maksudnya? apa maksud kamu mas? kata Jingga dalam hatinya. Dia tak sanggup berkata-kata. Dia tak mampu menanyakannya karena dia tak siap untuk mendengar hal yang tak ingin di dengarnya.


"Kamu sudah bilang sama mas, menerima semua kekurangan mas. Ini salah satunya, mas bakal kasih tau kamu. Tapi mas mohon, jangan kecewa, jangan pernah tinggalin mas apapun yang terjadi" nada bicara Raihan mulai terdengar tenang tak seperti tadi.


Jingga masih diam tak berkutik, Raihan kembali melajukan mobilnya. Bahkan tanpa melihat maps yang Jingga tunjukan dia sudah hafal jalannya.


Sekitar 45 menit akhirnya mereka tiba di depan panti asuhan yang Jingga ingin datangi. Sekali lagi kejutan untuk Jingga, dia melihat Mobil Sulaiman terparkir rapi di halaman panti asuhan tersebut.


Raihan membukakan pintu mobil untuk Jingga. Jingga segera turun mengikuti langkah kaki suaminya, banyak anak-anak seusia Kinanti bermain di taman panti, Jingga jadi mengingat putri kecilnya di rumah orang tuanya.


Kinanti sedang apa ya? katanya dalam hati, kemudian dia mengeluarkan ponselnya untuk melakukan panggilan video bersama putrinya.


"Assalamualaikum mba ayu?"


Waalaikumsalam dek


"Mba ayu apa kabar?"


Alhamdulillah baik, kamu gimana? katanya kembar tiga ya? selamat ya dek


"Hehe makasih mba, iya aku juga nggak nyangka banget dikasih tiga sekaligus. Kinan dimana mba?"


Ya Allah sampe lupa kasih tau. Kinan lagi ikut paman sama bibi ke kebun binatang.


"Oh, kalo gitu nanti kabarin aku ya mba kalo Kinan pulang. Salam juga buat abi dan ibu"


Mas adam nggak ?


"Nggak usahlah, mas adam mah ngabsen aku tiap hari semenjak tau aku hamil mba. Udah dulu ya mba, aku lagi diluar nih. Assalamualaikum"


Hehe yasudah , Waalaikumsalam.


Jingga memutus panggilannya, kemudian memasukan ponselnya kembali kedalam tas. Dia mengedarkan pandangannya, mencari dimana sosok Raihan berada. Sambil berjalan beberapa langkah, tak terlalu sulit untuk menemukan dimana keberadaan Raihan, buktinya sekarang Jingga sudah melihat suaminya duduk di kursi taman bersama kedua orang tuanya.


Tunggu dulu , anak itu? siapa anak yang duduk di pangkuan mas Raihan? Jingga penasaran


Jingga menatap keluarganya dari kejauhan, selangkahpun dia tak berani mendekat. Jingga menyipitkan matanya, berharap penglihatannya tak salah. Wajah anak itu hampir mirip dengan wajah Raihan kecil yang Jingga lihat di ruang tamu.


Apa maksudnya anak dalam perutku memiliki kakak? apa jangan-jangan? Tidak , ini tidak mungkin. Jingga menggeleng cepat dan langsung mengambil langkah seribu mendekati mereka.


"Dad? kapan Ryu boleh ikut daddy?" dari jarak 5 meter Jingga sudah mendengar jelas celoteh anak itu menyebut kata daddy sambil menatap wajah Raihan dengan riangnya.


Jingga tersenyum getir, merasa sesak di dadanya. Entah apa yang membuatnya sakit, jika ini adalah sebuah kebohongan. Maka Jingga tak bisa semudah itu memaafkannya.


"Jingga?" tegur Sulaiman sedikit terkejut. Jingga menatap kedua mertuanya dengan tatapan datar seolah meminta penjelasan


"Daddy , aunty cantik ini siapa?" tanya bocah laki-laki yang diduga Jingga seumuran dengan Abi anak dari Adam dan Ayu.


"Mulai sekarang Ryu panggilnya mommy, jangan aunty" kata Raihan tanpa menjelaskan membuat Ryu turun dari pangkuan Raihan dan melangkah mendekati Jingga


Brughhhhh , bocah itu memeluk Jingga tanpa rasa malu


"Ryu seneng, akhirnya Ryu ketemu mommy" ucapnya sambil memeluk Jingga, Jingga diam tak berkutik, bahkan dia tak membalas pelukan bocah kecil itu. Jingga menatap kosong ke arah depan , seolah dia tak mendengar suara di sekelilingnya. Jingga telah memasuki dunianya sendiri, dimana tak ada orang lain disana. Tidak ada yang Jingga lihat, tidak ada yang Jingga dengar, bahkan tidak ada yang Jingga rasakan.


Menit kemudian Jingga tersadar, anak kecil bernama Ryu tadi sudah tidak ada di hadapannya. Hanya ada keluarga suaminya dan seorang wanita paruh baya yang menatap Jingga sambil tersenyum


"Airin kenalkan, ini bu Ningsih pemilik sekaligus pengurus panti asuhan ini" ucap Raihan menarik sudut bibirnya kecil


"Saya sudah kenal, kalau bu Ningsih nggak lupa. 8 tahun yang lalu saya sering kesini sama Dimas, saya temannya Saras" ucap Jingga penuh hormat


"Saya masih ingat kamu, ingat sekali" kata Ningsih meraih tangan Jingga menatapnya dengan tatapan rindu


Jingga mengeluarkan paperbag berisi uang hasil penjualan jam tangan tadi.


"Sebelum membahas hal lain, ini ada sedikit rejeki dari mas Raihan untuk panti" kata Jingga masih menahan tangisnya


"Apa ini nak?" tanya bu Ningsih mengangkat kedua alisnya


"Terima saja bu" pinta Jingga


"Duduk sayang" ucap Maryam menepuk kursi kosong disebelahnya, Jingga menurut. Karena biar gimana pun dia harus mendengar penjelasan keluarganya


Maryam terlihat menarik nafas panjang sebelum akhirnya membuka suara.


"Ryu adalah anak kandung suamimu" ucap Maryam menggenggam tangan Jingga erat seolah menguatkan. Jantung Jingga seakan berhenti berdetak, bagai kehabisan oksigen di sekelilingnya dia jadi hampir kesulitan bernafas, pandangan yang tiba-tiba saja kabur tida membuat Jingga langsung roboh di hadapan mereka semua.


"Ibu dan Abahmu tahu, sudah tahu sebelum kami menikahkan kalian" Sulaiman menimpali


"Apa mas Adam tau pi?" tanya Jingga menatap Sulaiman dengan mata yang sudah berair. Sulaiman mengangguk


Tes.. tes.. Air mata Jingga tiba-tiba saja berjatuhan tanpa permisi.


"Ahahahaha, hahahahaha lucu, bercandanya lucu hahahahaha ahahahahaha. lucu sekali" kata Jingga tertawa terbahak sambil menangis , entah tangisan apa itu yang jelas Maryam mengerti kepiluan yang menantunya rasakan.


"Hahahaaha lucu sekali" Jingga menatap mata Raihan, kemudian memelototinya. Jingga melepas genggaman tangan Maryam kemudian berlari meninggalkan mereka dengan air mata yang benar-benar sudah berjatuhan pipinya.

__ADS_1


"Kejar ! dia nggak boleh lari seperti itu. Jingga sedang hamil !" teriak Sulaiman , Raihan langsung mengejar Jingga. Ryu sempat ingin mengikuti Raihan, namun dengan janji seperti biasanya, Ryu akhirnya menurut bermain dengan oma opanya lagi.


"Rin, tunggu" serunya sambil mengejar Jingga yang masih berlari


"Rin kamu lagi hamil, jangan lari sayang !" ucap Raihan membuat Jingga berhenti


"Kenapa lari? apa kamu nggak butuh penjelasan dari mas?" tanya Raihan dengan nafas terengah-engah


Raihan menstabilkan nafasnya kemudian melangkah mendekati Jingga.


"Dia anakku Airin, anak kandungku" Raihan mendekap erat tubuh Jingga yang mematung sejak tadi.


DEG !!!


Bagai tersambar petir disiang bolong, Jingga merasa nyeri teramat sangat mendengar pengakuan langsung dari suaminya. Jingga tak mempermasalahkan masalalu Raihan bila memang ia jujur sejak awal. Dia terlalu kecewa untuk bisa menerima kenyataan ini. Tak hanya suami dan mertuanya, keluarganya sendiri bahkan tega menutupi aib sebesar ini pada Jingga.


"Mas antar aku pulang, ke rumah kita" ucap Jingga kemudian masuk ke dalam mobil


"Nggak pulang ke rumah mami aja sayang?" tanya Raihan. Jingga diam tak bersua, bahkan bibirnya terlihat bergetar menahan nyeri di hatinya. Sepertinya niat awalnya untuk merajuk karena jam tangan malah berubah. Dia kali ini benar-benar kecewa hingga enggan rasanya untuk bicara, bahkan dia tak ingin melihat wajah suaminya untuk sekarang ini.


Setibanya di rumah besar yang Raihan beli untuk tinggal bersama Jingga. Jingga meminta satpam untuk menutup pagarnya segera setelah Jingga masuk.


"Pak Anto, kalo masih mau kerja disini. Jangan buka pagernya. Jangan biarkan mas Raihan masuk !" Perintah Jingga menepuk lengan Anto. Anto menjadi dilema karena selama ini dia bekerja pada Raihan, bukan pada nonanya. Raihan mengangguk memberi jawaban atas tatapan Anto.


Maafkan saya tuan . Sorot mata Anto seolah-olah mengatakan hal itu pada Raihan. Raihan hanya melambai kemudian meninggalkan rumahnya sendiri dengan sesal yang tiada hentinya. Raihan ikut merasakan sakit yang Jingga rasakan.


"Maafkan aku Airin !!! Arggghhh !!!!" rancaunya sambil memukul stir beberapa kali. Raihan terlihat frustasi karena telah menoreh luka di hati istrinya sendiri dengan kebohongan yang seharusnya tak pernah ia lakukan. Jika sudah begini, apa mau dikata? Nasi sudah menjadi bubur. Semua telah terjadi, wanita itu sudah menangis, Airinnya terluka, karena ia kembali menyakitinya.


Sampai di dalam, Jingga disambut oleh para maid yang tentu saja sudah lama merindukannya.


Jingga meminta para maid untuk kembali beristirahat. "Anggap saja seperti biasa ya bi, anggap seperti kemarin waktu saya nggak ada di rumah" ucap Jingga Ramah. Para maid hanya mengiya kan permintaan Jingga yang pastinya hal itu tak mungkin diwujudkam, karena bagaimanapun Jingga adalah istri tuannya, istri seorang Tengku Raihan Khairi.


Jingga masuk ke kamarnya, mengisi bathub dengan air hingga penuh, dia memutuskan untuk berendam. Hingga tertidur seperti biasanya, kali ini tak ada yang membangunkannya. Dia bangun sendiri dengan kulit tangan dan kaki yang sudah sangat keriput. Jingga meraih bathrobe tanpa merasa dingin.


Jingga langsung merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa melepas bathrobenya. Jingga menurunkan suhu ac nya, bagi orang normal kamar itu mungkin terasa sangat dingin. Tapi karena Jingga sedang merasakan panas dalam hatinya, seolah mati rasa.. dia tak kedinginan bahkan tanpa selimut pun.


*******


"Non ada tamu"


"Siapa bi?"


"Namanya mbak Illona, mukanya kaya bule non, cantik banget" kata Iin polos.


Hah Illona? mau apa? gumam Jingga


"Bi bilang aja nggak ada orang" Jingga meminta Iin untuk berbohong


"Baiklah kalau begitu bilang saja, saya lagi tidur bi" kata Jingga lagi


"Siap non" Iin langsung lari ke depan menuruti perintah nonanya. Jingga mengamati Iin dari jendela rumah, tak lama kemudian mobil yang Illona gunakan akhirnya berlalu pergi. Jingga bernafas lega.


Apa kalian tahu rasanya menjadi Jingga? apa yang harus Jingga lakukan sekarang? bagaimana Jingga menyikapi masalah ini, bahkan untuk membahasnya dengan keluarganya saja Jingga benar-benar tak kuasa.


Yang bisa Jingga lakukan saat ini hanyalah diam. Diam untuk sementara waktu. Dia ingin menenangkan hatinya, meyakinkan dirinya sendiri, supaya tak mengambil keputusan yang salah nantinya.


******


Bi? apa Airin sudah tidur? tanya Raihan pada sambungan telefon


"Belum tuan, nona masih di ruang baca sejak tadi" kata Rinah


Baiklah, kalau bisa.. ingatkan padanya untuk beristirahat lebih awal ya bi. Saya tutup telfonnya


"Baik tuan"


Rinah berjalan tergopoh-gopoh menuju perpustakaan kecil di dekat taman. Perpustakaan tersebut tidak berada didalam rumah, Raihan sengaja memisahnya menjadikannya satu ruang kecil di taman. Tempat yang indah, dengan desain interior serba kayu yang menambah kesan klasik dari luar dan dalamnya, Malahan tempatnya lebih cocok untuk spot foto. Rinah masuk ke dalam, dia melihat Jingga bukan sedang membaca. Melainkan menonton film action dari ponselnya sambil menyandarkan badannya di sandaran sofa.


"Non? istirahat sudah malam" ucap Rinah lembut


"Belum ngantuk bi" sahut Jingga tersenyum


"Kalo nona masih disini, nanti saya dimarahi tuan" wajah Rinah memelas


"Oke.. oke.. saya ke kamar dulu bi" kata Jingga bangun dari duduknya kemudian melangkah keluar dan kembali ke rumah


Di dalam kamar, Jingga menatap langit-langit. Dalam kehampaan dia masih sempat tersenyum di tengah rasa sakitnya. Membayangkan malam-malam yang pernah ia lewati bersama suami tersayangnya yang sialnya telah tega membohonginya. Manik cokelat itu meneteskan cairan beningnya, Jingga bersedih lagi. Hatinya terasa sakit. Jingga membekap mulutnya dengan tangannya, dia tak kuasa menahan rasa sakit menerima kenyataan yang belum ia ketahui kejelasannya.


Semakin ia tahan, semakin menjadi pula rasa sesak di dadanya. Jingga merasa dirinya tak lagi memiliki seseorang yang bisa dipercaya. Bahkan orang tuanya sendiri rela menutupi kebenaran yang bisa menghancurkan hati putri yang selalu ia bilang kesayangannya.


Hahahaha, sakit ya Allah. Lucu sekali, ini benar-benar lucu. Lirihnya sambil memukuli dadanya sendiri dengan sebelah tangannya.


Yang Jingga tahu, Raihan telah mengakui bahwa Ryu adalah anak kandungnya. Entah dari wanita yang mana, Jingga tak bisa membayangkannya. Tak seperti dirinya, Jingga memiliki anak dengan status yang jelas. Jingga pernah menikah, namun tidak dengan Raihan.


**********


Di tempat lain, Raihan sibuk dengan lamunannya. Dia memikirkan bagaimana caranya agar malam ini dirinya tetap bisa tidur bersama Jingga


"Jadi gimana man?" tanya Jerry membuka kaleng birnya. Bhumi menggeleng memberi isyarat supaya Jerry tak lagi banyak bertanya


"Jujur aja gue baru tau kalo si Jingga itu istri lo man, gue kan cuma liat di foto nikahan lo" kata Jerry lagi

__ADS_1


"Pasti lo sempet naksir ?" Bhumi melirik dengan seringai devilnya


"Dikit , cuma segini" kata Jerry memperlihatkan telunjuk dan jempolnya yang hampir menempel


"Emang cakepan pake jilbab sih" lirih Bhumi namun masih terdengar oleh Raihan


Bugghhhh


Satu tendangan keras melayang tepat di kaki Bhumi, membuat Bhumi mengaduh.


"Nggak usah puji-puji bini gue. Mau pada mati lo?" ketus Raihan dengan mata mendelik. Padahal Jerry dan Bhumi memang sengaja memancing Raihan supaya mau bicara


"Gue kira istri lo juga udah tau masalah Ryu" ujar Jerry


"Gue cari waktu yang tepat man" sahut Raihan putus asa


"Gue ngrasa kalo gue ini udah bener-bener sayang sama Airin. Dan gue pikir sekarang waktu yang tepat, buat nunjukin ke Ryu siapa yang bakal jadi mommynya" Raihan memijat pelipisnya


"Tapi gue nggak nyangka responnya Airin bakal kayak tadi. Gue juga yakin Ryu pasti sedih" timpalnya lagi


"Semua perempuan juga pasti bakal bereaksi kaya Jingga han" kata Bhumi


"Rapi banget gue sembunyiin ini dari Felicia bertahun-tahun. Gue sampe bodo amat kalo sampe Felicia tau pas itu. Tapi sama Airin, jujur gue lemah. Gue nggak bisa masa bodo kaya yang udah-udah. Gue takut Airin pergi" Mata Raihan mulai memerah menahan amarah dan sesak di dadanya.


"Seandainya kesalahan itu nggak pernah ada, seandainya Mikha nggak hamil, mungkin nggak akan ada aib sebesar ini yang mesti gue tutupin" Raihan mengepalkan tangannya


"Gila lo ya, pake nyesel. Ryu itu anak lo, darah daging lo. Meskipun itu memang kesalahan, tapi lo nggak berhak buat menyesali rejeki yang udah Allah kasih buat lo" Bhumi memukul pundak Raihan keras berharap sahabatnya itu segera sadar dan menarik kembali ucapannya


"Gue nggak tau kalo yang gue tidurin itu Mikha, kita satu sama. Mikha juga taunya gue ini James. Kita mabuk parah waktu itu, mungkin kalo Kemala terus ada di samping gue. Gue nggak bakal nyesel ngehamilin anak orang yang saat itu gue suka" ucap Raihan dengan suara yang sudah mulai bergetar. Bhumi dan Jerry terlihat manggut-manggut berusaha memahami Raihan yang sedang kalang kabut meratapi nasibnya. Detik kemudian Jerry terkesiap ! usai mencerna kalimat Raihan tadi


"Apa ? siapa tadi lo bilang ? Kemala ?" Jerry mengernyitkan dahi dengan wajah seriusnya. Raihan hanya mengangguk pelan


"Maksud lo gimana sih anj*g !! Nggak mudeng gue !!" tanya Jerry kesal


"Sebenernya gue sama Kemala udah kenal sejak kuliah, gue pernah ada hati sama dia. Tapi nggak sampe bener-bener jalin hubungan. Dia keburu ngecewain gue demi laki-laki lain man" sahut Raihan


"Bukan ! insiden lo sama Mikha, kenapa tadi lo bawa-bawa nama Kemala???" tanya Jerry


"Lo inget nggak waktu acara ulang tahunnya Gustaf. Gue kan bawa cewek, ya itu dia Kemala. Cuma karena gue sama dia statusnya cuma temen, jadinya nggak terjadi apa-apa. Pas gue mabuk parah, gue ke kamar Gustaf tuh, gelaaaap banget pas itu.. inget banget gue. Ada cewe cium-cium gue, karena pikiran gue hari itu cuma Kemala Kemala doang. Gue pikir dia Kemala, sampe gue nglakuin hal terlarang itu. Sekitar jam 2 pagi gue sadar, bangun kan. Ternyata yang di dalem selimut sama gue tuh si Mikha !!!! kaget setengah mati gue. Singkat cerita gue sama Mikha menyadari bahwa itu adalah sebuah kesalahan, kita sepakat buat nglupain dan nutupn hal itu. Lagian emang guenya juga nggak berasa apa-apa, tau-tau udah nggak pake baju aja gue" Jujur Raihan


"Terus lo sama Mikha gimana?" tanya Jerry sambil menikmati kepulan asap dari sebatang rokok yang di pegangnya


"Setelah kejadian itu, pertemanan gue sama Mikha jadi renggang. Gue tetep kuliah , si Mikha juga masih jadi model di KJ Group cuma kita nggak pernah ngongkrong lagi kaya biasanya. Sebulan kemudian si Mikha nyariin gue di kampus, dia bilang dia telat dateng bulan gitu. Gue nggak mau jadi pengecut dong, gue minta Mikha buat priksa, dan ternyata bener. POSITIF ! akhirnya gue bawa Mikha kerumah. Gue ceritain sama papi mami urutan ceritanya gimana, berharap mereka ngertiin gue. Papi gue sampe kumat vertigonya man ! Zayn pukulin gue tanpa ampun, gue sengaja nggak ngelawan karena gue tau gue ini salah ! gue baj*ngan ! Akhirnya keluarga gue minta gue nikahin Mikha, meskipun itu cuma kesalahan tetep aja Mikha hamil anak gue. Gue udah anggep Mikha kaya kaka gue sendiri man, malu banget jujur aja. Seminggu kemudian keluarga Mikha dari Jepang dateng ke tempat papi. Ngomongin soal kehamilan Mikha, mereka ngotot minta Mikha buat aborsi. Sedangkan keluarga gue pantang banget nglakuin itu kan" terang Raihan, membuat dua pria di depannya terbelalak


"Alesannya apa, kenapa nggak nikahin lo berdua aja?" Bhumi ikut penasaran karena selama ini Raihan belum pernah cerita detailnya


"Alesannya ya karena si Mikha udah tunangan sama James. Setelah banyaknya pertimbangan, akhirnya keluarga Mikha bolehin Mikha lahirin bayi itu dengan satu syarat. Dia nggak boleh ketahuan publik apalagi ketahuan James. Papi sama Mami sepakat buat nyembunyiin Mikha sesuai keinginan keluarganya. Mikha berhasil selesein kontrak sama KJ Group saat usia kandungannya masuk 3 bulan. Dan saat itu pula Mikha mulai tinggal sama keluarga gue, sedangkan gue tinggal di apartemen. Selama itu gue nggak pernah sekali pun di repotin sama Mikha, karena dia ngrasa gue ini masih kaya adeknya dan dia risih man yang jelas ! timbang ngidam aja, daripada minta ke gue dia lebih milih minta ke si Zayn. Bahkan gue berusaha banget ikut andil dalam kehamilan Ryu, gue pengen sekali aja anterin Mikha ke dokter. Tapi dia nolak, maunya tetep sama Zayn ataupun mami. Beberapa hari sebelum ngelahirin Ryu, Mikha akhirnya berani minta sesuatu sama gue. Permintaan yang nggak masuk akal tapi akhirnya gue sama mami papi turutin juga" Raihan menghela nafas panjang kemudian bicara lagi


"Dia minta kita bilang ke keluarganya bahwa Ryu meninggal saat dilahirkan. Mikha nggak mau ada kontak sama keluarga gue lagi, meskipun soal Ryu. Karena dia takut lama-lama James tau"


"Udah gila ya itu betina !" ucap Jerry asal


"Terus gimana ceritanya lo kepikiran sembunyiin Ryu di panti asuhan" tanya Bhumi


"Gue udah nyerah bujuk Mikha. Lagipula mami papi setuju asal Ryu nggak dibawa sama Mikha. Seminggu setelah kelahiran Ryu, Mikha balik ke Jepang. Terus beberapa bulan setelahnya dia nikah sama James. Pas Ryu lahir tuh umur gue 21 si Mikha 24. Gue masih terlalu muda buat ngurus anak, akhirnya mami gue minta bangun rumah di samping panti asuhan yang sekarang jadi lingkungan Ryu tinggal. Ryu besar di rumah itu, mami sama papi hampir tiap hari kesana, sedangkan gue paling hebat seminggu sekali jengukin Ryu. Buat ringanin kerjaan mami, akhirnya papi sewa 2 baby sitter buat jagain Ryu sampe sekarang"


"Masalah ini terlalu rumit buat lo jelasin ke Jingga man, gue juga bingung sih kalo jadi lo mau mulainya darimana" kata Jerry


"Nanti coba gue yang ceritain, menurut lo gimana?" tanya Bhumi


"Gue emang mau minta bantuan lo, soalnya Airin nggak mau ketemu sama gue Bhum" ucap Raihan


"Tapi ngomong-ngomong, apa Mikha pernah dateng buat nemuin Ryu?" tanya Bhumi membuat Raihan menggeleng


"Dia nepatin janjinya buat nggak pernah nyari Ryu sama sekali"


Kedua pria itu tertegun mendengar kisah kelam Raihan. Sekian lama menjalin persahabatan dengan Raihan , baru pernah Bhumi melihat Raihan serapuh ini. Bahkan Jerry tak menyangka jika kisah lahirnya Ryu amat memilukan. Tak bisa ia bayangkan jika suatu hari Ryu mengetahui bagaimana ceritanya ia lahir ke dunia.


.


.


.


.


.


.


.


Konflik lagi , biar nggak terlalu flat !!!


Selamat sore readers tersayang 🥰


Like dan vote ya, doain author cepet sehat ya..


Lagi kurang enak badan akhir-akhir ini.


Love you all !!! 💕

__ADS_1


__ADS_2