
Esok paginya setelah melaksanakan ibadah, Jingga keluar rumah untuk mencari udara segar. Dia duduk di taman sambil memutar musik kesukaannya, tak lupa Jingga memasang earphonenya di telinga.
Maafkan aku mas, sebenarnya aku juga menderita harus tidur terpisah denganmu. Tapi hanya ini yang bisa ku lakukan untuk mengetahui bagaimana perasaanmu padaku. Batin Jingga
"Ekhem..." suara Zayn tepat dari belakang Jingga
"Eh bang" ucap Jingga spontan, Jingga mendengarnya karena dia sengaja tidak begitu mengeraskan volume earphonenya.
"Saya ganggu nggak?" Tanya Zayn ramah membuat Jingga tersenyum
"Nggak kok bang"
"Ngobrol boleh ya? Saya pengen nanya-nanya Ngga" kata Zayn kemudian duduk di hadapan Jingga
"Kamu sehat Ngga?" Tanya Zayn menaikan kedua alisnya, Jingga balas mengangguk
"Selama ini kamu kemana aja?" Tanya Zayn lagi, Jingga hanya balas dengan senyuman kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain menghindari tatapan Zayn
"Nggak apa-apa kalo belum mau cerita, kapan-kapan kan bisa" kata Zayn mengembangkan senyumnya membuat Jingga menggeleng kemudian menatap Zayn.
"Baiklah , akan kuceritakan" ucap Jingga
FLASHBACK
"Gis gis, lo jemput .. hiks... gue.. hiks.. di cafe xx deket komplek rumah gue hiks" kataku dalam sambungan telefon. Aku sudah tidak bisa menahan isak tangisku hingga orang-orang disekeliling memperhatikanku dengan tatapan aneh. Aku langsung mematikan telfon tanpa menunggu jawaban Giska. Sambil menunggu, aku hanya memesan sebotol mineral untuk meredakan rasa hausku. Setelah beberapa menit akhirnya Giska tiba, tapi dia mengajak Bastian serta. Sebenarnya aku merasa tidak nyaman karena pertengkaranku dengan mas Raihan malam ini dipicu karenanya.
Tanpa basa-basi akhirnya aku menurut saja, aku masuk ke dalam mobil dengan menutup wajahku menggunakan tas yang kubawa.
"Kita kemana?" Tanya Giska dari samping kursi kemudi
"Nggak tau, gue nggak tau mau kemana gis" jawabku sambil berusaha menahan tangis
Aku melihat Giska yang sedikit berpikir, mungkin dia penasaran pada apa yang terjadi denganku malam ini. Akhirnya Giska meminta Bastian pindah dari kursi kemudinya. Sekarang gantian Giska yang menyetir.
"Apa Bogor? Lo gila?" Bastian menatap tajam ke arah Giska setelah Giska mengatakan kemana dirinya akan membawaku.
"Diem deh lo bas" ketus Giska kemudian mulai melajukan mobilnya.
Sepanjang jalan aku hanya menangis dan terus menangis hingga membuat kedua temanku kebingungan
"Ngga kamu nggak apa-apa ?" Bastian menoleh ke arahku. Aku mengacuhkannya, malas sekali rasanya berbicara dengan Bastian saat ini.
Mendengar kata Bogor ,tentu saja aku tidak keberatan karena semasa kuliah setiap liburan, Giska sering mengajaku menginap di villanya. Aku menyandarkan kepalaku di kaca mobil. Sampai beberapa saat akhirnya kami tiba di sebuah Villa besar milik Giska. Kami masuk kedalam ,pastinya Bastian juga ikut. Giska memintaku untuk duduk di ruang tamu dan mulai menanyakan apa sebab aku menangis dan minggat dari rumah. Akupun menceritakannya , tapi aku tidak mungkin menceritakan perlakuan kasar mas Raihan kepadaku. Bagaimanapun dia suamiku , aku hanya bercerita bahwa ada kesalah pahaman diantara kami yang mengharuskanku pergi untuk sementara waktu.
Malam ini aku tidur di villa Giska, juga Bastian. Terdapat lima kamar pada villa ini, maka dari itu Giska tidak keberatan kalau hanya sekedar berbagi ruang untuk Bastian. Esok harinya Bastian kembali ke Jakarta karena dia harus bekerja. Dia menepuk pundakku seraya berkata "Kamu pasti baik-baik saja, bersabarlah. Suamimu pasti menyesal sudah bertengkar denganmu semalam"
Tapi aku diam saja tanpa merespon ucapan Bastian. Aku masih malas bicara dengannya. Kalau saja waktu itu Bastian tidak sok perduli denganku, aku tak mungkin ada di Bogor sekarang.
Ini sudah hari ke empat aku tinggal di villa Giska, aku sengaja mengabaikan semua pesan dan panggilan dari keluarga mas Raihan. Aku masih sangat kesal dengan perlakuan mas Raihan padaku.
Selera makanku benar-benar berubah belakangan ini, aku tak pernah lagi menyentuh nasi. Hampir setiap hari aku hanya memakan salad buah, salad sayur, terkadang roti pun karena terpaksa. Semakin hari tubuhku rasanya semakin lemas, kepalaku terasa berat, aku semakin tak berselera makan, bahkan aku kerap menangis tersedu-sedu tanpa sebab.
Giska memaksaku makan setiap hari meskipun hanya se suap saja katanya sudah membuat dia tenang menyembunyikan istri orang. Sampai akhirnya aku tak kuat lagi, aku tak memiliki tenaga untuk melakukan apapun. Giska sedang berenang, aku hendak menghampirinya, aku ingin memintanya mengantarku ke dokter.
Tiba-tiba kepalaku terasa semakin pusing, mataku semakin berat. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, tiba-tiba saja aku sudah berada di rumah sakit xx saat aku membuka mataku.
Sepertinya ini ruang VIP, aku sudah berpikiran mungkin saja mas Raihan yang membawaku kemari. Tapi kenapa? Aku kenapa? Kenapa ada infus di tangan kiriku?
Tak lama kemudian Giska datang beriringan bersama Bastian. Giska meraih tanganku dengan senyum merekah di wajah ayunya, sedangkan Bastian hanya memasang wajah datar.
"Lo udah enakan?" Tanya Giska, aku mengangguk pelan karena sejujurnya tubuhku masih terasa lemas.
__ADS_1
"Gue kenapa?" Tanyaku lirih, Giska menarik sudut bibirnya kemudian dia keluar untuk memanggil dokter. Bastian tersenyum padaku lalu duduk di sofabed di sisi ranjangku.
"Siapa yang bawa aku kesini?" tanyaku canggung
"Giska sama aku" sahut Bastian singkat, aku tahu dia pun merasa risih dengan sikapku yang berubah menjadi dingin kepadanya.
Giska kembali bersama seorang dokter wanita berkerudung panjang. Aku membaca name tagnya. Namanya dokter Tania, dokter itu tersenyum ramah kepadaku
"Selamat ibu Jingga, anda hamil" ucapnya sumringah. Aku terkejut setengah mati, setelah mendengar ini aku bingung harus sedih atau senang. Aku tak memberikan ekspresi apapun pada dokter Tania.
"Be..be.. berapa usia kandungan saya dok?" Aku memberanikan diri bertanya
"Sudah memasuki minggu ke 6 kurang lebihnya" kata dokter Tania
Malam ini aku memaksa untuk pulang, padahal seharusnya aku menginap di rumah sakit setidaknya semalam. Itu semua kulakukan karena aku tak suka berada di sana, aku tidak menyukai aroma rumah sakit dan suasananya. Aku benci ! Aku jadi mengingat hari dimana aku membuka mataku setelah menonton berita kematian suamiku sendiri di televisi.
Aku memutuskan untuk menonaktivkan ponselku selama beberapa hari kedepan. Aku pun memblokir nomor mas Raihan dan Bhumi. Dokter bilang aku tidak boleh stres dan banyak pikiran. Sementara aku ingin sendiri untuk menenangkan diriku.
Hari-hari berlalu, Giska selalu setia menemaniku, meladeniku, dan Bastian? Tentu saja Giska selalu memintanya datang beberapa hari sekali ke Villa hanya untuk menuruti semua ngidam-ngidam anehku. Seperti saat ini, aku benar-benar menginginkan cilok kuah yang berada di samping kampusku dulu. Giska langsung menghubungi Bastian untuk membelinya, walaupun aku dan Bastian jarang berinteraksi langsung. Tapi ku akui, dia memang orang yang baik meski cintanya padaku tak pernah terbalas.
Tiga hari kemudian aku kembali drop, dalam hatiku ingin sekali mas Raihan datang menjemput atau sekedar menemuiku. Aku sangat marah padanya tapi aku tak tahu apa yang terjadi dalam hatiku sebenarnya. Apakah ini keinginan calon anak kami agar segera bertemu ayahnya?
Aku datang ke rumah sakit bersama Giska, aku selalu memperhatikan seorang pria yang mengawasi kami dari kejauhan. Dia itu Bastian, si pemberi parfum mahal yang sudah ku anggap seperti sahabatku.
Atas permintaanku, kuijinkan Bastian mengawasiku, tapi dari jauh saja jika berada di luar Villa. Aku tak ingin ada kesalahpahaman lagi seperti waktu itu.
Aku menyandarkan kepalaku di bahu Giska, Giska selalu menggunakan masker ketika mengantarku ke rumah sakit. Entahlah aku tak tahu sebabnya, dan akupun tak ingin menanyakannya.
Dokter Tania memberiku vitamin lain untuk menghilangkan rasa mualku. Setiap hari aku memang selalu muntah bahkan dalam sehari bisa belasan kali. Hingga tubuhku menjadi semakin kurus, aku semakin tak doyan makan. Aku hanya memakan makanan yang ku inginkan hari itu saja. Untungnya Giska dan Bastian selalu siaga menjagaku. Aku ingin berterimakasih pada Bastian suatu hari nanti, kalau aku sudah tidak malas bicara lagi dengannya.
Aku kembali ke villa dan beristirahat di kamar seperti biasa. Tak jarang aku tidur di lantai yang hanya beralaskan karpet, bagiku itu tempat ternyaman. Dulu aku tidak begini saat mengandung Kinanti. Beda sekali dengan kehamilanku yang dulu, kali ini benar-benar 180 derajat bedanya. Aku hampir tak pernah mandi, aku tidak suka bau wangi, bau sabun, bau pasta gigi, bau parfum, bau nasi, bau bakso, bau bawang goreng, dan semua bau masakan yang tidak ku inginkan hari itu.
Malam ini Bastian mengajak Roy , Luna dan Erin untuk menginap di villa Giska. Luna dan Erin adalah dua temanku yang berangkat bersama di nikahan pak Rifki.
Barbeque di kolam renang saat malam hari, siapa yang tidak menyukainya? Mungkin hanya aku dan calon bayiku dalam kandungan ini. Mendengar kata barbeque saja susah membuatku muntah, apalagi mencium aroma makanannya? Maka dari itu aku hanya melihat mereka dari dalam villa. Sesekali Giska melambai ke arahku, mungkin tujuannya agar aku tak merasa sendirian di dalam villa.
Sudah hari ke 10 aku tinggal di villa Giska. Aku tak berani menyalakan ponselku, aku tidak siap melihat bom chat dari suamiku dan keluarganya. Setiap memikirkannya lagi-lagi aku menangis, aku mengusap sayang perutku. Aku ingin sekali memeluk tubuh mas Raihan, aku yakin ini adalah bawaan bayi ! Yaaa, aku yakin sekali.
Aku memeriksakan diriku lagi ke rumah sakit karena paksaan Giska dan Bastian tentunya. Dokter Tania menyarankanku agar dirawat inap saja. Tapi aku malah menangis tersedu.
"Aku mau pulaaaang.. hiks.. hiks.." Giska segera memeluk diriku. Sedangkan Bastian memegangi pundakku.
"Dok, kalau harus dirawat, bisa nggak dirawatnya di rumah saja? Dia nggak suka rumah sakit" ucap Bastian dengan wajah khawatirnya. Dokter Tania terlihat bepikir kemudian dia menyetujui permintaan Bastian.
"Urus saja ya dok, saya akan urus ke bagian administrasi. Lakukan perawatan terbaik untuk Jingga" ucap Bastian lagi
"Tenang saja pak, istri bapak hanya kekurangan cairan, dia hanya harus di infus supaya tenaganya kembali pulih" ucapan dokter Tania sontak membuat tangisku berhenti. Giska dan aku saling tatap, bergantian dengan Bastian.
Jadi selama ini dokter Tania mengira bahwa aku istrinya Bastian? Biarlah, lagipula tidak penting juga menjelaskan siapa diriku padanya.
Aku pulang ke villa di ikuti dokter Tania beserta dua perawat yang bekerja di rumah sakit xx. Malam ini akan jadi malam dimana aku mulai tidak nyaman untuk tidur karena ada selang infus yang terkait di tanganku. Baiklah, aku harus bersabar demi calon bayiku.
FLASHBACK OFF
"Bastian itu yang mana Ngga?" Tanya Zayn pada Jingga
"Anaknya pak Andri, ceo nya itu loh bang, apayah nama perusahaannya.. itu.. itu yang deketnya mall B" kata Jingga sambil mengingat-ingat nama perusahaan milik keluarga Bastian
"Oh, GG Corp ya? Kamu kenal anaknya ternyata. Kalau saya sih akrab sama pak Andrinya" ucap Zayn menarik sudut bibirnya. Tiba-tiba Zayn membelalakan matanya ketika melihat Raihan yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu mendengarkan cerita Jingga. Raihan mengisyaratkan telunjuknya di depan bibir supaya Zayn tidak memberi tahu Jingga bahwa ada Raihan dibelakangnya.
"Iya, teman kampus. Se geng gitu bang, ber-enam" ucap Jingga sambil melihat tukang kebun yang sibuk membersihkan taman.
__ADS_1
"Ber-enam yang tadi kamu sebutin itu?" Tanya Zayn
"Iya bang" sahut Jingga "Oh iya, yang namanya Giska itu jomblo sampe sekarang loh bang" tambah Jingga terkekeh
"Maksud kamu apa Ngga?" Zayn mengangkat sebelah alisnya
"Ya kan aku nggak pernah lihat bang Zayn sama perempuan, mau aku kenalin aja hehehe" Jingga terkekeh lagi
"Kata kamu dia cantik, kenapa bisa jomblo?"
"Karena dia itu menantikan orang yang nggak jelas sejak dulu. Dia suka sama satu cowok yang doyan jajan, doyan ke club, pokoknya gitu deh. Dulu jaman kuliah kalo si cowo itu minta Giska buat nemenin dia ke bar Giska pasti nurut. Giska udah sering nyatain perasaannya tapi jadi kaya di manfaatin gitu loh. Aku jadi takut bang kalo suatu saat cowo itu macem-macem sama Giska. Kan kasihan , Giska tuh orang baik" ucap Jingga sendu
"Emang siapa nama cowo itu?" Tanya Zayn sedikit penasaran
"Siapa sih ya, lupa banget. Pokonya di hapenya Giska tuh cuma di save dengan nama KING. Jadi aku nggak tahu siapa nama aslinya, lagian kalo lagi nyeritain tu cowok. Kita emang nyebut dia king bang" jawab Jingga "Bang aku masuk dulu ya, bau wangi banget bibi kayaknya lagi bersihin kaca deh pake Clong. Mual aku" kata Jingga sambil berlari kecil masuk kedalam rumah, kemudian dia mengarah pada toilet yang ada di dekat dapur dan ..
"Hoeekkk hoeekkk.." Jingga memuntahkan cairan berwarna kuning yang terasa sangat pahit karena memang perutnya belum terisi apapun. "Hoek.. hoeeekk..." Raihan langsung bergegas menuju tempat suara itu berasal. Dia melihat istrinya sedang membungkuk di closet, dengan telaten Raihan memijat tengkuk istrinya.
"Gimana rin , gimana?" Raihan cemas melihat keadaan istrinya yang baginya mengkhawatirkan itu. "Mau panggil dokter rin?" Tanya Raihan, membuat Jingga menggeleng. Raihan memapah Jingga supaya duduk di meja makan. Tak lama kemudian Sulaiman, Maryam dan Delisa menyusul mereka ke meja makan.
"Kenapa nak?" Tanya Maryam cemas
"Mual mi, bau wangi" Lirih Jingga
"Hmmm, persis sekali seperti waktu mami hamil si kembar" kata Maryam melirik tajam Zayn dan Raihan
"Mi kok liat kitanya gitu sih?" Celetuk Zayn yang baru mendekat ke meja makan. Maryam tak menanggapi ucapan Zayn
"Sama nasi mual?" Tanya Maryam pada Jingga
"Nasi dan semua masakan yang nggak aku pengen mi" kata Jingga
"Tuhkan pi, persis banget kaya mami dulu pas hamil mereka" kata Maryam menepuk lengan suaminya
"Iya Jingga.. mamimu betul, tapi untungnya dulu papi selalu baik sama mami, nggak pernah kasar, karena mami selalu jadi istri yang baik buat papi" kata-kata Sulaiman bagaikan tamparan keras untuk Raihan.
Kalau Raihan masih seperti dulu, mungkin dirinya sudah mengamuk karena tak suka di sindir apalagi terang-terangan. Entah kenapa kali ini sindiran papi malah membuatnya merasa mendapat ilmu. Bahkan wajah Raihan terlihat memperhatikan Sulaiman tanpa tatapan kesal.
"Iya bener banget, dulu papi selalu turutin maunya mami Ngga, karena papi takut kalo nanti si kembar lahir terus ileran kaya yang dibilang orang-orang hehehe" ucap Maryam lagi
"Turutin apa aja misalnya mi?" Tanya Raihan tiba-tiba membuat semua orang membelalakan matanya "Kenapa? Aneh ya pertanyaannya?" Raihan tersenyum getir melihat anggota keluarganya bergangtian
"Eh eh, engga kok. Dulu mami minta papi cari jajanan pasar tapi pas itu jam 1 malem ya pi. Papi muter-muter tuh, mami bilang kalo belum dapet jangan pulang" kata Maryam tersenyum bangga
"Terus gimana pi?" Timpal Zayn melirik Sulaiman
"Papi ke tempat penjual jajanan basah yang di pasar, nanyain alamat yang bikin jajan sama suplier sayuran yang udah stay disana. Setelah dapet alamatnya papi kesana dong, terus sampe sana hampir aja di usir karena buat kegaduhan. Setelah papi negoisasi sama si nenek, papi bilang istri papi lagi nyidam. Dia setuju bikinin, setelah itu onde-onde jadi makanan paling mahal yang pernah mamimu makan semasa hamil katanya" ucap Sulaiman tersenyum
"Iya mahal karena harga onde-onde yang harusnya harganya 500 rupiah waktu itu malah papimu bayar dua juta karena nggak enak gangguin waktu istirahat orang" Maryam terkekeh mengingat masa ngidamnya dulu
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Guys maaf baru up, kemaren author ngejob seharian 😁 Jangan lupa like dan vote . Oh iya , jadiin favorit ya ! jadi tau pas author udah up.