
James bersabar, dia mendengar kabar bahwa ada sumsum tulang yang cocok melalui mata-matanya di rumah sakit milik keluarga Sulaiman. James tertawa sumbang, sepertinya akan ada drama melankolis pikirnya. Mengingat bagaimana Bhumi begitu menyayangi Aurum. Tapi James tidak peduli, yang ia mau hanya kesembuhan Rya. Putri semata wayangnya.
Dengan langkah pasti pria bernama James itu berjalan menuju kamar putrinya yang semakin hari semakin melemah.
"Tinggal menunggu hari, kamu akan menjalani oprasi. Daddy mengharap kesembuhanmu" James menghujani kecupan-kecupan kecil di wajah putri kecilnya.
****
Raihan gusar, tiba-tiba saja Bhumi menghilang tanpa kabar. Bhumi bahkan tidak terlihat sejak kemarin setelah menemani Raihan di rumah sakit. Raihan memperdalam pelukannya dari belakang, pria itu membenamkan kepalanya di ceruk leher Jingga. Raihan pikir sudah saatnya memberi tahu semuanya kepada Jingga. Raihan ingin mengakhiri semua rahasia yang ia buat selama menikah dengan Jingga. Tidak ada gunanya lagi jika Raihan terlambat menyadari semua kesalahan-kesalahannya selama ini.
"Sayang?"
"Hmmm" dengan mata terpejam Jingga menyahuti panggilan suaminya
"Aku ingin memberitahu sesuatu" hati-hati Raihan memulai pembicaraannya dengan sang istri
"Bicaralah" Jingga membalik tubuhnya hingga saat ini posisi wajahnya dengan wajah Raihan sejajar. Lamat-lamat Raihan memperhatikan wajah cantik istrinya yang semakin cantik. Ia mengusap sayang perut buncit istrinya. Melihat tatapan mata Jingga malah membuatnya ragu untuk berkata jujur.
"Aku mencintaimu" Cupsss, bukannya jujur Raihan malah mengungkapkan perasaannya disertai kecupan di kening Jingga
"Terimakasih karena telah menemaniku, sabar dengan semua sikapku. Terimakasih karena berserdia mengandung anak-anakku" mata Jingga berkaca-kaca. Ungkapan cinta dari suaminya inilah yang selama ini ia nantikan. Jingga tak mampu membalas ucapan suaminya, bibirnya bergetar, air matanya sudah menganak sungai kemudian wanita hamil itu segera memeluk tubuh jangkung ayah dari anak-anaknya itu.
"Hey, hey.. jangan menangis" Raihan menangkup kedua pipi Jingga dan menghapus air mata dengan ibu jarinya.
"Kamu terharu? atau kelilipan?" dengan sengaja Raihan menggoda Jingga. Membuat wanita hamil itu mencebik kesal. Berakhir sudah adegan romantis tadi, Raihan merusaknya.
"Jangan pernah menarik kembali kata-katamu mas. Aku sangat sangat sangat menyayangimu, jadilah suami dan ayah yang baik untuk mereka" kata Jingga mengusap perutnya sendiri. Raihan mengangguk dengan senyum lembutnya. Cupss
Satu kecupan Raihan daratkan di bibir kemerahan Jingga. Cupsss, cupp, cupp, cuppp..
Kemudian kecupan bertubi-tubi masih di tempat yang sama. Jingga tahu kegiatan selanjutnya yang mungkin terjadi, maka kali ini wanita hamil itu berinisiatif untuk menggoda suaminya sendiri.
"Kamu kangen aku ya?" wink. Jingga mengedipkan sebelah matanya, tali pengait baju ia tarik perlahan. Tatapan matanya masih bertaut, seakan takut kehilangan satu sama lain.
__ADS_1
Gulppp. Raihan menengguk kasar salivanya sendiri. Kilatan gairah sangat terlihat pada mata pria berusia 30han itu. Jingga merubah posisinya, ia duduk tepat di atas perut six pack Raihan. Tali-tali baju selanjutnya biarlah Raihan yang melepasnya.
.
.
.
.
.
(DIPOTONG)
Olahraga semalam sangat berkesan bagi keduanya. Pasalnya baru kali itu mereka saling mengungkapkan perasaan sebelum melakukan percintaan itu.
Pagi ini Raihan bangun lebih awal, suasana hatinya sedang baik mengingat respon positif dari rumah sakit mengenai perkembangan pendonor itu. Meski pikirannya kembali runyam bila mengingat Bhumi. Tapi Raihan memutuskan untuk mengawali pagi ini dengan hal-hal manis bersama istrinya.
Raihan menuju dapur, mengambil alih pekerjaan yang sedang Sifa kerjakan. Dia berencana membuat sarapan sendiri untuk istrinya. Dengan bantuan Sifa, Raihan jadi terlihat sedikit profesional dalam hal memasak.
Raihan tersenyum, dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Setelah selesai, Raihan membawa sarapannya ke kamar. Dengan memegang nampan berisi dua piring nasi goreng porsi kecil dan segelas susu ibu hamil yang turut serta menghiasi nampan cokelat di tangan pria bertubuh jangkung itu. Diletakannya nampan itu dekat dengan jendela.
"Selamat pagi" Raihan membuka lebar-lebar tirai jendela kamarnya. Raihan tersenyum, pergumulan mereka semalam berbuntut panjang. Sampai setelah sholat subuh masih mereka lanjutkan. Dan hasilnya? Sampai sekarang Jingga masih terlelap, padahal ini sudah jam tujuh pagi.
Jingga menutup wajahnya dengan selimut, Raihan segera mendekat dan membukanya. "Come on Airin, sudah siang" mata Jingga mengerjap, mencoba mengumpulkan tenaganya yang terkuras habis akibat perbuatan suaminya.
Pelan-pelan Jingga membuka selimut, dan mengikat simpul kimono tidurnya. Wanita hamil itu tersenyum ke arah Raihan. Dia menatap suaminya dengan tatapan cinta pagi ini, binar-binar bahagia terpancar jelas ketika mata keduanya bertemu.
"Tinggal lah dirumah, mas harus bertemu Zayn pagi ini" katanya sambil mengecup puncak kepala Jingga
"Sekarang?" tanya Jingga, Raihan mengangguk.
"Seenggaknya temani aku makan sampai selesai mas Raihan" Jingga memasang wajah cemberutnya. Raihan terkekeh, dia berhasil menggoda istrinya. Ia langsung mengambil nampan berisi dua porsi nasi goreng buatannya. Susu , ia letakan di atas nakas.
__ADS_1
"Jadi mau sarapan yang mana? Susu atau nasi?"
"Siapa yang buat?" Jingga menaikan sebelah alisnya
"Semuanya mas yang buat, kamu tinggal pilih" Raihan mengembangkan senyumnya, dibalas senyuman Jingga.
"Kalau gitu aku habiskan keduanya" jawab Jingga cepat, ia meraih piring dengan nasi juga sendoknya. Tanpa mencuci muka terlebih dahulu, nyatanya Jingga lebih memilih memanfaatkan momen yang jarang didapat ini.
"Boleh ke rumah ibu? aku bosan di rumah" celetuk Jingga di sela sela waktu makannya.
"Untuk sementara kalau kamu bosan, ke rumah mami dulu ya. Ke rumah ibu nya nanti sama mas, tunggu waktu luang supaya sekalian bisa menginap" Raihan meletakan sendok garpunya, ia selesai dengan makanannya.
*****
Drama manis-manis sudah berakhir, Raihan sudah sampai di rumah sakit pagi-pagi sekali sesuai permintaan Zayn.
"Kalau bukan gue yang butuh, males banget dateng ke sini pagi-pagi" Raihan memutar bola matanya malas. Sedangkan Zayn hanya menghela nafas sambil geleng-geleng saja. Ya, kakaknya selalu seperti itu. Bertingkah semaunya sendiri.
"Usia kita hanya selisih 15 menit, mungkin orang lain akan mengataiku bermental tempe hanya karena nggak berani membantahmu bang" Raihan mengangkat kedua bahunya, dia tidak peduli ucapan Zayn.
"Lo nggak bakal nyangka siapa yang mengajukan donor secara suka rela bang" Zayn menggeser-geser kursor di laptopnya. Raihan mengernyit bingung, dia tak menebak satu nama pun dalam pikirannya.
"Siapa?" Rahang tegas Raihan mengeras, dia tak suka Zayn yang terlalu bertele-tele.
"Lo tebak dulu bang" Zayn memainkan ujung pulpen dengan ibu jarinya
"Jangan mengulur waktu, gue lagi sibuk!" geram Raihan , giginya mulai bergemletuk
.
.
.
__ADS_1
To be continued