Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 1 Single


__ADS_3

Pagi yang sangat cerah yang disertai dengan cahaya mentari pagi sehingga membuat gadis itu merasakan kehangatan pelukan cahaya yang menyapa paginya. Dengan lembut tangannya meraih sebuah roti yang berisikan cokelat. Roti itu adalah makanan yang di sediakanya sendiri untuk hidangan pagi. Dengan lembut gadis itu mengerak-gerik mulut dan bibirnya mengunyah roti itu. Terasa sangat nikmat, karena gadis itu menikmati segelas teh hangat. Dimana teh itu adalah teh yang sangat terkenal di seluruh Indonesia.


Paginya terasa sangat sejuk. Karena perpaduan antara teh hangat, roti dan pelukan fajar di pagi itu. Gadis itu merasa paginya pada hari itu terlalu istimewa. Meski tak ada yang menyapa paginya dengan kata-kata romantis dari sang pacar seperti gadis-gadis lain, tapi gadis itu tak pedulikan hal itu.


Yang menjadi harapan utama baginya adalah dia bisa bertemu pagi hari dan pagi di hari esok. Ketika terbitnya matahari tidak ia dapatkan, ia akan menganggap hari itu sebagai hari dimana dia bukan gadis yang setia pada matahari itu. Oleh karena prinsipnya itu, ia berusaha agar mampu bangun subuh di setiap harinya dan melakukan segala aktivitasnya. Sambil menunggu datangnya cahaya Tuhan dan menembus kamarnya melalui sela-sela dinding.


“Terimakasih Tuhan. Pagi ini masih Engkau izinkan nafasku berhembus. Mataku melihat. Telinga mendengar. Terima kasih untuk kesempatannya. Aku masih bisa memandang matahari pagi ini. Maka Tuhan, izinkan juga aku untuk menyambut pagi besok.” Seru gadis itu kepada Tuhannya.


Gadis itu mengibaratkan matahari sebagai Tuhan. Baginya, ketika ia sudah tidak lagi melihat matahari, maka itu artinya matanya sudah tertutup. Tidur untuk selamanya.


Kriiiiiing… Kriiiiiing… Kriiiiiing…


“Hallo!!” Salam halus dilontarkan gadis itu saat ia menjawab telepon.


“Bagaimana kabarmu di sana, nak? “ Suara lembut terdengar manis di telinga gadis itu.


“Kabarku di sini baik-baik mama. Mama di sana juga kabar bagaimana?"


“Baguslah kalau begitu. Mama juga baik-baik, nak."


“Oh iya, mah. Papa mana?”


“Papamu ada, sayang. Lagi temani ponaanmu bermain,”


“Ooo... Papa sama adik-adik semuanya sehat kan?"


“Iyah, sehat. Kamu di sana kuliahnya yang rajin yah."


“Iyah ma.”


Seketika pembicaraan mereka hening.


“Ma... Aku rindu mama sama papa, aku rindu suasana rumah ma. Aku juga rindu pelukan hangat mama, papa dan adik-adik pada saat pagi seperti ini. Aku juga rindu sama teh manis buatan mama setiap paginya aku di sana. Aku rindu ciuman lembut di pipi aku sebagai kakak dari adik-adik semua. Pa, ma, aku di sini hanya bisa merasakan kehangatan lewat pelukan cahaya mentari pagi.” Bisik Uslin dalam hatinya, sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


“Hallo!!"


“Hah? Suara papa?" ucapnya lagi dalam hatinya.


“Hallo, sayang?“ Papanya menyapa dengan tanda tanya, karena anak gadisnya tidak menyahut.


“Papa, hallo papa." Ucap gadis itu dengan semangat agar bisa menutup sedihnya.


“Lagi apa kamu?“


“Aku lagi minum teh, papa sudah minum belum?“


“Sudah nak. Papa sudah minum.”


“Oo. Pa, sudah dulu yah. Aku mau siap-siap soalnya, mau ke kampus.”


“Oh. Ya sudah. Cepatlah. Jangan sampai kamu telat.”


“Iyah, Pa. Sehat-sehat yah di sana, salam buat mama, kakak dan adik-adik semua. “


Tut.. Tut.. Tut..


🌹


“Haii."


Gadis itu mendengar sebuah suara yang tidak terasa asing baginya. Suara itu muncul tepat di belakangnya. Suara itu berasal dari seorang pria. Karena penasaran gadis itu kemudian menoleh ke belakangnya dan melihat siapa yang menegurnya. Dalam benak gadis itu terlintas satu nama. Gadis itu berpikir bahwa suara itu adalah seorang pria yang selama ini menginginkannya. Setelah melihat wajahnya, ternyata benar pria itu adalah pria yang diduganya.


“Eh, hai.” Jawab gadis itu dengan nada yang sedikit gugup.


“Hm, tadi berangkat kuliah dengan siapa? Aku telpon kok nggak jawab?“ Tanya pria itu dengan senyuman.


“Aa, itu. Aku naik angkutan umum tadi, hah? Kamu telpon?” Jawab gadis itu sambil membuka tasnya untuk mengambil handphonenya dan mengecek riwayat panggilan. Ternyata benar ada panggilan tak terjawab sebanyak lima kali dari nomor yang sama yaitu panggilan dari Ariel, pria yang sedang bercakap dengannya.

__ADS_1


“Ada kan?“


“Iyah, ada. Maaf yah, mungkin tadi pas aku di dalam angkot supirnya putar musik jadi nggak kedengaran.” Ucap gadis itu dengan penuh rasa bersalah.


“Hm, nggak apa-apa deh. Yuk, masuk. Aku antar ke kelas.” Ajak Ariel.


...Mata gadis itu berlari tak karuan sekaligus merasa canggung karena tidak biasa jalan berduaan, apa lagi kali ini dengan seorang pria yang berkali-kali memintanya untuk jadi pacarnya. Juga merasa takut di mana dia selalu di ganggu dan di ejek teman-temannya karena masih belum punya pacar tapi sudah semester enam. Dalam pikiran gadis itu, terbayang-bayang pertanyaan. “Apakah teman-teman akan melihat aku dengan baik-baik saja? Ataukah yang akan terjadi malah sebaliknya. Ya Tuhan aku takut! Sebenarnya aku nggak mau dekat dengan dia. Tapi aku juga nggak enak kalau aku harus bilang jangan.”...


Pikiran itu terus terngiang di pikiran gadis itu. Dan ternyata benar, dugaannya tidak salah. Banyak dari mahasiswi-mahasiswa semester atas yang meneriakinya sebagai seorang perusak hubungan orang. Ada juga yang berpikiran ingin melukainya. Namun mereka tak berani karena gadis itu sedang jalan bersama dengan Ariel. Dimana Ariel adalah seorang pria tampan dan menjadi perebutan para gadis-gadis mahasiswi di kampus. Juga pria itu dikenal dengan sosok pria yang tegas. Sehingga banyak dari mahasiswa-mahasiswi yang merasa takut pada Ariel. Namun, sebenarnya dia pria baik dan ramah. Banyak juga dari mahasiswi-mahasiswa di kampus itu yang dekat dengan Ariel. Beberapa dari mereka adalah teman-teman nongkrongnya Ariel. Gadis satu-satunya yang paling tidak mau di ajak Ariel adalah Uslin. Baru kali ini Uslin mau di ajaknya.


“Jangan pernah katai dia seperti apa pun. Jika kalian masih terus nekat gangguin dia, jangan berharap kalian bakalan baik-baik aja. Karena kalau kalian gangguin dia, sama saja kalian ingin cari masalah sama aku!” Ujar Ariel dengan nada yang sangat tegas. Kelihatan sekali bahwa Ariel benar-benar marah. Dalam sekejap seusai kata-kata itu keluar dari mulut pria bersosok tegas itu, semua suara dan sorak-sorakan itu tiba-tiba hilang. Semuanya kembali pada kegiatan masing-masing. Tak terasa setelah berjalan sekitar 100 meter dari gerbang kampus, mereka sudah sampai di depan kelasnya Uslin.


“Sana, masuk. Semangat yah, kuliahnya!” ucap Ariel sembari tersenyum manis menghadap Uslin. Dan mengelus tangannya lembut pada lengan kanan Uslin.


Bulu kuduk Uslin merinding. Karena baru kali ini Uslin merasakan hal seperti ini. Gadis itu merasa ganjil sekali.


“Hm, makasih.“ Kata Uslin sambil tersenyum pertanda rasa terima kasihnya pada Ariel.


“Aaa, hum. Pulang aku yang anterin, titik.“


“Tapi...”


“Nggak ada tapi tapi pokoknya fiks, pulang aku antar, ngga boleh complain, okeh!”


“Yaa... Yaa udah deh. Aku tunggu di parkiran yah.”


“Nggak. Aku jemput di sini.“


“Kamu kok gitu, sih?"


“Aku jalan dulu. Bye.”


“Loh. Kok aku jadi penurut banget sama dia? Duh, gimana ni? Mala udah bilang iya lagi. Pasti dia akan jemput aku di sini lagi. Di depan kelas? Duh. Gimana dong? Pasti kakak-kakak resek itu nggak bakal diam lagi kalau liat aku sama Ariel lagi!” Uslin terus berceloteh dalam hatinya.

__ADS_1


Selanjutnya...


__ADS_2