
“Kenapa?” Ketusnya.
“Kenapa apanya?”
“Ya tadi kenapa?”
“Apanya yang kenapa?”
“Nggak.” sambil berjalan menuju sebuah restaurant yang berada tak terlalu jauh dan juga tak sangat dekat dari tempat mereka sekarang. Karena kesal ia tak lagi melihat Uslin. Apakah Uslin mengikutinya atau tidak?
“Mbak permisi. Numpang promosi sedikit boleh nggak?” tanya seorang perempuan setengah baya yang datang menghampirinya itu. Perempuan itu memiliki wajah yang cantik dan make up yang di pakainya pun tertata rapi dan sangat keren.
“Iyah Mbak boleh. Tapi promosinya tentang hal apa?” Tanya Uslin dengan lembut.
“Tentang gaya rambut Mbak."
“Oh. Kalau soal itu saya kurang tertarik. Soalnya saya lebih suka dengan keadaan saya apa adanya aja."
“Oh, gitu yah Mbak. Maaf sudah ganggu waktunya.”
“Iyah Mbak. Nggak apa-apa. Maaf juga yah Mbak.”
🌹
“Kam... Loh?” seketika terngiang berjuta pertanyaan di kepalanya. Sejauh hampir seratus meter ia berjalan sendiri dari tempat mereka turun dari taxi itu. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia meneliti setiap orang yang ada di sana. Tak ada jejak gadis itu. Apakah dia pergi? Ataukah dia kembali menaiki taxi itu? Ataukah mereka berselisih jalan?
Dua puluh tujuh menit. Membuat pria tampan berkulit putih itu mengeluarkan cukup energi. Keringat tertumpah dan mengalir deras membasahi seluruh tubuh kekarnya. Wajahnya memerah. Hidungnya seperti memar di panggang bara api juga membuatnya cukup lelah.
“Lin. Kamu ke mana sih?” Tanyanya dengan penuh kekuatiran. Ia tak tenang ia ingat akan sesuatu.
Nomor yang Anda tujuh tidak dapat... Tut tut tut.
“Nggak aktif juga, duh. Huf.” Ia berkali-kali meniup angin kencang-kencang membuat pipinya kembung. Ia kembali seperti setrika yang sedang bekerja. Mondar mandir dengan tujuan yang sama. Langkah cepat, langkah lambat, lari. Semuanya dilakukan demi bisa menemukan gadis yang dia sayangi. Namun, semuanya hanya sia-sia.
Sambil berjalan menuju arah barat. Seketika matanya tertuju ke suatu tempat. Tempat itu berada di seberang jalan. Uslin menyeberang ke sana. Tempat itu terdapat banyak sekali orang-orang yang sedang melaksanakan tugas mereka. Namun, rata-rata yang ada di sana hanyalah lelaki. Ada pun perempuan tapi dengan kegiatan yang berbeda lagi.
“Hallo, permisi. Selamat siang Bapak.” Sapa Uslin dengan ramah.
“Siang neng, bagaimana neng?” Sahut seorang Bapak yang berambut sedikit memutih itu. Sambil melepaskan sebuah sekop yang ada di genggamnya.
“Aku mau...” Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang terkesan seperti ditujukan kepadanya.
“Ngapain di sini?” tanyanya dengan napas tak menentu. Suaranya gemetar. Hal itu disebabkan oleh karena ia terlalu banyak menguras tenaga dalam berkeliaran mencari jejak gadis itu. Setelah sekian jam. Dengan usaha dan dengan perasaan dihantui kecemasan itu membuatnya terasa sangat banyak mengeluarkan energi. Apa lagi selama keberlangsungan aktivitasnya di siang ini pun, ia tak menyentuh seteguk minuman apa pun. Sehingga tak ada yang bisa membuat keadaan tubuhnya stabil.
Uslin menengok ke belakangnya.
“Kamu?” Uslin pun bertanya dengan menunjukkan air muka yang seakan dia juga sudah tak ingat bahwa sebenarnya ia tak sendiri.
__ADS_1
“Iyah. Aku...“ ia tak bisa melanjutkan ucapannya. Ia terlihat sangat lemas. Hal itu juga dikarenakan ia tak menyentuh makanan dari semalam.
“Rill, Rill. Kamu kenapa? Kok lemas banget? Habis ngapain?” Disaat itu Uslin terlihat sangat kuatir juga. Ia meraih sebuah botol mineral dalam tasnya dengan tangan gemetaran sehingga membuatnya tak bisa langsung dengan cepat membuka ras leting tasnya. Secepatnya ia membuka tutup botol itu lalu memberi Ariel minum. Belum sempat meminumnya Ariel sudah sangat lemas dan ia pun pingsan.
“Loh loh loh. Ril, Riiil. Kamu kenapa? Pak Pak tolong bantuin saya Pak.” Seru Uslin meminta bantuan kepada bapak-bapak yang ada di tempat itu.
“Ayo, ayo!" Kata beberapa bapak-bapak yang hendak menolong Ariel. Bapak-bapak itu dengan penuh kerelaan hati menolong Ariel. Mereka mengangkat tubuh kekarnya Ariel dan menidurkannya di tempat yang sejuk. Tempat itu adalah sebuah taman dengan pohon-pohon yang cukup rindang. Mereka meniduri Ariel di sebuah bangku yang ada di bawah pohon ketapang. Pohon itu memiliki daun hijau. Tingginya sekitar tiga meter. Dengan keadaan pohon yang tidak terlalu tinggi itu, membuat aura sejuk turun sangat dekat dari daun-daun hijau itu menuju tubuh Ariel.
“Makasih yah Pak. Maaf udah menghalangi pekerjaannya pak.” Ucap Uslin dengan penuh rasa bersalah. Di mana bapak-bapak itu adalah tukang kuli bangunan. Sesungguhnya mereka sangat tidak bisa diganggu.
“Iyah neng, nggak apa-apa. Bisa neng jaga sendiri tuh masnya?” Kata seorang dari bapak-bapak itu.
“Iyah. Bisa kok bisa, sekali lagi makasih yah Pak.” Jawab Uslin.
“Maaf Ril. Permisi yah.” Ucap Uslin dengan nada pelan. Dengan penuh rasa kuatir Uslin membuka beberapa kancing baju Ariel. Bagian dada Ariel terbuka. Sehingga dengan leluasa angin berembus di bagian tubuhnya.
“Rill, bangun dong. Pliis. Kamu kenapa kok sampe pingsan ke gini?” Ucapnya panik dan cemas.
Sekitar kurang dari satu jam Ariel berbaring di atas bangku yang mempunyai kepanjangan sekitar dua setengah meter itu. Kepalanya berada di pangkuan Uslin dan dialas dengan tas rajutan milik Uslin.
Uslin tetap dengan kecemasannya, menggenggam sebuah botol kecil. Botol itu adalah botol minyak kayu putih. Uslin menaruh bagian mulut botol itu dengan keadaan terbuka ke bagian indra penciuman Ariel.
“Aagh. Oh my God. Huuf." Sambil mencekam kepalanya dengan sangat kuat.
“Rill. Kamu udah sadar?” Ucap Uslin dengan lembut. “Kamu kenapa? Kenapa sampe bisa pingsan ke gini? Emang kamu habis ngapain Ril?” Karena panik membuatnya lupa untuk berpikir kenapa Ariel menghilang dan kembali menemuinya. Ia terlalu fokus dengan memperhatikan keadaan Ariel yang berbaring tak berdaya di pangkuannya. Ariel tak menjawab sepatah kata pun. Sulit untuknya mencoba untuk berbicara lebih banyak kata.
“Ak, aku di mana? Kepalaku sakit banget, aagh." Suara itu pun diucapkan Ariel dengan nada yang terputus-putus. Ariel masih tak bisa bangun untuk duduk, karena ia masih sangat lemas. Sehingga ia terus terbaring di pangkuan Uslin.
“Kamu bisa bangun nggak? Pelan-pelan yah." suara itu kembali membuat Ariel jatuh dalam cintanya yang tersembunyi itu.
Ariel berusaha bangun. Ia menggenggam erat sebuah tangan yang membantunya bangun.
Bahu Uslin menjadi topangan tubuh Ariel yang lemas itu. Karena Ariel sudah berhasil bangun dan duduk. Meski tidak semua beban ada pada tubuh Ariel. Uslin tetap berusaha memberikan kekuatannya untuk menopang beratnya badan Ariel. Namun bukan sengaja, tetapi karena memang Ariel benar-benar belum bisa mengumpulkan tenaganya. Dengan tangan bagian kirinya yang di genggam Ariel, Uslin melepaskan pegangan Ariel dengan perlahan. Uslin meraih tasnya. Dengan tujuan untuk mengambil botol air mineral itu. Pada saat melihat botol air itu pikiran Uslin kembali ke tempat di mana Ariel pingsan.
“Bukannya tadi airnya di sana? Kok ada di sini?” Air itu memang sudah dikeluarkan Uslin pada saat Ariel pingsan sebelum mereka ke taman itu. Pada saat Uslin sudah memegang botol air mineral itu dan membuka tutupnya. Salah satu dari bapak-bapak itu tadi datang lagi menghampiri mereka.
“Nih, minum dulu!" Ariel meneguk air itu beberapa tegukan.
“Permisi, eh masnya sudah sadar yoo?”
“Iyah Pak. Baru saja sadar. Ada apa Pak?”
“Ini Mbak, anu. Saya minta maap, tadi saya lancang membuka tasnya neng untuk mengisi botol air itu." Sambil menunjuk ke botol air yang dipegang Uslin.
“Oh. Jadi Bapak yang nyimpan airnya. Makasih Pak.”
“Iyah neng. Sama ini juga neng." sambil menyodorkan sesuatu ke Uslin. “Dompetnya tadi mungkin jatuh pas nengnya panik waktu masnya pingsan.”
__ADS_1
Mata Ariel berbinar-binar ketika mendengarkan kata-kata Bapak itu. Ia menatap Uslin dengan penuh rasa kagum.
“Ya ampun. Makasih banyak Pak yah.”
“Coba diperiksa dulu neng isinya.”
“Ya ampun. Tadi uang saya lima ratus ribu Pak. Kenapa hanya sisa dua ratus Pak?” Raut wajah seperti seorang yang benar-benar merasakan kehilangan sesuatu.
“Maap neng. Tapi saya hanya menemukannya dan saya juga nggak buka. Dan nggak liat sama sekali isinya seperti apa.”
“Saya boleh nggak liat tangan Bapak?”
“Boleh neng boleh.” Sambil membuka kedua tangannya dan menunjukkan kepada Uslin. Tangannya gemetar. Karena mungkin ia takut.
“Hhm, maaf Pak. Jangan panik. Ini untuk Bapak dan teman-teman untuk makan siang. Karna Bapak udah jujur sama saya. Bapak baik banget makasih yah Pak.”
“Ya ampun neng. Ini kebanyakan neng.”
“Nggak Pak. Nggak apa-apa. Saya ikhlas kok.”
“Tapi neng."
“Nggak apa-apa Pak. Saya serius. Maaf juga karna saya hanya punya segitu aja Pak.”
“Masya Allah, Makasih banyak neng.” Ucap Bapak itu dengan rasa penuh terima kasih. Sambil menunduk untuk bersujud pada Uslin. Tapi Uslin mencegahnya.
“Makasih banyak neng. Semoga rezekinya lancar yah neng. Ya Allah, berikanlah kepada neng ini berkah akan hari-harinya.”
“Sama-Sama Bapak. Puji Tuhan. Haleluya! Terima kasih kembali untuk doanya Pak.”
“Mari neng, mas. Saya pergi dulu.” Bapak itu pamit pada Ariel dan Uslin.
“Iyah Pak." Sahut mereka bersamaan. Uslin merasa lega melihat Ariel senyum dan bisa membalas sapa dengan Bapak itu. Seketika mereka saling melihat satu sama lain.
“Gimana? Kamu udah pulih?” Tanya Uslin dengan lembut.
“Belum.”
“Jangan bercanda, aku serius.”
“Aku juga serius.”
“Tadi kenapa? Kok bisa sampe kaya gini?”
“Hm. Kuatirkan kamu lah, apa lagi?”
“Aku sekarang baik-baik aja kan? Nggak kenapa-kenapa juga.”
__ADS_1
Ariel menatapnya dengan penuh cinta dan kasih. Matanya benar-benar tak bisa dipungkiri bahwa ia sungguh mencintai gadis itu. Tatapannya seakan mewakili perasaannya yang sesungguhnya.
Selanjutnya...