Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 21 I Want to Say Something


__ADS_3

Jangan lupa untuk like dan komen yah 🤗 Nanti Thor Update banyak lagi ❤️


Di tengah-tengah keheningan mereka memutar otak memikirkan ide. Tiba-tiba Uslin bertanya. Entah ada sesuatu dalam pikirannya Uslin atau tidak, bibi Wulan dan tante Nia terdiam sebentar dan menyimak apa yang Uslin jelaskan dan usulkan.


“Tante? Bibi? Kan tante bilang saudaranya tante itu kan super sibuk yah, gimana kalau kita minta bantuan sama anak tante yang di sana. Tante pasti pegang kontaknya mereka dong?” Usul Uslin dengan penuh kegembiraan. Meski pun sebenarnya hal itu bukanlah hal yang penting buat dirinya. Namun dengan hati mulianya dia tetap antusias memikirkan suatu hal mungkin bisa dibilang bahwa hal yang dilakukannya saat ini untuk orang asing. Bahkan orang-orang yang dibicarakan mereka saat ini juga merupakan orang yang tidak pernah ia kenal. Niat baik yang membuatnya tak sungkan membantu orang yang membutuhkannya.


“Iya. Kontak anak tante tiga-tiganya ada. Mereka juga hampir tiap hari mereka hubungi tante. Apa lagi weekend mereka itu nggak pernah nggak nelpon walaupun sebentar. Kalau tante pikir-pikir sih ada benarnya juga. Karna memang saudara aku itu semenjak dia punya usaha dia itu orangnya sibuk banget.” Jelas Nia tentang situasinya dengan anak-anaknya.


“Jadi gimana nih? Ini hari kan weekend nih, mereka udah hubungi tante belum?” Tanya Uslin.


“Udah belum?” Tanya Wulan lagi dengan nada penasarannya.


“Ehm belum sih.” Sambil mengetuk layar handphonenya. “Mereka sih biasanya kontak aku kalau udah sore gitu.” Lanjut tante Nia.


“Emang mereka jam-jam gini ada kegiatan atau mungkin sibuk?” Tanya Uslin lagi.


“Mereka di sana sih memang sibuk aja tiap harinya. Karna anak-anak aku juga mereka itu orangnya antusias tentang hal-hal belajar.” Tutur Nia.


“Oh gitu, jadi nggak bisa kita hubungi mereka sekarang?” Tanya bibi Wulan ke tante Nia.


“Hm.” Tante Nia berpikir sejenak. “Nggak ada salahnya sih kita coba dulu.” Kata tante Nia.


“Boleh juga kalau Kamu nggak keberatan.” Jawab Wulan.


“Bentar yah.” Ucap Nia sambil menekan-nekan layar handphonenya untuk menelpon salah satu anaknya. Nia menelpon anaknya yang paling besar.


“Hallo mam?” Sebuah suara terdengar lembut dari speaker handphone Nia. Suara itu adalah suara anaknya.


“Hallo sayang, what are you doing? Why you don’t call me today?” Jawab Nia dengan lembut pula.


“Not Mamy. I usually call Mamy itu sore kalau di Indonesia kalau di sini yah malam, ini baru jam segini Mam.” Saat itu di Australia menunjukkan jam lima sore. Dan di Jakarta jam satu siang. Indonesia dan Australia memiliki perbedaan waktu empat jam. Yaitu Australia lebih cepat empat jam dari jam Indonesia. Biasanya Arlan akan menelpon mamanya ketika di Australia menunjukkan jam sembilan malam


“Iyah sih. Adik-adik kamu di mana sayang?” Tanya Nia ke anaknya.

__ADS_1


“They are playing in the park again. I'm at home watching a film.” Jelas Arlan, anak laki-laki pertama Nia dari pernikahannya dengan almarhum suaminya.


“Oh. Where is your uncle? Today's weekend. Must be your uncle at home too right?” Tanya Nia.


“Ehm. Wait Mam. I went to see uncle first in his room.” Jawab Arlan.


“Okeh sayang.”


“Unclell” Panggil Arlan.


“Why??” Jawab pamannya, si Edward, saudara Nia, suami Ardila. Mereka masih pasangan suami istri karena mereka belum pernah bercerai.


“Mam uncle at home too today. Mama want to talk to Uncle?”


“Yes. I do."


“Okeh Mam. Wait yah.” Ucapnya dengan lembut. “Uncle you busy?”


“Mama wants to talk to Uncle, you want it?” Tadinya menurut mereka yang bisa cepat paham dengan keadaan yang mereka perbincangkan sekarang adalah anaknya yang sulung. Bukan hanya karena itu saja, tetapi juga karena mereka tidak ingin anak-anak Nia yang masih kecil dan belum cukup umur itu terlibat dalam masalah-masalah seperti ini. Apa lagi masalah ini bukan masalah anak kecil.


Namun tidak sempat bercerita lama dengan anaknya. Ternyata sangat kebetulan sekali pamannya di rumah juga. Jadi tidak perlu lagi mereka meminta bantuan anaknya. Cukup dengan memberikan ponselnya untuk berbincang dengan Edward sudah mencapai target mereka.


“Yes. Mana?” Ucap pamannya dengan senyum bahagia. Bagaimana tidak? Mereka saudara sepupu yang jarang berkomunikasi.


“Hai Nia, how are you?”


“Hai Edward. I’m fine. And you?”


“I’m very good. What’s wrong Nia? Tumben kamu cari aku, hhh.” Ejek kakak sepupu Nia sambil tertawa kekeh.


“Nggak lah, aku ingin ngobrol aja. Now you just alone or still with Arlan there?”


“Yes, I’m alone now, why?”

__ADS_1


“I’m want to say something to you, brother.” Ucap Nia pelan.


“What is it?” Tanya Edward penasaran.


“Do you still remember Ardila? Kamu masih ingat dia?” Tanya Nia dengan gugup.


“What?? What do you want to say to me? Do you have information about she?? Please Nia Say something to me." Ucapnya dengan terbata-bata dan terdengar ia hampir menangis. Dan memang kenyataannya Edward ingin menangis mendengar sebuah nama yang terus dirindukannya. Bahkan bukan hanya dirindukan, nama Ardila selalu ada dalam doanya Edward.


“Yeah. I have information about it. You want to know it? Aku akan katakan ketika kamu bersedia mendengarnya." Ucap Nia dengan tulus.


“Yes. I’m ready and I really want to get it.” Ujarnya lewat telepon dengan nada sedih.


“Okeh… So di sini aku with Ardila’s sister and your son’s friend, mereka datang temui aku dengan misi yang sama dengan aku, mereka ingin membantu Ardila menemui kamu dan aku ingin mempertemukan you and Ardila, you want it? Ini kabar bahagia buat kamu bukan?”


“What?? Are you sure sis?”


“Yes I’m sure, but I want to ask something for you? Coba deh ceritain gimana sih ceritanya kok bisa kamu berpisah? Ada apa?”


Uslin dan Bibi Wulan terdiam dalam haru dan menyaksikan percakapan antara edward dan Nia lewat telepon. Semuanya di dengar mereka karena di loudspeaker sehingga suaranya terdengar dengan sangat jelas.


“Panjang ceritanya. Very very long.” Jawabnya sedih.


“No brother. Di sini aku sama adiknya kok and she knew a little about it from Ardilla. You want to listen it or no?”


“Iyah boleh-boleh, mana dia?”


“Hallo, I'm Wulan, I'm a younger sister of Ardila."


“Yeah Wulan, coba ceritain apa yang kamu dengar darinya.”


“Iyah jadi, kamu jarang berikan ia uang belanja benar itu?” Wulan bertanya dengan nada sedikit benci dan kesal. Namun itu hanya terkesan lewat suaranya. Wulan sengaja berbuat demikian agar Edward jujur dan tidak bertele-tele. Yang membuatnya berpikir demikian adalah karena laki-laki yang berbicaranya saat ini adalah laki-laki yang sudah membuat kakaknya terkurung dalam kesedihan.


Selanjutnya…

__ADS_1


__ADS_2