Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 38 - Medali


__ADS_3

"Anak itu, sungguh membuat harga diriku jatuh dan beraninya dia menginjak-injak harga diri saya." Dosen pembimbing Ariel bergumam dalam hatinya. ia merasa takut dan sekaligus panik. Pemilik universitas itu sendiri pun ada di sana, bahkan duduk tepat di samping kirinya. Hal itu membuatnya lemah dan tak berdaya bahkan ia pasrah karena ia sudah tidak lagi dapat berbuat apa-apa. Ia yakin bahwa statusnya sebagai dosen hari ini akan selesai. Bukan hanya itu saja yang membuatnya takut, ia juga sudah menginjak dan menjatuhkan nama baik saudaranya sendiri yaitu ayah Ria. Dimana hari itu juga Ria sama-sama akan wisuda sehingga tentu saja sang ayah ikut menyaksikan momen bahagia putrinya.


Rendra berdiri lalu mengepalkan tangannya. Ria tertunduk lesu dan terlihat takut pada ayahnya. Karena ayahnya tak pernah mengajarkan hal-hal yang merugikan seperti demikian kepadanya. Sejak ibunya meninggal belasan tahun lalu, lebih tepatnya saat Ria menduduki bangku sekolah di kelas lima SD, Ria dijaga dan dirawat oleh ayahnya. Mereka adalah orang yang berada, segalanya mereka miliki. Namun, hal itu tak merubah pikiran ayahnya untuk merawatnya dengan tangan sendiri tanpa menyewa pengasuh.


"Apa-apaan ini? Siapa yang mengajarkanmu hal-hal merugikan seperti ini nak? Sejak kapan ayah menunjukkan teladan seperti ini padamu? Hah? Ayah kecewa sama kamu, selama ini kamu tidak pernah mau untuk mendengarkan perkataan ayah lagi. Saat ini juga kamu jangan pernah kenal ayah dan kamu Alex hari ini juga kamu keluar dari rumah saya dan berhenti menginjakkan kakimu itu ke rumah saya lagi. Kamu catat baik-baik!! Kelakuan kalian sungguh memalukan." Ucap Rendra lalu beranjak pergi dari ruangan itu. Ria menangis sesenggukan dan terus dihibur oleh kedua sahabatnya. Uslin pun berkaca-kaca dari tempat duduknya di samping Ardila saat melihat Ria yang begitu menumpahkan air matanya saat melihat ayahnya pergi tanpa menunggu ia mengambil semua yang diserahkan kepadanya sebagai calon alumnus.


"Baik, silahkan kembali jika tak ada lagi yang ingin kau sampaikan." Ucap pemilik universitas itu kepada Ariel.


"Baik Bapak, saya permisi dan terimakasih."


Pemilik universitas hendak berceramah lima SKS. Hingga pada akhirnya Alex dipecat dan dikeluarkan dari kampus itu. Setelah itu semuanya melangsungkan ke acara berikutnya yaitu penyerahan medali dan lain-lain kepada para mahasiswa yang sedang mendalami saat-saat terakhir mereka berstatus sebagai mahasiswa.


Ariel ditentukan sebagai lulusan terbaik nomor satu. Sehingga ia sangat bahagia dan membuat papa dan mamanya yang berada di tengah-tengah para orang tua lainnya tak sadar telah meneteskan air mata haru mereka melihat keberhasilan anak mereka. Uslin dari lubuk hati menangis sambil tersenyum haru pula. Ia tak menyangka bahwa seorang lelaki dapat meraih urutan terbaik. Saat Ariel menerima medali itu semuanya menepuk tangan dan di depan Ariel membungkuk hormat kepada para dosen lalu tanpa menegakkan badannya kembali ia memutar badan untuk hormat kepada seluruh orang tua yang ada di depannya.

__ADS_1


"Luar biasa sekali anak itu." Ucap beberapa orang tua yang juga terlihat seperti sultan.


"Ya ampun bangga banget tuh orang tuanya pasti." Lanjut yang lain.


Semua telah usai dari ruangan itu. Para orang tua dan para dosen saling berpamitan satu sama lain.


Ariel dan kedua orang tuanya beserta Uslin juga sudah berdiri di area parkiran. Mereka masuk ke mobil dan mobil tersebut dikendarai oleh Ariel sendiri.


Ia melonggarkan sedikit dasinya dan jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Uslin pun menerima lemparan senyuman yang dilambungkan oleh Ariel kepadanya dengan membalasnya dengan senyuman pula. Senyuman keduanya sungguh tidak bisa dibedakan lagi. Keduanya sama-sama manis seperti gula Sabu yang terkenal di NTT.


Uslin malu saat Ariel menatapnya terlalu lama sehingga hal itu membuatnya menunduk sebentar lalu mengalihkan penglihatan ke arah lain. Namun dengan tiba-tiba terasa sesak dan kedua tangannya kali tak bisa bergerak. Di bawah teriknya matahari jam dua siang saat itu membuat suasana sesungguhnya panas. Namun bagi Ariel saat ini ia sedang mendekap bantal guling saat sedang turun hujan. Uslin terasa seperti kehilangan kesadaran. Ia mencoba untuk mengedipkan matanya berulangkali hingga ia tersadar bahwa ada sebuah tangan yang merangkul bahunya dan sebuah tangan lainnya mengelus pucuk kepalanya.


"Ya Tuhan, tempat apa ini?" Gerutu Uslin dalam hati dengan detak jantung yang tak kalah kencangnya dari detak jantung Ariel. Hal itu membuatnya malu.

__ADS_1


"Kenapa akhir-akhir ini ia selalu tak peduli dengan samua tempat. Dia selalu memelukku di saat seperti apa pun dan di mana pun yang ia mau."


"Ril udah dong aku malu. Semua orang ngeliatin kita loh Ril."


"Nggak akan pernah aku lepas sebelum kamu memelukku kembali dengan erat."


Uslin terkejut dengan jawaban Ariel. Tentu saja jawaban Ariel demikian sedari tadi mereka saling lengket hanya Ariel yang melakukan dekapan. Tanpa pikir panjang lagi dengan mata yang membulat karena terkejut ia langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ariel lalu mengelusnya sebentar lalu dengan cepat melepaskan. Ariel tersenyum kekeh melihat tingkah Uslin yang begitu menggemaskan baginya.


Ardila dan Edward masih saja terus berpura-pura tak tahu menahu soal apa pun yang terjadi. Mereka terus mengobrol dengan cerita yang mereka ciptakan sembarangan saja. Tanpa topik yang khusus mereka berbicara mengalir-mengalir saja.


Ariel membalikkan wajahnya ke arah pintu mobil yang sedang terbuka di belakangnya. Uslin menunduk malu saat melihat ke arah yang sama. Meskipun yang mereka dapatkan hanyalah dua insan yang sedang sibuk dengan skenario mereka sendiri. Meskipun sebenarnya Uslin tahu bahwa mereka hanya berpura-pura tak mau tahu apa pun yang terjadi. Perasaan itu membuat Uslin tak dapat menahan malu. Kepalanya terus tertunduk hingga Ariel bergerak sebentar mendekatkan tangan dan mengusap serta mencubit lembut di pipi mungil Uslin.


Dengan tawa kecil dan senyuman manis Ariel bergerak ke arah pintu mobil bagian depan dan membukakan pintu mobil untuk Uslin masuk. Uslin pun masuk dengan terus menundukkan kepala. Ariel pun langsung menutup pintu mobilnya saat ia memastikan bahwa Uslin sudah duduk dengan nyaman lalu ia juga ikut masuk dari pintu sebelah untuk mengendarai mobil.

__ADS_1


__ADS_2