
❤️❤️
Seorang wanita berdiri sambil mondar mandir sambil memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan targetnya. Wulan masuk kembali ke dalam mobil keluarga Ardila yang disetir oleh sopir pribadi Ardila. Ia kembali berpikir ke sana kemari untuk mendapatkan caranya. Ia kembali tak mendapatkan solusi.
“Sepertinya aku nggak bisa melakukan ini sendiri, aku butuh bantuan seseorang.” ucapnya.
“Sayang, kamu di mana?”
“Aku di rumah Bi, ada apa?”
“Kamu bisa nggak ketemu bibi sebentar.”
“Bibi lagi di mana memangnya?”
“Bibi di suatu tempat, Bibi nggak tahu tempatnya apa dan di mana, pokoknya kamu datang dulu ntar bibi share location kok.”
“Okeh Bi, aku jalan sekarang yah,” ucap Uslin. Setelah menutup telepon, Uslin bergegas dari kamarnya dan pergi. Sesaat Uslin duduk di depan teras kecil rumahnya lalu memesan ojek online. Setelah ojek online datang menjemputnya ia langsung pergi.
“Bibi!” ucap Uslin saat melihat bibi Wulan berdiri di pinggir jalan dekat sebuah mobil.
“Kamu udah sampai?" Sapa Wulan dan langsung memeluk Uslin dan mencium pipi kiri pipi kanan.
“Makasih yah sayang kamu udah mau temuin Bibi."
“Iyah Bibi sama-sama. By the way bibi perlu apa memangnya?”
“Nggak sih, bibi mau minta bantuan kamu aja, Soalnya…” Bibi Wulan menjelaskan tujuannya yang sebenarnya kepada Uslin.
Setelah mendengar semua cerita bibi Wulan, Uslin akhirnya mengerti dengan maksud bibi Wulan. Tetapi masih ada beberapa hal yang membuat Uslin ragu dengan tujuan mereka.
“Bibi punya teman banyak sih di Indonesia,”
“Tapikan kan aku nggak kenal siapa teman bibi di sini. Jakarta kan luas Bi, mana kita tahu kalau nggak tau tempatnya." Jelas Uslin dengan ragu.
“Iyah juga sih.”
Tiba-tiba Uslin ingat sesuatu.
“Aku punya kenalan juga, tapi umurnya sih sebaya dengan bibi. Katanya anaknya di Australia itu sama-sama dengan pamannya.”
“Benar?”
“Benar dong Bi, aku baru aja pulang dari rumahnya ”
“Kamu punya nomornya?”
“Punya Bi.”
“Coba deh kamu telepon."
Setelah mendengar perintah bibi Wulan, Uslin langsung bergerak untuk menelponnya. “Pulsa yang…”
“Bi, pulsa aku habis lagi.” Kesal Uslin.
“Ya udah mana nomornya. Biar bibi aja telepon.”
Uslin menunjukkan layar handphonenya yang tertera nomor kontak orang yang mereka maksud. Bibi Wulan cepat-cepat menyalin nomor itu dan langsung menekan tombol hijau untuk memanggil.
“Nia…?” ucap bibi Wulan dengan heran-heran.
“Iyah Bibi, namanya memang tante Nia, kok bibi tau?” Uslin pun heran bagaimana bisa bibi Wulan tahu tante Nia, padahal nomornya baru didapat sekarang.
“Iyah. Nomor ini ada loh di bibi. Ini nomor teman sekolah bibi dulu waktu SMA.”
__ADS_1
“Kok bisa bi?”
“Wah kebetulan sekali ini."
Sementara mereka berbincang-bincang satu sama lain terdengar suara terhubung dalam panggilan.
Drrrt. Drrrrrrt.
Suara telepon Nia berdering di atas meja di ruang tengah. Nia yang sedang serius baca koran pun terkejut. Ia bergegas meraih handphonenya dan melihat siapa yang telepon.
“What?? Ini serius” karena penasaran Nia langsung menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.
“Hallo! Ini benaran Wulan?”
“Hallo Nia, its you?? Oh my God Nia. Ke mana aja sih kamu?”
“Ya ampun. Ada apa kamu nelpon tiba-tiba.”
“Aku ceritanya bentar aja deh. Yang penting sekarang kamu sibuk apa nggak?”
“Nggak ngapa-ngapain, aku lagi nyantai aja kebetulan kan hari ini weekend.”
“Okeh deh. Coba Sharelok dong. Soalnya, I want to go now ke rumah kamu. Boleh kan?”
“Eh. Nggak perlu Bibi aku tau kok tempatnya tante Nia.”
“Okeh. Sip. Thanks yah Nia. Kita jalan sekarang nih. Kamu tunggu yah.”
“Kamu udah mau datang kan?”
“Iyah sekarang on the way.”
Wulan langsung masuk mobil dan disusul oleh Uslin. Bibi Wulan memerintahkan pada sopirnya untuk pergi ke tempat Nia, teman sekolahnya.
“Okeh.” Wanita paru baya itu keluar dan menemui seseorang di luar pagar. Saat ia memastikan ternyata benar di luar sana ada seseorang berdiri. Yaitu temannya.
“Hei. Wulan."
“Hai. Ya ampun setelah sekian lama baru aja ketemu.” Mereka pun berpelukan melepas kangen. Adegan itu disaksikan dengan senyuman oleh Uslin.
“Kamu juga ke sini?” Ucap Nia bertanya ke Uslin.
“Iyah tante." Jawab Uslin sambil tersenyum lembut.
“Iyah. Kalau bukan karena dia, kita nggak ketemu loh, tadi…” Bibi Wulan menceritakan semuanya.
“Oh gitu. Ya ampun. Masuk yuk.” Mereka masuk mengikuti tante Nia dari belakang.
“Oh iyah by the way kamu kapan datangnya dari Amerika?”
“Baru tadi pagi.”
“Wow. Sendirian ke sini? Nggak sama suami? Anak?”
“Nggak. Aku sendiri. Aku mau ngunjungin keluarga aku di sini. Udah lama nggak pernah liat mereka.”
“Di sini sama siapa? Orang tua atau?”
“Iyah orang tua juga di sini. Hanya aku datangnya di kakak perempuan aku, namanya Ardila.”
“Ardila?”
“Iyah. You know she?”
__ADS_1
“Nggak. Kaya pernah dengar aja.”
“Kirain kamu kenal.”
“Nanti aku coba ingat-ingat lagi deh. Kamu minum apa?”
“Nggak usah deh.”
“Aku juga nggak tante.”
“Oh gitu. Ya udah deh. Ada memangnya kalian ke sini?”
“Nggak boleh emang?”
“Nggak juga sih, siapa tau kan ada keperluan mendadak gitu kan, hhh.”
“Memang ada sesuatu sih yang mau aku tanyakan sama kamu.”
”Apa itu?”
“Benar nggak sih kamu punya kenalan di Australia. Aku kan tau kalau kamu lulusan Australia terus tadi my cute juga cerita kalau kamu memiliki saudara di sana. Pasti kamu tau tempat banyaklah di sana. Pasti kenalan juga banyak,” Uslin menyimak perbincangan mereka.
“Hum. Terus?”
“Benar kan itu?”
“Nggak cuma kenalan sih, kakak sepupu aku juga di sana terus anak-anak aku juga tinggalnya di sana sama kakak sepupu aku itu.”
“Wah, Nia. Kamu serius nggak?”
“Aku serius banget Wulan. Kamu liat aja aku sendirian di rumah."
“Iyah juga sih.”
“Emang sih nggak banyak yang tau. Soalnya waktu saudara aku ke Australia juga nggak banyak yang kenal dia. Terus dari sini juga dia nggak sempat terkenal karena dia hanya seorang karyawan waktu itu. Tapi sekarang puji Tuhanlah dia udah jadi pengusaha di sana, bahkan anak aku aja dia bayarin sekolah sama kuliahnya.”
“Oh gitu yah. Bagus dong. Tapi dia nggak ada keluarga gitu?” Wulan sengaja bertanya lebih serius.
“Waktu itu dia pernah menikah loh, tapi nggak taulah kejelasan rumah tangga mereka soalnya nggak pernah cerita dia.”
“Punya anak nggak tante?” Ucap Uslin.
“Punya kayanya yah. Eh tapi kenapa sih?”
“Nggak tante. Soalnya gini, setelah aku menyimak dari tadi, sepertinya kisah suami tante Ardila mirip dengan cerita masa lalu kakak sepupu tante." Jelas Uslin.
“Ah masa sih?”
“Iyah benar. Kan gini yah, suaminya kakak aku itu dari sini karyawan nggak tahu gimana terus pindah ke Australia jadi pengusaha.” Wulan menjelaskan.
“Ah kamu yang benar?”
“Ngapain juga aku tipu? Justru aku itu ke sini karena ini."
“Bentar deh. Apa jangan-jangan kakak kamu itu istrinya saudara aku lagi, ahhhh mungkin aja kan?”
“Bibi Wulan tau nggak siapa nama suaminya tante Ardila?"
“Katanya sih namanya Edward.”
“What? Bentar-bentar ini orangnya kan?” Ucap Nia terkejut dan heran sambil menunjukkan sebuah gambar di handphonenya.
“Untuk mukanya aku nggak terlalu tau yah, tapi aku punya fotonya. Ini nih.” Benar juga, bagaimana bisa Wulan mengenal Edward karena waktu Ardila melangsungkan pernikahan ia masih sibuk dengan kuliah. Foto itu Wulan share diam-diam dari handphonenya Ardila ia sedang merencanakan sesuatu.
__ADS_1
Selanjutnya…