Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 35 "Aku siapa kamu"


__ADS_3

“Ya ampun calon suami, jadinya senang banget akhirnya sebentar lagi tingkat kedewasaan kamu semakin perfect sayang.” Ucap wanita bernama Ria sambil menunjukkan ekspresi wajah yang sangat bahagia. Ria pun tak hanya memeluk Ardilla, setelah mengucapkan kata-kata itu Ria mendekati Ariel lebih dekat dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ariel. Posisi mereka semakin lengket satu sama lain. Ria melakukan itu tanpa memedulikan keberadaan Edward sementara dengan Ardila ia sudah terbiasa. Namun, entah kenapa Ardila merasa tidak nyaman. Padahal biasanya Ardila sangat senang ketika Ria datang dan bermain bersamanya di rumah. Ariel melihat ke arah Ardila yang sedang berdiri dan menggandeng lengan suaminya.


“Mam, aku ke sana bentar yah.” Ucap Ariel sambil menepis kasar pada tangan Ria yang dengan lancang melingkari pinggangnya.


“Belum telat nak?” Tanya Edward. Karena memang di saat berangkat dari rumah mereka buru-buru karena keburu waktu.


“Udahlah sayang nggak apa-apa biarkan saja dulu dia ke sana.” Pinta Ardila dan menganggukkan kepalanya untuk menyetujui kepergian anaknya.


“Loh sayang kamu mau ke mana?” Teriak Ria sambil berlari kecil beberapa langkah mengikuti arah perginya Ariel. Tak beberapa lama ia kembali menemui Ardila dan Edward yang masih berdiri di area parkiran menunggu anak mereka.


“Mamy, Ariel mau ke mana sih?” Ucap Ria dengan nada ketus dan kesal.


“Aku nggak tahu, kamu liat sendiri kan tadi Ariel nggak ngasih tahu dia mau ke mana.” Jelas Ardila.


“Eh ini siapa mamy? Calon papa mertua aku yah my?” Tanya Ria sambil memegang tangan Ardila dan tersenyum kepada Edward. Edward pun membalas senyuman Ria. Mata Ardila tiba-tiba melotot ke arah Edward sambil meremas dan mencubit lengan suaminya.


Edward langsung mengerti maksud istrinya dan langsung mengubah raut mukanya dari senyum menjadi datar.


“Kenalin om nama aku Ria, aku calon istrinya Ariel.” Ucap Ria tak tanggung-tanggung.


Edward bimbang entah dia kan menjawab apa dan apakah hanya senyum saja. Kalau pun senyum tentu istrinya akan melakukan hal yang sama lagi. Ia berinisiatif untuk mengajak istrinya pergi saja dari tempat itu dan menghindari gadis kecil itu.


“Aa sayang ke sana saja yah. Biar sekalian tungguin Arielnya di sana saja.” Ucapnya sambil menggenggam tangan istrinya lalu berjalan masuk ke dalam gedung tanpa memedulikan Ria.


“Ih dasar, nggak bisa apa ngerti gue sendiri di sini.” Comel Ria sambil berjalan dengan mulut masih berbicara tak jelas.

__ADS_1


“Kenapa tiga hari ini nggak angkat telepon aku?” Tanya seorang pria dengan datar dari belakangnya. Entah berbicara pada siapa. Ia merasa sepertinya ada seseorang yang berbicara mungkin dengannya. Namun, karena takut salah orang maka ia langsung saja bangun dari duduknya dan menuju ke arah mama kantin itu berada. Ia membuka dompet kecilnya dan meraih uang berwarna merah dan bertuliskan angka sepuluh ribu. Uang itu ia sorong kepada mama kantin yang ada di depannya. Namun mama kantin itu menolaknya.


“Sudah neng, sudah dibayar oleh mas yang itu tadi.” Ucap mama kantin dengan keadaan tertunduk sambil membuat jus untuk pengunjung kantin yang lain.


“Hah? Mas yang mana Bu?” Tanyanya heran. Karena ia datang dan makan di kantin itu pun sendirian.


“Yang itu neng.” Lanjut mama kantin dengan keadaan yang masih tertunduk dan memblender es batu yang akan mendinginkan jus yang dipesan oleh pengunjung.


“Yang man...” Ucapannya terpotong saat ia membalikkan muka ke belakang dan tiba-tiba sebuah jari menutup kedua bibir kecilnya. Karena ia sudah sangat penasaran dan kesal juga sama mama kantin yang tidak langsung saja memberitahu tahunya tentang siapa orang itu.


“Ikut aku!!” Pria itu menariknya keluar. Ia sempat menolak untuk tidak mau mengikuti pria yang menariknya. Namun, tarikan dan pegangan pria itu sangat kuat sehingga sulit baginya untuk melepaskan pegangan. Terpaksa ia hanya pasrah saja dan mengikuti pria itu menariknya.


Mereka berhenti di sebuah rumah kecil yang sengaja dibuat oleh pihak kampus untuk mahasiswa-mahasiswa duduk dan bersantai sambil melihat pemandangan dan kesejukan di sekitar.


“Jawab pertanyaan aku!!”


“Jangan pura-pura lupa!!”


“Oh iya soal telepon yah?”


“Hm!”


“Aku... Ak...” belum sempat menyelesaikan ucapannya pria itu sontak langsung memeluknya. Semua mata dari rumah-rumah kecil yang lain memandang ke arah mereka. Ia menahan malu, tetapi tidak dengan pria itu. Pria itu sangat terlihat tidak peduli dengan apa pun yang ada di sana.


“Aku mohon, aku nggak bisa kalau kamu begini.” Ia menarik napas dalam-dalam sambil memeluk wanita itu dengan sangat kuat.

__ADS_1


“Aku rasa kamu sudah cukup bahagia Ril. Jadi, berbahagialah dengan semua hal yang sudah terima sekarang.” Mendengar ucapan itu pria itu langsung melepaskan pelukannya dengan cepat seperti orang marah.


“Bahagia dari mana? Kamu nggak tahu aku sakit setengah mati tiga hari ini.”


“Sakit? Perasaan kamu terlihat baik-baik saja.”


“Hari ini aku memang sudah sangat baik.”


“Baguslah. Berobat di mana?”


“Di sini, pelukan kamu adalah obatnya.”


“Oh. Aku pergi dulu.” Sambil mencoba untuk melangkah pergi meskipun ia ragu bahwa itu akan berhasil untuk ia melarikan diri dari pria itu. Tentu saja firasatnya benar, pria itu kembali memegang pergelangan tangannya dengan erat.


“Jangan berpikir bahwa ucapan kamu mudah untuk kamu lakukan. Kembali ke topik awal kenapa kamu nggak angkat telepon aku. Tiga hari sepenuhnya nggak bisa apa sedikit saja kabarin, kamu di mana, dengan siapa, lagi apa. Itu saja aku nggak tahu. Aku cek ke rumah nggak ada begitu pun di telepon nggak bisa angkat. Aku salah apa sih?”


Uslin menundukkan kepalanya sambil berpura-pura membuang pandangan ke arah lain dan memilih untuk tidak melihat ke arah Ariel.


“Kamu nggak salah Ril. Aku yang salah, aku nggak pantas buat dekat dengan kamu Ril. Aku nggak lain dari seorang wanita miskin. Aku sadari itu Ril.” Bisik Uslin dalam hatinya. Kalau saja seandainya saat ini Ariel tidak di sana mungkin saja air matanya sudah tumpah. Ia menahan semuanya agar Ariel tak melihat bahwa sebenarnya ia juga perlahan-lahan memiliki rasa nyaman pada Ariel. Namun, tetap saja pria itu bisa menangkap perasaannya dari raut wajahnya.


Pria itu sekali lagi sigap memeluknya di depan umum.


“Maaf. Aku terlalu mendesak.” Ucapannya sangat lembut. Suara itu membuat Uslin tidak bisa lagi menahan air matanya. Perlahan pun air mata itu mengalir tanpa disadari. Melihat itu Ariel dengan lembut mengusap pelan di pucuk kepala sang gadis. Lalu perlahan tangannya berpindah ke pipi Uslin untuk mengusap air mata wanitanya.


“Aku nggak bisa dicuekin, hal itu adalah hal yang paling tidak aku sukai, Lin. Please, ada apa-apa bilang sama aku. Aku nggak bisa diam saja tanpa dapat kabar dari orang yang aku sayang, apalagi kamu.” Ucapannya itu sambil terbata-bata.

__ADS_1


“Aku siapa kamu Ril. Aku bukan siapa-siapa.” Gumam Uslin dan air matanya tak berhenti mengalir.


Selanjutnya...


__ADS_2